Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Tahajut Pertama Bersama Istri


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sholat magrib dan isya di Mesjid Ustad Sidiq dan Dira kembali ke rumah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh mereka hanya berjalan kaki.


"Assalamualaikum Ustad"


Ucap seorang Bapak-Bapak bersama istrinya yang menghentikan Ustad Sidiq dan juga Dira.


"Waalaikumsalam Pak Agus dan Ibu"


Jawab ramah Ustad Sidiq.


"Sudah mau pulang ya Ustad?"


Tanya Pak Agus dengan ramah.


"Iya Pak"


"Barangkali kalau mau mampir ke rumah kami yang di sebelah situ Ustad"


Ucap Pak Agus menunjuk tiga rumah sebelum rumah Ustad Sidiq.


"Insyaallah lain kali kita akan mampir ya Pak Ibu. Oiyah perkenalkan ini istri saya namanya Dira"


Dira tersenyum ramah ke arah Pak Agus dan Istrinya. Namun dapat Dira lihat Istri Pak Agus tersebut melirik tidak suka terhadapnya. Ia melirik Dira dari bawah hingga atas dan menyungingkan senyum terpaksa ke arah Dira.


Dira yang dilirik seperti itu merasa tidak nyaman. Padahal ini adalah pertama kali ia bertemu dengan mereka.


"Oowh iya Ustad, kalau begitu kami permisi"


Pamit Pak Agus dengan tersenyum ramah di ikuti oleh istrinya.


Setelah sampai di rumah Dira melepas mukenahnya dan melipat rapi.


"Mas?"


"Iya Dek?"


Jawab Ustad Sidiq sambil mengantung baju Kokonya di hanger menyisakan baju kaos dalaman dan sarungnya.


"Mas tadi merhatiin gak ekspresi istrinya Pak Agus itu?"


"Tidak Dek. Emangnya seperti apa ekspresinya?"


Ucap Ustad Sidiq mendekati Dira.


"Masa dia ngeliat Dira kayak gini"


Dengan refleks Dira mencontohkan cara istri Pak Agus yang meliriknya dari bawah sampai atas.


Sontak saja Ustad Sidiq terkekeh melihat ekspresi Dira yang menurutnya sangat lucu.


"Mas kenapa ketawa sih?"


Sungut Dira menatap sang suami.


"Astagfirullahal adzim lagian ekspresi adek lucu sih.


Ucap Ustad Sidiq mengusap sudut matanya yang sedikit berair.


"Iikhh Mas ini,, Gak tahu apa orang lagi kesal?"


"Astagfirullahal adzim,, Adek tidak boleh seperti itu. Lagian gak usah di pikirin mungkin memang seperti itu caranya melihat orang"


"Iya sih Mas tapi kan gak enak aja rasanya di lirik seperti itu"

__ADS_1


"Iya Dek,, Yasudah ayo tidur nanti sepertiga malam kita bangun lagi buat sholat sunnah Tahajut ya. Oiyah setoran hapalan Ayat pendeknya juga sudah bisa di mulai besok"


"Astagfirullah Maass"


Ucap Dira kaget.


"Loh, kok Astagfirullah sih Dek. Harusnya adek ngucap Alhamdulillah seperti itu yang benar"


Balas Ustad Sidiq dengan tersenyum usil kepada Dira.


"Terserah Mas deh,, Terserah"


Ucap Dira merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan langsung membalikkan badan membelakangi sang suami.


"Adek, tidak baik loh tidur membelakangi suami?"


Ucap Ustad Sidiq menyentuh pundak Dira


"Iya Mas iyaa"


Dengan reflek Dira membalikan badannya.


Ustad Sidiq tersenyum menatap wajah Dira yang sedikit cemberut.


"Sini Dek tidurnya dekat Mas"


Ucap Ustad Sidiq menepuk lengan kirinya.


"Tapi Mas,,"


"Sini Deekk"


Dengan perlahan Dira mendekat dan menjadikan lengan Ustad Sidiq sebagai bantalan kepalanya.


Dapat Dira dengar degup jantung sang suami yang berdetak sangat cepat.


'Huufhh,, kiraen aku aja yang jantungnya deg-degan ternyata mas Sidiq lebih parah,, Hihii'


"Dek"


"Iya Mas?"


"Apa Mas boleh memberi nafkah batin untuk Adek? Adek tahukan Mas akan sangat berdosa bila tidak memberikannya, lagian kita sudah seminggu menikah Adek berhak menerima nafkah batin dari Mas"


Detak jantung Ustad Sidiq semakin berdegup kencang sama halnya dengan Dira saat ini. Bagaimanapun juga itu adalah hal yang wajar bagi seorang pria dewasa, namun Ustad Sidiq masih bisa menahan nafsunya untuk tidak berbuat sesukanya, ia masih mempertimbangkan perasaan Dira terhadapnya.


"Mas, apa boleh Dira meminta sesuatu?"


"Iya Dek sebutkanlah, jika Mas sanggup Mas akan mengabulkannya"


Ucap Ustad Sidiq lembut sambil mengusap kepala Dira.


"Mas,, Maaf untuk nafkah batinnya bisa nanti saja? Sekarang Dira belum siap Mas"


Jawab Dira jujur menatap wajah sang suami sedikit takut jika Mas Sidiq akan menolaknya.


"Ya sudah tapi jangan terlalu lama ya Dek. Mas takut dosa karena tidak memberikan Adek nafkah batin"


"Iya Mas, terimakasih ya Mas"


Ucap Dira memeluk sang suami dengan menengelamkan wajahnya di dada sang suami.


'Syukurlah Mas Sidiq masih mau menahannya hhuu jujur saja aku sangat takut sekali'

__ADS_1


'Tidak apa-apa bila Dira belum mau yang penting dia tidak menolak sentuhan fisik dariku anggap saja kami sedang berpacaran halal sekarang hihi'


Senyum dibibir Ustad Sidiq sedikit tersunging dengan kembali mengusap lembut kepala Dira dengan sesekali menciumnya.


Setelah membaca doa tidur bersama Ustad Sidiq dan Dira pun mulai terlelap dengan tubuh saling berdekapan.


*****


Malam ini Ustad Sidiq terbangun lebih dulu ia melihat wajah Dira yang sangat dekat dengannya. Dengan seulas senyum miliknya Ustad Sidiq mengusap sayang wajah putih Dira.


Lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.


"Deekk,, Ayo bangun kita sholat sunnah Tahajut yok"


Ucap Ustad Sidiq lembut membangunkan Dira yang tampak nyenyak sekali.


"Dira masih ngantuk Mas"


Dengan suara khas bangun tidurnya.


"Iya sebentar saja Dek, nanti sambung lagi tidurnya yah"


"Heemmm,,,"


Dengan mata yang masih setengah terbuka Dira bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.


Ustad Sidiq telah menggelar sajadah di dalam kamar dan menyiapkan mukenah untuk Dira.


"Mas,, Baca ayatnya jangan panjang-panjang ya, Dira masih ngantuk neh"


Ucap Dira setelah keluar kamar mandi.


Sedangkan Ustad Sidiq hanya tersenyum melihat ekspresi Dira yang seperti itu.


"Iya Insyaallah Dek"


Ucap Ustad Sidiq tersenyum lembut ke arah Dira.


Setelah Dira memakai mukenahnya Ustad Sidiq pun mulai melaksanakan Sholat sunah Tahajut yang di ikuti Dira sebagai makmumnya.


Benar saja Ustad Sidiq memilih beberapa surah yang pendek saja, mengingat ini pertama kalinya ia dan sang istri melaksanakan Sholat malam bersama.


Selesai melaksanakan sholat Ustad Sidiq pun lanjut berzikir dan berdoa. Ustad Sidiq tersenyum senang memandang Dira yang mencium tangannya seusai sholat.


Meskipun Dira sedikit keras dan manja tapi Ustad Sidiq sudah bertekad untuk perlahan-lahan membimbing Dira dengan caranya.


"Sudah kan Mas? Dira mau lanjut tidur nih ngantuk"


Ucap Dira melepas mukenahnya dan melipatinya dengan cepat.


"Iya Dek sudah, jangan lupa berdoa lagi sebelum tidur"


Ucap Ustad Sidiq dengan tersenyum menatap Dira yang sudah naik kembali ke atas ranjang.


"Iya Mas"


Jawab Dira cepat dan langsung memejamkan matanya setelah membaca doa tidur.


'Alhamdulillah ya Allah, ini sholat sunah tahajut pertamaku bersama istri, rasanya senang sekali semoga aku bisa terus membimbingnya untuk terus mendapatkan ridhomu ya Allah Aamiin'


Ustad Sidiq kembali menyusul Dira setelah mengangtungkan baju Koko dan melipat kain sarungnya meninggalkan baju kaos dalaman dan celana selutut.


Setelah membaca doa sebelum tidur Ustad Sidiq kembali memejamkan matanya dengan memeluk erat tubuh Dira.

__ADS_1


__ADS_2