
Matahari telah kembali bersinar menghangatkan bumi.
Dira duduk terdiam menatap ponselnya.
Hari ini izin cutinya telah habis dan harus kembali bekerja.
Dira masih ragu-ragu dengan keputusannya untuk kembali bekerja. Karena pakaian kantornya yang terbuka sudah pasti suaminya akan melarang keras, tapi Dira tidak mau menyerah begitu saja ia akan berusaha membujuk sang suami. Itu tekadnya.
"Mas"
Ucap Dira menatap Ustad Sidiq yang tengah memasukan beberapa buku ke dalam tas kulitnya. Karena hari ini pun Ustad Sidiq akan kembali mengajar di Pesantren.
"Iya Dek. Ada apa?"
Menoleh sejenak kepada Dira dan melanjutkan kembali memeriksa isi tasnya.
"Mas, Hari ini izin cuti Dira habis. Dira boleh kerja ya? "
Ucap Dira menatap Ustad Sidiq.
Ustad Sidiq menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati Dira.
"Dek, Mas kan sudah pernah bilang kalau Adek istirahat saja di rumah, bila bosan Adek bisa berkunjung ke rumah Ibu dan Umma atau adek main ke Pondok Warung Makanan kita saja.
"Hmmm,, Tapi Dira senang bekerja disana Maas"
Ucap Dira dengan cemberut.
"Adek boleh bekerja tapi harus pakai baju kurung. Bagaimana mau tidak?"
"Ya gak bisa gitu lah Mas, disana kan ada aturannya ga bisa sembarangan berpakaian yang ada nanti Dira kenak tegur atasan"
Ucap Dira dengan bersungut.
"Nah Adek sendiri aja takut di tegur atasan yang hanya manusia biasa. Kenapa Adek tidak takut jika Allah sang Maha Pencipta menegurmu jika berpakaian yang terbuka dan menampakkan aurat seperti itu, Adek tidak ingat dosa? Adek mau Mas masuk neraka karena tidak bisa menjaga dan menasehati istri Mas ini?"
Ucap Ustad Sidiq menatap kening Dira yang berkerut.
"Hmmm.."
"Jadi mas mohon sama Adek untuk berhenti saja ya dari sana. Mau yah Dek"
"Iya deh Mas iyaaa. Tapi Dira bosan bila sendiri di rumah"
"Bagaimana kalau Adek ikut Mas ke Pesantren, nanti Adek main di rumah saja berbincang dengan Umma"
"Iya deh Mas, Tungguin Dira mau siap-siap dulu"
Ucap Dira mulai beranjak membuka lemari pakaian mencari baju yang pantas untuk ia kenakan.
"Mas, Dira bagusnya pakai yang ini atau ini?"
Ucap Dira menunjukkan dua stel baju ke hadapan sang suami.
"Dua-duanya bagus Dek, pilih lah salah satu yang Adek suka"
Ucap Ustad Sidiq dengan menahan senyumnya melihat wajah Dira yang terlihat lucu dengan bibir yang di manyunkan ke depan.
"Iiihh Mas ini, modelannya aja sama begini. Cuma beda warna sama motifnya. Cepatan pilih Mas bagusan yang mana?"
Ucap Dira dengan sedikit manja.
Ustad Sidiq tersenyum mendengar suara Dira yang terdengar manja. Ingin sekali rasanya memeluk Dira namun Ustad Sidiq kembali teringat dengan kata-kata Dira yang tidak mencintainya sehingga mengurungkan niatnya.
Ustad Sidiq takut bila Dira akan merasa tidak nyaman dengan hal tersebut.
"Yang ini saja dek terlihat cantik jika adek pakai"
Ucap Ustad Sidiq menunjuk baju gamis berwarna biru laut.
__ADS_1
"Iya deh Mas, bentar ya"
Dengan segera Dira masuk ke dalam kamar mandi mengganti pakaiannya di dalam sana.
Lalu keluar lagi berjalan cepat menuju meja rias memoles wajahnya dengan make up tipis.
Setelah di rasa cukup mereka langsung menuju Pesantren.
"Assalamualaikum"
Ucap Ustad Sidiq saat tiba di rumah Umma.
"Waalaikumsalam nak"
Ucap Umma dari dalam dan berjalan mendekat, segera Dira dan Ustad Sidiq mencium tangan Umma.
Sudah mulai mengajar lagi ya nak?"
Ucap Umma menatap Ustad Sidiq.
"Iya Umma, titip Dira ya Umma"
Ucap Ustad Sidiq menatap Umma dan tersenyum menatap Dira.
"Iya nak. Tenang saja Diranya gak akan lecet kok"
Ucap Umma menggoda Ustad Sidiq.
"Hehe,,, Ya sudah Mas langsung ke Kelas saja ya"
Ucap Ustad Sidiq setelah melirik jam di pergelangan tanggannya.
"Iya Mas"
Jawab Dira singkat.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jawab Umma dan Dira bersamaan dengan Dira yang mencium tangan Ustad Sidiq dengan canggung.
Setelah Ustad Sidiq beranjak menuju kelas Umma dan Dira masuk ke dalam rumah.
"Kebetulan sekali kamu datang nak. Umma mau masak makanan kesukaan Mas Sidiq"
Ucap Umma senang.
"Iya Umma. Memangnya apa makanan kesukaan Mas Sidiq Umma?
Ucap Dira sambil meletakkan tasnya di atas nakas.
"Rendang ayam plus sayur capcay. Ayo bantu Umma masak di dapur. Kamu mau kan?"
Ucap Umma menatap Dira.
"Mau Umma. Hmmm,,, Umma?"
"Iya nak ada apa?"
"Sebenarnya Dira tidak pandai masak Umma"
Ucap Dira dengan ragu-ragu dan menundukkan kepalanya malu menatap Umma.
"Oowhh begitu ya, yasudah nanti Umma ajari pelan-pelan ya. Mau tidak?"
Ucap Umma menatap Dira dengan senyuman lembutnya.
"Mau Umma. Makasih Umma"
__ADS_1
Ucap Dira dengan tersenyum lebar.
Umma mulai mengajari Dira hal-hal dasar dari dunia masak memasak. Seperti mengenalkan bumbu-bumbu dan jenis bawang-bawangan.
Dira tidak bisa menahan air matanya ketika membuka dan mengiris bawang merah sehingga membuat Umma tertawa melihatnya.
"Bawang merahnya jahat ya nak?"
Ucap Umma menatap Dira.
"Iya Umma dia buat Dira menangis"
Jawab Dira sambil mengusap matanya.
"Heheh,, Sudah biar Umma saja yang lanjutin potong bawangnya. Dira potong sayurannya saja ya. Bisa tidak?"
Ucap Umma lembut.
"Ini potongnya bagaimana Umma?"
Ucap Dira dengan menggaruk kepalanya.
"Seperti ini ya"
Ucap Umma setelah mencontohkan memotong sayur.
"Umma ada penggaris gak?"
Ucap Dira dengan wajah polosnya.
"Hmmm,, Umma gak ada tapi mungkin Abi punya. Emang buat apa nak?"
"Ini Umma buat mengukur sayurnya, Dira takut bila ukurannya tidak sama dengan Umma"
Ucap Dira polos.
"Ya Robbi, ga mesti sama persis ukurannya nak yang penting potongnya seperti ini saja sudah cukup heheh kamu ini lucu sekali"
"hehe.. Iya Umma"
Ucap Dira dengan pelan-pelan memotong sayurannya sedangkan Umma yang sempat melirik Dira hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya sembari menahan tawa melihat ekspresi wajah Dira yang lucu.
Selesai memotong dan menyiapkan bahan-bahannya. Umma mulai mengajari Dira cara memasaknya.
Dira sangat antusias sekali mengikuti semua perkataan Umma.
"Umma coba cicipin sudah enak belum?"
Ucap Dira menyerahkan sendok yang berisi bumbu ayam rendangnya.
Dengan mengucap Basmalah Umma mulai mencicipinya.
Dira memperhatikan ekspresi wajah Umma yang datar dan kemudian berubah menjadi berseri.
"Enak. Sudah pas bumbunya"
Ucap Umma dengan senyuman hangatnya.
Dengan perlahan pun Dira mencicipi masakannya tersebut.
"Iya Umma enak banget. Yeeee Dira bisa masak"
Ucap Dira senang dan reflek memeluk Umma.
"Iya nak, harus rajin-rajin di ulangi ya biar makin jago masaknya"
Ucap Umma membalas pelukan Dira.
Setelah semua masakan matang. Dira lanjut membantu Umma mewadahinya dan menata di atas meja makan. Sembari menunggu Mas Sidiq dan Abi pulang untuk makan siang.
__ADS_1