Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Hak-Hak Seorang Istri


__ADS_3

Sesampainya di rumah Dira langsung melepaskan kerudungnya. Ustad Sidiq yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala lalu melanjutkan kembali mengunci rapat pintu dan memastikan seluruh jendela sudah tertutup rapat lalu lanjut naik ke atas menuju kamar mereka.


Suara percikan air terdengar jelas saat Ustad Sidiq masuk ke dalam kamar. Sudah bisa di tebak bahwa Dira kini tengah berada di dalam kamar mandi.


Ustad Sidiq lanjut meletakkan tas kerjanya di atas nakas dan membuka ponselnya memeriksa laporan dari Pondok Makanan miliknya.


Ckleekk.


Pintu kamar mandi terbuka dengan Dira yang keluar hanya menggunakan handuk, masih terlihat tetesan air dari rambut panjangnya.


Dengan cepat Dira berlari menuju lemari mengambil baju gantinya lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Tidak lama Dira pun keluar dengan handuk yang dililitkan ke atas kepala. Dira berjalan menuju meja rias. Mencari sesuatu yang entah apa hingga membuat Ustad Sidiq menoleh kepadanya.


"Adek cari apa?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira.


"Mas liat hair dryer Dira gak? Dira lupa menyimpannya dimana"


Ucap Dira hanya menoleh sebentar lalu kembali sibuk mencari benda tersebut.


"Mas tidak tahu Dek. Mungkin ada di dalam laci yang bawah, sudah di periksa belum?"


Ucap Ustad Sidiq berjalan mendekati Dira.


"Gak ada mas udah Dira liat tadi"


"Hmmm.. Yasudah adek duduk sini, biar Mas bantu keringkan rambut Adek ya"


Ucap Ustad Sidiq dengan mendudukan Dira di depan meja rias lanjut membuka lilitan handuk di kepala Dira dan mulai mengeringkan rambut panjang Dira.


Dira hanya diam saja memandang Ustad Sidiq dari balik cermin. Dira merasakan Ustad Sidiq yang penuh kelembutan dan kehati-hatian dalam mengeringkan rambutnya.


"Adek?"


"Iya Mas?"


Jawab Dira memandang dari pantulan cermin.


"Tamu bulanannya sudah selesai?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira dari pantulan cermin.


"Sudah Mas"


Jawab Dira pelan.


"Kalau begitu Sholatnya jangan sampe tinggal ya dek, membaca Al-Qurannya juga di lanjutin kembali"


"Iya Mas"


Jawab Dira cepat.


Ustad Sidik meraih sebuah sisir dan mulai menyisir rambut Dira setelah memastikan rambut itu kering. Yaa meski tidak sekering menggunakan hair dryer sih.


"Rambut Adek cantik Mas suka melihatnya, tapi besok jangan di warnai lagi ya"


"Iya Mas"


Jawab Dira menanggapi ucapan sang suami. Iya tidak ingin mendapatkan ceramah lagi lebih baik mengiyakan saja pikirnya.


Ddrrtt.. Drrtt...


Dira menoleh pada ponselnya yang berbunyi. Senyum manisnya pun mengembang melihat siapa yang telah menghubunginya. Dengan cepat Dira menggusap ponselnya hingga panggilanpun terhubung.

__ADS_1


"Hallo Assalamualaikum Kak"


Ucap Dira tersenyum senang meskipun orang di seberang sana tidak melihat senyumnya tapi mereka akan tahu dari ekspresi suara Dira yang ceria.


"Waalaikumsalam Adeknya Kakak yang super manja"


Ucap Kak Razak yang hobbi menggodanya.


"Iikkhh Kak Razak, Dira gak manja yaa,, Mana pernah tuh"


Ucap Dira dengan manyun, Ustad Sidiq yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala lanjut berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Iya iyaa gak pernah sekali tapi sering"


Balas Kak Razak dengan terkekeh di seberang sana.


"Malas deh Kakak nyebelin"


"Hahaha iya deh sorry, Kakak senang mendengar kamu yang kembali ceria seperti ini Dek"


"Hmmm,, Kakak apa kabar? Kapan pulang? Dira rindu"


Ucap Dira manja.


"Kan baru bulan lalu Kakak pulang Dek. Lagian kan Adek tahu sendiri Kakak gak bisa seenaknya pulang begitu saja dan Alhamdulillah Kakak disini sehat dek"


"Iya deh Kak iyaa,, Alhamdulillah, pokoknya Kakak gak boleh sakit ya"


Terdengar suara kekehan Kak Razak di seberang sana.


"Iya Dek Insyaallah Kakak akan jaga kesehatan. Kalaupun sakit ya harus di syukuri juga berarti Allah masih sayang sama Kakak"


"Hmm,, Kakak lagi apa?"


"Baru selesai makan Dek. Oiyah kamu lagi apa? Kakak tidak enak bila menganggu maklumlah pengantin baru"


Sedangkan Dira hanya bersungut kesal mendengarnya.


"Iikhh Kakak ini senang sekali menggoda Dira.. Hmm.. Dira baru selesai mandi tadi Dira ikut Mas Sidiq ke Pesantren Kak.


Kak Razaaaak?"


"Oowhh begitu. Iya Dek ada apa?"


"Kaaak Dira uda berhenti kerja. Ntar uang jajan Dira lebihin ya Kak. Kakak kan tahu sendiri hobbi Dira berbelanja daaannn,,,"


Ustad Sidiq yang baru saja keluar dari kamar mandi segera beristigfar mendengarkan perkataan Dira barusan.


Dengan mempercepat langkahnya Ustad Sidiq berdiri di depan Dira dengan memberi kode untuk menutup panggilan tersebut.


Dira yang sempat kaget melihat sang suaminya sudah berdiri di depannya di tambah dengan kode yang Dira pahami dengan segera Dira mengakhiri panggilan tersebut.


"Maass apaan sih ganggu orang telponan saja? Pakai bajunya dulu sana"


Ucap Dira memalingkan wajahnya. Jujur saja saat ini jantungnya berdegup kencang menatap bagian atas tubuh sang suami yang terbuka.


Ustad Sidiq yang sadar setelah melihat penampilannya dengan segera berjalan menuju lemari pakaian dan memakai pakaiannya, tanpa memperdulikan Dira yang wajahnya sudah memerah merasa malu. Yah meskipun Dira belum berani melihatnya bagi Ustad Sidiq wajar-wajar saja dan tidak masalah bila Dira ingin melihatnya toh sudah Sah dan halal juga.


Setelah memakai pakaiannya Ustad Sidiq duduk di atas ranjang.


"Deekk"


"Iya Mas"


"Duduk sini mas mau bicara sesuatu"

__ADS_1


'Ckk ceramah lagi ne pasti'


Dengan perlahan Dira berjalan mendekati sang suami.


"Ada apa Mas?"


Ucap Dira menatap sang suami.


"Istri Mas siapa?"


"Dira"


"Tau hak seorang istri apa saja?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira lembut. Sedangkan Dira hanya menganggukan kepala menjawab pertanyaan sang suami.


"Coba sebutkan Mas mau dengar"


"Mendapatkan nafkah dari suami"


Jawab Dira cepat.


"Mendapatkan nafkah dari suami itu sudah pasti jelas Dek, tapi ada lima hak seorang istri yang harus Adek ketahui.


Yang pertama diperlakukan dengan baik penuh kasih sayang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya” HR At-Tirmidzi.


Yang kedua dimaafkan kekhilafan dan kesalahannya.


Rasulullah SAW bersabda: ”Berilah nasihat kepada perempuan (istri) dengan cara yang baik. Karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Sesuatu yang paling bengkok ialah sesuatu yang terdapat pada tulang rusuk yang paling atas.


Jika hendak meluruskannya (tanpa menggunakan perhitungan yang matang, maka kalian akan mematahkannya, sedang jika kalian membiarkannya), maka ia akan tetap bengkok. Karena itu berilah nasihat kepada istri dengan baik.”


HR Muttafaq ‘alaih.


Yang ketiga dijaga oleh suami.


Termasuk dengan memelihara istri dari segala sesuatu yang dapat merusak dan mencemarkan kehormatan diri dan suaminya. Suami berkewajiban untuk menjaga istri dengan sepenuh hati. Hak istri terhadap suami adalah mendapatkan penjagaan atas akhlak dan agamanya juga.


Ke empat tidak menyebarkan rahasia istri.


Ini juga termasuk dengan tidak menyebutkan kejelekan-kejelekan istri di depan orang lain. Karena suami adalah orang yang dipercaya untuk menjaga istrinya dan dituntut untuk dapat memeliharanya. Di antara rahasia suami istri adalah rahasia yang dilakukan di atas ranjang. Kepercayaan yang terjaga merupakan salah satu hak istri terhadap suami.


Yang kelima diajak bermusyawarah dalam segala hal.


Ini adalah sesuatu yang penting. Sebab, saat istri diajak berdiskusi dan menghasilkan keputusan bersama terutama yang berkaitan dengan sesuatu yang penting, istri akan merasa dihargai. Istri tidak hanya merasa sebagai pendengar yang baik, tapi juga teman hidup yang bisa diajak berdiskusi."


"Adek paham tidak?"


Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira.


"Iya Mas paham"


"Alhamdulillah,, Jadi mas mohon sama Adek untuk mendiskusikan hal-hal apa saja yang perlu kita bahas. Contohnya seperti Adek yang sudah berhenti bekerja. Mas paham penghasilan Adek dari bekerja pasti tidak ada, tapi Adek tidak boleh memintannya kepada orang lain termasuk Ayah, Ibu dan Kak Razak.


Sekarang Adek adalah tanggung jawabnya Mas, jika Adek ingin membeli sesuatu gunakanlah kartu yang telah Mas berikan.


Bila Adek tetap ingin bekerja Adek bisa datang ke Pondok Makanan kita. Disana Adek bisa mengawasi para Karyawan dan menghitung segala pemasukan dan pengeluarannya. Selain Pondok itu juga milik Adek, Adek juga akan Mas beri uang lebih"


"Hmmm tapi Dira gak tau dimana Pondok Makan yang seperti Mas katakan"


"Insyaallah besok kita akan kesana ya"


"Okeh Mas"


"Yasudah bersiap-siaplah sebentar lagi adzan magrib, Adek mau ikut Mas Sholat di Mesjid komplek?"

__ADS_1


"Iya Mas Dira mau. Tunggu sebentar ya"


Ucap Dira segera mengambil mukenahnya dan memakainya. Ustad Sidiq dan Dira pun lanjut berjalan kaki menuju Mesjid yang tidak jauh dari rumah mereka.


__ADS_2