
Ustad Sidiq masuk ke dalam mobil melihat wajah sang istri yang sudah kusut tidak seperti biasanya.
"Dek,,"
Ucap Ustad Sidiq namun yang di panggil masih memalingkan wajahnya ke arah luar.
"Adek kenapa? Kok diam saja? Itu juga wajahnya kenapa kusut seperti itu?"
Ucap Ustad Sidiq setelah menghidupkan AC mobilnya agar Dira tidak kepanasan.
"Gak papa Mas"
Ucap Dira masih dengan memalingkan wajahnya.
"Adek cemburu ya melihat Mas berbincang dengan Ustadzah Aisyah tadi?"
Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira.
"Gak Mas, siapa juga yang cemburu. Lagian siapa sih cewek tadi?"
Senyum di bibir Ustad Sidiq pun muncul kala mendengar pertanyaan Dira barusan.
"Dia salah satu Ustadzah di Pesantren Dek"
Ucap Ustad Sidiq yang mulai menjalankan kendaraannya meninggalkan area Mesjid.
"Owhh guru juga, kiraen mantan Mas"
"Iya Dek dia juga mengajar di sana. Astagfirullahal adzim,, Mas tidak pernah berpacaran sebelumnya Dek"
"Hmm iya deh,, Dia cantik ya Mas pakaianya aja begitu berbeda sama Dira?"
Sontak saja Ustad Sidiq langsung menatap wajah Dira yang semakin kusut.
"Bagi Mas Adek lah yang paling cantik"
Seulas senyuman terbit di bibir Dira namun dengan cepat ia menutupinya kembali.
"Elehh,, Palingan gombal"
"Beneran Dek, Mas tidak berbohong Adek lah yang paling cantik"
Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira dengan senyuman manisnya.
"Sudahlah Mas fokus liat jalan saja"
Ucap Dira lagi yang langsung memalingkan wajahnya menatap luar jendela mobil dengan senyuman di bibirnya.
Namun Ustad Sidiq dapat melihat senyuman Dira dari balik pantulan kaca mobilnya.
Sesampainya di rumah Ustad Sidiq seperti biasa menutup rapat dan mengunci pintu serta memastikan jendela tidak ada yang terbuka lalu menyusul sang istri yang telah masuk ke dalam kamar.
Cklak,,
Ustad Sidiq masuk ke dalam kamar bersamaan dengan Dira yang baru selesai membersihkan diri di kamar mandi dan telah mengganti baju tidurnya.
Malam ini Dira menggunakan piyama dress selutut. Sungguh penampilan Dira yang seperti itu membuat Ustad Sidiq tidak bisa berpaling darinya.
Namun sebuah kilauan di leher Dira menyadarkannya. Seingatnya tadi pagi Dira belum menggunakan sebuah kalung.
"Kalung Adek cantik sekali"
Ucap Ustad Sidiq mulai melepaskan baju Kokonya menyisakan baju kaos dalaman berwarna putih.
"Hmm,, "
Dira sedikit bingung untuk berbicara. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ini pemberian dari Mas Galih.
"Ini ka kalung lama Dira Mas, tapi baru tadi pakai Dira pakai lagi"
Ucap Dira dengan sedikit memegang kalung tersebut.
__ADS_1
"Owhh begitu ya"
"Iya Mas, Dira ngantuk ni, Dira tidur luan ya Mas"
Dengan cepat Dira menutupi dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya. Sedangkan Ustad Sidiq berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
'Ya Allah maafkan Dira yang telah berbohong. Semoga Mas Sidiq percaya amin'
"Dek sudah tidur?"
Ucap Ustad Sidiq setelah naik ke atas ranjang.
Namun Dira masih tetap diam dengan semakin menutup rapat matanya. Sontak saja Ustad Sidiq tersenyum melihat tingkah sang istri yang jelas sekali kelihatan berpura-pura.
Dengan perlahan Ustad Sidiq membawa kepala Dira ke sisinya menjadikan lengannya sebagai bantalan tidur untuk Dira hal yang sama ia lakukan setiap malamnya.
Dira masih memejamkan matanya dengan posisi membelakangi sang suami.
Namun dapat Dira rasakan usapan lembut di kepalanya dari tangan Ustad Sidiq.
"Dek, Mas akan selalu sabar menunggu dirimu membuka hati untuk Mas"
Ucap Ustad Sidiq sambil mengusap lembut kepala Dira dan sesekali memberinya kecupan.
"Maafkan Mas yang belum bisa membahagiakan Adek ya, Mas itu sayang sekali sama Adek"
Deg.
'Ya Allah, bagaimana ini?? Bahkan aku bisa merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat'
"Mas juga tidak akan memaksamu untuk selalu melayani Mas. Tapi jika Mas bisa meminta Adek untuk menerima nafkah batin dari Mas, karena Mas takut sekali berdosa karena tidak memberikan hak Adek tersebut"
Lanjutnya dengan tetap mengusap pelan kepala Dira.
'Ya Allah berdosakah aku? Tapi aku belum siap Ya Allah, aku masih takut sekali'
Bahkan kini debaran di dada Dira hampir sama kuatnya dengan milik Ustad Sidiq.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Udara pagi ini terasa sejuk sekali setelah hujan turun malam tadi dengan menyisakan tetesan air di dedaunan.
Dira terlihat sudah rapi dengan baju kurung miliknya. Hari ini ia akan ikut kembali dengan sang suami menuju Pesantren.
"Sudah siap Dek?"
Ucap Ustad Sidiq yang datang menghampiri Dira di depan cermin.
"Sudah Mas"
Jawab Dira berbalik menatap sang suami dengan senyum manisnya.
"Masyaallah cantiknya istri Mas ini"
Ucap Ustad Sidiq menatap Dira dengan senyuman merekahnya.
"Apa sih Mas, ayo jalan nanti Mas terlambat mengajarnya"
Ucap Dira dengan cepat berlalu menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
Sesampainya di Pesantren Ustad Sidiq mengantarkan Dira menuju kediaman Umma dan langsung menuju kelasnya.
"Nak, ikut Umma yok menghadiri kajian"
Ucap Umma setelah Ustad Sidiq meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Boleh, dimana kajiannya Umma?"
Ucap Dira dengan tersenyum menatap Umma.
"Di dekat pondok putri nak, ini khusus untuk para wanita saja"
__ADS_1
"Oowhh.. Iya Umma Dira mau"
"Ya sudah ayo nak, eh tunggu sebentar"
Ucap Umma segera mengambil tasnya di dalam kamar.
Setelah memberi tahu mbak (asisten rumah tangga) yang berada di kediaman Pak Kiai, Umma dan Dira pun segera beranjak menuju pondok putri.
Dira menatap Aula yang cukup besar tersebut dengan kagum yang terlihat jelas di matanya. Ini pertama kalinya ia mengikuti yang namanya kajian di mana telah ramai para santri wati dan juga para Ustadzah yang juga menghadiri kajian hari ini.
"Ayo nak duduk disini, sebentar lagi akan di mulai"
Ucap Umma yang mulai menyadarkan Dira kembali.
Dengan segera Dira duduk di samping Umma bergabung dengan para Ustadzah yang duduk di bagian depan dan santri wati di bagian belakang.
Dira sedikit terpaku melihat Ustadzah yang sedang memberikan tausiyah di depan sana.
Ya, dialah Ustadzah Aisyah yang kemarin bertemu dengannya dan sang suami.
Dira merasa minder dengan dirinya yang masih jauh dari kata soleha seperti isi dari ceramah Ustadzah Aisyah barusan. Sebersit rasa syukur muncul di hatinya mengingat suaminya adalah seorang Ustad yang paham akan agama.
Namun kekhawatiran juga muncul kala ia menyandingkan dirinya dengan sang suami. Dira yang hanya tau A ba ta saja sedangkan sang suami hafal tiga puluh juz. Dira yang dulu pernah berpakaian terbuka bahkan sempat berpacaran namun berbeda dengan sang suami yang selalu taat beribadah.
Sungguh perbandingan yang sangat jauh berbeda.
Namun dengan cepat Dira menghalau rasa tidak nyaman tersebut saat Umma mengajaknya kembali ke rumah.
"Assalamualaikum Umma"
Ucap Ustadzah Aisyah di depan Aula menghentikan langkah Umma dan Dira.
"Waalaikumsalam nak Aisyah"
Jawab Umma sembari menerima uluran tangan Ustadzah Aisyah untuk mecium tangan Umma.
"Umma apa kabar?"
Ucapnya ramah dengan senyuman yang sangat indah di pandang mata.
"Alhamdulillah Umma sehat nak. Kamu apa kabar? Sudah lama tidak main ke rumah semenjak Shafa ke Kairo"
Ucap Umma sambil mengusap pundak Ustadzah Aisyah.
"Alhamdulillah,,, Kabar baik juga Umma.
Iya Umma, Saya sibuk mengajar dan mengisi sedikit kajian saja Umma, lagian bila tidak ada Shafa saya takut menimbulkan fitnah bila sering mengunjungi Umma"
Ucap Ustadzah Aisyah dengan menundukan kepalanya.
"Masyaallah anak soleha Umma,, Oiyah perkenalkan ini Dira istrinya Mas Sidiq"
Ucap Umma lagi menatap Dira sebentar lalu beralih menatap Ustadzah Aisyah.
"Iya Umma, kemarin kami juga sudah bertemu. Assalamualaikum mbak"
Ucap Ustadzah Aisyah tersenyum ramah menatap Dira.
"Iya Waalaikumsalam"
Jawab Dira seadanya karena ia sendiri juga bingung ingin berkata apa.
"Kalau begitu saya permisi Umma mau melanjutkan tugas"
"Owh iya nak, eh tunggu sebentar minggu depan Shafa pulang dari Kairo, main-mainlah ke rumah ya nak"
Ucap Umma dengan senyuman hangatnya.
"Iya Umma Insyaallah saya akan berkunjung ke rumah Umma, kalau begitu saya permisi Umma Assalamualaikum"
Pamit Ustadzah Aisyah lagi dan mulai beranjak meninggalkan Umma dan Dira yang berjalan ke arah kediamannya.
__ADS_1