Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Pondok Makan Sederhana


__ADS_3

Dira kembali ke rumah dengan mengenggam kalung tersebut. Berjalan menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya.


Dira melepas kerudungnya. Menatap lagi kalung berliontin batu permata tersebut. Mengingat kembali perkataan Mas Galih yang akan selalu ada untuk dirinya kelak. Namun tidak mungkin rasanya Dira melepaskan sang suami yang tidak pernah bersalah kepadanya.


Dira mengusap liontin batu permata tersebut lalu memakainya. Mematut dirinya di depan cermin.


"Cantik"


Satu kata yang terucap dari bibirnya. Kalung dengan batu permata berwana putih itu sangat indah di pakai oleh Dira dengan batunya yang berkilau.


Mas Galih memang tidak pernah perhitungan terhadap dirinya, meskipun jarang bertemu namun Mas Galih sering mengiriminya hadiah-hadiah yang bisa membuat Dira tersenyum senang. Kebiasaan Mas Galih yang seperti itulah yang tidak bisa membuat Dira melupakan Mas Galih dengan mudah.


Dira menatap beludru berbentuk hati tersebut dan membukanya lagi. Ternyata ada sebuah kertas kecil yang terlipat di dalamnya.


For my love Dira


-Galih-


Senyum mengembang terbit di bibirnya membaca tulisan tersebut. Namun sesaat kemudian senyuman itu berubah menjadi murung.


Tidak. Dira tidak ingin terus berlarut-larut dengan semua ini. Dira melipat kembali kertas tersebut dan memasukkan lagi ke dalam beludru merah tersebut.


Cklaakk,,,


"Assalamualaikum,,"


"Astaga"


Kaget Dira melihat sang suami yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.


"Adek sedang apa? Kok tidak menjawab salam Mas?"


Dengan cepat dira menyembunyikan beludru merah hati ke dalam laci.


"Maaf Mas, Dira tidak mendengarnya karena sedang fokus bersiap-siap, Dira merasa bosan di rumah saja Mas"


Ucap Dira dengan cepat meraih bedak di atas meja rias.


'Uuhh untung saja aku masih pakai baju ini dan beludru itu semoga Mas Sidiq tidak melihatnya'


"Iya Dek, Oiyah Adek mau ikut Mas melihat Pondok Makan kita?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira.


"Mau Mas, tunggu sebentar ya"


Yang di balas anggukan kepala oleh Ustad Sidiq.


Dengan segera Dira menyapukan kembali make up ke wajah cantiknya. Make up yang sangat natural karena sang suami tidak mengizinkan bila Dira keluar rumah menggunakan make up yang berlebihan.


"Sudah, ayok Mas"


Ucap Dira menatap sang suami yang sedari tadi terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Iya Dek"


Ucap Ustad Sidiq berlalu begitu saja di depan Dira.


Ustad Sidiq melajukan kendaraannya ke arah pinggir kota. Tiga puluh menit perjalanan mereka pun sampai di Pondok Makan.

__ADS_1


"Pondok Makan Sederhana"


Dira membaca pamflet di depannya. Namun Dira sedikit kagum melihat pondok makan tersebut.


Dimana terletak di pinggiran kota dengan menampakan aliran air sungai yang bersih dan terdapat banyak pondok-pondok kecil.


'Kenapa aku baru tahu ada tempat makan yang instag*amabel seperti ini. Aku harus mengabadikannya'


"Mas fotoin Dira dong disini. Dira mau posting di Instag*am sekalian promosiin tempat ini"


Ucap Dira menyerahkan ponselnya kepada sang suami.


Dengan sedikit malas Ustad Sidiq meraih ponsel tersebut. Dengan Dira yang langsung berpose ala-ala fotogenik.


"Masyaallah, cantiknya istri Mas ini"


Ucap Ustad Sidiq menatap wajah Dira.


"Sudah belum Mas?"


"Sudah dek, ini"


Kembali menyerahkan ponsel tersebut.


"Dek, jangan terlalu sering memposting foto mu di sosial media ya, takutnya zina mata bagi yang melihatnya"


Ucap Ustad Sidiq dengan lembut.


"Iya Mas"


Hanya itu yang keluar dari mulut Dira karena ia telah asyik dengan ponselnya.


"Ayo Dek masuk ke dalam, sekalian Mas perkenalkan Adek kepada Karyawan di sini"


Dira sedikit kaget saat sang suami mengenggam tangannya. Karena tidak biasanya Ustad Sidiq seperti itu apa lagi ini di tempat umum.


'Hmmm,, Mungkin karena ia ingin mengenalkanku kepada karyawannya'


Yah itulah yang ada di dalam pikiran Dira.


Dira tersenyum ramah menatap para Karyawan dari Pondok Makan Sederhana milik Mas Sidiq.


Meraka dengan ramah menyambut kedatangan Dira. Ada juga sebagian Karyawan yang berbisik-bisik di belakang mereka menceritakan tentang betapa beruntungnya Dira mendapatkan suami seperti Ustad Sidiq dan banyak juga dari Karyawan wanita yang merasa patah hati karena tidak bisa memiliki kesempatan lagi untuk mendekati sang Ustad muda tersebut.


Dira menatap makanan yang terhidang di atas meja dengan tampilan yang sangat menggoda. Menu favorit dari Pondok Makan Sederhana milik Mas Sidiq yang kini juga menjadi miliknya.


Ada ayam ulek cabe hijau, ikan bakar bumbu kuning, udang asam manis dan cumi tepung.


Di tambah es kelapa muda sungguh Dira tidak sabar untuk segera mencicipinya.


"Hmmm,,, Enak banget Mas"


Ucap Dira menatap sang suami dengan ekspresi yang menggemaskan menurut Ustad Sidiq.


"Iya Dek, Alhamdulillah kalau Adek suka"


Jawab Ustad Sidiq dengan tersenyum hangat.


"Suka Mas. Suka sekali malahan"

__ADS_1


Ucap Dira dengan menganggukan kepalanya.


"Syukurlah kalau begitu Dek. Jika Adek bosan di rumah Adek boleh berkunjung kemari ya"


"Iya Mas, Dira pasti akan sering-sering kesini"


Ucap Dira di selingi menyuapi makanan ke dalam mulutnya.


Uhuk,, Uhuukk...


"Pelan-pelan sayang"


Ucap Ustad Sidiq dengan menyodorkan segelas air ke hadapan Dira.


"Makasih Mas"


Ucap Dira setelah meminum air tersebut.


Setelah pulang dari Pondok Makan Ustad Sidiq mampir ke sebuah Mesjid saat mendengar suara adzan yang tengah berkumandang.


"Kita sholat magrib di sini ya Dek"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira yang di balas anggukan olehnya.


Setelah menjalankan ibadah sholat Magrib langkah Ustad Sidiq dan Dira terhenti saat melihat seseorang yang ia kenali.


"Assalamualaikum Ustad"


Ucap salah seorang wanita di pelataran Mesjid.


"Waalaikumsalam Ustadzah Aisyah"


Balas Ustad Sidiq dengan ramah.


Dira menatap kedua orang tersebut dengan lekat. Seorang wanita muda yang mungkin hanya selisih beberapa tahun darinya terlihat sangat cantik dan anggun dengan hijab yang ia gunakan. Terlihat jelas wanita yang soleha dari tutur katanya dan cara menatap laki-laki yang ia jumpai. Namun satu hal yang Dira tangkap ada sirat berbeda di matanya kala menatap suaminya.


"Perkenalkan ini Dira Istri saya"


Sambung Ustad Sidiq lagi.


"Owh Ustad Sudah menikah ya?


Assalamualaikum mbak, perkenalkan saya Aisyah"


"Waalaikumsalam, iya mbak saya Dira"


Jawab Dira seadanya sambil menerima uluran tangan wanita tersebut.


Dira melihat jelas perubahan wajah Ustadzah Aisyah yang tersenyum paksa ke arahnya.


"Iya Ustadzah, Alhamdulillah sudah seminggu kami menikah"


Ucap Ustad Sidiq.


"Owhh kalau begitu selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah ma waddah warahmah. Oiyah Maaf saya luan sudah di tunggu, permisi. Assalamualaikum"


Ucap Ustadzah Aisyah dengan tertunduk dan berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka.


"Cieee ada yang senang tuh jumpa mantan!"

__ADS_1


Ucap Dira tiba-tiba berjalan cepat meninggalkan sang suami.


Sedangkan Ustad Sidiq yang mendengarkan perkataan Dira barusan mengerutkan keningnya bingung menatap punggung Dira yang telah berjalan luan di depannya.


__ADS_2