
Satu minggu kemudian.
Hari ini Dira ikut menemani Ustad Sidiq untuk menjemput kepulangan Shafa.
Setelah sebelumnya Umma meminta tolong kepada Ustad Sidiq untuk menjemput Shafa di bandara.
Dira melihat seorang wanita muda dengan hijabnya yang panjang terlihat sangat anggun dan cantik memiliki wajah bulat dengan pipi chubby mendekat ke arah mereka. Bisa Dira tebak bahwa dia adalah Shafa sangat mirip sekali dengan Umma pikirnya.
"Assalamualaikum Mas"
Ucap gadis itu dengan mengulurkan tangannya ke depan Ustad Sidiq.
"Waalaikumsalam dek, Masyaallah Adek Mas sekarang sudah besar ya"
Ucap Ustad Sidiq yang menerima uluran tangan gadis tersebut dengan segera ia menciumnya.
"Ini istri Mas Dek, namanya Dira"
Ucap Ustad Sidiq merangkul Dira.
Dir tersenyum menatap gadis manis tersebut.
"Assalamualaikum mbak, saya Shafa Adeknya Mas Sidiq"
Ucap gadis tersebut dengan mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Waalaikumsalam, manis sekali kamu Shafa"
Ucap Dira dengan meraih tangan Shafa yang langsung di cium oleh Shafa.
"Ayo pulang, Umma dan Abi pasti sudah menunggu di rumah"
Ucap Ustad Sidiq dengan menatap dua wanita yang kini tersenyum lembut.
Setelah sampai di rumah Shafa langsung berlari memeluk Umma yang telah menunggu di depan pintu.
"Assalamualaikum Umma, Umma apa kabar? Shafa rindu sekali dengan Umma"
Ucap Shafa dalam pelukan Umma.
"Waalaikumsalam anak Umma,, Alhamdulillah Umma sehat nak, ayo kita masuk ke dalam nak.
Ucap Umma yang langsung membawa Shafa ke dalam rumah.
Sementara Ustad Sidiq tengah menurunkan Koper milik Shafa dengan di bantu oleh Dira membawa beberapa papper bag
"Abi dimana Umma?"
Ucap Shafa setelah mereka masuk kedalam rumah.
"Abi sedang ada pertemuan dengan dewan santri sayang. Sebentar lagi juga pulang"
Ucap Umma menatap Shafa.
"Owh begitu Umma"
"Iya sayang, kamu pasti lelah sekali kan habis perjalan jauh, mau langsung istirahat atau makan nak?"
"Shafa ingin makan Umma. Shafa rindu sekali masakan Umma"
Ucap Shafa dengan memeluk Umma.
"Yasudah ayo kita makan dulu"
Ucap Umma dengan merangkul tubuh Shafa.
Kini Ustad Sidiq, Dira, Shafa dan Umma tengah makan bersama dengan sesekali Ustad Sidiq bercanda dengan Shafa.
Selesai makan Shafa membantu Umma membersihkan meja makan.
"Umma"
__ADS_1
"Iya nak?"
Ucap Umma menatap Shafa.
"Kenap Umma nerima mbak Dira sebagai istri Mas Sidiq? Kan Umma tau sendiri kalau Ustadzah Aisyah lebih cocok bila di bandingkan dengan mbak Dira"
Ucap Shafa yang kini menyusun piring kotor.
"Astagfirullahal adzim Shafa, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Meskipun Ustadzah Aisyah anak yang baik namun bila tidak berjodoh dengan Mas Sidiq mau apa. Kamu tidak boleh membanding-bandingkannya dengan mbak mu, bila dia mendengarnya pasti sedih"
Ucap Umma menatap Shafa tidak suka.
"Iya Umma maaf"
Ucap Shafa dengan menunduk.
Sementara Dira yang tadi ingin mengambilkan air minum untuk Ustad Siddiq menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di sebutkan oleh Shafa.
Dira sadar bila dirinya masih jauh dari kata sempurna dan bila di bandingkan dengan Ustadzah Aisyah tapi Dira juga anak yang baik dengan selalu mau belajar sesuatu yang baru pikirnya.
Dengan segera Dira mengusap sudut matanya yang berair. Dira melanjutkan langkahnya saat Umma dan Shafa sudah selesai berbicara.
"Umma apa ada yang bisa Dira bantu?"
Ucap Dira saat telah memasuki dapur.
Umma sejenak melirik Shafa.
"Tidak ada nak, semua sudah selesai beristirahatlah di kamar ya"
Ucap Umma dengan lembut.
"Iya Umma, Kalau begitu Dira mau ambil air minum saja Umma"
Dengan segera Dira mengisi air di gelasnya dan berjalan keluar dari dapur.
"Semoga saja Mbak mu tidak mendengarnya. Lain kali kalau ngomong harus hati-hati ya nak"
"Iya Umma maaf"
Ucap Shafa lemah.
"Yasudah istirahatlah di kamar kamu pasti sudah lelahkan sayang"
Ucap Umma dengan mengusap pelan kepala Shafa.
"Iya Umma, Shafa naik dulu ya"
Setelah memberikan pelukan kepada Umma Shafa segera berjalan menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua yang bersebelahan dengan kamar Ustad Sidiq.
Sesampainya di kamar Dira langsung menyerahkan gelas yang berisi air kepada Ustad Sidiq.
"Terimakasih istrinya Mas"
Ucap Ustad Sidiq dengan tersenyum lembut menatap wajah Dira yang sedikit di tekuk.
"Iya Mas"
"Kenapa wajah Adek seperti itu? Apa ada masalah?"
Ucap Ustad Sidiq mencoba meraih tangan Dira.
Sedangkan Dira yang sedikit kepikiran dengan ucapan Shafa tadi reflek menatap wajah Ustad Sidiq.
'Dia suamiku sekarang. Dia cukup tampan sih. Dia juga baik dan sabar. Apa aku tidak pantas bersanding dengannya?'
"Hey kenapa melamun?"
Ucap Ustad Sidiq yang menyadarkan kembali Dira.
"Eh, tidak Mas. Hanya kepikiran saja"
__ADS_1
Ucap Dira mencoba mencari alasan.
"Kepikiran apa? Coba katakan kepada Mas?"
'Aduh cari alasan apa ya?
Tidak mungkin jika aku mengatakan apa yang ku dengar di dapur tadi kepada Mas Sidiq kan'
"Apa kita tidak ada bulan madu Mas? Eh"
Reflek Dira menutup mulutnya saat mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan.
'Mampus kenapa aku ngomong kayak gitu'
"Oowhh,,, Jadi istrinya Mas ini ingin pergi bulan madu ya. Memangnya Adek ingin kemana?"
Ucap Ustad Sidiq dengan senyuman yang menggoda Dira.
"Tidak. tidak ada Mas. Dira tadi salah bicara, tidak usah di pikirkan"
Ucap Dira dengan segera berajak namun dengan cepat Ustad Sidiq menarik tangannya hingga Dira jatuh di pelukannya.
"Kalau beneran juga tidak apa-apa sayang. Memangnya Adek ingin kita bulan madu kemana?"
Ucap Ustad Sidiq menatap lekat wajah Dira.
'Mampus deh,, Kok jadi gini sih? Bulan madu bukannya jalan-jalan ya? Hmm,, Boleh juga neh'
"Bagaimana kalau kita ke Bali Mas?"
Ucap Dira dengan senyum lebarnya.
Sontak saja Ustad Sidiq mengkerutkan Dahinya. Bukan masalah tidak mampunya tapi di sana pasti banyak yang berpakaian terbuka apa lagi di pantainya, Ustad Sidiq hanya ingin menjaga pandangannya.
"Kenapa harus ke Bali Dek?"
"Dira belum pernah ke Bali Mas. Ayolah Mas"
Ucap Dira dengan memelas.
'Hahah liburan geratis ne,, Semoga Mas Sidiq mau'
"Apa Adek sudah pernah Umroh?"
"Belum Mas"
"Bagaimana kalau kita Umroh saja ya, selain berbulan madu kita juga bisa beribadah kepada Allah"
Ucap Ustad Sidiq dengan mengusap pelan wajah Dira.
'Hmm,,, Bagaimana ini??? Maaf kan hamba ya Allah'
"Tapi Dira pengennya ke Bali Mas"
Rengek Dira lagi.
"Huuffhh,,, Baiklah kita akan ke Bali tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya Mas?"
"Setelah Adek selesai menghapal Surah Al-Mulk, bagaimana?"
'Ya Allah, gini amat punya suami ustad. Mau jalan aja harus ngapal surah'
"Mas, boleh nego gak? Surah Al-Fiil saja ya"
Ucap Dira dengan memelas.
"Tidak sayang. Surah Al-mulk atau tidak ada ke Bali"
"Ya Allah mau bulan madu saja harus menghapal Surah dulu. Yasudah tidak usah"
__ADS_1
Ucap Dira dengan segera beranjak menjauh dari sang suami yang kini tengah tertawa melihat wajah cemberut Dira.