Ustadz Penyejuk Hati

Ustadz Penyejuk Hati
Mulai Merasa Nyaman


__ADS_3

Di tengah malam Ustad Sidiq merasa terusik dalam tidurnya iya seperti mendengar suara rintihan. Dengan reflek Ustad Sidiq meraba ranjang sebelahnya. Namun tidak mendapati istrinya.


"Astagfirullah al'azim"


Seketika Ustad Sidiq terduduk melihat sekeliling kamar. Tidak mendapati istrinya di di dalam kamar. Namun dari arah kamar mandi seperti terdengar samar suara orang yang sedang menangis.


Cklaakkk...


Pintu kamar mandi terbuka.


"Astagfirullah al'azim, kamu kenapa Dek?"


Panik Ustad Sidiq segera mendekati Dira yang terduduk di lantai.


"Perut Dira sakit Mas hiks,, hiks,,"


Ucap Dira meringkuk sambil memegang perutnya.


"Kenapa Adek tidak bangunin Mas? Ayo Mas bantu berdiri. Adek baring di tempat tidur saja. Masih kuat tidak berdirinya?"


Ucap Ustad Sidiq memegang pundak Dira.


"Dira takut mengganggu istirahat Mas. Gak kuat perut Dira sakit sekali Mas"


Ucap Dira dengan lesu menahan sakit di perutnya.


Dengan mengucap Basmalah di dalam hati Ustad Sidiq mengangkat tubuh Dira. Dan merebahkannya di atas ranjang.


"Kita ke rumah sakit saja ya Dek"


Ucap Ustad Sidiq tidak tega melihat Dira yang menahan sakit dengan memegang perutnya.


"Tidak perlu Mas, ini sudah biasa tiap Dira mendapat tamu bulanan akan sakit seperti ini"


"Allahu Rabbi, jadi bagaimana Dek? Mas tidak tega melihat Adek yang kesakitan begini"


Ucap Ustad Sidiq dengan wajah paniknya.


"Mas tolong isikan air hangat ke dalam botol saja. Nanti di tempelkan ke perut. Biasanya Dira pakai itu buat mengobatinya"


Ucap Dira menatap wajah sang suami yang sudah panik.


"Iya Dek, tunggu sebentar ya"


Dengan segera Ustad Sidiq turun ke bawah mengisi air hangat ke dalam botol dan membalutinya dengan sebuah kain bersih.


"Ini Dek. Tempelkan di perutnya"


Ucap Ustad Sidiq setelah kembali ke dalam kamar.


"Makasih Mas"


Ucap Dira tulus lalu menempelkan botol yang berisi air hangat tersebut ke perutnya.


"Dek, lain kali kalau Adek merasa sakit atau tidak nyaman cepat kasih tahu Mas yah, jangan seperti tadi menangis sendiri di kamar mandi"


"Iya Mas. Dira takut merepotkan Mas"


"Adek tidak boleh bicara begitu. Mana mungkin Mas merasa kerepotan. Yang ada Mas sangat sedih melihat Adek yang seperti itu. Apa memang setiap datang tamu bulanan Adek sakit begini?"


"Iya Mas maaf. Hmmm,, biasanya sampai dua atau tiga hari saja. Setelah itu normal kok sakit sedikit masih bisa di tahan"


Ucap Dira dengan pandangan ke perutnya dengan sesekali memutar posisi botol.


"Allahu Robbi. Yang sabar ya Dek. Insyaallah kalau Adek ikhlas rasa sakit yang Adek rasakan akan menggugurkan sebagian dosa"


"Iya Mas"


"Bagaimana sekarang? Apa sudah kurang sakitnya?"

__ADS_1


"Sudah Mas. Makasih ya"


"Iya Dek. Adek tidur lagi ya. Ini masih malam. Mas mau sholat tahajut sebentar"


Ucap Ustad Sidiq yang di balas anggukan oleh Dira.


Setelah selesai mengerjakan sholat sunah Tahajut dan berzikir di lanjutkan berdoa kepada sang Maha Pencipta, Ustad Sidiq kembali merebahkan dirinya di samping Dira.


"Kok belum tidur Dek?"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira yang memandangnya setelah melepaskan baju Koko dan sarung.


"Gak tahu ini mata Dira sulit untuk terpejam lagi Mas.


"Apa Adek ingin Mas bacakan doa dan bersolawat biar Adek bisa kembali tidur"


"Hmm.. Boleh juga Mas"


Ucap Dira dengan seutas senyum miliknya.


Ustad Sidiq pun mulai menarik tubuh Dira ke dalam dekapannya. Menjadikan lengannnya sebagai bantalan Dira dan mulai membacakan beberapa ayat suci Al-Qur'an di lanjutkan dengan bersolawat. Sambil mengusap-usap lembut kepala Dira.


Dan benar saja tidak butuh waktu lama Dira sudah terpejam kembali.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Matahari telah kembali datang dengan sinarnya yang menghangatkan bumi. Memberi harapan kepada setiap makhluk untuk mewujutkan mimpinya di hari yang baru.


Didapur minimalis seorang pria tengah sibuk memotong-motong sayuran dan daging ayam. Meracik bumbu dan memasaknya untuk seseorang yang saat ini masih tertidur lelap.


Aroma gurih dari masakan sudah menguar di sudut rumah, seulas senyum terbit kala menatap masakannya yang sudah tersaji.


Dialah Ustad Sidiq yang kini tengah mengambil nasi putih dan semangkuk sayur sop untuk di bawa ke dalam kamar.


Cklaakk...


"Assalamualaikum,, selamat pagi istri solehanya Mas"


Ucap Ustad Sidiq dengan senyum merekahnya. Yang di balas senyuman juga oleh Dira.


"Bagaimana sekarang keadaan kamu Dek? Apa masih sakit perutnya?"


Sambil meletakkan nampannya ke atas sebuah nakas


"Sudah mendingan Mas"


"Alhamdulillahhirobbil a'lamin. Kalau begitu sarapan dulu ya Dek ini sudah Mas masakin sayur sop semoga Adek suka ya"


Ucap Ustad Sidiq lanjut mengambil nampannya yang berisikan sarapan Dira.


"Terimakasih Mas. Mas sudah sarapan?"


"Belum Dek. Nanti saja setelah Adek selesai sarapan"


Ucap Ustad Sidiq sembari menyerahkan nampannya ke arah Dira.


"Kalau begitu Dira tidak mau makan kalau Mas tidak ikutan makan"


"Hmmm.. Yasudah Mas turun dulu ya mengambil nasi"


Ucap Ustad Sidiq yang di balas anggukan oleh Dira.


Setelah Ustad Sidiq keluar dari kamar Dira pun beranjak untuk membersihkan dirinya.


Saat Dira telah selesai dan keluar dari kamar mandi Ustad Sidiq pun telah berada di dalam kamar.


Ustad Sidiq memimpin doa sebelum mereka memulai sarapannya.


Dira pun langsung menyuapi mulutnya dengan sayur sop buatan sang suami.

__ADS_1


"Enak Mas, masakan Mas kok bisa enak sih?"


Ucap Dira masih menatap sang suami.


"Iya Dek, Alhamdulillah.. Karena sering berlatih juga waktu kuliah dulu"


Ucap Ustad Sidiq mulai menyuapi mulutnya.


"Emangnya Mas dulu kuliah dimana?"


"Kairo Dek"


"Wau hebat. Berarti Mas Hafiz Qur'an dong?"


"Alhamdulillah Dek"


Dira hanya mangguk-mangguk mendengar ucapan sang suami. Entah mengapa Dira merasa minder dengan dirinya yang tidak bisa apa-apa di banding sang suami.


Sosok Ustad Sidiq yang penyabar dan lembut membuat Dira mulai merasa nyaman. Dira pun sudah tidak malu-malu untuk sekedar bertanya ataupun mendekatkan dirinya.


"Alhamdulillah. Kenyang sekali perut Dira Mas heheh"


Ucap Dira dengan sedikit senyumannya.


"Alhamdulillah Dek, Adek sudah sehat?"


"Sudah Mas, rasa sakitnya kadang-kadang saja kok munculnya"


"Owhh begitu ya,, hmmm"


"Ada apa Mas?"


Ucap Dira memotong ucapan Ustad Sidiq.


"Bagaimana kalau kita mengunjungi Abi dan Umma, Sekalian Adek melihat Pesantren tempat Mas mengajar. Lokasinya dekat kok dari sini"


"Owhh jadi Mas itu guru Pesantren ya?"


"Iya Dek, bagai mana mau ikut tidak?"


"Boleh lah Mas, Dira juga pasti bosan seharian di rumah saja. Lagian lusa baru Dira akan kembali bekerja"


"Loh, bukannya Adek sudah berhenti ya?"


Ucap Ustad Sidiq sedikit bingung.


"Belum Mas, kemaren itu Dira cuma Izin terus di lanjut cuti"


Ucap Dira menjelaskan dengan tenang.


"Hmm.. Adek, Mas boleh minta sesuatu tidak?"


"Apa Mas?"


"Mas mau Adek di rumah saja ya, tidak usah bekerja di Bank lagi. Kalau Adek bosan di rumah Adek boleh mengunjungi orang tua kita atau main ke pondok makan sederhana kita Dek"


Ucap Ustad Sidiq menatap Dira dengan pandangan memohon.


"Hmmm... nantilah Dira pikirkan Mas. Oiyah jadi tidak perginya?"


"Baiklah Dek, tapi Mas berharap Adek mau mengabulkan permintaan Mas. Iya jadi Dek, ayo bersiaplah"


Ucap Ustad Sidiq dan Dira pun mulai beranjak. Dengan Ustad Sidiq yang turun ke bawah membawa piring kotor mereka dan mencucinya terlebih dahulu. Sedangkan Dira tengah memoles dirinya dengan make up yang tidak terlalu tebal.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Assalamualaikum para readers yang sudah menyempatkan membaca karya author. Bantu likenya ya biar author tambah semangat Up nya 😊😊


Dan mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang tepat, karena author masih pemula yang minim akan ilmu, boleh juga bantu kritik membangunnya author akan sangat senang sekali. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2