
Verel yang melihat itu hanya tersenyum meremehkan, Azalea menatapnya dan mengacungkan tangannya untuk menantang Verel untuk masuk kedalam lapangan.
"Ayo anak ajaib" tantang Azalea.
Verel hanya tertawa sinis pada Azalea.
...🌸🌸🌸...
Dan tanpa mereka sadari saat tantangan Azalea di jawab oleh Verel para murid yang sedang beristirahat langsung berlari ke arah lapangan, mereka ingin menyaksikan Verel beraksi karena sesuatu yang langka bagi seorang Verel menerima tantangan dari seseorang apa lagi itu adalah seorang wanita.
Azalea dan Verel mulai bertanding di lapangan satu lawan satu dan yang menjadi wasit adalah pak Erwin.
Rio menyaksikan aksi mereka dari kejauhan, dia ingin melihat sahabatnya menaklukan guru sombong itu.
Tapi saat pak Erwin melempar bola Azalea dan Verel berebut bola di atas udara, Verel berhasil mendapatkan bola tapi itu tak lama, Azalea dengan tubuh kecil nya yang ringan dan lincah berhasil merebut bola dari tangan Verel dengan menepis bola tersebut dari bawa tangan Verel.
Verel yang sempat terkejut akhirnya berusaha merebut bola dari tangan Azalea yang sedang menuju ring sambil mendrible bola.
Verel berlari mengejar Azalea namun langkah ringan Azalea membuat nya sulit untuk dikejar, Azalea langsung melakukan shoot ke arah ring dengan tembakan tri point dan bola pun masuk kedalam keranjang.
Azalea lalu tersenyum meledek Verel dia sengaja memancing emosi anak itu, dan benar sja saja Verel terpancing dengan tantangan Azalea yang meremehkan nya.
Verel melepaskan dasi seragamnya yang dia kenalan bahkan sampai melempar nya ke lapangan.
Rio dan Dean yang menyaksikan pertandingan itu di sisi yang berbeda langsung terbelalak, pasalnya bila Verel seperti itu tandanya itu sudah mode serius.
"Verel" gumam Dean.
"Dia serius? " Rio seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Verel merebut bola dari Azalea dan langsung berlari mendrible bola ke arah ring lawannya dan dia melakukan hal yang sama seperti yang Azalea lakukan dia melemparkan bola dengan posisi Tri point dan bola pun masuk kedalam keranjang dengan sempurna.
Azalea tersenyum sinis dan meremehkan Verel.
"Tertanya kau bukan jenius atau ajaib Verel tapi kau itu peniru hahaha" tawa Azalea meremehkan dia benar-benar memancing emosi Verel.
Verel yang tak Terima di katai peniru oleh Azalea pun akhirnya serius di lapangan wajah santai yang bisa di tunjukan tak ada lagi, kali ini hanya wajah serius yang ada di lapangan.
Semua murid terlebih sahabatnya merasa heran pada Verel kenapa dia jadi serius seperti itu hanya karena perkataan Azalea.
Pertandingan pun berjalan secara sengit antara Verel dan Azalea, saling merebut bola dan saling mencetak angka di lapangan, bahkan tim basket yang melihat itu pun seolah ingin ikut masuk kedalam pertandingan itu, namun tak bisa karena ini adalah duel antara Azalea dan Verel saja.
Saat Azalea Mendrible bola Verel berlari dari arah belakang dan berhasil. menepis dan merebut bola dari Azalea dan dia langsung melempar bola dari tengah lapangan ke ring lawan dan bola masuk kedalam keranu dengan mulusnya.
Para siswi yang melihat aksi Verel langsung berteriak meneriakkan namanya seolah terpesona dengan aksi Verel yang menakjubkan tersebut.
__ADS_1
Azalea bertolak pinggang saat Verel mendapatkan dukungan dari kawan-kawannya.
Melihat wajah Azalea yang nampak tidak bersemangat membuat Verel tersenyum sambil Mendrible bola ke arah ring.
Dan senyuman Verel yang sangat langka bagi para siswa dan siswi disana membuat mereka tercengang melihat aksi langka seorang Verel Bastian yang tersenyum seolah menikmati permainan di lapangan.
"Apa itu benar Verel? " tanya seorang siswi.
Dan siswi yang lainnya pun hanya mengangguk pelan.
"Astaga dia semakin tampan saja bila tersenyum" jerit seorang siswi yang memang penggemar Verel Bastian.
"Ayo.... Rel.... kamu keren banget" jerit Dean dari sudut lapangan.
Verel menoleh ke arah Dean dan melambaikan tangan dengan kecupan di tangannya yang di tunjukan untuk Dean, semua siswi yang melihat itu langsung berteriak histeris saat Verel melakukan kiss bye pada Dean.
"Aaaaa andai itu aku aku pasti sudah pingsan, aaaa Dean kau sungguh beruntung aaaa" jeritan histeris dari seluruh siswi yang menyaksikan itu.
Namun lain reaksi yang di tunjukan Rio, dia sangat kesal dengan kedua sahabat nya itu, yang satu genit yang satu juga sama saja selalu tebar pesona. begitulah fikiran Rio saat melihat interaksi kedua sahabat nya itu.
"Dasar tak tahu malu?! " geramnya sendirian.
"Cemburu ya... " celetuk seorang siswi dari arah belakang Rio.
Fedra memang tidak cukup akrab dengan Rio tapi dia sangat tahu kalau Rio, Dean dan Verel berteman sejak kecil Rio dan Verel sudah seperti pelindung dan pengawal bagi Dean namun akhir-akhir ini hubungan Rio dan Dean agak rengnggang saat kedatangan Azalea.
"Jangan ngaco mana aku cemburu" ucap Rio ketus.
"Ooo jadi berarti nggak masalah dong kalau mereka jadian gitu" ucap Fedra dengan nada mengejek.
Rio mengepalkan tangannya kencang karena ucapan Fedra.
"Jangan sembarangan Fedra tak mungkin mereka jadian" geram Rio.
"Kenapa nggak mungkin apa sih yang nggak mungkin di dunia ini ya kan bila cinta sudah berbicara tak ada yang mustahil dan tak mungkin di dunia ini ya kan? " Ucap Fedra dengan nada menggoda sebelum pergi meninggalkan Rio sendirian.
"Dasar kau pasti sudah terkena mantra Azalea hingga kau jadi seperti ini Fedra"geram Rio.
" Terserah lah apa kata mu yang jelas bagi ku Azalea itu menguntungkan untuk ku hingga aku mau bergabung dengannya oke"ucap Fedra sambil melenggang santai menuju kelasnya.
Fedra tak perduli dengan tontonan di lapangan meski sedang ramai dia memang kurang bisa bersosialisasi dengan baik dengan kawan-kawannya.
Rio yang kesal pun akhirnya memukul dinding yang ada di dekatnya.
"Akh... menyebalkan kenapa semakin banyak saja orang yang menyukai guru itu bahkan sahabat-sahabat terbaik ku pun mendukung nya"
__ADS_1
Bel masuk kelas pun berdering, para siswa dan siswi yang menyaksikan pertandingan di lapangan pun nampak kecewa karena tonton seru mereka harus terhenti.
Azalea tersenyum pada Verel dan mengakui kehebatan murid nya tersebut padahal sepanjang pertandingan Azalea terus mengintimidasi mental Verel dengan terus meremehkannya, padahal bukan itu maksudnya Azalea sebenarnya, dia sebenarnya hanya ingin Verel merasa tetantang dan serius dalam permainan dan tak meremehkan teman-temannya yang membutuhkan bakatnya.
Saat Azalea ingin kembali ke ruangan guru para anggota tim basket mecegatnya dan meminta dirinya untuk menjadi pelatih dan pembimbing mereka di sekolah.
Azalea terdiam dia belum mengiyakan permintaan para muridnya tersebut.
Verel yang melihat itu gemas sendiri dengan guru tersebut.
"Padahal tadi dia seolah sengaja menantang ku dan bergaya sok keren di lapangan dan sekarang dia malah dian saja saat tim basket meminta nya untuk menjadi pelatih dan pembimbing nya dasar aneh" gumam Verel.
"Hei... bu guru apa anda itu mempermainkan perasaan mereka" singgung Verel saat Azalea ingin berjalan ke ruang guru.
Azalea menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Verel.
Azalea tersenyum mendengus.
"Tugas ku sebagai wali kelas kalian itu sudah berat kalau bisa kau saja yang menjadi pelatih dan pembimbing mereka, bukan kah kau itu jenius, kau pasti bisa punya stategi untuk mereka mengalahkan lawannya ya kan? " jcap Azalea santai.
"Apa?! aku tidak-tidak" tolak Verel.
"Nah... kau saja yang tidak punya pekerjaan menolak, apa lagi aku hehe" Azalea tertawa hambar.
Tim. basket akhirnya bersimpuh di hadapan Azalea dan Verel mereka memohon untuk keduanya bisa menjadi anggota di tim basket sekolah.
Azalea dan Verel hanya menggaruk kepala mereka saja karena boleh di bilang kedua merasa tak enak melihat orang bersimpuh di hadapan mereka seperti itu.
"Ayolah bu... dan kau juga Verel kami mohon" ucap kapten tim basket yang bernama Mateo.
"Aku nggak bisa" tolak Verel dia pun dengan ringannya melangkah meninggalkan anggota tim basket yang masih bersimpuh di hadapan Azalea.
"Dasar anak sombong" singgung Azalea pada Verel.
Verel yang mendengar ucapan Azalea pun menghentikan langkanya dan berbalik badannya.
"Apa aku? sombong bukannya itu anda ya? " singgung Verel.
"Ya kau memang sombong tidak mau membantu teman mu dengan bakat mu itu, kau merasa mereka membutuhkan mu hingga kau dengan congkaknya selalu menolak mereka tanpa persaan seperti itu hah"
"Atau... kau hanya bisa bermain saja tapi tak bisa memilih stategi di lapangan? atau adalah salah satu tim lawan dari sekolah lain yang menjadi saingan mu yang kau takuti dan tak ingin kau lawan begitu? " singgung Azalea dia berusaha menjatuhkan mental Verel kembali.
Verel terlihat kesal bahkan dia menatap tajam pada Azalea karena di remehkan oleh seseorang untuk pertama kalinya.
Bersambung.
__ADS_1