
Sebuah mobil mewah memasuki gerbang sekolah dan saat di area parkir turunlah pria dewasa yang gagah dengan berpakaian formal, berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Sean dan Azalea yang sedang berada di atap gedung sekolah dapat melihat siapa yang baru saja datang dengan mobil mewah itu.
"Ibu Lea itu ayah Rio datang ke sekolah" Dean memberitahu Azalea.
Azalea melihat itu dan tak terlihat takut sama sekali, dia lalu berjalan menuju tangga untuk turun.
"Ibu mau kemana? " tanya Dean.
"Turun dan menemukan wali murid ku tentunya" jawab Azalea santai.
"Tapi Bu? " Dean nampak ragu untuk menghentikan Azalea.
"Kau tenang saja" Azalea lalu menuruni tangga dengan santai nya dan meninggal kan Dean sendirian disana.
"Dimana guru yang berani memukul putra ku?!"teriak laki-laki dewasa nan tampan itu.
Wajah kepala sekolah langsung pucat saat melihat siapa yang datang.
" Anak ku tak pernah terlibat maslah apa pun kenapa. harus di pukul sampai seperti ini?!"bentaknya lagi.
Kepala sekolah ketakutan hingga kakinya bergetar.
Saat sedang marah-marah Azalea muncul dari kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul disana.
"Permisi... " ucap Azalea sangat sopan.
Dan orang-orang yang ada disana pun minggir dan memberikan jalan pada Azalea.
Pria dewasa tampan itu pun menatap kearah Azalea dengan tatapan penuh tanda tanya.
siapa anak kecil ini.
Batin tuan Rudolfo.
"Ayah ini dia guru yang memukul aku dan teman-teman ku" adu Rio.
"Hah apa kau bilang anak kecil ini yang menghajar mu dan teman-teman mu?! " tanya tuan Rudolfo tak percaya.
"Iya ayah dia bukan anak kecil dia itu sudah dewasa ayah" jelas Rio.
__ADS_1
Azalea hanya tersenyum saja saat melihat ekspresi wajah tuan Rudolfo saat bertemu dengan nya.
Tuan Rudolfo mellihat penampilan Azalea dari atas kebawah penampilan Azalea yang sangat jauh dari kata penampilan seorang guru karena Azalea saat ini hanya menggunakan kaos ketat wanita dan celana cino saja jauh dari kata pantas sebagai seorang guru.
"Kau seorang guru? " tanya tuan Rudolfo.
"Iya tuan perkenalkan nama saya Azalea wali kelas putra anda" Azalea mengulurkan tangannya pada tuan Rudolfo.
Tuan Rudolfo seolah terkesima melihat Azalea hingga dia hanya bengong saja.
"Ayah dia mau berkenalan dengan ayah ayah.... " Rio kesal.
Tuan Rudolfo langsung terbangun dari lamunan nya saat anaknya menegurnya.
"Ah... iya perkenalkan saya Rudolfo ayah dari Rionaldo" tuan Rudolfo seolah lupa dengan tujuannya datang kesekolah anaknya ini.
Rio. yang melihat perubahan ayahnya yang seperti itu sangat kesal hingga dia akhirnya meninggalkan ruang kepala sekolah tanpa pamit.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya tuan? " tanya Azalea dengan ramah.
"Ah... iya nona saya ingin bertanya apa benar anda yang memukul anak saya, dan apa alasan anda memukul mereka? " tanya tuan Rudolfo dengan lembut.
"Bisa kita duduk sebentar tuan? " tanya ibu Azalea.
Tuan Rudolfo juga melihat wajah Azalea lembam bahkan ujung bibir wanita itu pecah, tapi terlihat mempesona.
Pangeran Melvin alisa Pak Erwin yang baru tiba disana saat mengetahui tentang masalah Azalea melihat kearah tuan Rudolfo yang seolah terpesona dengan calon istri nya ini dirinya terlihat kesal dengan tatapan tuan Rudolfo yang menatap seolah lapar dan ingin memakan Azalea.
dasar kurang ajar seandainya aku sedang tidak menyamar akan aku habisi kau sekarang juga sialan.
batin Melvin kesal.
dia bahkan sampai mengepal tangannya dengan keras hingga urat-urat nya menonjol keluar.
Sementara itu Rio lari ke atas atap dan ternyata disana ada Dean yang sedang sendirian disana.
Dean melihat ekspresi Rio yang terlihat kesal dan marah.
"Rio... " tanya Dean.
"Diam De... jangan bicara pada ku"
__ADS_1
"Kemarilah" Dean menarik tangan Rio dan mengajak nya duduk Dean lalu mengeluarkan sebuah bot salep dari jantung roknya dan mengoleskannya di wajah Rio.
Rio tertegun saat mendaot sentuhan lembut dari sahabatnya itu.
"Sudah... gimana dingin kan rasanya? " tanya Dean dia juga tersenyum manis seperti biasanya.
Rio langsung memalingkan wajahnya dari pandangan Dean.
"Thanks" ucap Rio singkat.
"Rio... kenapa kau semarah itu dengan ibu Lea, bukan kah kita tahu kalau ibu Lea itu berbeda dari guru-guru yang pernah masuk kelas kita? " tanya Dean.
"Sama De... sama semua orang dewasa itu sama dan dia juga sama dia berusaha menggoda ayah ku De tadi di ruang kepala sekolah, ayah ku yang tadi marah-marah langsung terdiam saat berkenalan dengan nya bukan kah dia itu sangat licik dan berbahaya? " Rio masih kesal.
"Hihi Rio. kau sadar nggak sih dengan ucapan mu itu, kau sadar nggak kalau tanpa sengaja kau memang mengakui kelebihan ibu Lea, contohnya saja ayah mu bisa langsung diam saat bertemu dengan ibu Lea" jelas Dean.
"Ck kenapa kau malah membelanya sih, aku benci dengannya kalau kau suka dengan nya jangan berteman dengan ku lagi" Rio ketus.
"Rio... jangan bicara begitu" ucap Dean lirih.
"Mangkanya jangan berpihak pada dia bila kau masih mau berteman dengan ku, kalau kau masih berpihak padanya kau akan tahu sendiri akibatnya" ancam Rio.
Deg.
Dean langsung memang dadanya karena sesak saat Rio mengancam dirinya, Dean tak menyanhka kalau Rio mampu melakukan itu mengancamnya hanya karena mereka tidak sepaham.
"Rio... apa kau tak mau mencoba untuk mengenal ibu Lea lebih dalam dan lebih lama lagi, aku rasa... "
"Diam Dean diam jangan menyebut namanya lagi ingat Dean aku tak pernah main-main dengan ucapan ku" Rio ketus dan pergi meninggalkan Dean.
"Aku tidak takut ancam mu" teriak Dean saat Rio melangkah menuju anak tangga.
"Oia" Rio menatap meremehkan Dean.
"Iya karena sekarang ini aku punya wali kelas yang hebat yang akan melindungi ku dan mendengarkan keluh kesah ku dan dia pasti akan mendukung ku dan memberikan aku arahan yang baik" ucap Dean dingin.
"Dasar bodoh kau lebih memilih dia dari pada aku yang sahabat kecil mu ingat aku pastikan kau akan menyesal Dean" Rio kesal hingga dia berbicara dengan nada tinggi pada Dean.
Ini pertama kali bagi mereka bermusuhan karena mereka tak sepaham.
Rio berlari menuruni tangga meninggalkan Dean yang menangis di atap sekolah, Dean menangis karena sedih mereka bermusuhan dengan sahabat kecilnya sekian lama bersahabat ini pertama kalinya Dean mendengar Rio memakinya dan berteriak padanya sekencang itu.
__ADS_1
Bersambung.