
" hey ketua!! apa kau akan pulang lebih awal?."
" yah..badan ku sedikit tidak enak, mungkin karena terlalu lama di kolam renang."
" wow...ketua tidak seperti biasanya. padahal kau orang yang selalu terakhir keluar dari kubangan itu."
" terkadang aku bingung apa alasanmu ikut klub renang."
"yah...kau tau alasannya."
Alang hanya menggelengkan kepala. ia bergegas merapikan perlengkapan renangnya dan tentu saja tidak memperdulikan ocehan sahabat nya itu tentang begitu populernya ia dikalangan para gadis karena bergabung di klub renang.
" baiklah aku pergi. oh, dan jangan lupa nanti malam sesuai waktu yang ditentukan ok!"
" tentu saja! kau pikir William yang tampan ini akan melewatkan nya!"
" ya...tentu saja tidak."
Alang segera meninggalkan kolam itu, dengan badannya yang terasa sedikit lemas, ia lewati beberapa orang yang menyapanya tampa menjawab. hari ini dia benar- benar tidak peduli dengan siapapun. pikirannya hanya berfokus pada pertemuan nanti malam, perasaan yang berdebar-debar yang terus terasa tidak enak dan membuat perutnya mulas.
" hhhh..ya ampun, padahal aku sudah berumur 18 tahun, lucu sekali. sampai di rumah aku harus tidur"
Alang mengayunkan sepedanya, menyusuri kota kecil yang tidak terlalu ramai, terlebih ia memilih pulang melewati tepi pantai. siapa tau dengan itu badannya akan terasa lebih baik.
Alang adalah seorang remaja yang menyukai air, laut dan juga warna biru. entah mengapa jika hari-harinya tidak menyenangkan atau merasa gundah ia akan pergi ke tebing favoritnya dan tentu saja dengan pemandangan air laut yang indah.
Alang masih menyusuri tepi pantai saat matahari tepat akan tenggelam, matanya menikmati apa yang telah ia lihat beribu-ribu kali. namun ada waktu ketika ia selalu menghentikan ayunan sepedanya. remaja itu akan berhenti, dan meninggalkan sepedanya di pinggir jalan. lalu berjalan memasuki semak- semak dan berakhir di tebing yang bukan tebing favoritnya. berbeda dengan tebing kesukaannya " hope" , tebing ini bahkan ia namai dengan " RIP". sebuah kata yang tentu membuat kita ingin menjauh bukanya malah mendekat.
Alang melihat batu karang yang curam di bawahnya. ia tidak bergidik, namun hanya berwajah datar bercampur benci. laki- laki itu meludah seolah mencela tebing itu. lalu ia kembali mengayuh .
" akhhh, dasar bodoh harusnya aku tidak berhenti!"
Alang bergumam kesal dan mengayuh sepedanya lebih cepat. setiba di rumah, Tampa mengganti baju terlebih dahulu, atau mengisi perut yang biasa lapar, Alang menjatuhkan diri di kasur. memejamkan mata dan sedikit bergumam seperti biasa sebelum tidur. bahkan ibunya yang berteriak memanggil untuk makan malam tidak ia dengarkan.
hari semakin gelap, namun alarm milik Alang berdering dengan keras. remaja itu kemudian bangun dan berusaha mencari sumber suara, lalu mematikannya dan ia lemparkan entah kemana. setidak nya itu tidak terjatuh dengan suara yang keras. tentu saja ia ingat dengan pertemuan yang ia nantikan.
" baiklah Alang, kau harus mengenakan baju terbaik dan ternyaman! hmmmm...ah! lebih baik ini saja."
Alang segera bersiap dan tidak lupa dengan topi hitam yang biasa ia pakai. ia mengenakan kemeja kotak-kotak serta kaus hitam didalamnya, dipadukan dengan celana jeans serta sepatu sport yang tidak mencolok. yah..Alang adalah pria populer dan tampan, jadi baju apapun akan terlihat baik untuknya.
" apa kau ada pertemuan klub malam ini?"
__ADS_1
Erica, ibu Alang yang berumur 36 tahun menghampirinya dengan tangan berbusa, bertanya saat melihat anak yang ia sayangi berbaju rapi dan terlihat sedikit terburu-buru.
" atau...kau pergi berkencan?"
" ibu...kau tau kan aku tidak punya pacar."
" kalau begitu kau akan segera berkenalan."
" ibu....."
" hahaha, baiklah aku mengerti. tapi ingat jangan pulang terlalu malam. setidaknya jangan lewat 00.00 malam"
" apa aku Cinderella?!"
" tentu jasa tidak, kau adalah pangeran."
alang hanya mendesah berat, ibunya benar-benar suka bercanda. ia hanya mengibaskan tangan tanda mengabaikan. lalu segera pergi keluar.
" kau tidak mau meminjam ini?!"
tiba - tiba saja Erica muncul disaat Alang siap dengan sepedanya. tentu saja Alang tersenyum senang, ia segera mengambil kunci motor di tangan ibunya . dan mengacungkan jempol senang.
" ingat, jangan sampai kau berpapasan dengan ayah"
" tentu saja, terimakasih Bu"
Erica hanya mengangguk. lalu melihat kepergian anaknya. Erica menghela napas sedikit gusar. ia tau memberikan motor pada alang adalah salah karna ia belum mencapai umur, namun ia lebih khawatir lagi jika membiarkan alang bersepeda pada malam hari dan melewati tebing "itu".
" Dengan ini aku akan cepat sampai. "
dengan senang Alang mengendarai motor ayahnya itu, dia menghitung sudah berapa kali menaikinya Tampa diketahui oleh sang ayah. jalanan sedikit sepi, dan didepan sana ada persimpangan yang seharusnya tidak membuat Alang berpikir untuk memilih jalan yang mana.
namun laki-laki itu membawa motornya belok kearah kiri, jalan yang membuat ia lebih lama sampai di pertemuan. setelah jauh dari persimpangan Alang berhenti, lalu menghela nafas berat.
" ada apa dengan ku? hhah ..baiklah karna ini sudah jauh aku akan terus jalan"
Alang kembali menjalankan motornya , melewati jalanan tepi pantai seperti saat ia pulang sekolah. jalanan di sana lebih sepi daripada jalanan lainnya. sedangkan pusat dimana pantai selalu ramai masih jauh di depan. udara pun semakin dingin karena memasuki bulan Desember. Alang benar-benar berterimakasih pada ibunya karna ia bisa lebih cepat terbebas dari hawa dingin.
" ALANG!!! TOLONG!!!"
tiba-tiba suara menggema seorang gadis membuyarkan konsentrasi pria itu. tangannya sedikit bergetar, ia menekan gas lebih kencang.
__ADS_1
" Alang!!!!"tolong!!!!"
suara itu kembali menggema dan terus berulang. Alang menggertakkan giginya kesal bercampur takut.
" diam!! jangan sekarang!!"
?
Alang berteriak didalam hati. seolah suara itu biasa ia dengarkan entah dari mana dan menyuruhnya untuk berhenti. namun suara itu terus menggema bercampur dengan tangisan.
" aku terluka...aku disakiti...." suara itu kembali berbicara. Alang menghentikan motornya dengan Tiba- tiba. mengepal tangannya kuat.
" jangan menipu ku lagi!!"
" Alang tolong..."
suara itu begitu pilu, membuat Alang ikut merasa sakit. ia berusaha menahan langkahnya untuk tidak pergi ke tempat itu. namun suara tangis pilu itu tidak bisa membuatnya pergi.
" Alang..."
seolah dirasuki, alang melangkahkan kakinya. ia sadar tidak boleh melakukan ini, namun ia tidak bisa berhenti, tidak dengan suara itu.
" padahal aku tidak mengenalmu! tidak pernah bertemu! lalu kenapa memanggilku? biarkan aku pergi keparat!!! jika hatimu terluka, jangan buat aku juga terluka!! tolong lepaskan aku!!"
tetap saja Alang terus melangkah walaupun membencinya. suara itu terus memanggilnya hingga mencapai tebing bernama " RIP" .
" Alang...."
" kau ingin membunuhku hhah?! maka bunuh lah!! jangan buat aku terbangun!!"
seluruh tubuhnya bergetar hebat dan merasakan angin pantai yang begitu dingin. warna laut yang dilihatnya begitu hitam, seolah ingin melahapnya dan meremukkan tulangnya. ia lihat Karang tajam di tepi tebing itu, dengan perlahan ia berubah menjadi bebatuan yang runcing dan siap menusuk. Alang sudah melihatnya berulang kali, batu runcing itu siap menusuknya. namun dari sana lah suara itu berasal. Jeritannya, tangisannya dan rasa sakitnya. teriakan yang seolah bukan terjatuh, namun memang sengaja ditusukkan ke seluruh badan wanita yang membuatnya seperti ini.
alang memejamkan mata, sebentar lagi ia akan terjatuh. Satu kakinya telah merasakan pijakan yang kosong. Satu langkah lagi ia akan terhempas. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. Pikirannya begitu kacau, berusaha menolak langkah yang tidak ia inginkan. Namun percuma, kedua kakinya telah merasakan pijakan yang kosong. Alang menahan nafas, dan seolah detak jantungnya berhenti, laki- laki itu terjun dari ketinggian dan siap tertusuk. dan mungkin membuat seluruh isi perutnya keluar. Alang kembali mengingat pertemuan yang seharusnya ia datangi, seharusnya ia bertemu orang itu saat ini. mungkin ia akan memberikan beberapa pujian lalu membelai kepalanya.
" hahaha..."
Alang hanya tertawa pasrah, saat ini jarak ia antara batu runcing itu tak lebih dari dua meter. Matanya terbuka, melihat Kilauan ujungnya yang begitu lancip. Seperti biasa ia tidak bisa menutup mata seolah dipaksa terbuka. Alang hanya menangis tampa suara dan berteriak di dalam hati. tepat saat detik terakhir 21.00 berdeting, ia mendengar suara tusukan namun tidak dari tubuhnya. Alang membuka matanya cepat, detak jantungnya terasa berhamburan dengan air mata yang masih menetes. Tangannya erat memegang sprei kasur. tubuhnya terasa panas dingin dan begitu kebas. Ia masih merasakan angin laut itu, bahkan rasa di saat ia di tepi tebing. Alur nafas Alang masih tidak beraturan. ia duduk dan menjambak rambutnya frustrasi.
" sial!! dia mempermainkan aku lagi!!!"
" MIMPI SIALAN!!!"
__ADS_1