
Alang telah melalui lorong demi lorong rumah itu, suasana di sana lebih sepi dari biasanya, acara tahun baru di rumah ini pasti sangat meriah sehingga pelayan lebih banyak melakukan tugas di luar ruangan.
Detail rumah itu bisa di katakan sangat rumit, mereka memiliki arsitektur yang berbeda di setiap lorongnya, terkadang lorong itu sangat nyaman di lihat, namun di bagian lain itu akan terlihat sedih, bahkan hingga yang menyeramkan.
Saat Alang menyelidiki tiap ruangan di rumah Carlos sebelum melaksanakan perencanaan mereka, remaja itu menyadari suatu hal, rumah itu seperti bercerita. Mungkin itu tidak akan terlihat jika kita melangkah secara acak - acakan, akan tetapi rumah itu berbeda, ia memiliki satu jalur yang akan mengarahkan kita pada satu cerita, jika terdapat suatu lorong dengan sebuah pintu namun ukirannya berbeda, maka cerita dari lorong rumah itu akan terhenti, seperti keluar dari lantai utama rumah mewah itu.
Hari- hari untuk menemukan ruangan monitor yang menjadi incaran Alang memang sulit, ia harus melewati ruangan demi ruangan, ia memiliki keuntungan karena menjadi tahu tempat- tempat yang memungkin Alang kabur lebih mudah jika terjadi sesuatu.
Mungkin tidak pantas untuk merasa kasihan kepada Carlos, namun itu terlintas sejenak di benak Alang ketika ia melihat sesuatu yang begitu pilu. Ia menyusuri lorong bercerita itu, ia penasaran dan mungkin menemukan sebuah bukti lain yang bisa ia jadikan tuduhan, tidak ragu ia mulai dengan awal mula cerita itu di buat.
Alang berdiri di depan pintu utama rumah Carlos , saat itu jam menunjukan 02.23 pagi, diam- diam ia meminum obat tidur tanpa sepengetahuan Jean dan Will yang kebetulan tidur di rumahnya. Menuju awal cerita tepat di depan pintu utama, Alang berdiri di ruangan berbentuk bundar, ruangan itu penuh dengan warna lembut dan pajangan cantik yang menghipnotis mata, di langit-langit nya terukir awan dengan gambar burung - burung berterbangan, di tengah ruangan itu terdapat air mancur kecil yang indah, jika di lihat sekilas ruangan itu seperti ruangan mewah biasa, namun Alang yakin cerita di balik nya menunjukan bahwa Carlos pernah tak menyentuh darah, ruangan itu hanya berisi memori- memori bahagia sebelum ia berubah menjadi yang lain.
Alang menatap lorong luas di depannya, serasa berada di museum, di pinggir - pinggir lorong itu terpajang beberapa buku yang sebagian mungkin di kenal Alang, seperti buku dasar untuk anak- anak, Semakin jauh buku- buku itu semakin tebal dan banyak, bahkan ketika Alang sampai di ujung lorong terdapat buku- buku yang tertumpuk seperti gunung, Seolah ia berkata semakin kau berumur kau harus semakin banyak membaca buku. Memang itu masih terlihat menakjubkan untuk di pandang, namun jika melihat sisi gelap Carlos yang telah di ketahui Alang, ia yakin masa kecil Carlos tidaklah mudah . Bagi orang-orang Carlos terlihat luar biasa dengan hobinya yang membaca buku, padahal sang ayah hanya ingin mendidiknya dengan keras dan sembrono untuk menciptakan seorang anak yang ia inginkan.
" Pria ini memiliki rahasia yang begitu banyak."
__ADS_1
Guman Alang sambil menggeleng, ia terus berlanjut ke lorong selanjutnya dan berakhir dengan sebuah ruangan, seperti nya itu tempat Carlos biasa menyambut tamunya meminum teh, di luar jendela yang lebar Alang bisa melihat kolam ikan dengan air mancur yang indah, Lemari- lemari yang tertempel di tembok memamerkan banyaknya penghargaan yang ia peroleh, dan hiasan bunga anggrek di pinggir- pinggir Ruangan. Alang sedikit menyipitkan mata, matanya fokus dengan sebuah pajangan yang ada di lemari kaca, pajangan itu tidak terlalu menarik perhatian karena terdapat pajangan yang sangat mencolok di sampingnya , Alang mendekat dan semakin memperhatikannya.
" Tentu saja ia memajang sesuatu yang aneh.."
Ucap Alang lalu berlalu dan tidak kaget sama sekali. Itu adalah tiga burung yang di awetkan, mereka saling bertaut di pohon yang hanya memiliki satu helai daun di ujungnya. Tiga burung malang itu datang untuk melepaskan dahaga di air pancur yang sering di datangi carlos ketika ia gundah, sepertinya Carlos tidak ingin kehilangan sesuatu yang ia cintai.
Alang kembali masuk ke lorong yang lain, Alang sedikit kaget karena ruangan itu penuh dengan pajangan- pajangan keagamaan kristenisasi, Bahkan ketika ia sampai di ruangan selanjutnya, ruangan itu pastilah tempat perkumpulan keagamaan Karena terdapat meja panjang lebar di sana dan juga buku- buku yang berhubungan dengan ruangan itu.
" Gila! ini kepalsuan yang paling gila yang pernah ku lihat!"
Alang meninggalkan ruangan itu, ia kembali menyusuri lorong dan bertemu dengan pintu besar yang tertutup rapat, persis seperti menuju ke kamar Carlos, saat Alang mencoba untuk membukanya, pintu itu terkunci, Alang yakin disinilah cerita kehidupan Carlos yang suram di mulai. Namun ia butuh kunci untuk membukanya, dan ini bukanlah waktu untuk bermain, bukti yang sudah mereka rencanakan sudah cukup membuat Carlos mendapatkan hukumannya. Alang akhirnya berbalik, mengalah pada rasa penasaran.
Saat ia bersiap untuk kembali pada tubuhnya, decitan suara pintu mengagetkan Alang, pintu itu bukanlah pintu besar, pintu lain yang ukurannya lebih kecil untuk rumah Carlos yang besar.
" Kau ingat bukan acara besar tahun lalu?, tuan Carlos masih merasa tidak puas."
__ADS_1
Suara berat seorang pria mengurungkan niat Alang untuk kembali, pria itu keluar dari ruangan tadi bersama dengan rekannya, yang pasti Mereka bukanlah orang yang pernah di lihat Alang, mereka terlihat lebih rapi.
" Ah, benar sekali, acara besar setelah tahun baru berlalu dua hari, Padahal menurut ku itu cukup bagus, apa kau memiliki ide baru yang akan di ajukan kepada tuan untuk acara besar selanjutnya?"
" Sebenarnya aku berfikir untuk menggunakan semua perempuan- perempuan di bawah tebing itu, Banyak perempuan muda untuk tahun ini, jadi lebih baik kita memanfaatkannya."
" Kau ingin mereka bertarung!?"
" Hahaha, tentu saja mereka akan berkompetisi untuk bertahan hidup, namun ini akan berbeda."
Laki - laki berambut pirang itu seperti puas dengan idenya, karena Mereka tidak hanya memuaskan Carlos saja, namun tamu undangan yang secara suka rela bergabung dengan acara menjijikkan itu.
" Baiklah! Aku akan mendukung dan memberikan bumbu- bumbu penyedap"
" Ya! kita pastikan tuan Carlos senang."
__ADS_1
Keduanya lalu berlalu dan menghilang di lorong yang lumayan gelap. Alang terpaku tak bergerak mendengar rencana bodoh mereka, badannya menegang dengan amarah yang tidak karuan. Ia harus kembali dan mengubah rencana yang hampir jadi, mereka harus beraksi sebelum acara itu di mulai, sebelum tidak ada yang selamat ia dan kedua temannya harus bergerak cepat .