
Hari yang di tunggu ketiga serangkai dari klub renang itu telah tiba, masing-masing dari mereka merasakan tekanan yang bertambah berat, tidak hanya lomba namun kegiatan mereka bertambah karena Carlos. Will bergidik ngeri mengingat mimpinya tadi malam, saat ia berada di atas panggung duel milik Carlos, penampilannya bagaikan gelandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
" Fokuslah pada perlombaan kita masing-masing, lupakan setiap masalah!"
Ucap Jean begitu serius, mereka bertiga sedang berada di ruang ganti, sedangkan penonton terdengar riuh di area perlombaan.
" Apa kau serius? melupakan masalah? "
Will menatap Jean kesal, walaupun ia tahu Jean hanya mencoba menyemangati mereka.
" Tentu saja! memang apa yang seharusnya kita lakukan?! kita terlanjur di arena, apa kau akan menyerah?"
Jean balas mencibir, mengejek Will penuh kegeraman.
" Terimakasih teman-teman."
Tiba-tiba saja Alang merangkul kedua temanya sambil tersenyum, Jean dan Will saling menatap dan akhirnya ikut tersenyum dan mengangguk, ketiganya melangkah pasti menuju panggung l, memastikan pertaruhan pertama mereka tidak akan kalah.
_________________________________
" Apa kau yakin hanya disini? "
Alang mengangguk pasti, tempat yang mereka jadikan markas tidak terlalu jauh dan dekat dari rumah besar itu.
" Dengar, setelah kau berhasil mendapatkan bukti itu jangan pergi ke tempat lain, kau tidak mau kan menjatuhkan bukti sementara kau bangun tanpa mendapatkan apapun"
" aku tidak akan teralihkan, tenang saja" ucap Alang , namun Wiliam menggeleng.
" kita tidak tahu bagaimana nanti, hati- hati saja. akan lucu jika Carlos melihat benda berharga nya tergeletak di tengah lorong."
" Baik- baik aku akan hati- hati."
" Cepat minum ini"
Jean menyodorkan botol minuman, Alang mengambilnya dan langsung meneguk tanpa jeda.
" Kau yakin kan kadarnya tidak banyak?"
Tanya Jean pada Will untuk memastikan Alang akan benar-benar dapat bangun nanti. Minuman itu bercampur dengan sedikit obat tidur, karena tidak mungkin Alang dapat tidur lelap di situasi yang tegang ini. Will mengangkat jempol pasti.
" Apa kau benar-benar tidak bisa membawa kamera?"
tanya Will sambil menunjuk kamera nya yang mengkilap, bagaimanapun bukti dari Vidio lebih kuat untuk sebuah tuntutan.
" Kau kan tau dia hanya bisa datang di dekat Carla, sedangkan ini masih kurang."
jean menerangkan dengan sedikit frustasi, waktu mereka tidak banyak dan tidak ada waktu untuk mengambil kamera.
" Kita tetap lakukan seperti ini, aku punya rencana selanjutnya jadi tunggu saja."
Ucap Alang hingga akhirnya terlelap, meninggalkan temannya yang terbengong dengan rencana lanjutan yang tidak mereka ketahui.
" Wah...dia benar-benar sesuatu.."
ucap Will menggeleng.
__________________________________
Alang terbangun di dalam jeruji tempat Carla di kurung, gadis itu masih terlelap dalam tidurnya dengan nafas yang sedikit berat, kedua lengannya di perban begitu pula sebagian kakinya. Alang mendekat dan mencium kening Carla lembut.
__ADS_1
" Sebentar lagi kita pasti akan benar-benar bertemu."
Ucapnya dan akhirnya melangkah keluar jeruji, Alang terus berjalan melewati jeruji besi lainnya, ia sudah tau kemana harus pergi, membuat langkahnya tidak ragu.
Alang terus menyusuri lorong demi lorong hingga akhirnya berhenti di depan pintu yang sangat ingin ia buka selama ini. Alang menarik nafas dalam, ia yakin dapat mencapai pintu itu.
Alang mendekat perlahan, dan akhirnya dapat menyentuh pintu itu, ia buka dengan perlahan, pintu besar itu begitu berat, pantas saja selalu ada penjaga di sini, Namun beruntung sang tuan rumah sedang tak di rumah, maka tidak ada yang perlu di bukakan pintu.
" Sial!!.harus berapa kali aku terkejut setiap membuka pintu rumah ini!!"
Alang masih tidak terbiasa dengan kejutan di setiap sesuatu di balik pintu rumah carlos, rumah ini cukup menjadi bukti, namun Carlos begitu ber- uang hingga bukti di dalam kertas atau Vidio pun mungkin belum cukup untuk menangkapnya.
" Benar- benar monster!!"
Ruangan itu mungkin tidak berbau amis, namun melihat setiap pajangan yang ada disana akan membuat orang muntah dan merasakan bau amis yang kuat di kepala.
Alang hanya dapat fokus melihat lurus, melihat pintu yang menjadi tujuan selanjutnya dengan ditemani pajangan memuakkan di kanan kiri.
Alang berhasil masuk kedalam Ruangan itu, dan ia kembali terkejut dengan ruangan yang tampak normal. oh..ruangan itu terlihat normal.
Alang segera mencari apapun yang menjadi bukti, dan sebenarnya begitu banyak bukti.
" laki - laki ini hobi mengabadikan sesuatu di dalam buku foto ternyata."
Alang segera merobek beberapa lembar foto yang terlibat meyakinkan dengan hati- hati, berusaha agar Carlos tidak menyadari sesuatu yang hilang.
Alang kembali membuka beberapa laci yang terlihat mencurigakan, mengacak-acak nya namun kembali ia rapikan, dan hal itu memakan waktu yang cukup lama.
" Akh!! sial! sangat susah untuk mendapatkan bukti nyata!"
Alang berusaha menenangkan pikiran nya, berusaha mendapatkan solusi.
Ucap Alang , ia segera berlari keluar mencoba mengejar waktu yang semakin menipis. Tidak sengaja ia menabrak seorang pelayan hingga terjatuh, namun Alang hanya menoleh dan kembali berlari. Ia akhirnya sampai di sebuah ruangan yang penuh dengan alat komputer dan kabel- kabel, sangat jelas itu ruang monitor.
Alang tidak peduli lagi dengan kerapian, toh tempat itu sudah berantakan. Ia tersenyum ketika mendapatkan benda yang sedari tadi ia cari, segera Alang kembali menuju ruangan berbau amis itu.
" Ssssial.."
Alang berhenti dengan rem mendadak, Carlos tepat berada di depan pintu kamarnya, sambil melihat pajangan yang sangat ia sukai.
Alang menatap benda yang dipegangnya juga robekan foto.
" Akh, benda ini akan terlihat melayang"
Alang melihat kanan kiri, lalu memandang saku jaketnya. laki-laki itu memejamkan matanya, berharap agar benda- benda itu tidak terlihat di dalam saku jaketnya.
Suara langkah terdengar membelakangi, dan seorang pelayan perempuan melewati nya begitu saja, membuat Alang bernafas lega.
ia kembali melanjutkan pertulangannya, dan berhasil masuk ke kamar itu lagi.
" Baiklah, mari selesaikan ini selagi ia di kamar mandi!"
____________________________
" Kenapa lama sekali."
Ucap Will gusar, padahal ia ikut tertidur cukup lama dan Alang masih belum kembali.
" Bersabarlah... sebentar lagi-"
__ADS_1
Ucapan Jean terpotong karena sebuah mobil yang ia kenali baru saja memasuki gerbang rumah mewah itu.
" Gawat, dia sudah kembali!"
" Bagaimana ini, apa perlu kita bangunkan!!"
" Tidak !! itu akan memperparah keadaan. Sekarang si lambat itu pasti sudah membawa barang bukti."
Jean menghela nafas berat, kakinya tidak bisa diam karena khawatir.
" Apa menurutmu ia sedang bersama gadis itu?"
Ucap Will seadanya. Jean mengernyit bingung.
" Kau tau kan, seperti di dalam movie, sedikit rasa manis di masa- masa sulit. mengambil kesempatan dalam kesemp- akhhh!!"
Jean memukul kepala Will keras, mungkin dengan itu pikiran anehnya akan kembali sehat.
" Kita akan tunggu sedikit lebih lama, jika ia masih belum kembali , terpaksa harus membangunkannya."
_____________________________
" Dia pasti sedang mencium gadis itu"
" Berhentilah berbicara omong kosong!"
Jean menggelengkan kepala, sudah setengah jam berlalu semenjak Carlos tiba, tapi belum ada tanda- tanda Alang kembali.
" Aku hanya mencium keningnya, apa masalah"
Kedua remaja itu terperanjat kaget, lalu menoleh kebelakang, mendapati Alang masih tertidur lelap.
PAKK!!!
sesuatu baru saja memukul kepala Wiliam, namun tidak ada siapapun di sekitarnya kecuali Jean.
" Apa tempat ini berhantu??!"
Ucap Will dengan wajah pucat, Jean hanya memukul kepalanya.
" Itu Alang bodoh!!"
" Aku sudah mendapatkan bukti."
Ucap Alang lalu menyerahkan lembaran foto dan benda yang ia ambil di ruang monitor.
" Apa kau bisa kembali ke tubuh mu, entah mengapa kami seperti berbicara dengan hantu."
Ucap Will sambil mengguncang tubuh Alang yang tertidur kuat dan kasar.
" Akhh bisakah kau sedikit lembut!"
Ucap Alang yang berusaha bangkit dari tidurnya.
" Kau pikir kau perempuan."
Alang hanya tertawa kecil, ketiganya saling bertepuk tangan, tanda misi mereka berhasil.
mobil yang bersembunyi di balik semak semak itu akhirnya melaju setelah beberapa jam terparkir, meninggalkan rumah mewah dengan rencana selanjutnya.
__ADS_1