
Angin sepoi pantai terasa sedikit dingin diiringi matahari yang baru saja muncul dibalik hamparan laut yang luas. Warna- warna yang menyenangkan antara laut serta langit di kala fajar tidak pernah membuat Alang bosan untuk melihatnya.
Pada Minggu pagi ,seperti biasa Alang lari pagi sebagai rutinitas dan latihan mandirinya. Walaupun dihari- hari biasa ia pun menyempatkan diri, tetap saja Minggu pagi adalah hari yang paling menyenangkan untuknya. Baginya, ia sebut itu jalan-jalan daripada olahraga. Dan , selalu Alang singgah di tebing yang ia sebut " HOPE". Ia akan duduk di sana berjam- jam dan melewatkan sarapan pagi bersama keluarganya. Erica maupun ayahnya tidak mempermasalahkan hal itu, mereka tau anak nomor satu mereka pun ingin memiliki kesenangan sendiri.
Alang menggigit sepotong rotinya, lalu menyeruput susu yang baru ia beli di mart tempat ia biasa beli. Alang menerawang, ia terus memikirkan mimpi dua hari yang lalu. Mimpi terakhir selama dua hari ini.
"Carla..." Ia bergumam, sambil membayangkan wajah pemilik nama itu sedang tersenyum.
" seperti apa wajahnya jika tersenyum?"
Alang masih bergumam. Ia sudah mendengar suara gadis itu. Selama sepuluh tahun, itulah yang pertama. Selama ia bermimpi dan mengenal Carla, gadis itu hanya menunjuk kan wajah sedih, sendu, hampa serta air matanya. ia meminta pertolongan , namun Alang tidak dapat melakukan apapun.
Bagi Alang, Carla adalah orang asing yang paling dekat dengannya, walaupun ia tau itu tidak lah nyata. Namun , memiliki mimpi yang sama bertahun- tahun dengan seorang yang sama, sama saja seperti menjalani hidup bersama di dunia nyata. Alang tidak dapat mendefinisikan seperti apa Carla baginya. Terkadang ia membenci bayangan dalam mimpi itu, namun juga sedih dan terkadang ia merasa rindu jika mimpi itu tidak kunjung datang. Entah dia teman atau lebih dari itu, Alang tidak tahu.
Alang lalu tertegun ketika ia menyadari hal aneh dalam mimpi itu. saat ia melihat alasan Carla menangis. gadis itu tak hanya disiksa, hal yang menjadi miliknya pun di ambil paksa. Alang menatap tangannya.
"Aku memukulnya!"
ya! malam didalam mimpi, Alang berhasil memukul keras pria bermata satu tampa menembusnya. padahal, setiap kali ia ingin menghentikannya, Alang hanya menyentuh udara kosong. Namun dari situlah alang menyadari sesuatu, mimpi itu berjalan seperti perjalanan hidup yang terhubung, namun tidak beraturan. Alang menjambak rambutnya kuat. Carla dan setiap kejadian didalam mimpi yang ia alami memang terasa begitu nyata. Ia masih ingat begitu sakit tangannya ketika ia terbangun dari tidur, saat dia dapat memukul wajah pria bermata satu. Bahkan, sampai sekarangpun masih sedikit sakit.
Dokter mengatakan ia memiliki mimpi yang unik. Tapi tetap saja ini begitu aneh.
" Jadi, apa ini bukan sekedar mimpi? gadis itu? gua? pantai? itu bukan hanya ilusi dalam otakku?! Carla, apa kau orang yang nyata!!?"
"bagaimana bisa-
" hey!!"
Alang menoleh pada asal suara dengan wajahnya yang masih pucat. Jean memandang Alang dengan penuh heran dan seperti berkata" ada apa?".
" Apa kau baik-baik saja? wajahmu terlihat memutih. ah, dan aku membawakan sara- eh? kau sudah sarapan?"
Alang masih menatap Jean, dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan dan dibawa pria itu. Alang melihat pasir putih dibawah sana, sebuah pantai tempat pertama kali ia melihat Carla. bahkan tempat itu nyata tampa Alang sadari bertahun-tahun.
bahkan pohon- pohon di sana tampak sama. jantung Alang berdegup kencang, berpikir, apakah setiap mimpi yang berhubungan dengan gadis itu adalah nyata.
"Jean..."
" ya..?"
" Kau pernah bertanya padaku mengapa aku menyukai tempat ini kan , dan aku pun tidak tau mengapa"
__ADS_1
" Hmm?.....oh! saat kelas 4 SD aku menanyakan itu. Ada apa dengan pertanyaan itu? kau sudah menemukan jawabannya?"
"Itu karna Carla"
Jean masih terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Alang barusan.
"Carla?gadis mimpi itu?!"
Jean berusaha menebak, namun sedikit gusar akan jawaban Alang selanjutnya. Alang mengangguk, membuat Jean terbelalak kaget.
"Apa kau sedang bercanda?! dia hanya ada di mimpi!. terlebih, bukankah kau membencinya? bukankah karna memimpikan gadis itu membuat mu hampir mati!!"
Alang hanya menatap kosong ke depan. ia tau bagi Jean atau siapapun yang mengetahui kondisinya akan bertanya- tanya.
" Tapi dia nyata"
Jean terkejut untuk yang kedua kalinya, menatap Alang tidak percaya.
" A-pa maksudmu dia nyata? a-alang apa kau sedang tidak enak badan. jika iya akan ku ant-"
" Aku tidak sakit" Alang menoleh, melihat Jean dengan wajah pucatnya.
" Memang sulit dipercaya, namun aku baru saja menyadari tempat- tempat di dalam mimpi itu ada di dunia nyata. di lingkungan ku"
" kau tau Alang, tempat - tempat didalam mimpi itu terkadang memang sama dengan yang ada di dunia nyata. Aku pun pernah mengalaminya"
" Tapi ini berbeda"
" Apa yang membuatmu berpikir ini berbeda? dokter juga menjel-"
"ikut aku!"
Alang berdiri dan melangkah meninggalkan Jean. Jean masih tidak habis pikir apa yang membuat sahabatnya seperti itu. namun Jean tetap berdiri dan mengikuti kemana Alang pergi.
Keduanya menyusuri jalan setapak yang tercipta secara alami karna seringnya Alang datang mengunjungi tebing favoritnya. namun mereka berbelok ke kanan , meninggalkan jalan setapak yang seharusnya membawa mereka ke jalanan beraspal. Jean masih mengikuti Alang yang dengan santainya mengibas semak belukar yang lebat di sana, namun setidaknya itu sedikit memudahkan Jean. tumbuhan lebat sedikit demi sedikit menghilang dan diganti dengan bebatuan yang sedikit terjal. namun seolah terbiasa, Alang membimbing Jean melewati bebatuan yang mudah dan aman.
" Apa kau sering melewati tempat ini?"
" Tidak pernah"
Sekali lagi Jean terkejut dan terheran. Seingat Jean, Alang tidak memiliki hobi mendaki gunung. lalu mengapa ini sangat mudah ia lakukan, bahkan seperti sering melewatinya.
__ADS_1
" Ini salah satu dari mimpiku"
Jean masih belum mengerti. ia lihat bagaimana yakinnya Alang melewati jalan yang belum pernah ia lewati ini.
"Beri aku penjelasan yang bisa dimengerti"
Jean akhirnya dapat mengarah kebingungan nya , dan menuntun Alang untuk menjelaskan.
" Ingat saat kau menemukanku di pantai? saat itu aku tertawa senang ketika bangun. "
" ya, tapi kau belum menceritakan nya padaku"
" dia bilang bahwa ia pertamakali melihat dunia luar untuk pertama kali. saat itu sore hari. Dan aku ada di sana karna ia memanggilku. Biasanya ia menangis, namun saat itu ia berteriak senang sambil memanggil namaku. Aku langsung menaiki sepeda pergi ketempat ia memanggil. dan aku lihatnya tersenyum, senyum yang ku lupakan"
Alang tersenyum miris, ia melupakan senyuman yang berharga itu. bahkan ia tidak ingat bagaimana Carla tersenyum, itu hanya terlihat samar.
"Dan di tempat ini kami bertemu"
Alang menunjuk pantai itu, pantai dimana Jean menemukan Alang tertidur.
"aku masih tidak dapat mempercayainya. kau mungkin bertemu dengannya, tapi tetap saja itu di dalam mimpi. "
Jean mendekati pinggir pantai, mengingat kejadian masa lalu itu.
"-terlebih kau sering tidur sambil berjalan, kau mungkin bermain dengannya, namun kau bermain sendiri di dunia nyata.Kau Bahkan mengatakan gadis itu bayang- bayang kelam"
Alang terdiam, apa yang dikatakan Jean memang masuk akal. Orang yang berjalan sambil tertidur tidak hanya dia saja. Jadi, apakah sakitnya semakin parah. lalu bagaimana rasa yang nyata itu, rasa sakit di tangganya bukanlah satu-satunya, dia selalu merasakan sisa- sisa dari setiap episode mimpinya.
" apa aku akan gilaa karna mimpi ini?"
raut wajah Alang begitu datar, ia sudah terlalu lelah. Ia bahkan tidak dapat menyanggah perkataan Jean. Padahal sebelumnya ia begitu yakin, namun seperti dihempaskan, hati Alang seperti berkata- "apa yang harus aku lakukan dengan ini"- . Jean menepuk pundak Alang.
"Itu hanya pernyataan ku saja. kau tau, aku hanya ingin sahabat terbaik ku ini baik-baik saja. jadi...apa yang akan kau lakukan dengan ini"
Alang menatap tempat dimana ia bermain pasir dengan Carla waktu itu. Ia terdiam cukup lama.
"sepertinya aku harus pergi ke dokter Angga"
"sekarang?"
Alang mengangguk pelan, lalu melangkah pergi.
__ADS_1
" apa aku harus mengantar mu?"
Alang tidak menjawab, ia terus berjalan hingga sampai di jalan beraspal. Sebenarnya Alang tidak tau harus melakukan apa, ia hanya melakukan rutinitas perawatan jika mimpi itu semakin memburuk.dengan pikiran kosong Alang menaiki mobil putih yang terparkir manis di sana. Jean hanya tersenyum, seharusnya ia tidak bertanya. tentu saja Jean tidak akan ke sana Tampa membawa mobil.