
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan misi pertama mereka tadi malam, ketiga remaja atlet renang berkumpul di rumah William. Tentu saja dengan alasan karena rumah Will lebih dekat dengan bapak Carlos, banyak alasan mereka bisa lama di rumah Will- bualan anak sekolah- tugas sekolah yang pastinya membosankan mungkin.
" Bagaimana bisa kau berpikir meletakkan pelacak di kamarnya?"
Jean bertanya dengan wajah bangga, temannya benar- benar memiliki tekad yang besar.
" Kekuatan Carlos tidak cukup dikalahkan hanya dengan bukti yang kita rencanakan, beruntung Will memberikan ide itu."
" Ok..jadi sekarang aku seorang rich dan jenius sekaligus.."
Dengan bangga Will merentangkan tangganya dengan dada membusung, kedua temannya hanya menggelengkan kepala.
" Yah...setidaknya kau benar di bagian rich. Ok! mari kita lihat apa yang sedang dilakukannya!"
Segera Alang membuka laptop dan menyambungkan akses yang telah ia pasang, dan Will muntah karena melihat Carlos membongkar pasang pajangan yang tidak manusiawi itu setelah beberapa menit melihat.
" Apa dia manusia! dia monster!! ku pikir tidak akan segila ini!"
Jean mengusap wajahnya dengan begitu gusar, yang mereka hadapi benar-benar seorang psikopat mengerikan! dengan uang dan kekuasaan nya bagaimana bisa mereka menyudutkannya.
" Oleh kerena itu kita perlu rencana Yang matang!!"
" Apa kau serius? dia orang yang kuat."
Wajah Will terlihat ragu- ragu dan menunggu jawaban dari Alang.
" Aku tidak ragu sama sekali, jika dia kuat maka aku memiliki kekuatan super! "
Jean menghela nafas, mungkin hanya dia yang berfikir sedikit tenang.
" Kira- kira berapa persen kita akan berhasil?"
" oleh karena itu kita perlu mengintai untuk memastikan tidak akan gagal dan mempersiapkannya, mungkin sedikit memakan waktu."
" Apa itu sebelum tahun baru? aku yakin kau mengatakan ingin merayakan tahun baru dengannya, si gadis."
" tidak Will, jika sebelum itu aku takut rencananya akan gagal. tapi ada momen yang lebih meriah dari tahun baru bagi Carlos..."
mata Alang menerawang tajam, jelas banyak keyakinan kuat yang ia simpan.
" Tapi untuk terakhir kalinya aku ingin bertanya, karena ini kunci keberhasilan."
" Apa itu?" ucap Jean penuh penasaran.
" Apa kalian yakin ingin membantu?! "
terjadi jeda yang cukup lama setelah itu, namun dengan serentak Will dan Jean menepuk pundak Alang sambil tersenyum.
" ini bukan hanya tentang gadis itu, banyak yang perlu keluar dari penjara carlos."
Ucap Jean dengan yakin, Will tersenyum riang.
__ADS_1
" Kapan lagi aku akan merasa seperti pahlawan di avanger, atau..iron man? hahahaha"
Will tertawa begitu keras sambil membawa sapu yang entah dari mana ia dapatkan.
" Mendengar suara tawa mu, kau lebih cocok menjadi penjahat."
" Hey Jean berwajah datar, apa kau tidak bisa membiarkan ku tertawa sebelum wajah ku ikut tak berekspresi seperti mu?!"
__________________________________
" Ini minuman nya."
Will menyodorkan gelas kecil kepada Alang, gelas itu berisi air putih biasa dengan campuran sedikit obat tidur.
" Bukankah terlalu cepat untuk tidur?"
Wajah Alang terlihat gusar, matanya tidak bisa fokus sedari tadi, bahkan detak jantung nya berdenyut kuat.
" Akan kita lakukan misi pertama nya sebentar lagi, ee...mungkin dua jam lagi."
Jean dan Will saling menatap bingung, baru kali ini mereka melihat Alang yang mengulur waktu dari jam yang ditentukan, pria itu terlihat gugup dan tidak berkonsentrasi sadari tadi.
" Jam menunjukkan 09.00, ku pikir ini memang waktunya tidur Alang, apalagi rumah itu akan kosong di dalam, para tamu akan menyaksikan kembang api tahun baru di taman."
Will berusaha membujuk Alang yang masih tak ingin meminum air yang ia berikan.
Jean menatap Alang dalam, jelas sekali ada yang mengusik pikiran bocah itu.
" Tenang saja Jean, aku tidak mengkhawatirkan apapun."
Jean hanya menatap Alang sambil menggeleng, wajahnya mengatakan " sungguh..? bocah ini..", lalu kembali menghela napas, entah yang keberapakalinya ia melakukan itu .
" Alang, dengar! jika kau tidak bisa berkonsentrasi, rencana yang kita buat selama berhari-hari ini akan hancur, mungkin kau atau kita akan tertangkap dan menjadi pajangan seperti yang kau ceritakan! jadi...katakan! kau tidak perlu malu!"
Entah mengapa Jean berbicara sangat banyak, Alang hanya terpaku karena kata " jangan malu" yang Jean ucapkan.
" Malu? untuk apa-"
" Ayolah Alang, ini pasti antara kau Dengan Carla! Apalagi yang bisa membuatmu khawatir kecuali dia."
Will ikut menimpali sambil menggosok kameranya, dan kali ini Alang tidak bisa berkutik ia hanya bisa menghela napas berat.
" Jadi ...?"
" A- aku ...akhh!! ini memalukan untuk dikatakan!"
" Kau menciumnya."
kali ini Will menebak dengan antusias, sebenarnya itu lebih mirip pernyataan.
" Bagaimana kau tau?"
__ADS_1
" Ayolah Alang, kau akan begitu jika melakukan kesalahan, dan kau melakukan itu kepada perempuan, tapi menurutku itu bukan kesalahan, tapi keberanian! kau keren, kau keren."
Will menepuk pundak Alang keras, terlihat bangga karena merasa sifat ke plaboyannya sedikit berpengaruh pada Alang.
" A-aku-"
" Baiklah Alang....jadi kau menciumnya? "
Dengan susah payah Alang menganggukkan kepala, dia belum pernah mengalami hal itu.
" Dan kau malu untuk bertemu dengannya lagi, kau bingung! coba ku tebak...kau hanya melihatnya saat tertidur, bahkan misi yang kita selesaikan dia pasti tidak tau."
" Ok!ok! kau benar Will, huhh...jadi apa yang harus kulakukan sekarang?".
" Apa lagi! bersikap lah seperti laki-laki yang bertanggung jawab."
Alang menghela nafas berat.
" Katakan jika kau mencintainya, jika tidak setelah Carla bebas atau bahkan sebelum itu ia akan melihat Jean dan jatuh cinta padanya."
kali ini Will memancing Alang, ia harus membuat Alang siap tanpa ragu.
" Itu tidak akan terjadi!!"
" kalau begitu fokuslah dan buat rencana berhasil, dan jika memiliki keberanian nyatakan padanya secepatnya, mungkin saat kembang api berbunyi, itu sedikit romantis walaupun dipenjara, dan-,"
" Baik, cukup Will, aku akan minum airnya"
Will ber- ok dan menambahkan sedikit lagi obat tidur.
" Apa yang kau lakukan?" ucap Jean bingung.
" Dia memerlukan waktu yang lebih banyak, dia tidak boleh menjadi seperti Cinderella, bagaimana jika ia terbangun saat menyatakan cinta?"
" Baiklah, ocehan mu cukup di situ, ayo Alang cepat minum, sebelum kembang apinya menyala."
Jean sedikit menggoda Alang, laki- laki itu hanya memutar kepala keras.
" Aku minum sekarang."
Will dan Jean mengangguk sambil mengepalkan tangan bertanda " semangat" untuk Alang. Mata laki- laki itu mulai terasa buram dan akhirnya tertidur dengan lelap.
________________________________
Alang membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit pusing karena obat tidur yang ia minum, laki-laki itu melihat sekeliling, wajahnya nampak bingung karna tempat yang tidak familiar.
" Kenapa punggung ku terasa dingin?"
Alang mencoba fokus dan menghilangkan rasa pusing, saat matanya mulai jelas ia hanya kembali bingung karena ia sadar sekarang sedang terbaring di dalam bathtub.
Alang segera keluar dari tempat itu dan mencari pintu keluar, ia hanya berharap tidak ada hal yang mengejutkan, Alang membuka pintu itu dengan perlahan, pupil matanya melebar dengan degup jantung yang keras, ia hanya dapat mematung di depan pintu tanpa melepas gagang pintu.
__ADS_1