
" Alang, ingat tiga hari lagi kita ada perlombaan di kota sebelah! jangan berlatih terlalu keras kau juga harus memperhatikan kesehatan!"
Ucap Jean dari dalam mobil, ketiga serangkai itu telah kembali dari kafe sekitar jam 20.00 dan langsung mengantar Alang ke rumah.
" Ketua punya ibu yang baik disini!"
Ucap Wiliam menimpali, Jean memukul kepalanya kesal.
" Baiklah, kami pergi ok! sampai jumpa di sekolah!"
Alang mengangguk lalu segera melangkah masuk ke rumah karena ia harus cepat menghangatkan badan.
" Aku pulang"
" Akhirnya kau pulang juga! cepat bersihkan dirimu, kita akan makan besar malam ini, ibu sudah buat makanan kesukaan mu ."
" dimana nenek."
" Ada di ruang tengah, sebaiknya kau cepat karena dari tadi ia mencari mu."
Alang tersenyum, tidak seperti yang dikatakan ibunya, Alang justru segera ke ruang tengah menemui neneknya.
" Bagaimana kabar mu nek"
Orang tua yang sedang menghangatkan diri di perapian menoleh ke belakang, Langsung tersenyum senang ketika melihat cucu kesayangan datang menghampiri.
" Bagaimana? sudah berapa medali yang kau menangkan?!"
" Eeeehhh? nenek tidak peduli bagaimana kabar ku"
" hahahaha kau terlihat sangat sehat, untuk apa di tanyakan. lagi pula kau sudah tidak menginginkan hadiahnya?"
nenek tua itu tidak terlihat seperti orang tua berumur 60 tahun, Ia bahkan mengenakan baju olahraga dengan santai dan tidak lupa dengan bando kecil coklat kebanggaannya.
"Tentu saja aku masih belum menyerah, sebentar lagi medali ku akan lebih banyak dari nenek."
" Hahahah , cucuku ini memang hebat!!"
Alang tersenyum bahagia, ia memang sangat menyayangi neneknya dan sangat membanggakannya. Terlebih saat ia tau neneknya pernah menjadi atlet unggulan di kotanya.
" Alang!!! makanannya sudah siap! beritahu nenek juga!!!"
" baik Bu, kami segera kesana!!"
Malam itu sepertinya Alang makan begitu banyak, ia lupa harus mengontrol nafsunya. Bahkan neneknya yang pasti tau hal itu tidak memperdulikan sekeliling, Hari ini mereka hanya akan berpesta dan melupakan segala beban.
___________________________
" Aakh...aku tidak bisa mengontrol diri, aku harus merubah sedikit rutinitas mulai besok"
Ucap Alang yang sudah terbaring terlentang di kasur, sambil menatap langit-langit rumah pikirannya menerawang entah kemana dan malah berakhir dengan kejadian tadi sore.
" Lavender......."
gumamnya sambil mengingat bau itu, ia yakin ada seseorang yang lewat di belakangnya, tapi saat berbalik ia bahkan tidak melihat siapapun.
" lavender.... lavender....laven_"
Tiba-tiba Alang berhenti berguman, ia mengingat sesuatu sore itu, ia seperti melihat untaian rambut yang lewat sekilas dan mungkin sedikit menyentuh punggungnya .
" Gadis?"
__ADS_1
ia kembali berguman, Alang bangkit dan melihat keranjang kotornya dan mengambil pakaian yang ia kenakan tadi.
" Apa yang ku lakukan?"
Alang merasa konyol dengan tingkahnya, ia lempar kembali pakaian itu, namun ia berhenti ketika melihat sehelai rambut menempel di sana, ia kembali dan mengambil sehelai rambut panjang dengan warna yang mencolok.
" Emas keperakan....cantik sekali.."
Ujarnya, padahal itu hanya sehelai rambut. beberapa detik kemudian Alang tersadar rambut itu sama seperti rambut Carla. Alang terduduk di kasur memegang kepalanya dengan bingung.
" Kenapa harus sama seperti dirinya? bau dan rambut ini, bagaimana bisa ?"
Alang benci dengan dirinya, ia tidak bisa melupakan Carla atau hanya menganggapnya seorang yang tak nyata, Alang hanya tidak bisa tidak memikirkan gadis itu.
" Sadar Alang, orang yg berbau lavender dan berambut emas perak bukan hanya Carla!"
Alang berusaha menyadarkan dirinya, ia kembali berbaring dan mencoba untuk tertidur.
Ia harus tidur dengan baik.
_________________________________
Alang terbangun dari tidur dan mendapati dirinya kembali ke dalam gua itu, Dengan penerangan remang- remang di dinding keadaannya sama seperti biasa.
Namun kali ini Alang hanya duduk dan menyandarkan dirinya ke dinding gua, Alang sadar mimpi nya telah kembali, namun ia tidak akan melangkahkan kaki dan menghampiri Carla, ia akan menahan keinginan kuat itu. Jika ia ingin melupakan Carla ia tidak boleh bertemu dengannya, jika ia ingin menghilangkan mimpi buruk ini ia harus bisa melawan perasaanya, mungkin mimpi itu benar-benar hilang.
" AARRHHKK!!!"
Suara jeritan perempuan mengagetkan Alang dari lamunannya, jeritan itu terdengar berulang-ulang dan terdengar kesakitan. Alang bangkit, wajahnya berubah menjadi khawatir, perasaan yang berusaha ia tahan meluap seketika, Alang berlari mendekati asal suara, atau lebih tepatnya berlari ke tempat biasa ia bertemu Carla. Alang tidak bisa berfikir apapun, dengan cepat ia buka pintu di depannya namun di sana tidak ada siapapun, tidak ada Carla di sana.
Suara itu kembali terdengar, Alang segera mengikutinya dan berakhir di sebuah pintu, perlahan Alang membuka pintu yang sedikit berbeda bentuknya itu. Saat ia membuka pintu , Alang terperangah kaget, Bagaimana tidak! ada lorong panjang yang setiap sisinya terdapat pintu sel yang kuat di sana, Alang melangkahkan kaki , peluhnya keluar lebih banyak dari biasanya. Alang mendekati salah satu sel dan melihat apa yang ada di dalam sana, pupil mata Alang membesar dan nafasnya tertahan. Di dalam sel itu terdapat seorang wanita yang tengah menyusui seorang bayi, namun lebih mencengangkan lagi! berjejer rapi lebih dua puluh bayi di sana dan siap di beri makan, kedua tangan nya di borgol dan tidak ada kaki di sana, kaki wanita itu terpotong.
" Apa?! apa yang terjadi disini?"
Alang terduduk lemas, bagaimana bisa ada manusia sekejam ini, atau lebih tepatnya mimpi yang sekejam ini?.
" Carla!!! Carla dimana kau?!!"
Alang bangkit dan mencoba kembali memeriksa sel, akan tetapi tatapannya mengabur dan berputar , entah tempat itu yang berubah atau Alang yang merasa sakit, semakin lama pandangan Alang semakin gelap dan akhirnya tidak sadarkan diri.
_______________________________
Alang membuka matanya, Saat ia mulai mengamati dimana ia sekarang, Alang tersadar bahwa ia tidak kembali ke kamarnya melainkan di atas lantai marmer yang dingin. Alang tidak bisa melihat apapun karna tempat nya yang gelap, ia meraba- raba mencoba mencari pegangan.
" sepertinya ini gudang?"
Ucap Alang di dalam hati karena ia sedari tadi memegang barang- barang perkakas dan berdebu, matanya mencoba mencari cahaya dan akhirnya menemukan cahaya kecil yang sepertinya berasal dari sebuah pintu, Alang melangkah perlahan namun secara tidak sengaja menabrak sesuatu dan membuat itu terjatuh.
" akkhh.."
Alang meringis, sedikit merasa sakit karna sesuatu jatuh mengenai kakinya. Terdengar suara langkah berjalan cepat lalu pintu itu terbuka dengan keras bersamaan dengan laki- laki kekar di sana. Alang berdiri kaku dan panik, laki- laki itu mendekatinya dengan mata melotot sambil melihat sekitar, tidak lupa lampu pun dinyalakan. beberapa menit kemudian si pria keluar dan akhirnya bisa membuat Alang bernafas lega.
" Aku harus mengikutinya, akh! aku hampir lupa jika tidak bisa terlihat!"
Alang mengikuti pria itu , ia berjalan menyusuri lorong-lorong yang terasa dingin dan gelap, bahkan ada pajangan kepala hewan di sana, pria kekar itu berhenti di depan sebuah pintu, pintu yang berbeda dari yang lainnya karna terlihat besar dan mewah seperti pintu menuju aula.
Alang dengan cepat mendekati pria itu agar masuk bersamaan, saat Alang berhasil masuk ia melihat sekumpulan orang yang berdiri di depan kaca lebar selebar aquarium raksasa. Sebagian mereka berbincang sambil sekali-kali melihat ke arah kaca, ada yang tengah asik mengamati sambil meminum segelas wine, bahkan ada yang sedang melakukan taruhan di sana.
" Kau bilang ingin menyaksikan nya secara langsung, apa kau tidak masalah?"
tanya seorang pria dengan wajahnya yang tersenyum aneh, pria di sampingnya mengangguk sambil menyeringai.
__ADS_1
" Hanya di sini kita bisa melihatnya" Ucap pria itu. Alang melihat di balik kaca dan sekali lagi Alang tidak mempercayai tempat itu.
Di dalam sana pasti berbau sangat menyengat, bagaimana tidak! banyak darah yang bersimbah di panggung yang berada di balik kaca itu. Dan ternyata panggung itu dikelilingi kaca tebal layaknya aquarium Tampa air, Alang bisa melihat ada tiga lantai untuk tempat menonton, memang penonton tidaklah banyak, bahkan ada satu sisi yang hanya terlihat dua sampai empat orang di sana.
" sebenarnya apa yang sedang mereka tonton?"
ucap Alang masih tidak percaya, ia kembali
menyusuri tiap lantai penonton itu dengan seksama, sampai akhirnya Alang terpaku pada sok- sok gadis yang di kenalnya. Gadis itu tengah duduk manis di samping seorang pria, gadis itu melihat panggung tampa ekspresi.
" c-ccarla?!"
Ucap Alang tidak percaya, bagaimana gadis itu bisa di sana, bukankah ia terkekang di penjara?.
" Baiklah penonton setia kota yang tercinta!!!...."
suara keras seorang pria dangan pengeras suara membuat orang- orang berhenti dengan kegiatannya, Alang melihat pria itu berdiri di di lantai tiga sambil memegang mic.
"...... sepertinya para tuan dan nyonya sudah tidak sabar dengan pertunjukan utama kita!!! tidak perlu berlama-lama lagi segera saya perkenalkan algojo terbaik kita! RUDO!!!!"
Para penonton bertepuk tangan dengan semangat. Tepat setelah pengenalan, seorang pria yang begitu berotot masuk ke tengah panggung, terdapat banyak jahitan lebar di sekujur tubuhnya, bahkan ia membawa pisau yang tidak kalah besar, dengan begitu sombong ia kepal tangan ke atas membuat penonton kembali bersorak.
" Dan!! lawan yang di tunggu-tunggu AGUNG!!! seorang yang tidak sanggup membayar hutangnya kepada agensi, dengan ini ia kan membayar dengan cara apapun sesuai yang di inginkan peminjam!!!!"
Penonton kembali bersorak, di susul dengan laki- laki berumur 40-an dengan wajah pucat nya. Di lihat dari mana pun ini bukanlah pertandingan seimbang, pria itu mengambil alat apapun yang sudah di sediakan di sana, walaupun harapan itu kecil ia tidak mungkin menyerah begitu saja.
" Baiklah!!!! hingga hitungan ketiga pertandingan akan di mulai!!...."
" ttunggu!! apa kalian gila! ini bahkan tidak bisa di sebut pertandingan!!!"
Alang tidak bisa melontarkannya dengan lantang, sekalipun ia memaksa, suaranya tidak bisa di dengar siapapun, ia terlalu takut, ia ingin berlari tapi tubuhnya seolah terpaku di sana.
"TIGA!!!"
" kalian semua gila!!"
" DUA!!!"
" tolong berhenti!....t-tidak!!! bangunkan saja aku dari mimpi ini!!"
" SATU!!!"
"WSSSHHHhh...."
Alang bisa mendengar kibasan pisau Laki-laki berotot itu, namun untung saja agung dapat menghindar. si pria terus menyerang tanpa ampun membuat pria tua itu lebih cepat kelelahan. Agung berusaha melawan dan membuat mata si pria berotot terluka.
" Kurang ajar!!!!"
pria berotot itu berteriak marah , dengan gerakan yang cepat ia menendang kepala agung kuat hingga menghantam lantai.
" Lebih baik kau mati sekarang!"
Ucap nya dan menarik kepala agung dengan kasar, tidak perlu menunggu lama ia tebas kepala itu dengan brutal dan memuncratkan darah kemana- mana. Kaki Alang lemas melihat itu semua, matanya tidak bisa berkedip . Alang melihat Carla yang masih berwajah datar Tampa ekspresi sementara pria berotot itu masih sibuk dengan mangsanya yang sudah mati.
Alang berlari keluar, dan memuntahkan seluruh makanan di perutnya. Ia masih belum bisa mencerna itu semua! bahkan tentang Carla.
" aku harus menemuinya!"
ucap Alang dan berlari di lorong yang panjang itu, berusaha menemukan tempat Carla berada.
Perasaanya bercampur aduk menjadi satu, Alang terus mencari dan memeriksa seluruh pintu namun tidak ada Carla di sana, padahal sudah banyak pintu yang sama yang ia buka tetap saja nihil. Alang mengatur nafas sejenak sebelum ia membuka pintu yang entah ke berapa, Namun pintu itu terbuka dengan sendirinya, Alang menoleh dan mendapati Carla melihatnya dengan terkejut.
__ADS_1
" A- aalang?!"