
Sebelum Alang melangkah pergi, ia memastikan lagi bahwa Rian mengerti apa yang ia katakan.
" Kau akan melakukannya saat kamera di luar sana menyala merah, kau mengerti kan?"
" Ya ampun, iya iya aku mengerti.."
Balas Rian sambil mengorek telinganya dan menggerutu, sedikit kesal dengan peringatan yang terus di ulang. Akhirnya Alang hanya mengangguk mengerti, memang seperti inilah sifat bocah itu.
" Aku pergi sekarang dan mungkin akan butuh waktu lama untuk mengantarnya."
Rian mengangguk sambil melihat Alang berlalu pergi, ia menatap kamera pengawas di tangannya sambil duduk manis di samping alat - alat tajam yang mungkin ia gunakan untuk tampil di panggung hingga terbunuh, Ia hanya perlu melihat kamera yang Alang pasang menyala merah, lalu berpura-pura terlihat berhati- hati sambil berjalan menuju sel dan memasang kamera di sana. Apa yang menjadi rencana mereka di ruangan itu adalah membuat Rian sebagai orang yang memasang kamera sekaligus saksi pertama yang meyakinkan nantinya.
Kali ini Alang pergi ke jalan yang berbeda, karena ia perlu mendatangi Wiliam secepat mungkin tanpa terganggu dengan keramaian, yang pasti ia tidak melewati orang-orang yang sibuk berpesta.
Alang menulusuri ruangan yang agak remang, ia tidak perlu terlalu berhati-hati karena yakin tidak ada siapapun yang mengawasi.
Alang akhirnya menemukan pintu berakhir, dan tidak sampai dua menit ia akan sampai ditempat Will, Alang tersenyum lega, dengan rasa yang begitu lapang Alang meraih gagang pintu.
Namun sesuatu yang keras seperti air menghantamnya, membuat Alang tersungkur dan menabrak pintu. ia berusaha memfokuskan diri dan mendapati dua pria besar menatapnya garang. Alang bingung sekaligus panik, seharusnya ia tidak terlihat. Alang merasakan badannya yang dingin, ia tatap pergelangan tangannya dan terperanjat kaget. Iya yakin seluruh badannya sekarang berwarna merah darah, dan ia jelas mencium bau darah yang pekat dari sana.
_________________________
Will akhirnya selesai dengan tugas nya, ia hanya perlu menunggu Alang datang dan memeriahkan tahun baru Carlos dengan kejutan yang tidak terlupakan. Sesekali ia mengunyah coklat sembari melihat orang- orang yang datang ke pesta itu. Karena sedikit bosan, Will beranjak keluar, menghirup udara malam sambil melihat keramaian di kejauhan.
" Ah..makanan disana pasti enak sekali."
Will menggelengkan kepala,ia harus fokus dengan segala godaan, terlebih dengan gadis- gadis cantik bergaun anggun yang sedari tadi lewat, walaupun sebenarnya ia hampir saja sampai di tempat keramaian itu dan akhirnya mundur teratur.
Will melihat jam nya, sekarang ia ada didalam mobil lagi sambil memakan nasi ayam geprek yang ia persiapkan. Dahinya mengernyit bingung karena waktu semakin sempit tapi Alang belum datang juga.
drt..drrt..drtt..
Suara ponsel Will bergetar di atas laptop nya, dengan cepat ia meraih hp, masih sambil melahap nasi.
" Bagaimana?"
Tanya suara diseberang, agak lama Will menjawab sampai ia menelan makanannya.
" Seharusnya di sudah disini, tapi bocah itu belum muncul juga. Aku jadi sedikit khawatir."
terdengar suara helaan napas Jean yang berat.
" Seperti rencana, kau tetap disitu, akan ku kabari kondisi selanjutnya."
" Ok, berhati- hati lah. kau ingat dan bawa petanya kan?"
" Tentu saja."
Akhirnya panggilan itu diakhiri, kali ini selera makan Will benar- benar hilang, ia bersandar di kursi dengan gusar.
______________________________
__ADS_1
Jean melihat orang- orang di sekeliling, matanya begitu gusar karena hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya terjadi.
" Ada apa Jean?"
Aline menepuk pundak Jean hingga ia tersadar.
" Alang belum kembali".
" Apa ?! bagaimana bisa?"
" Aku tidak tahu , aku harus memeriksanya.Apa kau lihat Carlos?"
" Aku baru saja berbincang dengan nya, seharusnya_"
Aline mengerjap tak percaya, Carlos tidak ada di tempat ia terakhir kali melihatnya.
" Ini gawat, aku harus mencari Carlos!"
" Baiklah kita akan berkeliling, kau pergilah bersama Erik."
Jean mengangguk, Alang pergi mencari Erik, dan mendapati nya sedang berbincang dengan seorang wanita.
" Erik, ada yang berubah dari mu.."
Seolah-olah bertemu teman lama , Jean mendekati Erik dan menatapnya tajam. Erik mengangguk, tanda mengerti dengan kode dari Jean, ia mengucapkan permisi dengan sopan dan keduanya melangkah menjauh dari keramaian.
" Aku harus kedalam!"
" Kau harus diam dan ikuti saja aku".
" Baik."
keduanya kembali ke kerumunan, dengan santai seolah ia tidak memperhatikan apapun Erik menabrak seorang pelayan yang membawakan minuman.
" Aakhh." Erik menunjukan ekspresi marahnya yang sedikitnya payah, bajunya basah dengan minuman.
" Maaf kan saya tuan, saya tidak sengaja."
Pelayan itu membungkuk dengan rasa bersalah, wajah nya pucat pasi karena ia tau tamu yang menghadiri acara Carlos bukanlah sembarang orang, dan sebenarnya ia lebih takut dengan apa yang akan dilakukan Carlos kepada nya.
" Bagaimana ini, acara utama nya bahkan belum dimulai ! Aku tidak membawa pakaian pengganti. Kau harus bertanggung jawab!"
" Maaf kan saya, maaf kan saya..."
" Ada apa ini?"
pelayan lain menghampiri Erik dan Jean, ia terdiam sejenak setelah menyadari apa yang terjadi.
" Maafkan atas kecerobohan pelayanan kami tuan"
pelayan laki-laki itu terlihat lebih santai dan membungkuk dengan hormat.
__ADS_1
" Kami akan bertanggung jawab atas ketidaknyamanan ini. Jika tuan berkenan kami menyediakan setelan pengganti."
Mata Erik masih terlihat merah, ia berdehem Dangan acuh tak acuh. Di dalam hati Jean berpikir mungkin Erik seharusnya menjadi aktor saja, Walaupun itu akan terlihat konyol.
" Baiklah."
" Mari ikuti saya."
Ucap pelayanan itu, ia berjalan mendahului Erik dan Jean dengan hati-hati.
Erik memandang Jean dengan senyuman bangga.
" Kau harus belajar dariku."
Jean hanya mendorong Erik dengan kesal, keduanya mengikuti sang pelayan masuk ke dalam rumah. Jean akhirnya tahu bagaimana terlihat mengerikannya aura rumah itu.
Mereka berjalan melewati lorong dan akhirnya sampai di suatu Ruangan. Tergantung beberapa setelan baju pria disana yang dikhususkan untuk para tamu jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Jean mengangguk kagum, Carlos itu orang yang sempurna jika tanpa sifat psikopatnya, pikir Jean.
" Silahkan , anda bisa memilih setelan yang anda sukai disini."
" Baiklah, kau bisa meninggalkan kami."
" Baiklah, saya akan menunggu diluar jika anda selesai atau memerlukan sesuatu."
Kedua komplotan itu melirik dengan isyarat sesuatu.
" Tidak perlu, saya bisa kembali sendiri dan tidak ada yang saya butuhkan."
" Tidak apa tuan, ini memang tugas saya."
Ucap pelayan itu tersenyum dan akhirnya meninggalkan ruangan.
" Dia tidak akan pergi."
" Tentu saja ia tidak akan pergi, Carlos itu sangat hati- hati."
Jean menghela napas berat, sambil menunggu Erik mengenakan pakaiannya Ia berpikir sejenak dan akhirnya pergi membukakan pintu.
" Permisi, teman saya butuh bantuan dengan pakaiannya."
Ucap Erik kepada pelayan yang sedari tadi menunggu. Pelayan itu ber Oh dan masuk kedalam ruangan.
" Ada yang perlu saya bantu ?"
Sebelum pelayan itu berbalik, Jean membungkam mulut sang pelayan agar tak bersuara, Erik dengan cepat mendekat dan memukul tengkuk pria itu keras hingga pingsan.
"Baiklah, perjalanan kita di mulai."
Jean mengangguk, kali ini berganti baju dengan baju pelayan, walaupun hanya satu dan Erik tidak mendapatkan nya, tapi mereka masih memiliki ide gila selanjutnya.
Keduanya melangkah senatural mungkin dan meninggalkan pelayan yang sesungguhnya di dalam lemari yang terkunci.
__ADS_1