
" Perhatikan baik-baik Carla, inilah yang disebut pelajaran."
Ucap Carlos sambil menyeringai mengerikan, ia tarik rambut Alang kasar dan menatapnya tajam. Lalu ia mengangkat tangannya yang memegang cambuk, siap memukul kulit Alang hingga berdarah.
Plak!!!
Pukulan itu begitu memekakkan telinga, Alang hanya bisa menjerit menahan rasa sakit.
" Tidak! tidak! aku aku harus memikirkan sesuatu!. ayolah Alang,. berpikir.. berpikir!"
Alang mencoba untuk mengendalikan kesadaran nya, bagaimanapun ia harus bisa melalui misi ini.
Carlos berhenti, lalu memperhatikan cambuknya dengan bosan, ia pergi mengambil peralatan lain, yah...yang jelas ia ingin memperbaiki mood nya sampai benar-benar membaik.
Alang memperhatikan gerak Carlos yang santai, Carlos terbiasa melakukan itu karna yakin setiap tujuan tidak mungkin tidak tercapai.
Alang bangkit, Carlos terlalu menyepelekannya hingga tidak peduli jika tangannya tidak terikat, mungkin ia berpikir Alang tidak akan kuat walaupun hanya sekedar berdiri. Alang berlari sekuat tenaga menuju pintu, tidak peduli dengan benda-benda yang di ditabraknya. kedua pengawal Carlos terlambat menyadari, dengan gelagapan mereka berlari menyusul namun dengan cepat Alang menutup pintu dan menahannya dari luar.
" Kau! kau disini!!!"
Ucap Alang kaget ketika melihat Jean menganga didepan pintu , jantungnya seperti berhenti beberapa detik.
" Bawa ini!!! bawa pada Will!! cepat!!"
Ucap Alang sambil tergesa-gesa mengambil barang disakunya, pintu yang ia tahan tidak bisa tenang karena dobrakan dari dalam.
" Ayo pergi bersama!!!"
" Tidak bisa, aku tidak bisa meninggalkan Carla. Pergilah dan Pastikan semua orang melihat kebusukannya!!"
Jean tidak punya pilihan lain, ia tepuk bahu Alang sebelum perlari pergi, Melihat Alang mengangguk pasti dan berjanji akan kembali.
Alang menatap kepergian Jean Hingga ia menghilang dari pandangan, tepat setelah itu pintu terbuka paksa hingga Alang tersungkur ke lantai, dua pria dihadapannya kembali menyeret Alang dengan kasar, membawanya kembali kehadapan Carlos yang terlihat begitu marah.
" Kau pikir kau bisa kabur..."
Carlos mendekat , menyeret Alang dengan menarik rambutnya dan membawanya ke hadapan Carla.
" Ku mohon...lepaskan dia! aku..aku berjanji tidak akan bertingkah lagi. ku mohon...."
Carla melihat Carlos dengan mata penuh mohon pengampunan, ia tidak apa, ia akan bersama Carlos dan menuruti semua apa yang diperintahkan nya, ia tidak akan memberontak lagi asal Alang dibebaskan, Alang tidak bertanggung jawab untuk menyelamatkan. Sekali lagi sesuatu yang berkilau pun ikut jatuh dengan tangisannya.
" Sayang...ini bukan tentang dirimu lagi, kau paham apa yang ku maksud..., Aku juga ingin cepat mengumpulkan kekayaan setelah acara ini, jadi lebih baik kau menangis dengan benar."
Carlos senang ketika melihat seseorang tak berdaya, namun ia lebih senang lagi ketika mangsanya berusaha untuk bertahan hidup walaupun tau ia pasti akan mati.
" Kau bajingan KEPARAT!!! Apa kau kurang bahagia hahh?!...kau menyanjung ibu mu begitu terhormatnya, jika dia melihat anaknya yang tersayang menjadi seorang pembunuh, ia pasti akan bunuh diri!!"
Kali ini Alang tidak dapat menahan emosinya, ia meludah dan dengan susah payah mencoba berdiri setelah beberapa kali dipukuli. Carlos mengeram, matanya begitu tajam melihat Alang.
" PLAK!!!!"BUK!! BUK!!!."
__ADS_1
Dengan brutal Carlos memukul dan menendang Alang, begitu keras hingga hidung dan mulutnya berdarah, Alang tertawa mengejek.
" Hahahaha...aku kasihan padamj huuokkk!!"
Carlos menendang perut Alang sekali lagi lalu mendekati nya dengan penuh amarah.
" Jangan pernah sekali-kali kau menyebut ibu ku..dasar kau bocah brengsek!."
Carlos meludahi wajah Alang, ia menatap wajah remaja itu lalu menyeringai mengerikan sambil berbalik menatap Carlos.
" Kau tau... sebenarnya ada pelajaran menarik yang bisa ku berikan...
Ucap Carlos dengan begitu santai, ia datang kepada Carla lalu melepaskan tali yang mengikat gadis itu di kursi, ia melepaskannya bukan untuk membebaskan Carla, namun mengikatkan kembali tubuh Carla lalu menidurkannya di lantai dengan posisi miring tepat menghadap Alang.
" Ayahku dulu memberikan ku sebuah pelajaran berharga, bahkan itu satu-satunya pemberian pelajaran terlama yang pernah ku tau...."
Carlos mendekati Alang yang tenaganya telah terkuras habis, mengangkat dagu remaja itu dengan senyum licik.
" Kau akan melihat pelajaran ini sepanjang malam Carla..."
Dengan kasar Carlos merobek baju Alang, lalu memerintahkan pengawalnya untuk menyirami cairan berwarna di seluruh tubuh remaja itu.
" Apa yang akan kau lakukan bajingan!!!"
" Apa aku harus mengulanginya Alang? ini adalah pelajaran yang tidak akan kau lupakan, seperti ibuku. dan juga mengajari Carla bagaimana ia akan menjadi seperti diriku."
Carlos menyeret Alang untuk lebih dekat Dengan Carla, membuat keduanya saling berhadapan.
degup kedua jantung remaja malang itu seolah berhenti, mata keduanya terbelalak dengan ekspresi yang tidak dapat di gambarkan.
" Kau !! kau gila!!! lepaskan aku brengsek,!!!!"
Alang berteriak dengan kencang, ingin melawan Carlos namun tenaganya terlalu lemah, wajahnya pun terlihat pucat pasi.
" TIDAK!!! CARLOS ku mohon....lepaskan Alang...tolong..."
Carla menangis tersedu-sedu, ia berusaha melepaskan ikatan yang menjeratnya namun tetap tidak bisa, di sana , Carlos tertawa senang sambil didalam hati mengutuk ayahnya.
" Plak!! plak!!!"
" sebelum kau merasa senang, lebih baik ku hancurkan dulu tubuh mu!"
Carlos datang dengan mencambuknya dan memukul Alang keras.
" Alang, ku mohon kembalilah!!!"
Carla berteriak keras, namun Alang masih disana, menahan rasa sakit dari cambukan Alang.
_________________________
" Arrrghhh.."
__ADS_1
Will menoleh pada asal suara, ia perhatikan wajah Alang yang mengkerut seperti menahan sesuatu.
" Alang? Apa dia sudah bangun?"
Will datang menghampiri tubuh Alang yang tertidur, ia ambilkan senter untuk memastikan apa yang terjadi, ia tidak akan berani menghidupkan lampu didalam mobil dan pada akhirnya dicurigai. Pupil mata Will melebar ketika mendapati wajah Alang yang penuh memar dan bahkan keluar darah dari hidung dan mulutnya.
" Astaga!! apa yang terjadi?? ini gila."
Dengan cepat Will memeriksa bagian tubuh Alang yang lain, ia menggeleng penuh kekhawatiran karena banyak memar di tubuhnya.
" Aku harus membangunkannya!!"
Will berusaha memanggil Alang didekat telinga sambil mengguncang tubuh remaja itu, namun tidak ada reaksi melainkan hanya sebuah erangan kesakitan dari Alang.
" Ya Tuhan ....bagaimana ini?! apa aku harus menyiramnya?"
Will panik di dalam mobil, ia raih handphone nya untuk menghubungi Jean, namun tidak ada tanda-tanda Jean akan menjawabnya.
" Sial!! ayolah..angkat!!"
Will kembali menguncang tubuh Alang dan memanggilnya, apapun kondisinya Will tidak bisa meninggalkan mobil, mereka sudah membuat aturan dan mempertimbangkan dengan matang, harus ada yang bertahan apapun yang terjadi.
Will mengangkat Hp nya kembali dan menghubungi Aline, dan ia bisa sedikit bernafas lega Karana ada jawaban disana.
" Persiapkan alatnya!! kita akan langsung menayangkannya ketika aku sampai disana!!"
Ucap Aline dengan napas yang tidak beraturan, dengan terburu- buru Will pergi menuju laptop dan mengotak antiknya.
" Aku sudah selesai bagaimana dengan yang lain?!"
" Diam lah dan cepat lalukan! Cepat hubungkan alat ini!"
Secara tiba-tiba Aline telah berada di luar mobil dan membuka pintu dan menyerah sesuatu yang diberikan Alang, itu cukup membuat Will sedikit Gugup. Napas wanita itu tersengal dengan rambut yang berantakan, pakaiannya pun tidak serapi saat pertama mereka bertemu.
" Baiklah!! tapi kita juga harus membangunkan Alang! dia sekarat!"
Ucap Will. Aline segera mendatangi Alang, mendapati pernapasan bocah itu tidak beraturan dan berat.
" ALANG!! BANGUN!!!"
Teriak Aline keras sambil menepuk bahunya dengan ritme yang cepat, Will yang sedang fokus terperanjat kaget dan berbalik dengan wajah takut.
" Bukankah itu berlebihan?"
" Apalagi yang bisa ku lakukan?"
Keduanya terdiam dengan putus asa, Will berbalik melanjutkan tugasnya.
" HAHAHHHHhh"
Alang Manarik napas kuat dan tersengal, sekali lagi Will terperanjat namun dengan harapan yang terkabul.
__ADS_1
" ALANG!!! syukurlah..."