
Di bulan Desember suhu dingin terasa semakin mendekat, Rumah- rumah sibuk merias diri dengan warna merah khas Natal, di beberapa taman, anak- anak pergi bermain salju, pantai pun sepi karena orang-orang lebih suka berada di dalam rumah.
Namun berbeda dengan yang lainnya, Alang serta kedua temannya Jean dan Will malah berendam di kolam renang, sebenarnya mereka berenang untuk latihan persiapan lomba renang besok.
" Sepertinya sudah cukup!"
Ucap Alang dan segera keluar dari kolam, Jean dan Will mengangguk setuju. Ketiganya segera membersihkan diri lalu menghangatkan diri di ruang ganti, meletakan penghangat diantara mereka sambil berselimut.
" Hey!!"
Will membuyarkan lamunan Alang yang hanya terdiam melihat mesin penghangat di depannya, Alang mengangkat alis berkata" apa?".
" Kita tidak bisa jika hanya langsung menerobos, kita harus membuat rencana Alang, berhenti membuat wajah seperti itu"
Ucap Jean. Sejak terakhir kali bertemu Carla, Alang langsung memanggil kedua temannya, isi kepalanya kalut dan mengatakan hal tak masuk akal, ia memohon untuk didiskualifikasi dari lomba renang dan ingin langsung bertemu Carla dengan rencana yang belum matang .
" Aku tau kau mengkhawatirkannya lebih dari siapapun, tapi kita harus benar-benar bisa menyelamatkan Carla!"
Kali ini entah mengapa Will dapat berbicara serius dan tegas.
" Kau bilang kita akan melakukan rencana pertama besok! "
" Ah, benar kita harus mendapatkan bukti yang jelas, ayo semangat lah!!" Ucap Will.
Kedua temannya berusaha untuk membuat Alang bersemangat, Ia harus termotivasi dan bisa berpikir dengan tenang, bukan hanya sekedar emosi.
Padahal semua rencana itu adalah susunan Alang, namun hatinya yang sedikit rapuh bisa saja membuat rencananya menjadi berantakan.
" Kau harus menenangkan dirimu!"
Sekali lagi Jean menjadi seorang pembimbing bagi alang, sahabat karibnya ini selalu mengetahui seperti apa perasaan Alang. Alang bukankah tipe orang yang jika memiliki masalah akan bercerita pada seseorang, namun Jean mengetahuinya, ia tahu kapan Alang ingin sendiri dan kapan ia sebenarnya membutuhkan seseorang.
" Kopi!"
Ucap Will sambil menyerahkan minuman itu kepada teman-temannya.
" Bagaimana keadaannya?"
" Tenang saja, aku menjadikannya pelanggan di homestay selama seminggu, jadi orang tua ku tidak akan curiga."
" Sungguh kau tidak dicurigai?"
Will mengangguk mantap meyakinkan Alang.
" Aku menyerahkan tabunganku sebagai uang muka ibu Yasmin, nanti akan ku minta gantinya dari mu"
" Baiklah"
Ucap Alang setuju, namun Will malah memukul pundaknya keras.
" Itu hanya candaan! aku ini anak orang kaya"
__ADS_1
Alang tersenyum, Will benar- benar tahu bagaimana cara mencairkan suasana dan menghilangkan ketegangan.
" Pria itu akan ikut pertemuan dengan para petinggi renang setelah lomba, dia pasti akan pulang malam."
Ucap Alang memastikan rencana mereka besok.
" Rencana ini ....Sebenarnya aku butuh kepastian . Kau tau kemarin saat kau menyampaikan rencana pertama aku hanya mengiyakan, Namun aku ingin kau memberi alasan yang lebih jelas, mengapa kau tidak datang dari mimpi saja!"
Alang menggeleng , mengatakan itu tidak mungkin.
" Jika aku bisa pasti akan ku lakukan dari awal , namun aku juga masih belum mengerti."
" Apa maksudmu?"
" Ikatan antara aku dan Carla, aku hanya bisa datang padanya, bukan orang lain."
" Kalau begitu bukankah kau hanya perlu mendatangi Carla, lalu menyelinap ke tempat Carlos."
Ucap Jean, bukankah itu mudah?.
"Karena ikatan ku di dalam mimpi hanya dengan Carla, Jadi setiap aku pergi terlalu jauh darinya aku akan terbangun."
Kedua teman Alang mengernyit bingung.
" Lalu bagaimana dengan ibu Carla yang kau bawa Sampai ke rumah ku? "
Alang menghela nafas berat dan menggeleng.
Ketiga serangkai itu terdiam cukup lama, mereka tidak mengerti apa yang di inginkan mimpi Alang itu.
" Bagaimana dengan Carla, apa dia tahu sesuatu"
Tanya Jean , Kali ini ia berharap ada sebuah celah yang menguntungkan mereka.
" Ia pun tidak mengerti, Ia hanya berpikir mungkin karena ikatan yang kuat ibunya bisa terhubung dengan mimpi di antara kami."
" Seperti rencana awal yang aku katakan, Kita perlu mendapatkan bukti, Ruangan aneh yang ku ceritakan, aku harus melihatnya terlebih dulu."
Kedua temannya mengangguk setuju.
" Baiklah, ayo kita matangkan rencananya."
________________________________
Alang bisa merasakan tubuh Carla yang dingin, Ia benar-benar merasa kesal mengapa penjaga tidak memberinya selimut yang lebih tebal, Atau sekedar penghangat ruangan.
" Alang, terimakasih..."
Alang tidak menjawab, ia berusaha menghangatkan Carla dengan pelukannya.
" Kau harus bersabar Carla, aku pasti akan mengeluarkan mu dari sini"
__ADS_1
Carla tersenyum di balik lengan Alang, Walaupun kesedihannya untuk ingin segera keluar dari penjara Carlos begitu meluap.
" Apa kau pernah ke ruangan yang ku ceritakan waktu itu? sepertinya itu ruangan pribadinya."
" Aku hanya pernah berdiri di depan pintunya, tapi tidak pernah di bawa masuk, Hanya saja aku melihat sesuatu yang mengerikan walau hanya sekilas...."
" Apa yang kau lihat?"
" Aku bertanya benda yang tertempel di dinding dalam ruangan itu, Tapi Carlos hanya tertawa dan mengatakan apa aku tidak pernah melihat pajangan kepala rusa"
" Apa kau mempercayainya?"
" Aku tidak tahu...."
Carla memegang baju Alang kuat, dan semakin membenamkan wajahnya.
" ...Dia tidak mungkin serendah itu, aku tidak mempercayai ada manusia nyata seperti yang ada di pikiran ku."
" Ya, Mana mungkin dia semengerikan itu.."
Alang hanya mencoba menenangkan Carla, namun melihat acara duel beberapa hari lalu, hal yang mustahil mungkin saja memang ada. Malam ini tanpa memberi tahu Carla, ia akan mencoba mengetahui ruangan Carlos , besok tepat setelah menyelesaikan perlombaan renangnya.
Alang memeluk Carla lebih erat, mencoba menghilangkan kegugupannya.
" Hari ini kau sedikit aneh?"
Alang menunduk, seharusnya ia harus lebih berhati-hati.
" B-besok aku mengikuti lomba renang...Maafkan aku , padahal_"
" Wahhh!!! Kau ikut lomba renang!! "
Wajah Carla berbinar begitu senang, ia menatap Alang dengan senyum yang lebar. Saat itu detak jantung Alang seperti di pukul keras, namun terasa sangat hangat dan nyaman, Ia tidak bisa berhenti melihat senyuman Carla , wajahnya terasa begitu panas padahal harusnya ia kedinginan saat itu.
" Kau akan memenangkan nya kan? Renang itu!"
Alang tersenyum dan mengangguk.
" Aku ingin melihat bagaimana Alang berenang dengan wajah yang sangat serius hahaha."
Kali ini Carla tertawa, membayangkan wajah serius Alang saat ia berusaha untuk menang, mungkin dia akan bersorak paling keras untuknya.
" Nanti kau akan melihatnya."
Carla mengangguk dengan senyum lebar, namun tanpa ia sadari Alang mengecup bibirnya cepat lalu menunduk dengan wajah dan telinga memerah.
" M-maaf..."
Ucap Alang tersipu, lalu menghilang dari hadapan Carla seperdetik setelah Alang mengucapkannya, meninggalkan Carla yang terdiam terkejut dengan wajah yang tak kalah merah.
" Akh...bodoh! apa yang ku pikirkan!!!"
__ADS_1
Ucap Alang sambil menutup wajahnya dengan lengan, wajahnya terasa begitu panas dengan detak jantung yang berdegup tidak karuan, Namun tetap ia tersenyum senang.