Walking Dream

Walking Dream
Tahun Baru


__ADS_3

Alang membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit pusing karena obat tidur yang ia minum, laki-laki itu melihat sekeliling, wajahnya nampak bingung karna tempat yang tidak familiar.


" Kenapa punggung ku terasa dingin?"


Alang mencoba fokus dan menghilangkan rasa pusing di kepalanya, saat matanya mulai jelas ia hanya kembali bingung karena ia sadar sekarang sedang terbaring di dalam bathtub.


Alang segera keluar dari tempat itu dan mencari pintu keluar, ia hanya berharap tidak ada hal yang mengejutkan, Alang membuka pintu itu dengan perlahan, pupil matanya melebar dengan degup jantung yang keras, ia hanya dapat mematung di depan pintu tanpa melepas gagang pintu.


" Kau harus bertingkah seperti biasanya."


nyonya syerlin sibuk merapikan gaun biru yang dikenakan Carla, wajahnya sedikit masam mengingat kejadian terakhir yang ia alami di rumah Carlos dulu, sedangkan Carla hanya terdiam datar tanpa mau melihat nyonya syerlin yang mengoceh.


" Dengarkan! kau anak sialan, kau harus mengatakan IYA!!"


Syerlin menekan rahang Carla kuat yang akhirnya dijawab anggukan oleh gadis itu.


" Tunggu lima menit lagi, Carlos akan menjemput mu sendiri kesini!"


Ucap syerlin dan melanglang pergi dengan wajah yang masih masam. Carla menatap pantulan nya di cermin, ia terlibat sangat cantik di sana, namun tatapannya begitu kosong, dadanya terasa sesak dan pada akhirnya ia menangis.


" H-hei...."


Alang akhirnya keluar dari balik pintu kamar mandi, ia sedikit gugup bercampur marah karna perlakuan nyonya syerlin pada Carla, padahal baru sebentar ia terpesona dengan kecantikan Carla.


Carla berbalik, ia dengan cepat mengusap air mata dan tersenyum kikuk, Alang mendekat sambil tersenyum.


" Sebentar lagi, sebentar lagi pasti ini akan berakhir...ku mohon bersabar lah.."


Carla mengangguk dan memeluk Alang erat, pria itu membalas pelukannya dan membelai lembut kepala Carla.


" Jadi apa rencana selanjutnya?"


Carla menengadah menatap Alang, yang di tanya hanya melihat ke arah lain dan dengan cepat melepas pelukannya.


" T-tentu saja, itu alasannya ku ada di sini kan? "


" Kau tidak apa Alang? kau bertingkah aneh.."


Alang terdiam, dadanya masih berdegup kencang. Namun beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepala, mengingat apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu.


" Aku... sebenarnya.....emmm..baiklah aku akan mengatakan nya hari ini."


" Mengatakan apa?"


" Sesuatu! tapi tidak sekarang...."


" Baiklah... jadi..."


Alang menarik napas dalam, lalu mendekati Carla dan memegang kedua bahu gadis itu.


" Malam ini aku akan mengambil sesuatu di ruang monitor sebagai bukti, jadi aku berharap Carlos akan terus berada di taman, jadi apa bisa aku percayakan pria itu kepada mu?"


Carla tersenyum dan mengangguk.


" Tentu saja, percayakan saja pada ku."


" berhati-hatilah, sebenarnya aku tidak ingin melibatkan mu, tapi_"


" Sssstt...aku memang harus terlibat."


" Aku hanya-"


" Apa yang kau lakukan, kita harus menyambut para tamu sayang.."

__ADS_1


Carlos berdiri di depan pintu, asap rokoknya mengepul, ia menatap Carla penuh penasaran.


" Aku hanya mencoba menunggu ..tuan."


" Pastikan kau bersikap manis, kau tau apa akibatnya jika menantang."


" Tentu saja, aku tidak ingin merugikan diri sendiri."


Carla melangkah dan meninggal kan Alang di ruangan itu. Alang menghembus napas lega karena beruntung Carlos tidak merasa curiga.


___________________________________


" Apa kau siap !! pastikan ini harus berhasil."


" Tentu saja, aku aktor di balik layar."


Will mengibaskan tangan, ia masih fokus dengan kabel-kabel di hadapannya.


" Khawatirkan dirimu sendiri, sebentar lagi kau akan ada di gedung mengerikan itu. dan jangan lupa dengan rencana cadangan kita."


Jean mengangguk sambil merapikan dasinya lala menyemprotkan sedikit parfum.


" Pastikan pesta ini akan meriah, atau perjuangan kita sia- sia."


Will ber- ok sambil menggigit gagang bekas permennya.


" Padahal aku yang ingin ada di ruangan itu .."


" Siapa lagi yang unggul dengan komputer kecuali kamu!? lakukan dan jangan banyak bicara."


" Aduh...iya iya cerewet sekali."


Keduanya terdiam, dan fokus dengan pikiran masing-masing.


Ucap keduanya bersamaan.


" Baiklah, kita harus tenang...huhhh"


" Aku tidak mau mati sebelum punya pacar!"


Will bangkit dari sandarannya.


" Apa aku tidak salah dengar?! kau _ kau bahkan tak punya gebetan.!!"


" Apa aku harus memberi tahu mu."


Ucap Jean dengan malas, temannya ini benar-benar jahat.


" Apa? jadi kau punya?! s-iapa?. "


" Yang sering bersama kakak ku."


Kali ini Will terkejut dua kali lipat, mulutnya menganga tidak percaya.


" D- ia kan lebih tua dari mu..."


" Hanya dua tahun, kan tidak masalah.."


" Aku belum bisa mencerna nya, gadis- gadis yang menggandrungi mu benar- benar kasian. Padahal bertemu pun jarang."


Jean hanya diam saja, ia menerawang langit- langit mobil, ia bahkan sudah jatuh cinta saat pertama kali melihat nya.


" Baiklah bocah pemberani apa kalian siap!?"

__ADS_1


Seseorang datang sambil tersenyum, ia secara tiba- tiba membuka pintu mobil.


" Te- tentu saja!!"


" Bersuara lah lebih keras!!"


" Siap!!!"


Teriak Will dengan tangan menjunjung hormat, orang tadi tersenyum lalu melihat penampilan Jean teliti.


" Ok...itu membuat mu terlihat lebih tampan."


" Jangan buat aku muntah! seorang kakak tidak boleh mengatakan hal seperti itu."


Aline hanya nyengir lebar, di belakang nya berdiri Erik yang sibuk merapikan jas.


" Hahahaha..kalian memang gila!"


" Apa itu pujian?"


Tanya Will bingung, Aline terlihat lebih anggun dengan gaunnya, dan Erik masih terlihat tidak nyaman dengan jas nya.


Beberapa hari yang lalu ketiga bocah itu datang menemui Aline dan erik yang sedang sibuk mengajar anak- anak di kolam renang. Mereka duduk dengan serius sambil di temani kopi yang tidak terminum, Aline dan Erik terlalu terkejut mendengar cerita horor mereka sambil membawa Vidio dan juga beberapa bukti lainnya.


" Halo..kita sedang tidak bermain- main kan?"


Erik mengangkat tangan masih belum bisa mempercayainya. Namun ketiga remaja itu hanya menatapnya dengan serius.


"Wow!! dia benar-benar gila!!!"


" Aline! kau mempercayai mereka? apa kau tidak dengar cerita mereka barusan?_"


Erik menatap Alang dengan bingung.


" Dia menemui gadis itu melalui mimpi, dan mengambil buktinya melalui mimpi juga, itu..aneh dan mustahil. mungkin mereka mengedit nya."


" Kami tidak mengeditnya!"


Kali ini Alang berdiri dengan emosi, Erik hanya bergumam " ok...tenang tenang..", dan meminta Alang duduk kembali.


" Akh ya ampun? Aku melupakan sesuatu!"


Ucap Will di tengah keheningan di antara mereka, ia lalu menatap Aline dan Erik bergantian.


" Aku akan membawakan sesuatu untuk kalian, tapi ada yang harus ku pastikan."


" Apa itu?"


" jika kalian sudah mendengar kan ceritanya, di malam tahun baru , tepat saat Aline juga di undang di rumah Carlos pada malam itu, kalian harus membantu kami."


Will mengucapkan nya dengan serius bahkan terlihat mengancam, namun kedua orang yang mereka datangi itu hanya mengangguk seadanya dan tidak terlalu mendramatisir.


" Baiklah! bawakan bukti yang meyakinkan dan kami akan membantu, mana mungkin kejahatan seperti itu dibiarkan."


Will mengangguk dengan percaya diri, ia berlari keluar walaupun sempat terpeleset karena lantai yang basah. Sekitar 15 menit kemudian, Will muncul sambil menggandeng seorang wanita yang tidak lain adalah ibu Carla, keduanya mendekat dengan tatapan Jean dan Will yang ternganga, mereka melupakan bukti penting lainnya.


" So! mari kita dengarkan cerita yang lebih meyakinkan!!"


Saat itu harapan Alang untuk membebaskan Carla menjadi menggebu-gebu, ia bahkan berusaha menahan tangis karena sangking terharunya, Bahkan ibu Carla berulang kali mengucapkan terimakasih.


" Sebaiknya kau harus bersikap selayaknya sopir yang baik Will."


Will mengangkat jempol, ia berseragam sopir saat ini dan akan melaksanakan tugas nya di dalam mobil dan tepat di parkiran Carlos sendiri, mereka akan bermain di dalam sarang pembunuh yang mengerikan. Dan rencana pertama ini akan menjadi rencana terakhir mereka, malam tahun baru dengan kembang api yang meriah, dan memastikan Carlos tidak merasakan pesta terbesarnya.

__ADS_1


__ADS_2