Walking Dream

Walking Dream
Rumah ayah


__ADS_3

Carla menatap dirinya di depan cermin, berusaha melatih senyuman terbaiknya untuk di tunjukan di depan orang- orang. Rambut panjangnya yang cantik di tata sedemikian rupa, tidak lupa dengan aksesoris yang melekat di kedua telinganya, dan kalung cantik yang melingkar di lehernya. Penampilannya begitu elegan dan lembut, sangat cocok untuk seorang Carla yang berkulit putih kemerahan.


" oh my!!! kau benar-benar cantik! seharusnya laki- laki itu membuat mu tinggal di rumah mewahnya!"


Ujar nyonya syerlin melihat kecantikan gadis yang malang itu. Ia terus mengoceh Tampa berhenti, padahal jelas Carla tidak menanggapinya, bahkan saat mereka di mobil.


" Bukankah kau lebih beruntung dari pada anak-anak yang lain, setidaknya ia akan menggunakan mu di keadaan tertentu dan bisa merasakan kehidupan mewah...."


" kau di jadikan sebagai anaknya? bagaimana rasanya apa kau senang?"


Syerlin terus mengoceh - pasti di melakukan sesuatu dengan mulutnya karna tidak bisa berhenti- membuat Carla semakin tidak nyaman, Carla yakin pasti nyonya di sampingnya ini orang baru.


" Lucu sekali, dia membuat anak dari kandungan orang lain menjadi anaknya"


" bisa kah kau diam! aku bisa saja membunuhmu! mungkin akan ku gorok leher mu!"


Kali ini Carla tidak bisa lagi bersabar, orang-orang ini memang tidak memiliki perasaan, setidaknya jangan berbicara sok akrab, Carla meremas gaunnya menahan emosi.


" b-baiklah aku tidak akan berbicara lagi. Tapi benarkan wajah mu itu, kita tidak bertemu tamu dengan wajah masam"


Akhirnya syerlin tidak lagi berbicara hingga mereka sampai di tempat tujuan.


mobil berhenti tepat di lobi depan rumah, Carla turun dari mobil bersama si wanita. Ia lihat rumah yang tidak pernah berubah itu, bagi Carla rumah ini adalah awal kehidupan buruknya. Melihatnya saja membuat Carla ingin menghancurkannya.


Rumah itu di kelilingi pepohonan hijau dan tidak terlalu jauh dari pusat keramaian, rumahnya bernuansa kebarat-baratan dengan desain yang mewah. Namun tetap asri dengan taman yang luas, mungkin lebih luas dari lapangan sepak bola. di dekat pintu sudah ada orang yang khusus menyambut tamu, dan beberapa mobil baru saja datang.Terlihat dari luar bahwa acara sudah di mulai dari tadi. Kedua nya masuk kedalam, dan langsung mendapati aula besar dan megah di sana. Seperti sedang sesi berdansa karna tampak beberapa orang sedang berdansa di tengah-tengah aula itu. Carla masih diam berdiri sampai akhir seorang pria patuh baya mendekat dengan senyum yang lebar.


" Ah, anak ayah akhirnya datang juga, kenapa begitu lama?"


Ucap pria itu lembut, Carla memeluk pria itu dengan tersenyum lebar.


" Ada pertemuan yang harus aku hadiri. Maaf ayah, padahal acara ini lebih penting...."


Carla berbicara sebagaimana anak kepada ayahnya. Bahkan sifatnya itu berbeda 100% dari biasanya. Dia terlihat seperti anak dari keluarga kaya yang bahagia.


" Oh!! apakah ini anak mu yang bernama Carla itu? dia benar-benar cantik dan manis"


Seorang wanita dengan balutan gaun merah mendekati keduanya, sedangkan nyonya syerlin bergabung dengan para wanita sosialita dan entah membicarakan apa.


" Terimakasih atas pujiannya nyonya, anda terlihat sangat cantik hari ini bahkan anda memilih pakaian yang sangat tepat"


Ujar Carla sambil menunduk terimakasih.


" Sepertinya sifat baik gadis cantik mu ini sangat menurun darimu tuan Carlos."


" Ahahaha, tentu saja karna dia adalah anak ku."


Ucap Carlos dengan bangga, pria itu mengelus

__ADS_1


kepala Carla lembut dan tersenyum dengan tulus.


" Apakah kau sangat menyukai kelas fashion?"


" Benar, apalagi ayah sangat mendukungku dan ia juga berkata yang penting aku bahagia."


Carla masih terus berbincang dengan nyonya bergaun merah itu, sedangkan Carlos kembali bergabung dengan kolega- koleganya, setidaknya ia sudah memeriksa bagaimana Carla akan bertingkah malam ini. Nyonya itu membawa Carla ke sebuah meja yang sudah di penuhi dengan para wanita sosialita nya, ia mengajak Carla berbincang seputar fashion karena mereka memang tertarik dengan hal itu.


" ah, saya permisi ke toilet sebentar"


Ucap Carla di tengah pembicaraan, para wanita itu mempersilahkan. Setibanya di toilet wajah Carla kembali datar, ia tatap pantulan dirinya di cermin.


" Aku sangat membencimu hari ini!!"


Ucap Carla pada dirinya sendiri, dia sudah lelah untuk terus tersenyum dan bermain pura-pura.


" Kalau saja aku bisa pergi dari sini....tidak! kalau saja aku bisa membunuh pria itu!"


Rasanya Carla ingin menangis sekarang, tapi ia harus bisa menahannya.


"ayah, ibu...apa yang harus ku lakukan?....aku tidak bisa menyebut namanya lagi, jika aku memanggilnya ia akan terluka."


Carla kembali melihat cermin, berharap di sana ada Alang yang sedang berdiri.


" Apa yang membuatmu begitu lama? ayah memanggilmu!"


" Aku segera ke sana"


" huh! bagaimana bisa ayah lebih memilih mu dari pada aku?!"


Gadis itu mengoceh dengan nada menggertak membuat Carla berhenti sejenak, namun ia tidak peduli, lebih baik cepat- cepat meninggalkan tempat itu dan tidak berurusan dengannya. Carla menyusuri lorong panjang dengan nuansa coklat latte dan beberapa furnitur hiasan yang melekat di tembok yang lumayan tinggi itu. Terdapat beberapa ruangan di sana yang biasa Carla lihat beberapa kali. Di kejauhan Carla melihat seorang wanita yang sedikit kesulitan membawa beberapa barang yang akan ia bawa ke suatu ruangan, wanita itu pasti pelayan disini.


Carla mendekat mencoba menolong, Namun semakin ia dekat semakin berdegup hati Carla melihat tubuh yang terlihat kurus itu.


" I-ibu?..."


Ucap Carla lirih, ia mencoba meraih sok- sok wanita dihadapannya. Wanita itu menoleh, Terkejut dan tampa sengaja menjatuhkan barang yang ia bawa.


" Ibu...." Carla semakin mendekat, namun wanita itu berjalan mundur dan bahkan berbalik berusaha untuk pergi. Tapi Carla dengan cepat meraih tangan ringkih itu dan memeluknya.


" Ibu...."


Wanita itu terdiam sambil berusaha menahan tangis. Ia memeluk erat Carla sebentar namun dengan cepat melepaskannya . Yasmin tidak mungkin menyangkal, bagaimana pun seorang anak akan tau tentang ibu nya. Dan Yasmin sangat merindukan anak kesayangannya itu. Namun Yasmin harus menghindar, ia tidak mau hal buruk akan terjadi.


"Pergi!!" ucap yasmin dengan tegas, membuat Carla heran dan tak percaya.


" Apa maksud ibu! Kita baru bertemu! d-dan ku pikir ibu ssudah_"

__ADS_1


" Carlos akan melukai mu jika dia tau kita bertemu!!, ibu tidak bisa bertemu dengan mu sayang, maaf kan ibu"


Ucap Yasmin purau, ia tidak tau harus berkata apa.


" Tidak!!! bagaimana bisa aku pergi begitu saja jika ibu yang kupikir sudah meninggal berdiri di hadapanku!!! bagaimana bisa ibu menyuruh ku pergi?!"


Air mata Carla tidak bisa lagi terbendung, ia ingin memeluk ibunya,ingin menangis dengan keras dan melepaskan penderitaannya. Perasaan Carla bercampur aduk antara sedih, senang dan juga marah.


Carla meraih kedua tangan Yasmin dan menatap mata ibunya dengan dalam.


" Ayo kita lari dari tempat ini! ibu dan aku bisa bersama lagi, kita tidak akan pernah bertemu pria brengsek itu!"


Yasmin menatap anaknya sendu dan menggeleng.


" Ibu tidak akan pergi dari sini, baik kamu maupun ibu"


" Apa yang ibu katakan?! "


" jika ibu bersikap baik Carlos bilang ia tidak akan menyakiti mu, ia bilang tidak akan membunuhmu"


Carla tidak percaya dengan apa yang barusan ibunya katakan. Menyakiti nya? membunuhnya? Carla tertawa di dalam hati, Carlos tidak mungkin membunuhnya karena ia adalah sumber kekayaan pria itu.


" Carlos tidak akan membunuhku Bu."


" Apa maksudmu?"


" CARLOS TIDAK AKAN PERNAH MEMBUNUHKU!! KARNA AKU BANK YANG BERNYAWA BAGINYA!"


Carla menangis di tengah keheningan di antara mereka berdua. Yasmin masih terkejut dengan pernyataan anaknya. Bukankah ia tinggal disini? bukankah ia di sekolahkan dan di perlakukan dengan baik? bahkan Yasmin melihat anaknya berbalut pakaian yang cantik.


PROKK! PROKK! PROKK!!


" Sepertinya pertemuan kalian sangat menyenangkan."


Carlos mendekati keduanya yang entah kapan berada di sana bersama beberapa laki- laki berjubah hitam.


" Bukankah Mawar sudah mengatakan kepadamu untuk segera kembali ke aula besar? jadi bagaiman bisa berakhir seperti ini sayang?"


Carlos mencoba mengelus kepala Carla seperti biasa, namun dengan cepat di tepis olehnya dengan penuh emosi.


" Tuan Carlos...bukankah kau bilang Carla akan di rawat dengan baik?" ucap Yasmin dengan raut memohon. Carlos mendekatkan wajahnya , dan berbisik.


" Tentu saja aku merawatnya dengan baik, jika tidak sudah ku buang ke tempat sampah!"


Pupil mata Yasmin melebar dengan badan yang bergetar, Carlos kembali berdiri tegap dan menatap Yasmin dengan tajam.


" Lihat lah gadis cantik mu, walau pun mata nya bengkak karena sering menangis, dia akan selalu sehat karena mendapat perawatan terbaik."

__ADS_1


Kali ini Carlos tersenyum dengan licik, Yasmin tersungkur ke lantai dengan lemas, menangis sambil memukul kaki Carlos tak bertenaga.


__ADS_2