Walking Dream

Walking Dream
Terkurung


__ADS_3

di ruangan yang terang karena lampu berlian yang mewah, dan pajangan- pajangan khas yang menjadi favorit Carlos, laki-laki itu duduk sambil menyilangkan kaki, menatap seseorang di depannya yang membungkuk lemas. Carla duduk di sampingnya dengan wajah yang pucat pasi.


" Alang..."


.


Carla menjerit dalam diam, ia melihat Alang bersandar lemas di dinding ruangan yang belum pernah gadis itu lihat, ia ingin berlari mendekati nya namun terlalu takut untuk bergerak, Carlos meliriknya sebentar lalu mengisap rokoknya dalam.


" Bukankah sudah ku peringatan untuk bersikap baik, hmmm.."


Carlos menatap mata Carla dalam, memainkan ujung rambut gadis itu dengan senyum yang menakutkan.


" Kau harus menjelaskan ini semua!."


Carla masih terdiam, sejak kapan Carlos mengetahui nya? padahal ia sudah memastikan tidak ada kamera pengawas di manapun saat bersama Alang.


" Matamu mengisyaratkan bagaimana bisa aku mengetahuinya .."


Carlos bangkit dari duduknya, mendekati Alang yang masih belum sadarkan diri, dengan santai ia menjambak keras rambut Alang hingga wajah bocah itu mendongak.


" Jika dilihat dari bentuk wajah brengsek ini, dia pasti sangat tampan."


Carlos mengusap darah yang menutupi wajah Alang yang tidak terlihat, saat itu semuanya menjadi membingungkan, Carla tidak mengerti bagaimana Alang bisa tidak sadarkan diri dalam bentuk ruhnya. Carlos menjambak semakin kuat rambut Alang, membuat pria itu mengerutkan dahi, tanpa disengaja Carlos membuat Alang tersadar. Dengan tidak sabar Carlos membanting Alang hingga tersungkur.


Alang meringis sakit, ia berusaha membuka mata dan mendapati ruangan yang begitu silau, saat semuanya menjadi jelas, ia dapat melihat Carla yang duduk di sofa dengan kepala tertunduk.


" C-carla!"


Alang berusaha mengeraskan suaranya, Carla mendongak, dengan wajah terkejut ia berlari dan mendekati Alang.


" Kau sadar, kau ternyata masih hidup! ku- kkupikir kau.."


" Aku tidak apa, ini bukan darah ku."


Alang meraih bahu Carla dan memeluk gadis yang sedang menangis itu. Di belakang, Carlos menyeringai jijik dan bertepuk tangan, ia mendekati keduanya dan mendorong Carla kasar hingga terjatuh, mendekatkan wajahnya pada Alang dan menekan rahangnya kuat.


" Hahahah!!! jadi....ada hal yang menarik disini. Ada seorang yang lancang menyukai anak ku.."


Walaupun Carlos tidak dapat melihat bagaimana ekspresi yang ditujukan Alang padanya, Carlos tau bocah didepannya ini sedang menatapnya penuh amarah.


" Kau harus tau kau merusak pestaku.."


Carlos bangkit dan kembali duduk di sofa, ia mengisyaratkan kepada para pengawalnya untuk meletakan Carla di kursi dan mengikatnya.

__ADS_1


" Jadi....sebelum acara utama di mulai, aku harus mengembalikan mood ku yang berantakan ini menjadi baik...."


Sambil tersenyum licik Carlos mengambil sebuah cambuk, dengan Duduk yang angkuh ia menatap Alang dan memerintahkan pengawal untuk membawakannya padanya.


" Perhatikan baik-baik yang akan ku lakukan Carla, ini di sebut sebagai pelajaran!"


____________________________


Jean dan Erik menelusuri lorong demi lorong dengan hati- hati, memperhatikan setiap sudut jika ada sesuatu yang mencurigakan, sebisa mungkin mereka bertingkah dengan normal seolah Jean sedang memandu seorang tamu kehormatan di dalam rumah Carlos.


" Kau yakin dengan jalannya?!"


Erik melirik ke kanan dan ke kiri tanpa menoleh, yang ditanyai mengangguk serius di belakangnya.


" Kenapa kau berhenti tiba-tiba?" ucap Jean kesal.


" Aku tanya apa jalannya sudah benar?"


" Aku kan sudah menjawabnya, iya! aku yakin. Alang tidak mungkin keluar dari jalur yang direncakan kecuali ada yang memaksanya."


" Dasar bocah ini."


Ucap Erik dan kembali melanjutkan langkahnya. mereka beruntung karena sejak tadi tidak bertemu dengan siapapun. Lampu- lampu di sana memang sedikit remang, mereka juga berusaha untuk tidak dicurigai di CCTV.


" mengapa Lean tidak datang?"


Jean hanya diam saja, mana mungkin ia bertanya pada kakak bermulut ember itu, terlebih lagi Aline sekarang mulai mencurigai nya.


" Harusnya kau lebih berani sedikit, kalian berbeda dua tahun dan dia lebih tua, bagaimana jika seseorang meminta berpacaran dengannya sampai ke pernikahan."


Baiklah!! kali ini wajah Jean memerah begitu pula telinga nya, ia menyesali pertanyaan yang bahkan belum berlalu dua menit.


" Diamlah! kita harus fokus!!"


Dengan cepat Jean mengalihkan pembicaraan dengan alasan yang bagus, Erik tidak lagi berbicara dan kembali memfokuskan pikirannya.


" Apa kau mencium sesuatu?!"


Erik menghentikan langkahnya, menahan langkah Jean kembali dengan tiba-tiba, namun kali ini Jean tidak mengeluh, ia menarik nafas dalam dan menyadari sesuatu.


" Itu darah!"


" Dari mana ? dari mana asalnya?"

__ADS_1


Keduanya memusatkan mata ke lantai dan mendapati darah yang menetes, itu tidak akan terlalu terlihat karena karpet rumah Carlos yang kebetulan berwarna merah. Jean mengambil petanya dengan cepat, memastikan apakah itu berhubungan dengan jalan yang dilewati Alang.


" Dia melewati jalan ini..."


Jean mengarahkan telapak tangannya ke sebuah lorong.


" Apa dia menyelamatkan diri?."


Jean bertanya penuh khawatir, Erik masih meneliti darah itu untuk memastikan sesuatu.


" Tidak, dia di bawa pergi oleh seseorang. Kita harus cepat mengikutinya."


keduanya dengan hati- hati mengikuti darah yang berceceran sambil memastikan tidak ada siapapun disana.


" Aku penasaran kemana perginya para pengawas di ruangan ini, bukankah ini terlalu mudah?"


Tiba-tiba Jean menghentikan langkahnya, Merasa ada yang aneh dari misi kali ini, pengawasan Carlos entah mengapa tidak terlalu ketat sedangkan Alang sudah tertangkap, daat itupun Erik menyadari sesuatu dan memegang bahu Jean kuat, mendekati telinganya dan berbisik.


" Jangan hubungi Will jika tidak mendesak! Kita harus sampai ke tempat Alang. dan kau! kau harus sampai ditempat tujuan! mengerti!? firasat ku tidak enak."


Jean mengangguk mengerti, keduanya mempercepat langkah atau lebih tepatnya berlari, lorong demi lorong mereka telusuri hingga mereka sampai di sebuah pintu besar dengan seorang penjaga yang berdiri di depannya.


Keduanya dengan tenang mendekati pria itu, jelas raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.


" Permisi Tuan, sepertinya anda salah jalan."


" Ku pikir tidak, Carlos mengundangku ."


Ucap Erik tenang sembari melirik Jean.


" Benar , saya sendiri yang diminta mengantarkan."


Pria itu mengernyit mendengar penjelasan Jean yang terlihat sebagai salah satu pelayan Carlos.


" Akan ku tanyakan terlebih dahulu."


Pria itu berbalik untuk membuka pintu, namun dengan cepat Erik memukul tengkuknya dengan kuat hingga terjatuh. Keduanya diam sebentar dan memperhatikannya, namun dengan dengan tiba-tiba ia bangkit penuh amarah.


" Cepat masuk ,aku akan menahannya!"


Jean membuka pintu itu cepat, dan menemukan lorong lain yang ia yakini pernah diceritakan Alang, ruangan yang penuh dengan pajangan mengerikan.


Jean mengikuti tetesan darah dan melihatnya berakhir di sebuah pintu yang jelas bukan pintu kamar Carlos.

__ADS_1


" Apa yang harus ku lakukan.."


Jean merapatkan telinganya di pintu, dan mendengarkan sebuah jeritan dan suara tubrukan yang keras, di ruangan itu terdengar gaduh.


__ADS_2