
"hey ketua! kau terlihat tidak bersemangat, ada apa?"
seorang pria tinggi dengan rambut pirangnya yang di ikat ke belakang membuyarkan lamunan Alang. Alang hanya menggeleng, mengatakan tidak ada masalah.
" orang itu sebentar lagi akan datang, lebih baik perbaiki raut wajah mu itu."
Alang hanya terbengong, apa seburuk itu ekspresinya hingga butuh untuk diperbaiki.
" hanya... terkadang ada sesuatu yang datang tidak sesuai dengan timing." ucap Alang.
kali ini Jean tidak lagi berfokus pada seorang gadis yang bernyanyi di panggung kecil di depannya. ia lihat raut temannya itu yang masih sedikit terlihat gusar.
"mimpi itu pasti sangat menyebalkan ya, aku ingat waktu kita berumur 10 tahun. kau ditemukan tertidur di " tebing" itu."
ya, tidur sambil berjalan adalah masalah serius bagi Alang. Maka tak heran jika saat tidur, kamarnya akan di kunci dari luar. semua itu ada alasannya, Alang tidak hanya melakukannya satu kali, namun bisa dibilang kebiasaan mingguan yang terjadi beberapa kali. Jean, teman Alang semenjak mereka TK mengetahuinya, bahkan ia pernah menemukan sahabatnya itu tertidur di pinggir pantai.
"kau bisa berjalan sejauh itu tampa terbangun, aku benar- benar masih belum mempercayainya."
" tapi kau pernah menemukan ku."
"yah...aku bahkan sampai menangis ketakutan. tapi lucunya, saat terbangun kau malah tertawa bahagia."
" aku sudah lama tidak memimpikannya, satu-satunya mimpi indah."
PLAKKK!!
"apa yang kau lakukan?! itu sakit!" Alang memprotes ketika punggungnya dipukul kuat oleh Jean.
" baiklah Alang, kita lupakan mimpi itu dan ceria lah. kau harus menikmati waktu menyenangkan ini. mengerti?"
"bagaimana aku tid-"
" kau harus menikmatinya bung, jangan sampai kau kecewa karna membuang waktu. kita akan memikirkannya, tapi....disaat kau tidak merasa frustrasi!!"
Alang tersenyum pasrah, dia bersyukur karena memiliki teman yang begitu baik seperti Jean. walaupun ia dikenal sebagai anak berandalan disekolah, tapi tetap saja ia perenang yang banyak menyumbangkan penghargaan kepada sekolah. teman terbaiknya dan saingan terbaiknya.
" baiklah, aku patuhi saran mu pak!"
…………………………………………………………
"kak Jean!!! bisa foto bareng?"
Jean hanya mengangguk sambil tersenyum. dia sudah terbiasa seperti ini. para penggemar klub renang bisa dikatakan setara dengan klub basket di sekolah Harapan , mereka begitu banyak hingga klub renang membutuhkan tiga manajer untuk mengatasi beberapa hal. terlebih klub renang harapan adalah salah satu yang paling berbakat dan berpotensi di daerahnya, hingga beberapa kali masuk perlombaan tingkat nasional.
" kak Jean, bukannya kakak bersama kak Alang?"
ah, tentu saja mereka akan mencari Alang juga. Jean hanya menggelengkan kepala.
" aku bahkan tidak tau, sepertinya aku harus mencarinya. dah..para gadis"
" kyyyaaa!!!! kak Jean memang terbaik saat tersenyum!"
para gadis itu masih ribut, namun mata mereka masih mengekor kepergian Jean hingga menghilang.
" hhhh... gadis-gadis itu, pasti dia ada di sana"
Jean menatap tangga menuju lantai dua, lalu segera berjalan karna ia tau pasti Alang berada di sana.
" kolam renang? para penggemar mencari mu. sudah kubilang kan untuk bersenang-senang."
Alang menoleh. ia duduk di pinggir kolam dan mencelupkan sebagian kakinya di sana.
" ini caraku bersenang-senang."
" kau hanya ingin menghindar, aku tau itu."
" jika tau kenapa masih bertanya?"
"hah! liat bocah ini. aku benar-benar ingin meremukkan mu !"
" pergi sana! kau hanya mengganggu"
Jean melotot kesal. ia hampiri Alang lalu menendangnya kuat.
"hey hey, kita akan bertemu tamu penting!"
Alang mengangkat kedua tangannya tanda tidak akan berkomentar lagi.
" Ah!!! ternyata disini kalian berdua. tamu spesial kita sudah datang. "
William melambaikan tangannya, berjalan mendekati mereka sambil menggandeng pacar barunya.
"maaf mengganggu kencan kalia-ukhhhh"
belum selesai William berbicara, Jean sudah meninju perutnya. Bocah itu mengelus perutnya dengan wajah kesakitan.
"kau ingin membatalkan perlombaan ku Minggu depan hhah?! dasar preman!"
" sekali lagi kau berbicara, akan ku lempar kau ke kolam itu!!!"
__ADS_1
"hahaha, baiklah teman- teman kita harus bertemu tamu dengan wajah Tampa memar mengerti."
Alang menghampiri mereka, mencegah perkelahian kesekian kalinya berlanjut. Dengan wajah masam menahan marah mereka menuruti apa Yang sang ketua Mereka katakan. Mereka tidak akan berontak, karena sang ketua sedang dalam mode " tertawa yang membunuh".
Mereka pun segera pergi kelantai satu. hati Alang masih sedikit tidak tenang. Sudah lama ia tidak bertemu "orang itu" , kali ini ia akan membuktikannya dengan serius.
Dari kejauhan Alang sudah melihat bayangan orang yang ia kagumi. Ia sedang bersalaman dengan orang- orang di sana yang kebanyakan anggota klub renang. Wajah mereka sumringah bercampur kagum. Di saat itu, ia pun menatap Alang, lalu tersenyum melambaikan tangan. Alang sedikit terkejut, lalu berjalan mendekatinya.
"oho!! kau semakin tinggi dan kekar."
" Orang itu" mengacak rambut alang yang sudah disisir rapi. Ia melemparkan senyum yang menyenangkan, membuat Alang gugup ingin memulai percakapan.
"aku sudah memenangkannya!"
Ucap Alang sedikit lirih, orang itu mengernyitkan dahi bingung.
" memenangkan?"
"lomba renang SMA tingkat Nasional . aku memenangkannya!"
Orang itu terkejut sebentar, lalu tertawa sambil menepuk punggung Alang kuat beberapa kali.
"hahahaha!! sudah ku bilang kan manajer lean!!! dia pasti menang! hahaha!!!"
" Aline , kecilkan suaramu itu!"
Ucap gadis berkacamata di samping wanita tinggi bernama Aline, orang yang membuat Alang gugub sedari tadi.
" Kerja bagus!!! kau harus bisa mengejar ku !!!"
ucap Aline masih menepuk punggung Alang .
" Itu..masih jauh. kau atlet no.1 negara ini. bagai-"
" Sstt..aku pun mengalahkan atlet no.1 saat kupikir itu mustahil. jadi kau pasti bisa melakukannya."
Alang tertegun, Aline benar harusnya ia tidak pesimis.
"Terimakasih kak, aku pasti akan melakukan yang terbaik!"
"Kau tau, dia sangat gugup tadi."
Tiba-tiba Jean menyela percakapan sambil membawa segelas minuman dinginnya. Aline dengan wajah sumringah datang memeluk Jean yang mendengus kesal.
"Oh!!! adik kecilku Jean juga disini!! apa kau merindukan ku?"
" tidak sama sekali, yang paling rindu itu penggemar berat mu ini"
" Kalian berdua!! jika benar-benar menyukai renang, jangan ragu untuk terus maju mengerti. aku tau kalian menyukai air."
Aline menghampiri Alang dan menyentuh pundaknya.
" Apa kau masih takut berenang di laut?"
Alang menatap mata Aline yang penuh perhatian, wanita itu mengerti dengan reaksi Alang yang berubah tidak bersemangat. Aline tersenyum dan menepuk pundaknya.
" Suatu hari kau pasti akan berenang di laut biru dengan bahagia. kau pasti bisa! hmm?"
Alang yang menunduk kembali menatap mata Aline , ia kembali tersenyum dan mengangguk.
" Baiklah mari kita bersenang-senang Dangan makanan ini!!!!" teriak Aline lalu segera meraih piring untuk diisi semua makanan enak di sana.
" A-aline, kau harus memperhatikan makananmu"
" tenang saja lean, pelatih tidak disini. dan tolong biarkan aku untuk kali ini saja ok!?"
" lean menghela nafas berat. baiklah lakukan yang kau mau Aline.
Dengan begitu, Alang pun berusaha melupakan mimpi yang baru dia alami sebelum pergi ke pertemuan tadi. Dengan teman-temannya yang terus membuatnya tertawa, Alang sadar ada hal yang perlu ia nikmati dan dapat tertawa lepas.
………………………………………………………………
Alang merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya, dan bau tanah lembab yang menyengat membuat alisnya mengernyit. Perlahan penglihatannya mulai terang, ia lihat cahaya obor di dinding yang menurutnya adalah gua yang berlorong. Terdengar suara menggema yang samar di kejauhan. Suara yang sangat familiar di telinganya. Ia tau tempat itu, beberapakali ia mengunjunginya, dan melihat gadis itu di sana dengan wajah yang sendu.
Alang melangkah dan mendekati asal suara, di ujung lorong ia lihat pintu besi. Dada Alang terasa sakit, bahkan hanya dengan melihat pintu itu ia merasa sesak.
Pintu itu tidak terkunci, dan Alang membukanya perlahan. ia lihat gadis berambut emas keperakan sedang duduk dibalik jeruji besi. Menatapnya dengan sendu, gadis itu melangkah maju.
"Kau memanggil ku lagi?"
Alang menunduk, ia ingin menangis. Beberapa jam yang lalu ia di jurang, dan berteriak menghina gadis dihadapannya. namun sekarang ia ingin memeluknya dan mengatakan bahwa ia takut kehilangan.
"Hahaha, aku tidak tau apa aku membencimu atau malah sebaliknya. Kenapa? kenapa kau datang dalam mimpiku? "
Gadis itu menatap Alang penuh arti, ia usap air mata Alang dari balik jeruji dan membelai rambutnya.
" Maaf"
Alang menatap gadis itu terkejut. Untuk pertama kalinya ia berbicara walaupun singkat. suaranya lembut namun purau. Alang Maraih tangan gadis itu, mendekapnya dengan kuat.
__ADS_1
" Kenapa baru sekarang?"
" Karena "dia " sedang tidak disini"
" Dia?"
Gadis itu mengangguk.
"Kau pasti melihatnya, laki- laki dengan penutup di mata kirinya."
namun tiba-tiba sang gadis menggelengkan kepala, berkata didalam hati seharusnya ia tidak memberi tahu Alang.
"Maaf kan aku karna membuatmu sakit. namun di dalam mimpi ini maupun kehidupan nyata, hanya kau yang kupikirkan. Mimpi itu datang secara tiba-tiba. saat aku pertama kali bertemu dengan mu"
Gadis itu berbicara purau dengan wajah bersalah. air matanya mengucur tidak tertahan.
"Aku tidak bisa menahannya walaupun aku tidak ingin. saat aku terluka, saat ia mulai membuat ku menangis. A-aku tidak tau harus berteriak kepada siapa. Aku tidak tau harus meminta tolong pada siapa. A-aku..maafkan aku..."
si gadis masih terisak. ia tidak sanggup menatap Alang yang terluka. Alang masih menunduk, namun segera teralihkan ketika melihat luka memar di kaki gadis itu. Alang menyentuhnya.
" Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak tau apa aku membencimu. Tapi kau terluka dan itu membuatku sakit! aku membenci keadaan ini, aku ingin menghilangkan mimpi ini. Tapi kau juga akan ikut menghilang."
Alang hanya bisa meremas kedua tangannya kuat. Melihat betapa tersiksanya gadis itu disini.
"Apa kau ingat mimpi di pinggir pantai itu? kenapa itu tidak datang lagi?"
Alang bertanya, namun gadis itu hanya terdiam dengan wajah sendu.
" Baiklah, mungkin kau belum siap menjawabnya. Tapi aku perlu tau siapa namamu"
Namun gadis itu masih terdiam menatapnya datar. wajahnya tidak lagi berekspresi seolah Alang tidak ada di sana. Alang mengernyitkan dahi. Ia menoleh kebelakang, dan melihat pintu ruangan itu terbuka. jantung Alang berdegup kencang. Ia kembali menoleh pada sang gadis,kali ini wajah sang gadis begitu pucat dan perlahan berjalan mundur dengan ketakutan.
"Tidak, jangan lagi!!!"
Alang menatap pria bermata satu itu dan mencoba menahan tubuh sang pria agar tidak melakukan sesuatu yang mengerikan. Namun percuma , Alang hanya menyentuh bayangan kosong . Pria itu menembusnya dan berjalan menuju" peralatan" yang biasa ia pakai.
Sang gadis duduk dipojokan dengan rasa takut.
"Aku mohon...bukan kah itu sudah cukup! mengapa kau mencoba mengambilnya dariku lagi!"
Pria itu menatapnya, lalu meludah.
"Apa kau punya hak berkomentar?!"
Sang pria membuka jeruji besi di depannya. Dan menarik paksa sang gadis yang menjerit memohon untuk dilepaskan.
"Tidak!!! itu sakit! tolong hentikan!!!"
" Diamlah seperti biasanya!!!"
Pria itu membentaknya dan mengikatnya di kasur lusuh. Mengambil beberapa jarum lalu menusuknya di bagian kaki gadis itu. Sang gadis berteriak histeris ketika jarum itu di putar kasar didalam dagingnya.
" Tidak!!! tolong hentikan kau orang gila!!!!"
Alang mencoba berteriak keras ditelinga pria itu dan meraih udara kosong, mencoba menghentikan perbuatan gila dihadapannya.
" Brengsek!!!! hentikan!!!!"
Alang hanya bisa menangis dan menjambak rambutnya frustasi. Beberapa jarum kembali ditancapkan di bagian lengan gadis itu.
" Aaakkkkhhhh!!!! tolong!!!! Alang!!!!Alang!!!!hhhhhkkhh!!! ALANG!!!!"
Sang gadis hanya berteriak histeris kesakitan sambil terisak. pria itu terus memutar- mutar jarum yang ia tusukan Tampa berekspresi. Alang tidak sanggup menatapnya. ia tidak bisa!.
" aku akan selesai jika isi toples ini penuh! dan berhenti menyebut orang tidak dikenal itu!"
Alang mengangkat kepalanya, lalu melihat pria itu sedang mengumpulkan sesuatu yang berkilau. Ia terbelalak kaget ketika melihat kilauan permata berhamburan di sekeliling sang gadis. Alang menatap sang gadis yang sedang menangis, tangannya bergetar hebat dan mengepal kuat. Alang mendekati pria itu dengan emosi yang begitu dalam. Entah dia sadar atau tidak , bocah itu meninju pipi sang pria dengan keras. Membuatnya terpental dan menabrak jeruji besi. Alang siap dengan pukulan selanjutnya, namun teriakan sang gadis menghentikan nya.
" Carla!!!"
Gadis itu berteriak ditengah kesakitannya. Alang mencoba mendekat namun seluruh ruangan terasa kabur dan mulai tak beraturan. lantai yang ia pijak berubah menjadi pusaran hitam. Alang mencari gadis itu, namun ia tidak ada di sana. Seolah ditarik dari bawah, alang tenggelam kedalam lubang hitam begitu cepat.
" Alang! Alang!"
Alang membuka matanya dan mendapati Jean sedang berteriak memanggil namanya.
" Kita sudah sampai di rumah mu! tidur mu lelap sekali. kau baik-baik jasa? kau sangat berkeringat Sekarang."
Alang masih terdiam dan berusaha mengatur nafas.
" Apa aku berusaha keluar dari mobil?"
" Ya, saat melewati tebing "itu" kau berusaha menghentikan mobil. Untung saja aku memaksamu untuk di antar. Jika kau memilih menaiki bus pasti akan berakhir di sana."
Alang menghela nafas. Dan segera turun dari mobil.
" Namanya Carla"
ucap Alang pada Jean. laki- laki itu nampak kebingungan.
__ADS_1
"Siapa?"
" Nama gadis di bawah tanah itu CARLA!"