
Alang terus bergerak menuju ruang monitor, sebenarnya ia tidak perlu terlalu berhati-hati, yang perlu ia lakukan sekarang adalah melakukannya tugasnya secepat mungkin dan tepat waktu, karena pesta sebenarnya akan terjadi setelah kembang api di mulai.
Alang menghela nafas lega karena pintu ruang monitor itu terbuka, ia segera memasuki ruangan dan berusaha tidak menyenggol barang apapun, Ruangan monitor itu sedikit lebih ramai dari biasanya, ada empat orang yang fokus duduk di depan komputer dan alat canggih lainnya.
Alang menahan nafas, merasa kesal karena benda yang ia inginkan berpindah tempat dan lebih dekat dengan orang- orang yang sibuk mengawasi monitor. Carlos memang cerdas , ia tidak memasang alat pengawas di tempat- tempat yang dapat memuaskan hatinya, bahkan panggung adu yang pernah Alang lihat. Mereka hanya merekam para tamu yang masuk ke ruangan luas itu. Tak cukup itu saja, penjara- penjara pribadinya pun tidak memiliki alat pengawas kecuali di tempat- tempat tertentu, yang jelas Carlos sangat berhati-hati agar tidak ada informasi apapun yang bocor.
Sebenarnya Alang sudah memasang alat pengawas di lorong pribadi Carlos yang terkenal dengan pajanganya yang mengerikan, bahkan juga kamarnya. Namun Mereka membutuhkan bukti lebih.
Dengan hati- hati Alang mendekati alat CCTV yang tidak terpakai itu, iya tergeletak manis di sebuah laci tak berpintu dan terbungkus rapi dengan kotaknya. Sesekali Alang melirik, memastikan para pengawas tidak menyadari pergerakan dan suara mencurigakan. Alang meraih satu kotak, lalu cepat- cepat memasukkannya di saku yang lumayan lebar miliknya. Ia sekali lagi melirik, kembali memastikan dan aman!. Alang meraih satu kotak lagi, namun tiba- tiba pengawas tak berambut alias botak menoleh ke samping, lalu mengambil rokok
. Alang membeku dengan tangan yang masih menjulur, hampir saja ia meraih kotak itu.
Alang telah mengetahui bahwa Carlos mencurigainya, atau lebih tepatnya mencurigai Carla dengan berfikir bahwa gadis itu memiliki kekuatan lain, Carla telah memperingati nya untuk berhati-hati.
" Ah sial, hampir saja. terimakasih Carla..."
Ucap Alang di dalam hati, Alang segera mengambil dua kotak sekaligus, menyembunyikannya di balik baju. Alang melangkah mundur dengan hati- hati, sebentar ia melihat layar monitor, Alang dapat melihat ada Carla di sana, tentu saja bersama Carlos yang berpura-pura menjadi ayah yang baik. Alang beralih ke monitor lain dan mendapati Jean bersama Aline sedang berjalan bersama, dan itu terlihat seperti mereka pergi menuju Carlos.
" Bagaimana jika Carla melihat Jean dan jatuh cinta?"
Tiba-tiba saja ucapan Will melintas di pikiran Alang, dengan kesal ia segera berbalik.
" Sial kau Will."
gumam Alang pelan, ia kembali melanjutkan tugasnya walau sebentar- sebentar merasa gundah karena perkataan Will. Pria itu segera pergi menuju tangga darurat, ia tidak ingin mengambil resiko menggunakan lift dengan kamera pengawas di dalam. Alang dengan hati-hati menuruni tangga tapi berusaha melangkah cepat, ia akan segera merekam aula besar yang menjadi panggung utama, walaupun tidak ada peserta di sana Alang yakin ini akan menjadi bukti yang pasti. Ia membuka pintu perlahan, dan segera mengenali gudang di mana ia pertama kali datang ke rumah ini, ia melewati gudang itu dan menemukan pintu besar dan mewah, namun Alang melewati nya.
Ia berbelok ke kiri dan menemukan lorong yang lebih sempit, ia membuka pintu yang tidak terlalu lebar di sana, dan segera masuk ke ruangan yang mirip dengan perlengkapan . Ada banyak senjata tajam yang tersusun rapi, baju- baju aneh yang di sediakan untuk para peserta, menjadikan Meraka tontonan menarik layaknya sirkus.
Alang membuka layar lebar dan tinggi di depannya, dan mendapati lapangan luas tempat di mana pembantaian mengerikan itu terjadi. bentuknya melingkar dan di kelilingi jendela- jendela kaca penonton. Mereka senang menonton nya namun tidak suka jika mencium bau darah yang meluap di panggung itu. Alang melihat sekeliling memastikan tidak ada siapapun, ia menatap sebuah lorong yang lurus dari tempat ia berdiri, dari situlah orang- orang malang itu keluar dengan wajah takut bercampur pasrah.
" Baiklah! Alat ini akan pas di sini."
Alang mengambil tangga, lalu segera menaikinya dan memasang alat pengawas yang kecil itu, sangat mudah untuk memasangnya. cepat- cepat ia turun, lalu menoleh sana sini untuk memastikan kondisi aman.
" Pekerjaan ini pasti akan lancar, tunggu aku Carla."
__ADS_1
kali ini Alang berlari menuju lorong di mana orang- orang yang ingin mereka selamatkan terkurung.
Alang tetap berlari meskipun telah di dalam, tidak perlu melangkah jauh , penjara- penjara itu
tepat berada di kanan kirinya, tempat di mana para pria di kurung untuk di taruhkan hingga mati.
" Hey! kau akhirnya datang."
Seorang remaja seumuran Alang yang begitu kurus melambaikan tangan dan menyapanya.
" kau pikir aku akan ingkar?"
" Tentu saja itu akan terbenam di dalam pikiran ku, aku hidup hampir mati di sini dan penuh dengan pemikiran negatif."
Nama remaja itu adalah Rian, ia salah satu yang berada di dalam penjara dan masih beruntung karena namanya tidak keluar dari undian. Pertama kali Alang berada di tempat itu, ia begitu kaget hingga kembali terbangun dari tidur karena tiba-tiba saja ada seseorang menatapnya dengan tajam. Saat itu Alang mendekati si pria dengan tatapan penuh selidik.
" Apa masalah mu !!"
Rian membentak, ia mengira Alang adalah salah satu penjaga, membuat bocah renang itu harus kembali esok malamnya.
Tanya Alang penuh penasaran, Rian mengangguk sambil menggaruk rambutnya yang kusut dan panjang acuh tak acuh, Bahkan poninya hampir menutupi setengah wajah. Alang menoleh ke kanan dan ke kiri sambil menunduk , mencari sesuatu.
" Kenakan ini."
Ucap Alang sambil menyodorkan karet yang ia temukan, remaja itu meraihnya dan segera mengikat rambutnya.
"Jadi kau ini roh? kapan kau mati? apa kau salah satu dari kami juga?"
Rian bertanya dengan beruntun di ikuti dengan Alang yang menggeleng keras.
" Aku sangat berharap umur ku panjang, dan aku belum mati! dan bagaimana kau bisa melihat ku?"
Rian menoleh dengan senyum mengejek.
" Apa kau tidak pernah mendengar soal indigo?! kau anak kota ya?!"
__ADS_1
Mata Alang melihat ke atas sambil menghela nafas berat, laki- laki ini sebenarnya menyebalkan, Alang mengangguk tanda tahu apa itu " indigo".
" Apa hanya kau? "
" tentu saja! jadi...apa yang sebenarnya kau lakukan di sini jika kau memang belum mati? apa kau kamera pengawas barunya?"
Alang menggeleng kuat.
" Aku ingin mengungkap kejahatannya. dengan kelebihan ku yang dapat melepas roh, aku akan memenjarakannya."
" Jika aku jadi kau, pasti sudah ku bunuh saat orang stres itu tidur."
Sekali lagi Alang menghela nafas berat.
" Nyatanya tak semudah itu! Ada resiko yang lebih besar jika itu di lakukan."
" Lalu apa yang akan kau lakukan."
Alang terdiam sejenak, berpikir dengan keras sambil mengamati wajah Rian yang menunggu jawaban.
" Apa aku bisa mempercayai mu? bahwa kau bukan mata- mata pria itu?!"
Ucap Alang dengan tegas, Rian mengangguk santai.
" Apa alasanku untuk mendukungnya? dia sudah membunuh ayah dan adik laki-laki ku! dan juga ibu Serta adik perempuan ku.... entah di mana mereka sekarang."
Malam itu dengan banyak pertimbangan, Alang dan Rian akhirnya sepakat untuk bekerja sama, dan ia akut andil dalam perencanaan ini, serta tentunya Jean dan Will tau.
Malam ini mereka berdua beraksi, dan Rian siap dengan itu. Alang segera membuka sel Rian dengan hati-hati, berharap penghuni lain tidak mendengar. Karena sel itu kecil dan memang di buat untuk satu orang, dan jendelanya pun hanya pagar-pagar besi yang tak lebih besar dari setengah kardus pizza.
" Kau pasti masih ingat apa yang harus di lakukan kan?."
" Tentu saja."
Balas Rian dengan santai namun pasti.
__ADS_1