Walking Dream

Walking Dream
Hari Biasa


__ADS_3

Selang tiga hari setelah Alang melakukan control, ia masih belum mengalami mimpi. Sebenarnya bagi Alang, obat yang diberikan dokter Angga tak lebih sebagai penenang, mimpi itu pasti akan datang lagi walaupun terkadang sedikit lebih lama dari biasanya. Namun sekarang, lebih baik ia tidak memikirkannya lagi, ia berusaha untuk melupakan suara Carla dan sentuhan nyata yang terasa sakit di tangannya waktu itu. Apapun yang mengganjal dan aneh didalam mimpi terakhirnya akan ia anggap seperti mimpi-mimpi lalu yang biasa datang. mungkin ia akan merasa sesak, Bahkan dengan mimpi yang akan datang selanjutnya. Namun kali ini Alang tidak berusaha menginginkan mimpi itu hilang ataupun menganggapnya nyata. Ia hanya berusaha untuk tidak peduli dan menjadikan hari-harinya seperti hari biasa.


"Eh.....?Alang?! mengapa kau disini, bukankah ini hari libur mu?"


Seorang laki-laki tinggi dengan kulit kecoklatan dan mengenakan celana renang mendekatinya sambil meneguk sebotol soda. Wajahnya penuh heran melihat Alang terlihat sibuk mengajar anak-anak berumur enam tahun keatas belajar berenang.


" Oh! senior, hari ini tanggal merah dan aku merasa bosan."


Ucap Alang, lalu keluar dari kolam karena waktu mengajar telah usai. lagi pula ia tiba pada jam- jam kelas akan berakhir.


"KAK ALANG!!!! TERIMAKASIH HARI INI!!!! MINGGU DEPAN AKAN KU TUNJUKKAN MEDALI PERINGKAT SATU PADAMU!!! KAU HARUS MEMBERIKAN HADIAH!!!!"


Seorang bocah berumur sebelas tahun melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, membuat seisi kolam memperhatikan nya.


" Argghhh...bocah itu selalu saja berter-"


"TENTU SAJA!!! AKU MENANTIKANNYA!!!!"


Erik terbelalak kaget dengan suara Alang yang tidak kalah lantang .


" Ternyata kau juga bisa berteriak sekeras itu?!"


Alang hanya tersenyum, dia tidak tahu, ia hanya ingin berteriak saja untuk menyemangati bocah yang penuh semangat dan sedang berkobar untuk menang. Orang-orang beralih memperhatikannya lebih tidak percaya, karna bagi mereka Alang berteriak seperti barusan adalah suatu hal yang langka. bahkan si bocah tidak berkutik.


"HAHAHA!!! KAK ALANG BENAR- BENAR LUCU? HAHAHA!!!"


si bocah tertawa keras, membuat yang lainnya tidak bisa menahan tawa. Alang hanya tertunduk malu. Setidaknya ia bisa sedikit melupakan kekhawatirannya.


_____________________________________


" Hey, mau makan bersama? senior mu akan mentraktir."


Erik menghentikan Alang yang sudah bersiap-siap pulang. Tentu saja Alang mengiyakan. keduanya pun pergi menggunakan mobil Erik. Erik adalah seorang pria berumur 28 tahun, laki-laki yang bekerja di klub kolam renang lokal bernama SEA. Nama yang simpel dan didapatkan saat sedang bermain di laut. bagi Alang, Erik adalah pengajar renang yang handal dan ia menghormatinya. bahkan, banyak hal mengenai renang tidak diketahui olehnya, namun Erik mengetahui itu.


" Oke kita sudah sampai! oh, tolong bantu aku mengambilkan perlengkapannya nya"


" perlengkapan?"


Alang bertanya dengan bingung, bukankah mereka akan makan sesuatu di kedai pinggir pantai.


" Ah! aku lupa bilang kita akan makan BBQ di sini"


" Eee..hanya kita berdua?"


" Hahaha! tentu saja tidak. jika hanya berdua dengan mu aku akan bosan dan lelah karna akan terus ditanyai"


Erik menepuk punggung Alang keras, lalu berlalu sambil membawa perlengkapan.

__ADS_1


" wah, perkataan mu benar- benar kasar..."


" Tapi kenyataan nya memang begitu. cepat, kita harus menyusun tempat duduk dan pemanggangan nya"


"A-apa kau yang akan memasak?! jika iya, lebih baik aku pulang saja!"


Alang tidak bisa membayangkan bagaimana rasa BBQ buatan erik, ia bahkan belum melupakan rasa nasi goreng yang di buat seniornya satu bulan lalu saat ia berkunjung ke kontrakan.


" HAAA!!!? memang kenapa jika aku yang akan memasak?! Apa kau baru saja menolak kebaikan ku?!"


" k-kenapa? bukankah perkataan ku sudah jelas?"


" Kau harus memakannya wal-"


" Oi!!! apa bahannya sudah lengkap?!"


Erik dan Alang menoleh pada asal suara, dan terlihat Wiliam - beserta pacar- , Jean, Aline dan manajernya mendekat sambil membawa beberapa kantong plastik. Alang menghela nafas lega, karna Erik tidak menuntut jawaban darinya lagi.


"baiklah!! mari kita mulai makan- makanya. oii.. coklat! kau tidak melakukan sesuatu pada bahan-bahannya kan?"


Aline mendekati Erik dengan penuh selidik, lalu memperhatikan kotak berisi bahan yang masih tertata rapi.


"bagus!! sentuhan mu itu membuat petaka pada makanan, kau tau itu kan?"


" dasar Aline!! kau harusnya bersikap lebih sopan pada yang lebih tua!!!"


" baiklah , kalian para laki- laki cukup membereskan tempat kita makan. buat itu dengan baik!? "


para pria hanya menurut ketika Aline berbicara, memang tidak ada yang bisa membantahnya. bahkan Erik menyebutnya "Nenek Sihir".


Malam itu langit dipenuhi dengan gemerlap bintang, suara ombak menambah kegembiraan mereka. Bulan purnama pun seperti ikut bercengkrama dengan mereka dan terkadang tertawa karna lelucon yang begitu lucu. Mungkin perut mereka baru akan kenyang sampai tengah malam jika sebahagia itu.


" Jadi , kalian berdua kenal satu sama lain?"


Alang akhirnya bertanya setelah penasaran sedari tadi. Erik dan Aline saling menatap lalu tertawa.


" ada apa? apa ada yang salah dengan pertanyaan ku"


Jean menghela napas, dengan wajah datar ia mengelus-elus kepalanya sendiri seperti memberikan sebuah isyarat. Alang mengernyit bingung tidak mengerti.


"wahhh, kau tidak mengenalnya selama ini?" Wiliam ikut bertanya tidak percaya.


"bukankah kau bilang dia yang mengajari mu berenang pertamakali? kau bahkan menunjukan fotonya padaku?"


Wiliam kembali berkomentar sambil menggelengkan kepala heran. Alang memutar otaknya, mengingat setiap memory yang bisa menjawab kebingungan nya. Padahal ia baru mengenal Erik lima bulan yang lalu. Orang pertama yang mengajarinya berenang?, setelah beberapa saat Alang pun ingat, matanya membulat sambil melihat Erik yang tersenyum.


" ABANG BOTAK!!!"

__ADS_1


Seru Alang, ia akhirnya ingat, laki-laki dengan kepala mengkilat dan sedikit menyebalkan. Seseorang yang menjadi pendukung pertamanya. Alang benar- benar tidak bisa mengenali Erik yang sekarang. Dengan penampilannya yang gondrong dan berkumis tipis serta tidak lupa dengan jenggotnya membuat penampilan masa mudanya berbeda jauh dengan yang sekarang. Tentu saja keduanya saling mengenal karena mereka adalah teman dekat. Namun pertemuan Alang dengan Erik memang hanya berlangsung selama tiga bulan lebih, setelah itu Erik pergi ke kota pusat karna tawaran dari atlet renang nasional.


" Woahhh!!! gila!!! Alang kau luar biasa hahahaha, dia hanya mengenali kepala botak mu itu hahaha!!!"


Aline benar- benar tertawa, begitu pula yang lainnya kecuali Erik. Dia pun benar- benar menyesal mengapa memilih kepala klimis itu, sangking sukanya dengan karakter Saitama ia tidak memperdulikan saran orang-orang.


" Eehhhh...maaf senior..."


" Yah...tidak apa, tidak apa..lupakan saja masa lalu suram itu. "


ujar Erik sambil menegak minumannya.


" Lagi pula mengapa kau tidak memberitahuku dari awal?!"


" Kenapa ya...? mungkin untuk mengurangi keingintahuan mu. kau tau aku ini bukan orang pintar kan? aaaa!!- sulit untuk menjelaskan sesuatu seperti itu hiks"


" Hehehe , maaf...."


Mereka begitu asik mengobrol hingga tidak sadar jam menunjukan pukul sepuluh malam. Akhirnya dengan di antar dengan mobil Jean , Alang kembali pulang ke rumah. Terlebih orang pertama yang mengajaknya makan juga ikut menumpang karna mabuk, dan dengan terpaksa harus menitipkan mobil.


"Terimakasih untuk hari ini ya?!"


ucap Alang sebelum mobil itu melaju pergi. Aline melambaikan tangan sambil tersenyum.


" Tentu saja!! kapan-kapan kita akan pergi lagi ok!"


Alang mengangguk senang dan melambaikan tangan. Alang menghela nafas, hari ini sedikit lebih lelah,namun ia benar-benar menikmatinya. Dengan hati yang sedikit berbunga ia melangkah masuk ke rumah, orang tuanya sedang menonton TV sambil meminum Coffee. Setelah menjelaskan mengapa ia pulang sedikit telat , Alang bersiap untuk istirahat. Setelah membersihkan diri Alang segera menaiki kasurnya dan langsung terlelap. hari biasanya benar- benar menyenangkan.


_________________________


" Hari ini kau benar-benar bahagia"


ucap Carla, memperhatikan Alang yang tertidur lelap dengan wajah yang begitu tenang.


" Harusnya dari awal aku tidak memanggil namamu..."


Carla masih memperhatikan Alang dengan tersenyum sedih. Hatinya begitu sakit melihat Alang yang hanya melihatnya saat terluka. Andai saja mimpi yang menyenangkan kan itu bisa terjadi lagi. Carla menangis, air matanya penuh dengan penderitaan sekaligus rasa bersalah.


"..... Seandainya waktu itu aku tidak menerima tangan mu, tidak melihatmu atau memperdulikan ku, ini pasti tidak akan terjadi. Aku tidak perlu memanggil namamu saat kesakitan."


Carla masih menangis, ia belai wajah malaikatnya, lalu mengecup keningnya.


" Maafkan aku, aku akan berusaha membuatmu bahagia lagi..."


Ucap Carla purau , lalu perlahan tubuhnya menjadi pudar, pengelihatan nya pun menjadi kabur dan gelap. Saat ia membuka mata, jeruji besi yang biasa ia lihat pun terlihat, dengan bau tanah yang sedikit lembab, ia terbaring di atas rajang Reok yang kasurnya begitu memprihatikan. Air matanya masih mengalir dan dadanya masih begitu sesak. malam itu, Carla hanya menghabiskan malam panjangnya dengan tangisan pilu yang menyayat hati.


Ia tidak peduli, toh dia berada didalam gua dan pria itu belum kembali.

__ADS_1


__ADS_2