
" Jadi kau masih tidak mau berkata jujur!!"
Carlos menjambak rambut Carla yang terikat di atas kursi, Wajahnya yang putih, kotor dengan bercak darah dan luka, sebagian lengan dan kakinya memar- memar dan mungkin ada di seluruh tubuhnya. Carla menunduk lemas, air matanya pun mengering bercampur darah.
" Kau liat luka ini?! bahkan pelacur itu memiliki pola yang cantik!!"
cuh!
Carla meludah acuh tak acuh, memberikan tatapan tajam pada Carlos, pria itu terkekeh kesal.
brakkk!!
Dengan kasar Carlos menendang Carla hingga terjatuh, ia hanya bisa meringis sakit karna tangannya yang terikat di kursi terpelintir.
" Kau tau aku tidak akan pernah membunuhmu! jadi katakan!! siapa yang melakukannya!!!"
Teriak Carlos sambil menunjuk lehernya yang berbalut perban, matanya melotot dengan nafas terengah.
" Aku..."
jawab Carla, membuat Carlos kembali tertawa.
" Hey..kau pikir bisa membodohi ku? jika iya pasti sudah kau buat kabur dari awal!"
Carlos mendongak dan menghela nafas berat.
" Kau pasti akan mengatakannya!!"
Carlos pergi berlalu, dan memanggil pelayan untuk membereskan mainannya, Wajahnya terlihat semakin berkerut karna kesal. Ia berjalan hingga sampai di sebuah pintu bercat hitam dengan ukuran besar, pelayan sudah membukakan pintu untuknya dengan wajah tertunduk menghormati, walaupun sebenarnya ia ketakutan. Carlos berjalan sambil melihat-lihat setiap pajangan berharganya di dinding seolah itu adalah obat penenang. Ia mendekati salah satu pajangan, eskpresi nya kembali berkerut lalu menepuk tangan memanggil pelayan.
" Iya tuan?"
" Buang pajangan satu ini, aku tidak bisa menjadikannya pajangan berharga lagi, Anaknya terlalu bertingkah."
Pelayan itu mengangguk patuh, Carlos kembali melangkah sambil terus melihat- lihat pajangan .
Dengan tangan yang bergetar , si pelayan mengambil pajangan itu sambil menelan ludah, perutnya sedikit mual ingin muntah, cepat-cepat ia berlari untuk membuang benda itu.
" Arwin! kau tau di mana aku harus membuang ini?"
" Oh! Diana! kau cukup buang itu di pembuangan sampah yang biasa untuk manusia!"
" Menjijikkan! jangan berkata seolah kau bukan manusia!"
Diana berjalan semakin cepat dan akhirnya bisa membuang pajangan berupa sebuah kepala seorang pria dengan hiasan topi kurcaci di atas kepalanya, ia di bingkai dengan pigura berwarna coklat kayu, di bagian bawah tertulis nama "Berlian pertama Carla" yang tak lain adalah ayahnya.
_________________________________
Wiliam masih menatap Alang dengan wajah menuntut meminta penjelasan, sesekali ia menggaruk rambut frustasi dan melirik ke suatu tempat.
__ADS_1
" Aku titip dia di sini."
Ucap Alang sambil merenung dan melihat pantai sore hari di atas balkon kamar rumah Wiliam, Will tidak bisa berkata-kata karena wajahnya terlihat sangat jelas meminta jawaban logis.
" Cerita kan saja , dia berhak tau"
kali ini Jean menimpali sambil membuka Tutup minuman kaleng rasa kopi, ia terlihat enteng sedangkan Alang menghela nafas berat.
" Baiklah..."
Alang duduk di kursi kayu di ikuti William yang siap dengan minuman kalengan.
" tadi malam...."
Tadi malam, setelah melewati perjalanan yang panjang, Alang berakhir di depan rumah William yang tinggal di kota berbeda. Rumah itu terletak tepat di pinggir pantai yang indah dengan cat merah bata, rumah itu memang terlihat sangat menarik karna keluarga William adalah pengusaha homestay dan terletak persis di samping rumahnya.
saat melarikan diri wajah Alang kusut tidak karuan, nafasnya tersengal karena harus berlari dan menggendong Yasmin yang masih tidak sadarkan diri. Terlebih ia harus menghindari orang- orang , jika tidak, akan ada berita menghebohkan besok tentang perempuan pingsan yang melayang .
Entah kerena sebuah keberuntungan, Alang menemukan POM bensin yang sepi , hanya ada truk muatan kecil yang sedang mengisi bensin di sana, Alang memastikan sekitar dan mendapati si sopir berjalan memasuki toilet, dengan langkah cepat Alang segera mendekati truk itu dan menaikinya, berusaha menutupi ia dan Yasmin dengan terpal. Truk itu akhirnya berjalan perlahan, Alang menghela nafas lega ia bisa beristirahat sejenak.
" Jangan sampai aku terbangun..."
wajah Alang menunduk tanda ia benar-benar memohon untuk tidak dibangunkan , ia bahkan sudah merasa khawatir saat pertama kali bertemu carla di pertandingan duel, ia harus mencari tau bagaimana cara mengontrol pertemuan antara ia dengan carla di dalam mimpi itu.
Telah berlalu sekitar 30 menit sejak Alang menaiki truk itu, Alang membuka sedikit terpal, memastikan dimana ia sekarang, ia tersenyum lega karena tahu persis truk ini akan pergi kemana, Ada banyak peralatan renang di truk itu, terlebih terdapat lebel kepemilikan barang yang ia kenali.
Ucap Alang lega, truk terus berjalanan sementara Alang memejamkan matanya, meminta sedikit istirahat.
" Wahhh!!! jadi kau turun di gedung olahraga renang?! Lalu bagaimana dengan sopir itu? kau bisa kabur darinya?"
" Untungnya sopir itu tidak menurunkan barang, yah... walupun sudah ku buat persiapan untuk itu."
Alang menimpali pertanyaan William yang begitu heboh, Bagaimana dia tidak heboh? teman yang jarang menghubunginya menelpon di tengah malam lalu meminta tolong untuk menyelamatkan seorang wanita yang terluka di samping rumahnya.
" Kau pasti sangat terkejut saat terbangun dari mimpi itu."
Jean ikut menimpali, ia pun baru dikabari hari ini dan benar- benar dibuat terkejut.
" Iya, setelah itu aku langsung menelpon Will untuk memastikan...."
Alang terdiam sejenak, ia masih tidak mempercayainya, kenyataan bahwa mimpi itu nyata dan terhubung.
" Hahahaha... ternyata selama ini gadis itu ada! seandainya... seandainya.... aku mengetahuinya lebih awal, atau aku lebih penasaran dan tidak berpura-pura_"
" Jangan salahkan dirimu sendiri!"
Dengan keras Jean menampar wajah Alang, pria itu hanya menunduk.
" Hentikan! mengapa kau menamparnya?"
__ADS_1
" Dia harus sadar ini semua bukan keinginannya dan tidak ada yang perlu di salahkan! sekarang yang terpenting apa yang harus kita lakukan sekarang!"
Ucap Jean, melirik Yasmin yang di kasur masih belum sadarkan diri, mereka harus melakukan sesuatu tentang ini.
"Dan juga tentang mimpi mu! mengapa kau bisa bermimpi aneh!"
William mengangguk setuju atas perkataan Jean, ini terlalu aneh dan sebenarnya berbahaya, mereka sedang berurusan dengan orang penting bernama Carlos, memiliki nama yang di kenal banyak orang di kotanya.
uhuk!!! uhukhuk!!!
Ketiga remaja itu segera berbalik dan bangkit ketika menyadari Yasmin telah sadar dari tidur panjangnya, William segera memberinya air putih , Yasmin terdiam menatapnya penuh curiga dan memperhatikan tempat yang asing baginya.
" Dia teman ku! dan ini rumahnya"
Yasmin menyadari Alang ada di sana, Entah mengapa ia kembali tenang dan segera ia ambil air putih itu.
" Carla !! bagaimana dengan dia?"
Alang tidak tahu harus berkata apa, mata sendu perempuan itu membuatnya rapuh seperti Carla.
" Dia masih di rumah besar itu!"
dengan singkat Jean yang akhirnya menjawab, Yasmin menunduk terdiam dengan air mata berurai.
" Tolong... beritahu aku bagaimana menyelamatkannya, anakku...."
Suasana begitu hening, hanya suara tangis Yasmin yang terdengar. Alang mengepal tangannya erat.
" Pasti akan ku selamatkan!!!"
Alang berbicara dengan tegas , menatap mata Yasmin dengan tajam.
" Akan ku bawa dia kembali!!"
" Benarkah? kau akan membawa kembali anakku?...tapi kenapa? apa karna itu!!"
" Tidak!! aku tidak peduli dengan benda itu! Aku hanya ingin melihatnya tertawa lagi!"
Kali ini Alang menangis, tangannya bergetar karna berusaha menahan air mata.
" Mengapa kau berbicara seolah pernah bertemu dengannya?"
" Karena kami teman sejak lama! kami selalu bertemu di alam mimpi."
Yasmin menatap Alang dalam lalu meraba wajahnya.
" Jadi... mimpi itu nyata? mimpi yang selalu diceritakan anakku dengan bahagia itu terhubung dengan dunia nyata? ternyata itu kamu, anak dari mimpi"
Alang mengangguk, memegang tangan kurus Yasmin yang kasar. Akhirnya Alang benar- benar dapat menyentuh mimpinya di dunia nyata, ia akhirnya menemukan benang penghubung antara ia dan Carla, ia tidak sakit, karena semua mimpi itu adalah ikatan diantara mereka berdua, dunia yang hanya dimiliki oleh keduanya.
__ADS_1