
Remang- remang lampu di ruangan itu memiliki bau yang suram, di depan perapian yang apinya masih menyala hangat, di atas kursi panjang berwarna merah darah, duduk dengan santai seorang laki- laki bertopeng hitam dengan sedikit ukiran merah persis seperti warna kursi yang ia duduki. Sambil memegang segelas wine merah yang ia goyang- goyang dengan gemulai.
Sambil menikmati alunan musik klasik ia hembuskan nafas dalam, seperti menikmati sesuatu, matanya tajam melihat kebawah , ia tersenyum suram sambil membelai rambut halus berwarna hitam legam disana.
" Harusnya ku ucapkan saat kembang api berbunyi, tapi aku memiliki tamu jadi maafkan aku.."
Ucap Carlos masih terus membelai rambut hitam panjang seorang wanita, ia masih tersenyum walaupun terbesit raut kesedihan disana.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dengan seseorang berdiri disana, ia membungkuk hormat menunggu tuannya menjawab.
" Bagaimana?"
" Para tamu telah datang tuan.."
" Layani mereka dengan baik, sebentar lagi aku akan ke sana."
" Baik tuan."
Pelayan itu kembali membungkuk dan menutup pintu, sedang Carlos masih menatap wanita itu.
" Ah, aku jadi ingat masa lalu.."
Carlos memejamkan mata, memori nya kembali berputar bertahun-tahun silam, di masa saat ia masih berumur 10 tahun dan dengan manja bersandar dipangkuan ibunya, mungkin hanya itu memory yang masih ia ingat hingga ke detail- detailnya.
Saat itu burung- burung bersiul riang di ranting- ranting pohon, terdapat air mancur indah di taman itu sekaligus sebagai tempat para burung mengambil minum. Carlos kecil dengan antusias memandang burung- burung itu di kejauhan, ia mengagumi warna bulunya yang biru dan kepakan sayapnya yang indah.
" ah, di sini ternyata pangeran ibu. Apa yang membuatmu begitu lama memperhatikan burung- burung itu?"
Seorang wanita yang masih terlihat muda mendekati Carlos lalu membelai kepalanya lembut. Wajahnya yang cantik terlihat begitu tenang untuk dilihat.
" Warna mereka sangat indah dan ketika terbang mereka begitu sangat bebas, kemanapun mereka ingin pergi mereka akan terbang semau mereka."
Hela kembali membelai rambut Carlos , terlihat jelas raut wajahnya yang sedih walaupun ia berusaha untuk tersenyum.
" Apa pangeran mau menemani ibu minum teh?"
Carlos mendongak dan melihat ibunya tersenyum, Carlos mengangguk dan senyum lebarnya yang mengemaskan cukup untuk membuat orang ingin mencubit pipinya.
" Ibu, kenapa kau memanggilku pangeran? aku kan bukan anak raja, dan negri kita tidak dipimpin oleh raja."
Saat itu keduanya saling duduk berhadapan dan teh hangat sudah tersedia disana, dan juga biskuit coklat kesukaan Carlos. Hela terdiam cukup lama lalu melambaikan tangan tanda meminta Carlos untuk mendekatinya, lalu ia belai lembut kepala Carlos, lagi.
" menurut anak ibu yang manis pangeran itu seperti apa?"
Carlos terdiam cukup lama namun akhirnya menjawab.
" Pangeran sangat di cintai banyak orang dan apapun yang ia inginkan ia dapatkan. Dia orang yang bahagia."
Hela tersenyum dan memeluk anaknya.
" Benar sayang, pangeran Carlos pun seperti itu, ibu sangat mencintai Carlos melebihi siapapun, dan ingin melihat Carlos bahagia seperti pangeran. Jadi Carlos adalah pangeran ibu, dan kau pasti akan dicintai."
carlos membalas pelukan ibunya bahagia, keduanya bersenang-senang hari itu dengan biskuit coklat Carlos yang masih hangat.
_________________________________
Malam terasa sangat dingin, Carlos membuka matanya perlahan lalu bangkit dari tidur. Ia berjalan keluar kamar karena merasa haus, lorong yang terang membuat Carlos bingung karena biasanya lampu akan mati saat tengah malam.
" Berhenti bersikap begini!"
__ADS_1
Suara yang familiar di telinga Carlos menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mencari arah suara.
Prankkk!!!
Suara pecahan kaca terdengar dari ruang kerja ayahnya, sejenak Carlos merasa terkejut dan takut untuk meneruskan langkah, namun suara Isak sang ibu membuat Carlos resah, ia kembali melangkah dan berusaha untuk berjalan dengan hati- hati.
" Aku biarkan kamu melakukan apapun! tapi tidak kali ini!!"
Hela berteriak keras di hadapan suaminya yang tidak mengenakan kain sehelai pun, di kursi kerja duduk seorang perempuan yang berusaha menutupi dirinya.
" Apa kau sekarang berani menentang ku!!!"
Jon menarik kerah baju Hela keras, tangannya terkepal siap menampar wajah cantik Hela.
" Kau brengsek!! tidak kubiarkan kau membawa Carlos!!"
Kali ini kesabaran Jon berada di ujung puncak, dengan keras ia menampar Hela hingga tersungkur.
" Kau tidak bisa menentang ku sayang.."
Jon mendekati Hela yang menangis bercampur ketakutan, laki- laki itu memasang wajah kasih sayang yang menjijikkan, membelai pipi hela dan menghapus air matanya, ia tersenyum lembut namun Hela memberontak dan berusaha melepas cengkraman Jon.
" Apa kesalahan ku...? aku membiarkan mu tidur dengan banyak wanita, walaupun itu sakit... walaupun itu membuat ku marah !ku biarkan kau melakukan apapun! bahkan ketika kau memukul ku..."
Hela terisak pilu, ia tidak bisa bergerak karena cengkraman Jon yang kuat dan terasa sakit.
" Jangan ambil Carlos dariku!! biar aku yang merawatnya!"
" Tapi aku ayahnya sayang, akan ku buat kau hidup nyaman, tapi Carlos harus di bawah didikan ku.."
" DAN MENJADI PRIA BRENGSEK SEPERTI MU!!?"
PLAK!!!
" HENTIKAN!!!!"
Carlos berlari mendekati ibunya, tubuhnya bergetar sambil merentangkan tangan lebar- lebar, memberi batasan Antara Jon dan hela.
Saat itu pupil mata Jon menatap Carlos tajam.
" Jangan sakiti ibuku!! ayah jahat!!"
Carlos menangis histeris dan terus berusaha melindungi Hela dari pria bejat dihadapannya. Jantung bocah itu berdegup kencang, ia hanya mengikuti naluri untuk melindungi siapa yang pantas dilindungi, bagi Carlos jon yang saat ini berdiri di hadapannya bukanlah ayahnya, ia hanya laki- laki yang menakutkan.
" Tidak Carlos, ibu minta pangeran ibu kembali ke kamar, ok.."
Hela mendekati Carlos, berusaha tenang dan tersenyum disana.
" Dengar apa yang didengar ibu mu Carlos? kembali ke kamar!!"
" Dan membiarkan ibu ku menangis karena tangan kotor mu!!"
Jelas raut wajah Jon begitu suram setelah mendengar ucapan Carlos, Hela memeluk anaknya erat, laki- laki itu maju dan menarik Carlos kasar dan menghempaskan nya ke lantai keras.
" Kau gila!!! apa yang kau lakukan pada anak ku!!!"
Hela berusaha menghalangi Jon yang mendekati Carlos, namun ia hanya menghempaskan Hela seperti kapas . Ia mengambil tali dan mengikat Carlos yang tidak bisa melawan.
" Kalau begitu kau harus melihatnya, ini lah cinta ayah kepada ibumu. kau ! keluar sekarang!!"
__ADS_1
Perempuan yang sedari tadi duduk ketakutan di kursi kerja Jon terburu-buru keluar dan menutup pintu rapat. Namun beberapa detik kemudian Jon menyusul keluar dan mengunci pintu dari luar.
_____________________________
pria itu kembali beberapa menit kemudian, lengannya sedikit terlihat basah dan terdapat sedikit bercak merah, namun wajahnya masih sama, terlihat begitu suram. Ia mendekati Hela yang terlihat berusaha melepaskan ikatan tali yang ada di tubuh anaknya.
" Kau pikir apa yang kau lakukan."
Jon menjambak rambut Hela dan menyeretnya menjauh, sedangkan Carlos tidak henti memanggil ibunya.
" Minum ini!"
Jon menekan mulut Hela supaya dapat meminum segelas air yang entah kapan ia pegang, Hela menggeleng dan berusaha memberontak, membuat air di gelas itu tumpah sebagian. Jon melepas cengkraman nya dan mendekati Carlos.
" Bbuk!!!"
Jon menendang perut Carlos keras, membuat bocah itu terbelalak kesakitan.
" Jika kau tidak meminumnya, aku akan terus memukulnya!"
Hela menggeleng kuat sambil menangis.
" tidak, kumohon... Carlos anak kita Jon.."
" Maka minumlah!"
Hela menggeleng sambil memohon, namun Jon tidak berbelas kasih ia bersiap dengan tendangan selanjutnya. Hela menarik kaki pria itu dan mengangguk, membuat Jon tersenyum puas. Ia sodorkan kembali gelas itu dan menambahkan sesuatu di dalamnya.
" Kau harus meminumnya sampai habis."
Hela mengangguk dan menegak isi semua air di dalamnya, airnya matanya mengalir begitu deras. Ia menatap Carlos pasrah dan sayu.
" Maafkan ibu, pangeran ku..."
_______________________________
Carlos masih mengingat jelas hari di malam ulang tahun ibunya, hari yang tidak mungkin ia lupakan, tepat di tahun baru. Tubuhnya di ikat dengan kuat dan tidak bisa bergerak. Ia harus menyaksikannya tindakan tidak senonoh di umurnya yang masih 10 tahun. Jika ia menutup mata, Jon akan memukulnya dengan keras sedangkan ibunya tidak memperdulikan nya seolah beberapa menit yang lalu ia berubah menjadi orang lain dan liar.
" Lihatlah! ibu mu tidak merasakan sakit, dia menyukai nya. inilah cinta antara ayah dan ibumu Carlos..."
Pria brengsek itu masih melakukan aktivitas *** nya seperti kesetanan, akal sehatnya hilang begitu pula ibunya yang telah dijejali minuman yang tidak diketahui Carlos. bocah itu hanya bisa menangis hingga air matanya kering, sedangkan ibunya, Hela tidak marah ketika tubuhnya di pukuli, ia hanya merasa senang, tapi setelah itu ia menangis ketika menyadari Carlos ada disana, namun akan kembali kehilangan akal sehat.
" KAU BAJINGAN KEPARAT, BRENGSEK!!! "
Carlos melontar kata kasar yang mengerikan kepada ayahnya, padahal ia tidak pernah mendengar kata itu, ia langsung mendapatkannya dari kedua orang tuanya hanya dengan beberapa jam.
" Sepertinya kau sudah cukup melihat ini sayang.."
Ucap jon lalu memukul tengkuk leher Carlos hingga membuat bocah itu pingsan.
_________________________________
Carlos membuka matanya, ia mengingat masa lalu terlalu jauh. Ia letakkan wine dan mengecup kening wanita di hadapannya.
" Selamat ulang tahun Bu, maaf mengucapkannya terlalu awal..."
Carlos mengusap rambut wanita itu sambil tersenyum.
" Ibu pasti mengerti.. beginilah aku memberikan cinta kepada ibu."
__ADS_1
Lalu Carlos bangkit setelah mengecup kening Hela kedua kalinya, ia beranjak dari duduk dan mengenakan setelan jasnya , ia meraih hela dan meletakkannya dengan hati- hati di lemari kaca berukir emas mewah, ia membelai lembut kembali kepala Hela, menutup lemari kaca itu.
Bentuk cinta Carlos yang terdalam, meskipun Hela telah tiada ia akan selalu menatap kepala Hela yang telah di awetkan itu, memberikan nya perawatan tingkat tinggi dan mengelus lembut kepalanya, seperti Hela yang senang mengelus kepala Carlos dulu.