
Carla duduk memojok di atas kasur lusuh, tatapannya kosong dengan tangan yang dirantai. Ia merasa lelah dengan ini semua, kelebihan yang ia miliki adalah petaka, hanya karena benda itu ia harus kehilangan orang tuanya, kehilangan kehidupan bahagianya. Ia bertanya-tanya mengapa harus diciptakan seperti ini, mengapa berlian itu harus keluar dari air matanya, jika seandainya benda itu tidak ada ini tidak akan terjadi.
Air mata Carla kembali menitik, tangisannya sungguh menyayat hati, tubuhnya yang putih itu penuh dengan memar , bahkan rambutnya tidak terurus. Carla turun dari kasur, menatap pantulannya di cermin lalu menyentuh wajah yang ada di sana, tangan Carla mengepal kuat dan menangis tersedu. Ia menunduk beberapa saat , kemudian mengambil cermin dan melemparkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
" Mungkin ini lebih baik! jika aku mati si bangsat itu akan menangis dan ibu akan baik-baik saja"
Carla mengambil salah satu kepingan cermin dan perlahan mengarahkannya ke leher. Carla takut, ia benar-benar takut untuk mati namun baginya ini adalah pilihan terakhir, jika ia melakukannya siapapun tidak akan terluka, tidak ada yang mati lagi seperti ayahnya.
Carla memejamkan mata mencoba memberanikan diri, Namun tiba-tiba benda tajam itu terlempar kuat dari tangan Carla yang terhempas.
" Jangan pernah lakukan hal bodoh!!!"
Saat itu Carla hanya bisa melihat Alang yang berdiri dihadapannya dengan penuh amarah dan khawatir, Alang cepat mendekat dan mendekap Carla di pelukannya.
" Jangan pernah lakukan itu!!!"
" Bagaimana bisa kau disini? aku tidak memanggil namamu"
Ucap Carla terisak, tangannya begitu erat memeluk Alang, benar-benar erat seolah ia takut Alang tiba-tiba akan menghilang.
" Karena kita saling terhubung."
Alang masih mendekap carla, ia bersyukur datang lebih cepat.
" Tolong jangan lakukan itu!! jangan pernah berfikir seperti itu"
Alang menatap mata carla dalam , sangat jelas ia benar-benar khawatir.
" Bukankah itu lebih baik..."
Ucap Carla melepas pelukan Alang, walaupun tidak benar-benar melepaskannya.
" Karna berlian ini_"
" Tidak ada yang salah dengan berlian itu, ia adalah anugerah Carla. "
" Bagaimana bisa ini anugrah, karena benda ini ayahku terbunuh!"
Alang kembali memeluk Carla yang menangis.
" Buat ku , semua yang ada di dirimu adalah keindahan, anugerah dan kecantikan, tidak ada petaka...."
Alang mengelus kepala Carla lembut.
" Kita hanya perlu menghancurkan orang yang merusak keindahan itu, karna tidak ada yang salah dari sesuatu yang indah"
__ADS_1
Carla menatap Alang yang tersenyum begitu tulus, mata coklatnya membuat Carla kembali tenang.
" Bisakah kau tidak pergi? bisakah kau menemaniku disini?"
Suara Carla begitu purau, ia bersandar di dada Alang yang bidang, Alang tersenyum, ia sandarkan badannya di dinding dan tetap mendekap Carla, terus mengelus kepala nya lembut.
" Tentu saja..."
" terimakasih..."
Carla semakin terbenam di pelukan Alang, ia mencoba memejamkan mata, menenangkan pikiran dan hatinya.
_______________________________
Carla terbangun dari tidur, ia duduk dan mendapati dirinya di atas kasur, ia melihat sekeliling ,tidak ada yang berubah, bahkan kaca yang seharusnya pecah semalam masih tertempel cantik di dinding. Carla tersenyum pahit dan menjambak rambutnya sambil menunduk.
" Ternyata hanya mimpi, tidak mungkin ia datang , hanya aku_"
" Kau sudah bangun?"
Carla berbalik dengan terkejut, ia bisa melihat Alang dengan jelas di sana, bersandar di dinding di samping ranjangnya. Air mata Carla tidak terbendung, ia melompat memeluk Alang , pria itu hanya tersenyum dan balas memeluk.
" Kau harus makan, penjaga sudah membawakannya"
" Aku bersyukur mereka memberikan makanan enak untuk mu"
Carla hanya tersenyum, itu sama saja seperti membuat sapi kenyang sebelum di gorok lehernya.
" Bagaimana kau bisa datang?"
" Bukankah aku sudah mengatakannya tadi malam?"
Carla terdiam, ia ingat apa yang dikatakan Alang tadi malam, namun bukankah hanya dia yang bisa memanggil Alang?. Apa yang ia maksud dengan ikatan?.
" Bukankah saat aku memanggil mu kau akan bermimpi dan datang?"
" Awalnya aku berpikir begitu, namun mimpi di saat seharusnya kita bertiga kabur membuat ku tersadar.... bahwa aku ataupun kau! kita bisa datang karena keinginan kita sendiri"
" Bagaimana kau bisa berpikir begitu?"
Alang terdiam cukup lama, lalu mencoba memberanikan diri menatap mata Carla.
" Mimpi itu tiba-tiba berhenti datang, sangat lama tidak seperti biasanya, padahal itu kabar baik, tapi aku tidak bisa menerimanya, Aku...a-aku sangat ingin bertemu dengan mu waktu itu, Saat itulah aku sadar bahwa aku bisa melakukannya tanpa panggilan mu dan aku bisa menyentuh setiap benda jika memiliki tekad yang kuat."
Ucap Alang, ia menunduk malu padahal ia sudah mencoba memberanikan diri mengatakannya, Carla tersenyum. lagi, air matanya menitik, Carla benar-benar merasa senang.
__ADS_1
" Akhirnya... akhirnya kau mengharapkan kan ku datang." Ucapnya masih sambil menangis.
" Bagaimana aku tidak mengharap kan mu, kita sudah terikat sejak lama, di dalam mimpi itu kita sudah seperti hidup bersama."
Mereka terdiam cukup lama saat itu, ada sedikit suasana canggung di sana, Alang menyesalkan perkataan yang terlalu mendalam itu, seolah mereka sepasang kekasih.
" Bagaimana dengan Carlos? kita harus melakukan sesuatu atas kejahatannya."
Alang kembali membuka percakapan, bagian terpenting dari kedatangannya harus tersampaikan.
" Ah...benar, kau sudah melihatnya, perbuatan laki-laki bejat itu.."
Carla menghela nafas berat, mungkin ia akan memilih kabur jika sendiri, namun bukan hanya dia yang diperlakukan buruk oleh Carlos, ia memiliki kandang besar untuk memuaskan nafsunya.
" Apa kau kabur atau ingin menangkapnya?"
Alang bertanya khawatirkan, pertanyaan ini
jelas berat bagi Carla.
" Jika aku memilih menyelamatkan mereka, apa aku naif?"
Tanya Carla, ia tidak mau meninggal orang- orang di gua itu, bagaimanpun mereka pernah menderita bersama. Namun Alang tersenyum senang.
" Jika begitu , selamat bergabung di kelompok orang naif!!!"
Wajah Alang begitu senang mendengarnya, mereka memiliki pemikiran yang sama, sama-sama sebagai orang bodoh yang tidak memikirkan keselamatan sendiri .
" Kelompok?"
" Bukan hanya kita berdua, akan ada yang membantu , saat bertemu nanti pasti akan ku kenalkan, Tenang saja!! kau pasti akan terbebas dari tempat ini dan tangan Carlos!"
Carla benar-benar terharu, ia tidak habis pikir mengapa Alang mau melakukannya.
" Mengapa kau mau melangkah sejauh ini?"
Ucap Carla menunduk, tidak ada ada jawaban dari Alang sama sekali, saat itu Carla hanya merasakan kecupan hangat di keningnya.
" Tidak ada! Aku hanya orang yang egois yang ingin melihatmu kembali tertawa."
Tubuh Alang akhirnya mengabur, tanda bahwa ia harus pergi kerena pasti tubuhnya tertidur terlalu lama.
" Kita akan bertemu lagi! "
Ucapnya, bayangan Alang hilang sepenuhnya, meninggalkan bekas kecupan di kening Carla yang lama termangu karena itu berhasil membuat jantung nya berdetak lebih kencang dan merasakan perasaan aneh. sebenarnya itu lucu, bukankah mereka sudah berpelukan beberapa kali.
__ADS_1