Walking Dream

Walking Dream
malam yang panjang


__ADS_3

" Alang?!"


Ucap Carla tidak percaya, bagaimana bisa Alang berada di hadapannya sedangkan ia tidak memanggil namanya.


" Cepat jalan! kau tidak mau kan membuat tuan Carlos lebih marah lagi!"


laki- laki bermata satu mendorong nya paksa untuk melangkah maju, entah sejak kapan ia bersama Carla, yang pasti Alang tidak melihatnya di manapun sedari tadi. Beberapa orang di belakangnya pun tidak kalah garangnya dengan pria bermata satu. Carla hanya bisa menurut dengan perasan campur aduk, sedangkan Alang mengikuti mereka dari belakang dengan tumpukan pertanyaan di otaknya.


" Apakah Minggu depan di adakan acara lagi?"


" Ada apa? kau ingin bertaruh?"


" kau pikir aku punya uang untuk itu! menikmatinya saja sudah cukup."


" Berhentilah mengoceh jika kalian tidak mau menjadi kandidat berikut nya!"


Ujar si bermata satu, kedua pria itu tidak lagi berbicara sampai mereka berakhir di dalam lift.


" Bos! bukannya kau bilang kita akan ke ruangan itu?..."


laki- laki bernama Jonas membuka kesunyian di dalam lift , ia bertanya dengan sedikit ragu karena takut disentak lagi. Si mata satu menoleh seperti berkata " kau sudah tau kenapa masih bertanya?", Jonas menelan ludah nya yang sedikit.


" Tapi mengapa wanita pelayan ada di sana? baru pertama kali aku melihat tuan carlos mengizinkan pelayan biasa ada di sana?"


Arwin, temannya yang sedari tadi diam akhirnya ikut bertanya, Carla yang tepat berdiri di samping si mata satu berbalik melihatnya dengan wajah pucat dan kaget, ia genggam lengan pria itu kuat.


" Apa maksudmu!!! ibu ku di sana?!"


Carla mendorong pria itu hingga ia menabrak dinding lift.


" Akhh!!! lepaskan tangan mu!!!"


arwin menghempas tangan Carla kasar. Carla tertunduk dan menangis menyadari siapa wanita yang ada di ruangan itu, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Di saat Carla hanya bisa menangis sebuah tangan mengusap air matanya dengan lembut, Carla mengangkat kepalanya dan melihat Alang di sana, bocah itu mendekat dan memeluk Carla erat membuat Carla semakin keras menangis.


" Ayo!!!"


pria bermata satu Manarik Carla dengan kasar, melepas pelukan keduanya dengan cepat, Carla hanya bisa menatap Alang yang masih terdiam di sana dan akhirnya keluar dari lift.


______________________________


" Lepaskan ibuku!!!!"


Carla berteriak tepat di wajah Carlos yang tengah duduk di sofa! pakaian gadis itu pun berganti menjadi baju tidur putih, kedua tangannya di ikat sedemikian rupa dan rambutnya di kuncir tinggi. Carlos mengusap wajahnya yang sedikit terciprat air ludah, lalu berdiri dengan wajah sombongnya.


" untuk alasan apa aku melepaskan nya?!"


" KAU BAJINGAN!!! KAMI TIDAK MEMILIKI HUTANG APAPUN PADAMU!!! KALIAN HANYA SEKUMPULAN PENCURI BAJINGAN!!!!"


Carla tidak kuasa menahan emosi dan air matanya sementara Carlos hanya terdiam di sana. Ia tersenyum licik dan menepuk tangan dua kali, beberapa detik kemudian pintu berderit terbuka , seorang wanita masuk di kawal oleh lelaki kekar dan di giring mendekati Carla.


" Ibu...."


Carla menatap yasmin yang tangannya juga di belenggu, Yasmin mengusap air mata Carla dengan tatapan sedih.


" kumohon...jangan sakiti anak ku!!! aku bisa menggantikan nya untukmu!"


Ucap Yasmin dengan suara yang begitu purau dan memohon. Carlos mengibas tangan wanita yang tengah memohon itu dan malah menjambak rambut Yasmin kasar.


" Jangan!! jangan lakukan!"


Carla berteriak memohon, ibunya hanya bisa meringis menahan sakit.


" Malam ini aku menginginkan kalian berdua."


" Kumohon aku saja! akan aku berikan sebanyak yang kau mau!!"


Carlos melepas cengkraman nya dan tersenyum.


" Jadi kau benar-benar bisa mengontrol berlian itu keluar? "


Carla hanya bisa terdiam menunduk.


" itulah kenapa selama tiga hari ini kau tidak mengeluarkan nya, yah...kuakui kau cerdik, kau tau aku tidak akan menyakitimu terlalu dalam...."

__ADS_1


Carlos kembali menatap Yasmin yang nampak lemas.


" Namun kali ini aku akan melewati batas, jadi nona... ku izinkan kau menjerit sepuasnya malam ini, kau tidak bisa mengontrol nya jika seperti itu bukan?"


dengan suara lembutnya yang menusuk cukup membuat nafas Carla berhenti, ia menggeleng kuat dan dengan cepat memeluk ibunya erat .


" Lakukan sesukamu, asal jangan ibuku!!!"


" Apa yang kau katakan Carla! ambil aku saja!!! ku mohon ... tolonglah...!!!"


Kedua wanita itu saling memohon dengan penuh putus asa, namun tetap mereka di pisahkan dengan paksa dan kasar. Carla memberontak, ia dibawa ke sebuah ranjang yang di modif agar ia bisa duduk dengan tegak dan dapat melihat ibunya dengan jelas, terdapat beberapa peralatan yang biasa ada di selnya dan tersusun rapi di sana.


" Ku mohon!!!! "


Carla terus memberontak dengan tangan dan kaki yang terborgol di ranjang, sementara ibunya didudukkan tepat di hadapan Carla, carlos mendekat dengan tongkat kayu di tangannya.


PLAK!!! PLAKK!!!


tanpa basa-basi Carlos cambukan kayu itu tepat dipunggung Yasmin, wanita itu berteriak kesakitan sambil menahan air mata.


" Tolong jangan ibuku!!? lepaskan dia hhhh...hhh..lepaskan dia!!!"


" Keluarkan berlian itu!"


" Aku akan keluarkan! jadi berhenti memukulnya!"


Carlos berhenti dan mengangguk, Carla menunduk dan butiran-butiran berlian keluar dari air matanya, sambil menangis ia berusaha mengeluarkan sebanyak mungkin berlian.


" Ini masih belum cukup!"


Carlos kembali menjauh, kali ini ia bertepuk tangan dua kali, dan pria bermata satu datang dengan besi panas di tangannya, mata Carla melebar, ia berteriak memaki pria itu karena tau apa yang akan terjadi.


" Gadis itu terlalu berisik! sumbat mulutnya!!"


" emmhh!!! lep- pmhm khann!!hmmp!!"


Carla terus memberontak hingga ia tidak bisa mengeluarkan suara keras lagi, air matanya masih terus keluar dengan berlian yang jatuh tidak terkontrol.


" Nah...seperti itu, keluarkan lebih banyak lagi"


" Bukankah aku sangat baik? lihat kau akan di tato dengan besi panas dengan ukiran mawar."


Yasmin berusaha menghindar dengan takut, namun dengan tangan dan kaki yang di ikat ia tidak bisa melakukan apapun.


"AARRHHKK!!!!!"


Yasmin menjerit sakit dengan besi panas yang menembus baju dan kulitnya, Carlos menekannya dalam sambil tertawa senang.


" hhemmp!! empphh!!"


Carla terus menangis dan memaksa berliannya jatuh lebih banyak lagi, bahkan itu membuat matanya mengeluarkan sedikit darah.


_____________________________


" Sial!!! apa yang ku lakukan! harusnya aku langsung mengikuti mereka!"


Alang menendang kakinya pada udara kosong, ia terus mencari kemana Carla di bawa. Rumah ini terlalu luas, ia bahkan tidak melihat jendela sedari tadi, bahkan ruangan yang ada di sana hanya sedikit.


" Pasti ada di salah satu tempat di lantai ini? tapi dimana?"


Alang memperhatikan setiap sudut yang memungkinkan memiliki pintu rahasia, sampai akhirnya ia ingat salah satu pria tadi memiliki sepatu yang penuh dengan tanah, Alang memperhatikan lantai dan menemukan serpihan tanah di sana. Alang mengikutinya dengan hati- hati hingga ia berhenti di depan sebuah lukisan besar, Alang mengernyit bingung, ia raba setiap lapisan lukisan itu dan tidak terjadi apapun. Alang terus berfokus, ia tatap mata perempuan di dalam lukisan yang sekilas memantulkan cahaya, ia tekan kedua mata itu dengan jarinya, beberapa detik kemudian terdengar suara aneh dari balik lukisan yang kemudian perlahan bergerak dan akhirnya terbuka.


" Orang kaya benar-benar aneh"


Alang segera masuk kedalam ruangan, terdapat pintu lainya di sana , Alang mendekatinya dan membuka pintunya. Ia segera masuk, terlebih ada laki-laki yang bersamanya di lift tengah duduk tertunduk.


" Apa pintu itu baru saja terbuka?!"


Jonas memukul lengan arwin yang sedari tadi menutup telinga.


" Apa kau pikir ada orang yang masuk?"


" tidak! aku tidak melihatnya!" ucap Jonas dengan begitu enteng.

__ADS_1


" kalau begitu diam lah, untung saja wanita itu berhenti menjerit!"


Baru beberapa detik arwin mengoceh, suara teriakan kembali terdengar, Alang segera berlari pada asal suara, ia buka sebuah layar lebar di depannya, ia tidak bisa mempercayai apa yang ada dihadapannya, jelas begitu banyak berlian tergeletak di pangkuan Carla, bercampur dengan bercak darah. Di hadapannya Yasmin masih menjerit dengan luka dan darah di sekujur tubuh, bau bakar pun begitu menyengat tercium dan terdapat dua toples besar berisi berlian di atas meja.


" Baiklah, setelah yang ke empat kalinya aku akan berhenti"


" Tuan Carlos ia sudah pingsan sekali, kali ini mungkin_"


" Tenang saja aku tidak akan membuatnya mati, ia pemicu yang efektif bagi gadis ini."


" Orang-orang gila!!"


Tangan Alang terkepal kuat, otaknya berfikir keras bagaimana ia bisa menyelamatkan Carla dan ibunya. Matanya sibuk menyisir sekitar , mencari benda yang berguna, mata Alang berhenti pada sebuah perapian , di sana berjejer manis besi panas siap pakai.


Alang mendekat dan mengambil dua besi setelah ia memastikan Carlos dan si mata satu membelakangi nya dan entah membicarakan apa. Carla bisa melihat Alang di sana, matanya melebar dengan penuh harap.


Dengan langkah pelan ia mendekati kedua pria itu, bagaimanpun ia harus hati-hati meski tidak terlihat, terutama dua benda yang di pegangannya jelas bukanlah bayangan. Tepat setelah Alang berdiri di antara kedua punggung orang bejat itu, dengan gerakan cepat ia tempelkan besi panas kuat di kedua leher mereka, Keduanya mengerang keras dan tersungkur. Alang berlari mengambil kunci borgol di atas meja dan segera membuka setiap borgol yang mengekang Carla.


"hmmp!!"


Carla berteriak sambil melotot, mengisyaratkan kedua laki- laki itu telah bangun, di susul dengan datangnya Jonas dan arwin, Alang selesai membuka borgol dan penutup mulut Carla.


" cepat ! lepaskan ibumu!".


Carla mengangguk dan segera berlari membebaskan ibunya, dengan gesit ia mencoba melepaskan ikatan yang mengekang itu. Alang berdiri di depan Keduanya, menunggu Carla selesai . Jonas dan arwin mendekati Carla dengan alat pemukul, mereka tentu tidak melihat Alang yang sudah siaga dengan pisau di tangan.


Alang menyabet tangan Jonas dengan pisau, ia menjerit sambil melihat sekeliling kebingungan, Alang beralih kepada Jonas, dengan cekatan ia buat laki-laki itu jatuh dengan kulit kakinya yang robek karna pisau .


Di kejauhan si mata satu sudah mulai menstabilkan kesadarannya, Alang dengan cepat menyusul Carla yang memang ia minta melarikan diri selama ada waktu.


" ayo cepat! kita harus pergi"


ucap Alang setelah berhasil menyusul, ia lihat kursi Roda tergelatak di pojok ruangan, Alang mengambilnya dan mendudukkan yasmin di sana.


Mereka keluar dari lukisan itu dan berusaha secepat mungkin melarikan diri, dengan cemas mereka memasuki lift sementara Yasmin sudah tidak sadarkan diri di kursi roda.


" Terimakasih.."


Alang menoleh dan menggeleng.


" setelah kau benar-benar bebas, baru katakan itu."


jawab Alang terengah, peluhnya mengucur deras seperti kehujanan. Lift pun terbuka, Carla segera mengarahkan jalan, mengantarkan mereka menuju pintu keluar yang tidak mungkin ada orang di sana, bisa di katakan itu jalan belakang. Suara langkah kaki yang cepat terdengar di belakang mereka, Carlos pasti sudah mengerahkan orang-orangnya untuk menangkap mereka.


" Kita akan melewati taman hutan itu! ada jalan keluar di sana ! "


mereka terus berlari di kegelapan malam, Alang menggendong Yasmin karna jalanan yang kasar, di kejauhan orang- orang itu terdengar berteriak dan akan terus mendekat.


Carla terus mengarahkan jalan hingga mereka berakhir di tembok tinggi, Carla menggeser papan yang bersandar di tembok itu dan menunjukan lubang yang sekiranya muat untuk dilewati.


" Bagaimana bisa?"


" Akan ku jelaskan nanti, sekarang cepat masuk lalu bantu aku mengeluarkan ibu"


Alang mengangguk, dengan cepat ia melewati lubang itu lalu segera setelahnya membawa Yasmin yang pingsan keluar walaupun sedikit kesulitan. Orang-orang yang mengejar mereka semakin dekat.


" Cepat! mereka akan menemukan kita!"


Alang berteriak di balik tembok, namun Carla tak kunjung melewati tembok itu.


" Alang! kau harus janji padaku untuk membawa ibuku ke tempat yang aman, dan setelah kau sadar kau harus menjemputnya! dan_"


Saat itu Carla benar- benar menangis namun ia tatap mengeluarkan beberapa berlian, dan menyerahkannya pada Alang


" akan ku jamin dengan berlian ini, letakkan di saku ibuku, setelah kau menjemput nya kau bisa mengambil berlian itu dan merawat ibuku!"


" Tidak! kita akan pergi bersama!!"


Carla menggeleng dan memaksa Alang menerima berlian itu.


" kita tidak akan sempat! hal terpenting bagi mereka adalah aku! ku mohon tolong aku dan ibuku!!! "


Pada akhirnya Alang mengangguk walaupun berat, padahal sebentar lagi ia akan melihat Carla yang bahagia. Carla menutup kembali lubang itu dengan papan sambil berucap terimakasih dan tersenyum miris, ia segera berlari mengalihkan orang-orang Carlos walaupun pada akhirnya ia tertangkap juga.

__ADS_1


" Kau satu-satunya yang bisa"


Ucap Carla serak dengan air mata. Kepalanya sakit dan tubuhnya terasa lemas, pada akhirnya Carla jatuh pingsan di kegelapan malam dengan si mata satu yang menatapnya dalam diam.


__ADS_2