
" Menjauh dari mereka!!!"
Ucap Alang, Ia melangkah pelan mendekati Carlos yang hanya menatapnya datar, walaupun banyak emosi yang ia simpan, Laki-laki itu bersandar pada lemari dan tersenyum penuh emosi.
" Jadi kau !!! Apa kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa?"
Ucap Carlos, ia berjalan mendekati Jean dan Erik sambil membawa besi panas, wajahnya seolah berbicara " Kau tidak bisa berbuat apapun padaku..".
" Sekarang aku hanya ingin membunuh mu dan teman mu ini."
Langkah Carlos semakin mendekat, Alang berdiri tepat di samping kedua temannya, mengarahkan pedang tajam itu dengan degup jantung tak karuan.
" Kau tidak akan bisa melewati ku."
" Hahahaha!! hey bocah, apa kau tau aku telah membunuh berapa banyak orang hhhahh!!! kau akan mati dan kau akan ku jadikan pajangan terbaik, setidaknya kau bisa menjadi pengganti ayah Carla."
Mendengar pernyataan yang tidak diketahui nya, mata Carla melebar dengan tubuh bergetar, ayahnya tidak mati karena kecelakaan, ayahnya hanya menjadi pajangan yang diinginkan Carlos.
" MATI KAU!!! KAU BUKAN MANUSIA!! KAU MONSTER!!"
Teriak Carla penuh emosi, namun Carlos hanya menyeringai tak peduli. Tangan pria itu terangkat, bersiap melempar besi panas kepada Alang, Alang memang gugup namun ia harus bisa menepisnya.
" Mendekatlah pada Carla, Carlos hanya peduli pada ku sekarang!"
Ucap Alang pada Jean dan Erik, keduanya hanya bisa berjalan tertatih mendekati Carla ketika Alang menjauhkan mereka dari Carlos.
" Cepat buka Ikatan ku!"
" Tunggulah, apa tidak kau tidak lihat aku juga tengah berusaha membuka Ikatan ku sendiri!"
Jawab Jean kesal ketika Erik mendesaknya dengan terburu-buru, pria itu mengangguk tidak peduli lalu menatap Carla .
" Hey gadis cantik, tenang saja kita pasti akan selamat."
Carla tidak menjawab, ia hanya fokus pada Alang yang berusaha menangkis besi panas dengan pedangnya, mereka berdua bergelut tidak ada henti, jika saja Alang lengah mungkin ia akan mati dengan tenggorokan berlobang.
Alang meraih kanvas dan melemparkannya pada Carlos, pria itu menangkisnya dengan lengan hingga pecah, dengan gerakan cepat Carlos mendorong Alang ke dinding, mengunci lengannya agar tidak bisa bergerak. Ia arahkan ujung besi panas yang lancip pada mata Alang yang melotot lebar, bocah itu mencoba menahannya dengan satu tangan nya yang bebas, napasnya tersengal hebat dan tak beraturan.
" Bersiaplah menjadi pajangan.., apa kau menyesal sekarang hah?"
Ucap Carlos dengan sombongnya, Alang tidak menyerah sama sekali, dengan gerakan cepat di kaki, ia tendang perut Carlos hingga pria itu mundur hampir terjatuh.
" Kau! kau bocah SIALAN!!"
Carlos berteriak, namun sebelum ia kembali berlari mendekati Alang, sesuatu menghantamnya dengan kuat, pria itu terhuyung menahan pusing.
" Kau lah yang sialan! dasar sialan!!"
Ucap Erik lalu kembali menendang Carlos dengan keras, Carlos terkekeh, matanya melotot menatap Erik.
Srrettt!!
Carlos mengibas pisau kecilnya dan mengenai kaki Erik, pisau itu merobek kulit Erik dalam dan panjang. Erik terduduk menahan sakit sambil memegang kakinya.
BRRAKK!!!!
Alang melempar kursi kepada Carlos, pria itu mengeram menahan sakit, namun Carlos adalah orang yang berpengalaman, ia tahu pasti bagian mana yang perlu dilindungi, Carlos mengambil serpihan kayu dan menusuk kaki Erik agar ia tidak bangkit kembali, sekaligus menopangnya untuk membantunya berdiri.
" Apa hanya segini hhhah!"
Carlos menumbuk Alang tepat di wajah, bocah itu tersungkur di iringi dengan pukulan Carlos bertubi-tubi di wajah, ia mengambil pisau kecil dan bersiap menggorok leher Alang.
" Rasakan ini!!!"
Teriak Jean dan menempelkan besi panas tepat di punggung Carlos, Ia menjerit keras kesakitan dan melempar besi panas di tangan Jean hingga terjatuh ke lantai, membuat bocah itu terjatuh.
" Hhah....Kalian sungguh keras kepala!!..."
Carlos kembali bangkit, mengambil besi panas yang dilemparnya untuk di tikam tepat di tenggorokan Jean.
__ADS_1
Aargghh...
Carlos meringis ketika sesuatu menusuknya dari belakang, ia terpaku lama sambil berdiri dan besi yang ia pegang kembali jatuh ke lantai, bersamaan dengan darah yang keluar paksa dari mulutnya. Di belakang, Alang masih memegang pedang kecil yang menembus tubuh Carlos, lalu ia tarik kembali dengan suara Carlos yang menahan sakit. Pria itu terduduk dengan mata meringis, Alang maju dan menatap mata Carlos dalam penuh emosi.
" Bagaimana?! apakah kau sudah merasakan bagaimana rasanya di tusuk dengan pisau? di bakar dengan besi panas?! Hahh!!..."
Carlos membalas tatapan Alang dengan lemas walaupun masih bisa untuk tersenyum.
" Hahaha..Aku tidak peduli dengan perasaan mereka, dasar bodoh. Seorang psikopat tidak perlu menyesali perbuatannya."
Ucap carlos sambil ter batuk, ia meludahi darah yang keluar dari mulutnya Acuh tak acuh.
" Kau akan mati sebentar lagi dan tidak akan menyesalinya hhhah ?!!!"
" Aku mati dengan kepuasan yang tercukupi, maka....hahaha aku senang ketika melihat mu marah seperti ini, dan mendengar gadis itu menangis tentang ayahnya.., Bahkan saat mati aku masih dapat melihat penderitaan orang lain."
Kali ini Alang tidak bisa berkata- kata, manusia yang ada dihadapannya bukanlah manusia, ia hanya seorang monster tanpa perasaan. Alang menggenggam pedangnya erat, iya siap untuk menusuk jantung Carlos.
" Bukankah itu bukan rencana kita Alang.."
Ucap carla mendekat, ia tatap Alang penuh arti dan tidak membiarkan nya terbawa emosi.
" Jika kau membunuhnya, rencana kita akan gagal dan dia akan mati dengan senang.."
" Tapi dia telah menyiksa mu, dia telah membunuh..."
Carla menggeleng sambil tersenyum pilu, ia genggam tangan Alang yang masih menggenggam pedang dan melonggarkan nya.
" Jika kau membunuhnya, apa dia akan mendapatkan balasan yang setimpal? tentu saja tidak, jadi Alang... tolong jangan bunuh dia."
Alang menatap Jean dan Erik, keduanya mengangguk setuju sambil menahan tubuh Carlos.
" Apa kau yakin?"
" Tentu saja, jika kau membunuhnya, usaha yang kau lakukan akan sia-sia."
" Kau seperti ini hanya karena ingin memiliki teman untuk menderita..."
Carlos membalas tatapan itu dengan bingung.
" Kaulah yang sebenarnya paling menderita bukan? Kau melakukannya kepada orang lain hanya karena ayah mu pernah melakukannya padamu.."
Kali ini mata Carlos terlihat tidak terima, ia terkekeh tidak setuju.
" Jangan bercanda, jangan samakan aku dengan keparat itu. Aku berbeda, aku .."
" Apa yang berbeda! kalian sama sama melakukan kejahatan, yang berbeda kau hanya lebih bajingan darinya."
" DIAM!!!"
"Aku kasihan pada mu!! jika kau memang mencintai ibumu, seharusnya kau hidup seperti yang ia katakan, seharusnya kau hidup sepertinya, Tapi di antara dua pilihan, kau lebih memilih seperti ayahmu, kau menunjukan rasa cinta dengan tidak bermoral nya!!"
" Ku bilang diam!!! Jangan berani..."
BRRAKKK!!!
percakapan itu terpotong ketika pintu di dobrak, Carlos tertawa senang ketika melihat si mata satu berdiri di ambang pintu dan menatap mereka dalam diam.
" Tangkap mereka!!! ...tidak! Bunuh mereka!!!"
Teriak Carlos pada laki-laki kekar itu, di mata satu hanya terdiam sambil berjalan mendekat, dia jelas telah memukul seseorang sebelum sampai di sini. Alang kembali mengeratkan pedangnya, mengancam si mata satu dengan mendekatkan pedang itu pada leher Carlos.
" Jika kau mendekat, tuan mu akan terbunuh!!"
Pria kekar itu berhenti melangkah, ia tidak berekspresi sama sekali.
" Aku kesini untuk mendapatkan kebebasan, Aku tak akan membunuh kalian, aku akan menjaganya hingga diserahkan pada polisi."
Di mata satu dengan intonasi yang pasti mengatakan apa yang selama ini ia inginkan, bebas dari belenggu Carlos, baik dia maupun adiknya.
__ADS_1
" Apa maksud mu!! Apa kau ingin adikmu mati!!"
Teriak Carlos marah, si mata satu hanya menatapnya datar.
" Dia tidak akan mati karena polisi sudah disini."
" Kau mengancam ku hhah!!! aku masih bisa terbebas!!!"
Si mata satu tidak menggubris, ia beralih menatap Carla
" Kau bisa mempercayaiku.."
" Bagaimana caranya kami mempercayai mu?"
Si mata satu merogoh sakunya yang besar, dan mengambil pistol dari sana, mengangkatnya ke langit-langit ruangan dan menembak.
" Selagi aku menjaga Carlos kau bisa menodongkan pistol ini padaku, tersisa tiga butir peluru lagi di dalam."
Ucap Carlos dan melemparkannya kepada Alang, ke-empat nya saling menoleh, lalu Alang serahkan pistol itu pada Jean
" Kau pernah ikut pelatihan tembak kan?"
" Percayakan saja pada ku."
" Baiklah kami mempercayai mu, kau bisa menjaganya tapi kami akan tetap mengawasi mu sampai polisi datang."
Si mata satu mengangguk dan mendekat, namun secara tiba-tiba Carlos bergerak dengan cepat, membiarkan tenggorokan nya tertusuk pedang Alang yang terkulai bebas di tangan.
" Kau tidak akan mati di sini!"
Ucap Alang sebelum pedang itu berhasil menggorok leher Carlos, ia tendang tubuh yang telah lemas itu hingga wajahnya tersungkur di lantai.
Carlos tidak dapat berkata-kata lagi maupun bergerak, di balik wajahnya yang terbenam, matanya secara tidak sengaja memandang ibunya yang tersimpan cantik di dalam lemari, wanita itu memang tidak tersenyum namun bayang-bayang memori mengingatkannya pada masa lampau.
" Pangeran ku..Carlos ku...maaf kan ibu karena tidak berhasil menjadi ibu yang baik, Maaf kan ibu karena tidak berhasil membawa mu pergi jauh dari laki-laki itu...."
Carlos menatap ibunya yang terikat rantai di atas kasur, wanita itu menatap Carlos muda dengan penuh rasa bersalah.
" Kau tau bukan ibu sangat mencintai mu melebihi apapun..."
Carlos masih terdiam dan membiarkan sang ibu mengelus wajahnya.
" Jika, jika ibu tidak berhasil membawa mu pergi, jika ibu tidak bisa bahagia...."
Wanita itu membelai rambut Carlos dengan tatapan penuh harapan.
" Jika itu tidak berhasil, ibu minta pangeran ibu yang tersayang dapat terbang bebas seperti burung-burung, Ibu berharap kau bahagia dengan terbebas dari kehidupan ayah mu, ibu berharap kau menjalani kehidupan bahagia dan jauh dari kehidupan ayah mu..., Bisakah kau mengabulkan permintaan ibu?."
Carlos masih terdiam, ia hanya memeluk tubuh ibunya dengan perasaan campur aduk. Dia tidak ingin terbebas sendiri ia ingin pergi bersama ibunya.
Namun, beberapa hari berikutnya, sang ibu meninggal kan Carlos selamanya, mendapati sang ibu terkulai lemas di atas kasur dengan dada bersimbah darah. Dengan senyuman licik sang ayah berbisik dan mengatakan bahwa wanita itu bunuh diri, padahal jelas seseorang telah membunuhnya.
Mengingat pesan penting itu, Carlos hanya dapat menitikkan air mata, ia bahkan tidak peduli ketika polisi memborgol tangannya, ia menatap wajah ibunya sedih dengan rasa bersalah bercampur penyesalan, pria itu menangis kencang layaknya seorang bayi, namun begitu pilu untuk di dengar.
Alang dan lainya hanya melihat tangisan Carlos dalam diam, mau dia menangis sepilu apapun tidak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan, Carlos seharusnya tidak terlambat menyadari.
Si mata satu merentangkan tangannya minta di borgol, petugas polisi menatapnya bingung.
" Dia adalah bawahan Carlos."
Polisi itu mengangguk paham ketika Erik menjelaskan, lalu memborgol si mata satu dan membawa Keduanya keluar untuk di bawa ke tempat seharusnya.
" Apa sekarang benar-benar berakhir?"
Ucap Carla tidak percaya, Alang mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk Carla erat.
" Tentu saja.."
Ucapnya, malam itu di tempat lain terdengar suara kembang api berbunyi, namun di kediaman Carlos kembang api itu terganti menjadi sebuah sirine mobil polisi yang mengelilingi rumahnya, Hanyut dengan kegemparan yang tidak disangka-sangka oleh seorang Carlos yang terkenal bak malaikat.
__ADS_1