Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 12


__ADS_3

Sebelum Dissa menjawab perkataan Firda. Dandi datang dan duduk bersama mereka.  Tampaknya Dandi sudah mendengar permintaan Firda pada mamanya. Wajahnya berubah menjadi dingin, diiringi dengan tatapan tajam dan terus terarah pada Firda.


"Apa lagi yang sedang kamu rencanakan, hah?” bentak Dandi, ia sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya saat mendengar permintaan Firda tadi.


"Aku mau pulang." jawab Firda singkat.


"Ini adalah rumahmu, untuk saat ini dan seterusnya. Jadi, menurutlah dan baik-baiklah disini sebelum aku bertindak yang lebih lagi." ancam Dandi.


"Dan, sudah mama bilang jangan pernah kamu kasar pada wanita. Jika kamu berani menyakitinya itu artinya kamu juga sudah menyakiti mama dan mama tidak akan memaafkanmu." sahut Dissa mencoba menjadi penengah diantara mereka.


"Baiklah, jika kamu tetap berniat untuk kabur, minggu depan kita akan menikah dan ya aku tidak butuh persetujuan darimu, Firda sayang," ucap Dandi tepat di depan wajah Firda.


"Menikah? Jangan mimpi!" teriak Firda sambil mendorong tubuh pria itu menjauh.


"Kamu lupa jika aku bisa melakukan apapun dan pada siapa pun termasuk kekasihmu yang jelek itu ?  Bahkan aku bisa membuat dia kehilangan semuanya dalam sebentar, membuat dia hancur tak tersisa," ucap Dandi dengan wajah seriusnya.


‘Jangan pikir aku takut dengan ancamanmu itu, sebelum kamu melakukan itu aku akan membunuhmu,” ucap Firda mencoba mengancam.


"Oh ya ?" sahut Dandi kembali mendekatkan dirinya pada wanita itu.


"Ayo bunuh saja aku, kamu bisa pakai ini," ucap Dandi lagi sambil memberikan sebuah pisau pada Firda.


"Hentikan Dandi! Kalian hentikan! Mama enggak mau ada pertumpahan darah disini. Jika kalian tetap saling membunuh, biar mama saja yang bunuh diri!" teriak Dissa segera mengambil pisau dari Dandi dan mengarahkannya pada lengan tangannya.


"Tidak ma, itu bahaya," ucap Dandi berusaha mengambil pisaunya lagi.


"Kalian hanya peduli pada diri kalian sendiri, tidak ada yang peduli sama mama. Lebih baik mama mati saja." ancam Dissa.


"Jangan ma, Firda mohon. Firda akan melakukan apapun yang mama mau, asal mama bahagia. Jadi, tolong kasih sama Firda ya pisaunya." bujuk Firda.


"Benarkah ? kamu mau melakukan apapun?" tanya Dissa memastikan.


"Tentu saja ma." jawab Firda mantap.

__ADS_1


"Baiklah, mama hanya ingin kamu tetap disini selalu menemani mama. Mama sudah menganggap kamu sebagai putri mama. Jadi, mama mohon jangan pernah tinggalin mama," ucap Dissa dengan memohon pada Firda.


"Iya, Firda janji tidak akan tinggalin mama, mama juga janji ya jangan lakuin hal yg bisa membayakan mama lagi.”


"Tentu saja sayang, terima kasih.”


"Terima kasih mama sudah membantuku untuk menahannya tetap disini, aku tidak berjanji akan melukainya lagi dan segera membuat putrimu yang sesungguhnya.  Aku berusaha lebih untuk membuat wanita itu dekat denganku dan jatuh cinta padaku.”


Seperti hari biasanya, pagi ini Moura kembali datang ke rumah sakit menunaikan janjinya yang akan merawat Rico hingga sembuh.  Meskipun dirinya disibukkan dengan banyak pekerjaan di kantor, ia tetap menunjukkan niatnya itu.


Moura adalah seorang pekerja kantoran, ia bekerja sebagai manajer disana, tepatnya di perusahaan papanya.  Ia seorang wanita manis yang mandiri, sebelum belajar di bawah asuhan perusahaan ia ingin memulai belajar dari itu, belajar dengan bertahap dan berbaur dengan karyawan lain.


"Pagi kak Rico, bagaimana keadaanmu?" tanya Moura dengan lembut.


"Sudah sehat kan, kamu pergi bekerja Mou, tak usah merawatku lagi disini. Sebentar lagi juga akan pulang." jawab Rico.


"Nggak mau, aku sudah janji kak. Masalah pekerjaan kakak tenang saja. Pokoknya aku bakal terus disini sampai kakak dinyatakan benar-benar sembuh total." tolak Moura.


"Dasar keras kepala," ucap Rico dengan menjitak kepala Moura.


"Aku hanya rindu dengan kekasihku." jawab Rico singkat.


"Memangnya dia dimana sekarang ? Mengapa tidak menjengukmu? " tanya Moura lagi.


"Dia menghilang 2 minggu sebelum peenikahan kami."


"Maksudnya kabur?"


"Tidak tahu, mungkin dia enggak mau menikah denganku."


"Kakak yang sabar ya, jika kalian berjodoh suatu hari nanti pasti akan bertemu kembali."


"Iya semoga saja."

__ADS_1


"Nah ... Sekarang waktunya makan, aku suapin ya kak," ucap Moura dengan antusias.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri." jawab Rico dingin.


"Hm… Yayaya... Terserah, yang penting makan dulu biar cepet sembuh," ucap Moura merasa kesal.


Sementara itu di tempat yang berbeda dengan suasana yang berbeda pula.


"Sayang, mama pagi ini mau menyusul papamu, kasian dia belum bisa pulang masih banyak pekerjaan. Kamu tidak apa-apa kan mama tinggal ? Cuma seminggu kok, nanti kalau ada apa-apa kamu kabarin mama saja ya," ucap Dissa menatap ke arah Firda.


"Tapi ma, aku takut ditinggal disini sama Dandi."


"Tenang saja sayang, kalau dia berani nyakitin kamu lagi, nanti biar mama yang akan memberikan dia pelajaran. Mama berangkat dulu ya, baik-baik di rumah," ucap Dissa pamit sembari memeluk Firda.


"Baiklah, mama hati-hati ya."


"Iya sayang, sampai jumpa."


***


“Tumben sepi begini, mama kemana ya.”  gumam Dandi yang baru pulang dari kantor.


Di perhatikannya hampir setiap sudut rumah ia tak menemukan keberadaan mamanya dan Firda.  Ada rasa sedikit khawatir jika mamanya membawa Firda pergi, dengan sedikit berlari ia menuju kamar Firda.


“Aku ingin pulang, sungguh aku ingin hidup bebas yang seperti dulu Tuhan, aku ingin bebas.” itulah sedikit doa Firda yang bisa di dengar oleh Dandi.


Dilihatnya wanita itu berdiri di balkon kamar, ia menatap langit-langit di atas sana.  Dengan sedikit ragu ia melangkahkan kakinya mendekati Firda dan dipeluknya erat tubuh mungil itu dari belakang.


Firda sangat terkejut, ia berusaha melepaskan tangan kekar dipinggangnya itu dan menolehkan kepalanya ke belakang melihat siapa yang berani memeluknya.


"Kamu? Lepaskan aku!" teriak Firda marah.


"Ssttt ... Sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar, aku tak akan melakukan apapun." jawab Dandi lembut , lalu menenggelamkan kepalanya di pundak wanita itu.  Cukup lama mereka dalam posisi tersebut , entah mengapa dengan Firda merasa sedikit nyaman diperlakukan seperti ini, tubuhnya tidak lagi memberontak dan menikmati pelukan hangat dari Dandi.

__ADS_1


"Baiklah, sudah waktunya makan malam. Tunggu aku ya, aku mandi sebentar lagi, setelah itu kita makan bersama," ucap Dandi lalu pergi meninggalkan Firda yang berdiri diam di tempat.


“Bodoh, mengapa aku bisa diam saja dipeluk oleh pria brengsek itu? Arghhhh ... Apa aku sudah tidak waras lagi.” gerutu Firda dalam hati, ia merasa kesal bercampur rasa malu pada dirinya sendiri yang mau saja menuruti perkataan Dandi yang memerintahnya tadi itu. Ia merasa heran tapi nyata saat Dandi memperlakukannya sangat baik.


__ADS_2