Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 6


__ADS_3

Tidak terasa, sudah setengah hari Firda disekap di dalam kamar mewah itu tanpa melakukan aktifitas apapun. Ia merasa bingung dengan bagaimana nasibnya nanti, ia pasti mengerti pacarnya merasa kebingungan mencari keberadaanya. Sedangkan ponselnya tertinggal di dalam rumah kosannya.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sangat takut jika dia akan melakukan yang tidak-tidak dengan diriku. Bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari sini,” ucap Firda dengan berjalan mondar-mandir dan berpikir mencari jalan keluar dari villa mewah ini.


Tok! Tok! Tok!


Firda langsung membukakan pintu ruangan yang ternyata sudah tidak terkunci.


Ceklek!


"Nona, silahkan makan dulu dan ini makan siangnya. Dari pagi tadi nona belum makan apapun, pasti nona merasa lapar." bujuk seorang wanita paruh baya berpakaian sebagaipelayan.


"Maaf bi, saya sedang tidak nafsu makan, bibi bawa saja makanan itu pergi dari sini." tolak Firda.


"Jangan seperti itu nona, nanti nona sakit jika tidak mau makan dan tuan pasti akan menyalahkan bahkan memecat saya karena tidak bisa menjaga nona dengan baik." sahut wanita paruh baya dengan raut wajah sedihnya.


"Saya mau bertanya sesuatu bi, siapa sebenarnya tuanmu itu?" tanya Firda tanpa menghiraukan perkataan bibi tadi.


"Bukannya nona adalah kekasih tuan, mengapa malah menanyakan hal itu kepada saya?" ucap bibi sedikit heran.


"Saya sama sekali tidak mengenal dia, dia memaksa saya untuk tinggal bersamanya disini, lebih tepatnya menculik saya," ucap Firda jujur.


"Tapi yang saya tahu tuan adalah pria yang baik, bahkan ini pertama kalinya dia membawa seorang wanita ke tempat favoritnya, bisa dipastikan nona adalah wanita yang spesial baginya." sahut bibi sedikit menjelaskan pada Firda.


"Tolong kasih tahu saya sedetail mungkin siapa dia?" tanya Firda dengan tatapan serius ke arah bibi.


"Baiklah, dia bernama Dandi Richard, seorang anak dari Dissa Richard dan Daniel Saputra Richard, pemilik perusahaan Richard terkaya nomor 2 di dunia. Dia ini anak tunggal dari  keluarganya. Satu tahun yang lalu, dia memiliki wanita cantik yang dicintai dan cintanya melebihi dirinya sendiri hingga suatu peristiwa karena kehilangan wanita setelah hari pertunangan mereka, ia sempat frustasi dan setres yang berkepanjangan, bahkan menolak wanita yang banyak dijodohkan oleh orang tuanya. Saya cukup bersyukur karena tuan membawa nona, itu artinya dia sudah bisa melupakan kekasihnya itu." jelas pelayan paruh baya itu panjang lebar.

__ADS_1


"Aku baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, di pertemuan pertama kami, dia salah mengira bahwa aku adalah kekasihnya juga memelukku dengan erat. Apa bibi tahu bagaimana wajah kekasihnya? Apa mungkin mirip sepertiku?" tanya Firda lagi.


"Maaf non, saya tidak tahu, semua cerita itu saya dapatkan dari teman saya yang bekerja lama di rumah keluarga itu." jawab pelayan itu sopan.


"Baiklah bi, terima kasih atas informasinya, sekarang tolong tinggalkan saya sendiri dan bawa makanannya karena aku tidak selera makan.” sahut Firda.


"Sekali lagi saya mohon non makanlah sedikit saja, saya tidak diizinkan keluar jika makanan itu belum non habiskan," ucap pelayan paruh baya memohon pada Firda.


Dengan berat hati, akhirnya Firda mengabulkan permintaan bibi dan mau memakan makanan yang diberikan oleh bibi.


"Terima kasih sudah membantu tugas saya, non. Saya izin keluar dulu, apabila butuh sesuatu, tolong nona bisa menekan tombol merah yang berada di sisi tempat tidur non," ucap pelayan setelah itu pamit undur diri dari hadapan Firda.


"Ah iya bibi, tuan dimana sekarang?" tanya Firda yang menatap bibi ingin melangkah pergi dari hadapannya.


"Dia di ruang kerjanya non." jawab pelayan paruh baya dengan singkat.


Berbeda di tempat yang lain. Rico sangat kebingungan mencari keberadaan Firda. Ia sudah  berkali-kali menghubungi Firda bahkan menghubungi semua rekan kerja Firda juga serta mendatangi semua tempat favorit wanita itu. Namun tak kunjung mendapat petunjuk dimana dia berada.


“Kamu kemana sayang? Jangan buat aku merasa khawatir seperti ini, nggak biasanya kamu tiba-tiba menghilang seperti sekarang. Mungkinkah kamu diculik?  Tapi siapa?  Arghhh ...” gerutu Rico yang sudah sangat frustasi mencari keberadaan kekasihnya itu.


Hari sudah menjelang malam, Rico beristirahat sejenak karena seharian sudah berkeliling di kota tempat tinggalnya berharap bisa menemukan Firda. Ia melaporkan pada polisi pun harus menunggu 24 jam, masih dalam 12 jam sejak kekasihnya itu belum ada kabar apapun.  Ia melangkah masuk ke dalam kontrakan Firda yang tidak terkunci dan setia menunggunya pulang hingga ia berada di sana dalam kondisi yang sangat berantakan.


***


Malam ini terasa dingin, namun hingga hampir tengah malam Firda sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. Bisa dibilang lebih tepatnya tidak ingin tidur begitu saja karena yang ia inginkan saat ini bisa kabur dari tempat ini.  Ia berpikir kesana-kemari untuk mencoba mencari celah namun nihil. Sedangkan si pemilik villa tidak lagi mengunjungi dirinya setelah mencium paksanya tadi pagi.


“Tuhan, tolong aku, keluarkan aku dari tempat ini, ku mohon.” gumam Firda sambil mengelilingi ruangan kamar mewah itu berusaha mencari jalan keluar.  Waktu terus berjalan hingga hampir jam 2 pagi, namun Firda tak kunjung menemukan cara untuk kabur. Rasa lelahnya berpikir dan berjalan kesana-kemari dan akhirnya ia tertidur di sofa kamar itu.  Mungkin lebih baik tidur dan mencari rencana jalan keluarnya lagi besok pagi saja.

__ADS_1


Sementara Dandi yang sengaja tidak menemui wanitanya, ia memilih menanyakan kondisi wanitanya melalui pelayan villa.


“Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Dandi yang baru saja keluar dari ruang kamarnya.


"Dia baik-baik saja tuan, tapi saya melihat kedua matanya menghitam seperti tidak tidur semalaman. Dia juga menolak untuk sarapan pagi, namun setelah saya sedikit mengancam bahwa tuan akan memecat saya bila ia tidak makan, akhirnya ia menikmatinya meski sedikit." jelas bibi pada tuan muda.


"Baiklah, kamu terus awasi dan jaga dia, saya mau pergi ke kantor, rencana akan pulang malam karena banyak pekerjaan yang tertunda kemarin,” ucap Dandi.


"Tentu tuan, kalau begitu saya izin ke belakang dulu mau melanjutkan pekerjaan saya." pamit bibi.


"Iya pergilah." Jawab Dandi dingin.


“Maafkan aku sayang, ak terpaksa mengurungmu karena aku hanya tidak ingin kamu meninggalkan aku lagi.” gumam Dandi sambil memandangi ruang kamar Firda, kemudian beranjak pergi ke kantor.


Mentari pagi ini sangat cerah, cahayanya yang hangat ikut masuk ke celah-celah rumah Firda hingga mampu membangunkan Rico yang masih meringkuk di atas sofa rumah itu. Sesaat setelah kedua bola matanya terbuka, ia terbangun akan kehadiran Firda, ia mencoba menghubungi teman dan rekan wanita itu namun nihil tak ada yang tahu. Dnegan segera ia melangkah pergi ke kantor polisi setempat untuk melaporkan Firda yang hilang secara tiba-tiba.  la juga melihat kembali kota itu berharap akan menemukan wanitanya sendiri.


Di tengah perjalanan, ia mendengar notifikasi panggilan masuk dari ponselnya.


Ting… Tung… Ting… Tung...


Ia memeriksa sambungan panggilan masuk di ponsel Firda, segera ia menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan tersebut, yang mana ia berharap bahwa mungkin itu adalah Firda.


"Hallo!" ucap Rico melalui sambungan panggilan masuk dari ponselnya.


"Hallo dokter, anda dimana ? Siang ini anda ada jadwal operasi penting dok." sahut seseorang di balik sambungan telepon yang ternyata bukan Firda.


"Ah iya maaf saya hampir lupa, satu jam lagi saya sampai." jawab Rico singkat dan mematikan sambungan panggilan masuk secara sepihak. kemudian segera ia melajukan mobilnya dan memutar balik mobilnya menuju rumah sakit agar bisa sampai tepat waktu, sedangkan untuk masalah Firda sementara ini diserahkan kepada polisi, bagaimana pun Rico harus bertanggung jawab akan kewajibannya sebagai dokter.

__ADS_1


__ADS_2