Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 32


__ADS_3

POV Aura


" Kak tumben kau datang kemari, ada apa ?"


Plak!


"Kau ? Kenapa kau menamparku?"


"Kau kan yang melakukan semua ini, hah?"


"Apa maksudmu?" Pagi-pagi sekali Alex mendatangiku ke kamarku, tanpa basa-basi, ia langsung menamparku dengan keras, hingga muncullah bercak merah disudut bibirku.


Aku merasa bingung apa yang sebenarnya yang ia lakukan ? Aku merasa sama sekali tak melakukan kesalahan padanya. Hingga akhirnya ia melemparkan alat sadap dan hidden camera milikku yang aku pasang tadi malam di mobilnya. Sialnya, Aku telah ketahuan.


"Kau mencoba memataiku ? Benar begitu ?" umpatnya sambil mencengkram erat daguku.


"Apa tujuanmu menikahiku?" tanyaku tanpa rasa takut. Ku beranikan diri untuk kembali menatap tajam Alex yang tengah memprovokasiku.


"Hah... Kau pikir aku bodoh ? Kau menikahiku karena balas dendam bukan ? Aku pun tahu kau sedang bermain dibelakangku dengan wanita-wanita murahan itu." lanjutku.


Plak!


Lagi-lagi dia menamparku dan menarik rambutku kuat dari belakang.


"Ya, kau benar! Aku menikahimu hanya untuk membalaskan kematian adikku. Dan kau bersiaplah akan aku berikan neraka yang paling indah untukmu disini." setelah mengancam dan menyiksaku, Alex pergi begitu saja, bahkan mengunci pintu kamarku dan semua akses keluar dari rumah ini. Aku tak menyangka bahwa aku telah menikah dengan seorang iblis sepertinya. Topeng lembut yang selama ini ia pakai kini dilepaskannya, menampakkan sosok Alex yang dingin dan kejam bahkan dengan seorang wanita.


"Apa yg harus ku lakukan, Tuhan? Hiks..." lirihku pelan.


Pagi telah berganti malam, mentari tergantikan oleh indahnya bulan. Selama itu pula Alex benar-benar mengurungku, tak membiarkanku keluar bahkan hanya untuk sekedar makan. Badanku terasa lemah, perutku terasa sangat sakit menahan lapar dan dahaga. Memar dan luka yang ada dipipi dan bibirku aku pun tak sempat mengobatinya karena tak tersedia obat apapun dikamarku ini.


"Kuatkanlah aku, Tuhan." doaku dalam hati. Aku merasa hilang harapan dan usahaku sia-sia.


Akhirnya aku memutuskan kembali ke tempat tidur, aku menyandarkan tubuhku yang lemah di ranjang besar ini. Aku berharap bisa cepat tertidur agar tak merasakan lapar dan sakit lagi. Aku kembali terbangun jam 6 pagi, rasa sakit dan lapar yang kemarin mulai sedikit berkurang, ya mungkin karena aku telah tertidur cukup lama.


Ketika aku terbangun, aku sedikit terkejut melihat nampan diatas meja kecil di samping mejaku. Ada beberapa makanan juga air disana. Tanpa merasa ragu lagi aku segera menghabiskan semua makanan itu tanpa sisa.

__ADS_1


"Hah... Aku benar-benar merasa lega, syukurlah dia tidak sekejam itu hingga membuatku mati kelaparan," ucapku pelan.


Ceklek!


Ketika aku sedang menghabiskan waktuku untuk menonton tv dikamar, tiba-tiba pintu kamarku terbuka yang menampakkan sosok seorang wanita yang sangat familiar bagiku. Ya, setelah ku ingat lagi, wanita itulah yang bersama Alex tempo hari.


Plak!


"Dasar Pelacur! Beraninya kau merebut dan menikahi kekasihku." tanpa basa-basi dia menamparku dengan keras.


Aku yang belum siap pun langsung terhuyung dan jatuh, membuat pipi dan tubuhku sakit secara bersamaan.


"Apa yang kau lakukan, hah ?" teriakku ingin membalas perbuatannya.


Tepat ketika tanganku akan mendarat dipipinya, tiba-tiba Alex datang dan menahan jemariku dan menghempaskannya dengan kasar.


"Sayang, lihatlah istrimu ini ingin melukaiku. Aku mohon tolong aku," ucap wanita itu penuh drama, bergelayutan manja dilengan Alex dan menampakkan air mata palsunya.


"Berani sekali kau menyakiti kekasihku! Tak cukupkah tamparanku kemarin, hah?" teriak Alex yang kini menatap tajam ke arahku.


"Istri? Jangan mimpi kamu! Aku sama sekali tak menganggapamu sebagai istriku karena istri yang akan aku akui hanya dia. Jadi, jangan pernah macam-macam apalagi sampai menyakitinya." ancam Alex.


"Sialan! Dua iblis ini benar-benar membuatku muak. Apa boleh aku membunuh mereka saja Tuhan?" batinku.


Begitu selesai dengan ancaman dan peringatan yang Alex lontarkan kepadaku, mereka berdua langsung pergi begitu saja, bahkan bisa kulihat wanita itu tersenyum miring seakan mengejek nasib buruk yang tengah ku alami ini. Apa aku akan selamanya seperti ini ? Apa tidak ada jalan untukku kabur atau membalas perbuatan mereka berdua ? Apa ini kah takdir yang harus ku jalani Tuhan? Aku benar-benar bodoh, aku baru sadar bahwa aku masih memiliki ponsel. Bagaimana pun juga aku harus menelpon seseorang untuk meminta bantuan dan mengeluarkan diriku dari sini.


Tut! Tut!


"Hallo sayang?"


"Ma, apa kabar ?" tanyaku berbasa-basi.


"Baik sayang, kamu sendiri gimana ? Alex memperlakukanmu dengan baik kan ?"


"Eum... Iy- iya ma, apa kau sedang sibuk sekarang ?" jawabku gugup.

__ADS_1


"Iya nak, mama dan papa lagi di Singapura sekarang, ada bisnis disini."


"Baiklah, kalau gitu Aura tutup dulu ya telponnya, salam buat papa." Aku menutup sambungan telepon secara sepihak.


"Sudahlah, aku tak ingin membuat orang tuaku merasa khawatir, mereka tengah sibuk mengurus perusahaan. Aku tak ingin menambah beban mereka dengan masalahku. Dan aku harus bisa menyelesaikan semua ini sendiri." ucapku.


Setelah beberapa kali berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk menelpon polisi, aku pikir dengan begitu Alex akan ditangkap oleh mereka karena telah melakukan tindakan KDRT padaku dan mengurungku.


Tiga puluh menit kemudian samar-samar suara ku dengar bunyi mobil polisi yang mendekat ke arah rumah ini. Aku harap semoga kali ini akan menjadi akhir penderitaanku. Hampir satu jam aku menunggu dikamar, namun tak ada sedikitpun perubahan yang terjadi, tak ada polisi maupun Alex yang mendatangi kamarku.


"Apa yang terjadi disana? Apa mungkin Alex bisa dengan mudahnya mengelabuhi para polisi itu? Aku harus melakukan apa sekarang ?" tanyaku dengan berjalan mondar-mandir di dalam kamar.


Brak!


Betapa terkejutnya aku melihat Alex datang dengan tatapan mata tajam yang sangat jelas di pandangan mataku.


Alex berjalan mendekatiku dan tamparan keras melayang di wajahku.


Plak!


Tamparan yang keras kembali ku rasakan.


Plak! Plak! Plak! Plak!


Kini aku tak bisa lagi menahan air mata dan ringisanku. Alex benar-benar kejam padaku, dia tak segan menamparku berkali-kali karena kejadian tadi pagi. Aku yakin dia pasti sangat marah dengan keberanianku memanggil para polisi itu.


"Sepertinya aku terlalu bersikap lembut padamu, begitu?" ucapnya sembari menarik rambutku dengan kuat.


"Sakit Alex, lepasin!" teriakku.


"Berani sekali kau melapornya, hem? Kau pikir aku bodoh mempertemukan mereka denganmu?"


"Lepaskan aku! Ceraikan saja aku, Alex!"


"Heh... Jangan mimpi kamu! Aku sama sekali belum puas menyiksamu disini dan aku telah memiliki hukuman terbaik untukmu. Sekarang kau mandi dan bersiaplah dulu. Dandan yang cantik dan tutupi semua bekas luka dipipimu. Aku akan membawamu ke suatu tempat," ucap Alex membuatku menggeleng cepat.

__ADS_1


__ADS_2