
"Sudah ayo masuk !" ucap Kenzo dengan menarik tangan Aura lalu membawanya masuk ke dalam gedung itu.
Sepanjang jalan, Kenzo sama sekali tak melepas genggamannya pada tangan Aura. Kenzo tak membiarkannya begitu saja sambil terus berjalan mengelilingi mall.
Kini mereka berdua sampai disalah satu toko pakaian paling besar di mall itu. Dimana di dalamnya menjual banyak sekali baju dan aksesoris dengan merek ternama, yang sudah dipastikan harganya pun bisa senilai satu bulan gaji Aura di kantor Kenzo.
“Pilihlah pakaian yang cocok untukmu!" perintah Kenzo.
"Ah, tidak usah pak bos, pakaian gaun saya masih banyak." tolak Aura.
"Baiklah biar aku yang pilih," ucap Kenzo lalu berkeliling mencari pakaian yang mana kiranya pas untuk Aura.
Setelah cukup lama berkeliling, Kenzo membawa kurang lebih lima pakaian gaun, lalu menyerahkannya pada Aura untuk segera dicobanya.
"Coba semua pakaian gaun ini!" ucap Kenzo menyodorkan pakaian gaun-gaun mewah pada Aura.
"Tapi pak bos--"
"Kalian bantu dia mencobanya dan ambilkan beberapa sepatu yang akan terlihat pas di gaunnya nanti." perintah Kenzo pada beberapa karyawan disana.
Dengan terpaksa akhirnya Aura menurut mencoba gaun itu satu persatu dan menunjukkanya pada Kenzo, sudah 4 gaun yang Aura coba, namun tidak ada satupun yang membuat Kenzo merasa puas. Selalu saja ia mengatakan gaun itu tidak cocok dan meminta Aura untuk berganti lagi.
“Sialan ini orang, awas sekali lagi bilang nggak cocok, aku acak-acak nih toko.” gerutu Aura sambil mencoba gaun terakhirnya.
"Bagaimana pak bos?" tanya Aura sambil memaksakan senyumannya.
"Cantik." jawab Kenzo tanpa sadar dan terus menatap Aura.
"Terima kasih," ucap Aura dengan malu-malu.
"Bukan kamu, tapi gaunnya." kilah Kenzo menahan malu, ia sudah tertangkap basah mengagumi penampilan wanita cantik di depannya ini.
“Dasar pelit ! Mengakuiku cantik saja apa susahnya. Jelas-jelas tadi melongo melihatku, pake alasan segala.” umpat Aura pelan.
"Ya sudah, kami pilih yang itu," ucap Kenzo sambil menyerahkan kartu kreditnya pada karyawan disana.
__ADS_1
"Tidak pak bos, biar saya saja." sahut Aura menahan tangan Kenzo.
"Simpan saja uangmu."
"Baiklah... Terima kasih."
***
Ketika mereka akan keluar dari toko itu, ada dua orang wanita yang tiba-tiba menghampiri Kenzo dan Aura , wanita yang sepertinya tidak asing bagi mereka.
"Hai pak Kenzo, kebetulan sekali kita bertemu lagi," ucap wanita itu dengan nada genitnya. Ya ternyata wanita itu adalah Meliana krisni, wakil CEO Woing grup yang beberapa waktu lalu telah melakukan kerja sama dengan perusahaan milik Kenzo.
"Oh iya, kebetulan bertemu." jawab Kenzo singkat.
"Tuan muda Kenzo ya ? Senang bertemu denganmu," ucap Desina.
"Apa yang kalian lakukan disini ?"
"Sedang berbelanja dengan kekasihku." jawab Kenzo asal yang sukses membuat Aura melotot tak percaya.
"Apakah ada larangan pak bos memiliki hubungan dengan sekertarisnya," ucap Kenzo menatap sinis ke arah mereka.
“Ah tentu tidak, baiklah silahkan dilanjutkan. Kami permisi." sahut Desina sambil memaksakan senyumnya dan pergi meninggalkan Kenzo dan Aura disana.
Di sebuah ballroom hotel yang megah nan indah tengah diadakan sebuah pesta yang sangat meriah dan mewah. Pesta yang hanya mengundang kalangan atas dan orang-orang ternama, juga banyak dari mereka adalah CEO atau pimpinan perusahaan besar. Kenzo dan Aura adalah salah satu dari tamu undangan itu. Mereka datang berdua dengan bergandeng tangan,
Kenzo yang begitu tampan dengan jas putihnya dan Aura terlihat sangat anggun dengan gaun pink. Kedatangan mereka berdua cukup menyita perhatian. Banyak yang menganggap mereka adalah pasangan kekasih, sungguh terlihat sangat cocok dan serasi. Sesampainya disana Kenzo segera mencari keberadaan Zico si pemilik pesta, ia harus menyapa terlebih dulu sebagai bentuk sopan santun dan penghormatan.
"Itu sepertinya mereka pak," ucap Aura menunjuk arah Zico dan istrinya.
"Ah iya, ayo sapa mereka dulu."
Kenzo dan Aura pun segera menghampiri dan menyapa mereka.
"Malam om." sapa Kenzo.
__ADS_1
"Ah iya, kalian sudah lama ? " ucap Zico beralih menatap Kenzo dan Aura secara bergantian.
"Baru saja kok, ngomong-ngomong selamat ya om atas pestanya, semoga perusahaan om semakin maju dan berkembang lagi," ucap Kenzo tulus sembari mengulurkan tangannya.
"Iya, terima kasih Kenzo sudah mau datang. Kenalin ini Ikela, istriku." menjabat tangan Kenzo lalu mengenalkan istrinya.
"Kenzo tan dan ini sekertarisku Aura, senang bisa bertemu denganmu." tersenyum ramah sambil menjabat tangan Ikele.
"Ah ya, aku juga senang bisa mengenal kalian, suamiku sudah menceritakan banyak tentangmu," ucap Ireke tak kalah ramah.
"Baiklah, kalian lanjut makan dulu ya, om mau nemuin rekan om dulu." Pamit Zico lalu meninggalkan Kenzo dan Aura secara bersamaan.
Pesta itu begitu ramai, membuat Aura yang berdiri sedari tadi merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk mencari tempat yang sedikit tenang untuknya mengistirahatkan kakinya yang terasa sakit.
Sedangkan Kenzo, dia berusaha berbaur dengan Niko anak dari Zico. Mungkin saja mereka bisa menjadi teman yang baik di masa depan dan bisa menjadi partner bisnis karena ia yakin suatu saat nanti Niko lah yang akan menggantikan posisi Zico, pikir Kenzo.
Kini Aura telah mendapatkan tempat tenangnya, ia duduk sendiri di sofa ujung ballroom sambil sesekali memijat kakinya yang terasa lelah. Tak lama kemudian, datang seorang wanita dengan dandanan glamournya menghampiri Aura . Ia mendekati wanita itu dan duduk di sampingnya.
"Hai nona sekertaris." sapa wanita itu yang ternyata adalah Desina.
"Aura, panggil saja Aura." sahut Aura.
"Baiklah, aku cuma mau memastikan, benarkah kalian memiliki hubungan?" tanya Desina to the point, kedua bola matanya menatap tajam pada Aura.
"Maaf saya rasa saya tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan anda." jawab Aura dengan sinis.
"Dengerin ya ! Sekertaris rendahan sepertimu jangan harap bisa memiliki Kenzo, kamu sama sekali tidak pantas untuknya. Jadi, lebih baik kubur anganmu dalam-dalam untuk bisa bersama Kenzo, mengerti?" ucap Desina sambil mencengkram kasar dagu Aura hingga meninggalkan sedikit goresan luka disana.
"Hah... Tapi bagaimana kalau Kenzo yang mengejarku? Bukankah kamu sudah tahu kemarin dialah yang mengakuiku sebagai kekasihnya. Jika kamu keberatan, bicara dan protes saja padanya! Jangan marah padaku! " jawab Aura kesal.
"Wanita sialan ! Beraninya kamu mendekatinya, habis kau!" ancam Desina lalu berlalu meninggalkan Aura.
“Dasar wanita iblis ! Jika kamu tahu siapa aku, mungkin aku bisa membuatmu berlutut sekarang juga.” umpat Aura pelan sambil menatap nyalang Desina dari kejauhan.
Kini Aura merasa sangat panas dan haus setelah perdebatannya dengan Desina, ia benar-benar merasa menguras tenaga dan emosi menurutnya. la yang sudah sangat haus langsung saja mengambil minuman di depannya dengan asal, menghabiskan minuman itu dengan sekali teguk. Tanpa menyadari bahwa minuman itulah yang akan menjerumuskannya nanti.
__ADS_1