Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 29


__ADS_3

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir magang Aura di kantor Kenzo. Aura harus menyiapkan dirinya dengan baik karena pasti nanti pria itu akan mengajukan dengan beberapa pertanyaan perihal kak Alex dan Aura sangat yakin ia juga akan memarahinya habis-habisan.


"Selamat pagi Pak bos," ucap Aura menyapa Pak bos yang baru saja sampai di kantornya.


Kenzo menoleh ke arah Aura yang berdiri hormat pada dirinya.


"Kamu ikut saya!" Ucap Kenzo langsung melangkah masuk ke dalam ruangannya.


“Benar kan, habislah aku diintrogasi olehnya. Dengan langkah kaki yang berat, Aura mengikuti Kenzo berjalan masuk ke dalam ruangan.


Aura hanya diam dan mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, seperti sedang menahan amarah yang siap ia luncurkan.


"Duduk!" perintah Kenzo yang kini sedang menatap Aura dengan tajam.


"Ada apa ya bapak memanggil saya ?" ucap Aura berpura-pura tidak tahu.


"Yakin kamu nggak tahu apa alasan saya memanggilmu kesini?" ucap Kenzo dengan sinis dan tersenyum miring ke arah Aura.


Aura masih diam di tempat, ada rasa bingung, takut bercampur gugup. Aura merasa seperti seorang istri yang tengah ketahuan selingkuh oleh suaminya sendiri. Padahal sejak tadi malam Aura sudah menyiapkan banyak kata untuk menjawab pertanyaannya, tapi kenapa mendadak jadi blank begini. Rasanya hilang semua rasa keberanian dan kata-kata Aura saat berhadapan dengan Kenzo secara langsung.


"Aura... Aku sedang bertanya padamu," ucap Kenzo lagi sedikit meninggikan nada bicaranya.


“Oh… Iya maaf aku tidak menuruti perkataanmu. Aku kemarin sengaja bertemu dengannya. Dia kakak seniorku di kampus, kami sangat akrab dan aku sudah menganggap dirinya seperti kakakku sendiri. Dan kami hanya makan siang dan tidak lebih." jelas Aura dengan jujur dengan menundukkan kepadanya dan rasanya ia tidak berani menatap kedua mata tajam yang siap menerkam dirinya saat ini karena ia tidak mampu melawan Kenzo.


"Lalu ? Apa maksudnya dia mengklaim dirimu tunangannya ? Apa yang kamu coba sembunyikan dariku,hah?" tanya Kenzo lagi.


“Sial... Dia benar-benar marah. Apa aku jujur saja tentang lamaran itu tapi aku takut.” batin Aura.


Aura menghela nafasku dengan panjang dan memutuskan untuk berkata jujur saja pada Kenzo.


"Tanpa aku ketahui orang tuanya kemarin datang melamarku. Aku sama sekali tidak tahu dan itu tiba-tiba saja. Aku pun tak langsung menerimanya dan sengaja meminta waktu agar aku bisa memikirkannya kembali," ucap Aura mencoba tenang.


"Apa kamu akan menerimanya nanti?" tanya Kenzo lalu berjalan menghampiri Aura dan duduk di sampingnya.


"Sebenarnya aku ingin menolak, tapi papaku bersikeras agar aku menerima tunangan itu. Katanya papa memiliki hutang budi pada keluarga itu dan memintaku untuk menerima lamaran mereka. Ya, dulu saat papa merantau ke Singapura ia bekerja di rumah sakit milik pak Kevin ayah kak Alex. Beliau sangat berjasa bagi papa. Berkat beliau papaku bisa membangun rumah sakit sendiri dan memiliki kehidupan yang sangat layak. Hingga akhirnya hubungan mereka semakin jauh karena saat itu papaku tidak sengaja menabrak putri kesayangan pak Kevin. Hal itu, membuat gadis kecil itu meninggal karena pendarahan yang sangat banyak. Papa selalu berusaha meminta maaf pada mereka, namun mereka malah mengusirnya dan enggan untuk bertemu kembali. Karena merasa bersalah papaku memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia dan menetap disini bersama mama. Dan kemarin papaku sangat terkejut karena kedatangan pak Kevin dan istrinya. Mereka tiba-tiba datang dan ingin melamarku. Papa dan mama sangat bingung harus menjawab apa. Namun disaat tahu bahwa yang akan menikahiku adalah kak Romeo, senior yang selalu aku banggakan. Akhirnya papaku setuju dan bersikeras menjodohkan kami." Aura pun terpaksa menceritakan semua yang Aura tahu pada Kenzo.


Entahlah Aura tidak tahu setelah ini apa yang akan terjadi dengan hubungan kami. Sebelumnya Aura sudah pernah tidur dengannya dan diklaim sebagai kekasihnya. Namun melihat keadaan yang sekarang ini membuat Aura semakin pusing.


"Sekarang aku tanya padamu. Apa kamu mencintai pria itu ?" tanya Kenzo sembari memaksa Aura untuk menatap ke arah dirinya.


"Tidak, aku sudah mengaggap dirinya seperti kakakku sendiri. Tapi hal itu takkan mengubah apapun. Aku tetap harus menerima dia, aku tak ingin melawan papa dan membuat rasa bersalahnya muncul kembali." Jawab Aura apa adanya.


"Jika kamu tidak mencintainya maka aku akan memperjuangkan kamu. Namun, jika kamu mencintai dia dengan berat hati aku akan melepasmu," ucap Kenzo sambil menangkup kedua pipi Aura di hadapannya.


"Kenapa begitu?" tanya Aura merasa bingung mendengar pernyataan Kenzo.


"Karena aku mencintaimu." jawab Kenzo.


***

__ADS_1


“Sial... Wajahku terus saja memerah mengingat ciuman tadi. Padahal ini bukan yang pertama kali bagiku dengannya, tapi tetap saja aku tak bisa menyembunyikan rona malu dipipiku ini.” batin Aura.


Saat ini Aura sedang menemani Kenzo berkunjung ke beberapa storenya. Memeriksa semua sarana prasarana juga produk yang ada disana. Sebenarnya ini bukanlah tugas seorang direktur. Namun entah mengapa ia tetap bersikukuh ingin datang dan memeriksanya secara langsung. Tidak Aura sangka di usianya yang masih muda, dia bisa memimpin perusahaan sebesar ini. Bahkan dia berencana membuka store baru lagi di pinggiran kota, dia ingin semua masyarakat bisa mendapatkan barang yang terbaik dengan harga yang masih terjangkau. Kunjungan kami berakhir jam 7 malam. Hal ini benar-benar hari yang melelahkan di pikiran Aura.


Aura mengira di hari terakhirnya magang kuliah kerja, Aura bisa merasakan sedikit waktu luang, tapi ternyata tidak, Kenzo malah membuat Aura merasa sangat sibuk seharian ini.


"Di hari terakhirmu ini apa kamu tidak ingin memberiku sesuatu untuk kenang-kenangan?" ucap Kenzo menatap ke arah Aura dengan senyuman miringnya.


Sudah satu jam ini dia menahan Aura di ruangannya dan tidak mengijinkannya pulang.


"Aku tidak punya apapun Ken. Aku hanya ingin berterima kasih karena sudah menerimaku magang kuliah kerja disini dan bersikap baik padaku. Dan mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi," ucap Aura sambil menatap ke arah Kenzo dan memberikan senyuman termanisnya.


Aura merasa bahagia pernah dekat dengannya dN dicintainya. Tapi sepertinya kita tidak ditakdirkan bersama. Mau tidak mau Aura harus menerima lamaran kak Romeo, dengan begitu papa tidak akan merasa berhutang budi dan bersalah lagi dengan keluarga mereka. Dengan mendengar kata terakhir Aura sontak saja membuat Kenzo tertegun. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang Aura katakan. Karena tadi saat dia mencium Aura, Aura sama sekali tidak menolak dan berpikir bahwa mereka sudah bersama.


"Apa yang kamu katakan ? Kamu ingin meninggalkanku ?" tanya Kenzo merasa tidak terima dengan kenyataan pahit ini.


"Maaf, aku harus menerima lamaran itu Ken. Aku hanya ingin papa merasa bahagia. Aku akan sedih jika harus melihatnya kembali terpuruk karena rasa bersalahnya," ucap Aura sedikit parau, mencoba menahan tangisnya agar tidak tumpah di hadapannya. Aura melihat sorot matanya semakin tajam menatap ke arah dirinya, Aura tahu saat ini dia pasti sudah sangat marah dengan keputusannya. Tapi inilah yang harus Aura lakukan, semua ini di luar kendalinya.


"Baiklah ini sudah larut malam, aku pamit pulang ya. Kamu juga pulanglah dan istirahat." sahut Aura dan segera pergi dari ruangan Kenzo.


Dengan berat hati, Aura melangkahkan kakinya menjauhi Kenzo, Aura sudah tak kuasa lagi menahan air matanya. Dan untunglah seisi kantor sudah sepi, jadi biarpun Aura menangis tidak akan ada orang yang tahu. Sesaat sebelum Aura masuk ke dalam mobilnya, ada lengan kokoh yang menariknya dengan kuat, membuat Aura jatuh dalam ke pelukannya. Dari aroma tubuhnya Aura sudah tahu, dia adalah Kenzo.


Aura tidak menyadari ternyata dia mengejar Aura.


"Apa kamu tidak percaya padaku ? Bukankah sudah ku katakan aku akan memperjuangkanmu. Mengapa kamu malah memilih pergi dariku?" tanya Kenzo semakin erat memeluk tubuh Aura.


"Kamu serius dengan perkataanmu? Kamu tidak ingin bersama denganku ? Benar begitu ?” ucap Kenzo lagi masih tidak percaya dengan keputusan Aura.


"Terima kasih ya untuk 3 bulan ini. Aku bahagia pernah dicintai olehmu." jawab Aura terdengar tulus.


"Selamat tinggal." sambung Aura.


“Maafin aku, Ken. Maafin aku jika ini menyakitimu, aku berharap kamu akan selalu bahagia meski tanpa kehadiranku." kata Aura dalam hati.


“Tunggu! Dengarkan aku baik-baik Aura! Jika kamu memilih pergi dariku, jangan pernah sekalipun kamu menampakkan dirimu lagi di hadapanku karena jika itu terjadi maka mulai saat itu juga aku akan membawamu dan tidak akan pernah melepaskanmu." Ancam Kenzo setengah berteriak agar Aura dapat mendengar perkataannya dengan jelas.


Aura yang berlari menjauh, ia dapat mendengarkannya dengan baik.


“Tenang saja Ken, aku pun takkan sanggup jika melihatmu lagi. Aku takut tak bisa menahan perasaanku bila berada di dekatmu. Sekali lagi maafkan aku.” kata Aura dalam hati.


Kenzo POV


Jika saja aku tahu semua akan berakhir seperti ini, saat itu aku pasti akan benar-benar menidurinya, membuat dia mengandung anakku dan terikat seumur hidup denganku. Aku tak menyangka dia tega melakukan ini padaku. Harusnya dia percaya bahwa aku akan benar-benar memperjuangkan dia. Harusnya dia yakin dan kita akan berjuang bersama-sama. Bukan malah pergi meninggalkanku seperti ini. Aku sudah tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang. Alasanku tersenyum, semangat, tertawa, sudah pergi jauh dariku.


Malam ini aku pulang begitu larut, sengaja menghindar dari keluargaku karena aku tak ingin mereka khawatir dengan diriku. Aku pulang dalam kondisi mabuk, ya ini yang pertama kalinya, aku melampiaskan sakit hatiku dengan minum-minuman alkohol. Sempat di club tadi aku menyewa pelacur untuk menemaniku tidur malam ini. Namun ketika aku menyentuhnya ada perasaan sakit saat teringat kembali kala aku menyentuh Aura yang sedang tidak sadar malam itu. Hanya 3 bulan saja, waktu yang singkat untuk Aura berhasil membuatku jatuh cinta. Setelah ia menjatuhkan aku sejatuh-jatuhnya, dia pergi dan memilih menikah dengan orang lain. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika dia masih saja menampakkan dirinya di hadapanku, maka saat itu juga aku akan membawanya bersamaku, tak akan melepaskannya seumur hidupku.


***


"Pagi semua…" Ku sapa orang tuaku dan adikku yang sudah menunggu di meja makan.

__ADS_1


Dengan senyuman manisku, aku mencoba menyembunyikan raut sedihku pada mereka.


"Pagi nak, kamu sedang sakit ? kenapa pucat begitu?" ucap mama Daisy yang sepertinya sadar dengan kondisiku.


"Tidak ma, aku hanya lelah. Aku berangkat dulu ya , ada yang lupa aku siapkan untuk meeting nanti siang." kilahku segera beranjak menghindari mereka.


“Sarapan dulu!" sahut papa Dandi.


"Iya kak, sekalian tungguin Lisa mau berangkat bareng.” ucap adikku.


“Ah tidak usah , nanti saja di kantor pa. Dan maaf Lisa, kamu berangkat sendiri saja ya, Kakak mau buru-buru." sahutku.


"Baiklah, hati-hati sayang. Jangan lupa sarapan." balas Mama Daisy.


***


Aku sampai di kantor lebih pagi, ku lihat disana masih ada sedikit karyawanku yang datang. Mereka menyapaku seperti biasanya, namun aku sama sekali tak menanggapi dan berjalan dengan angkuhnya melewati mereka. Entahlah, rasanya aku sudah tak ada tenaga untuk beramah tamah dengan karyawanku sendiri.


"Pagi pak," ucap Sena sebagai sekertarisku. Dia sudah kembali dari cutinya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat digantikan oleh Aura.. Tanpa menjawab sapaannya aku masuk ke ruanganku dan mulai berkutat dengan pekerjaanku.


Tok!. Tok! Tok!


"Masuk," ucap Kenzo dari dalam ruangannya.


"Permisi pak ini bapak dapat undangan dari Carista grup, putri mereka akan bertunangan sabtu depan," ucap Sena sopan sambil memberikan selembar kertas berwarna gold putih padaku.


"Baiklah terima kasih, kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu." ku buka perlahan kertas gold purih ditanganku ini, desainnya begitu indah dan cantik . Terukir nama Aura dan Alex di atasnya. Sungguh hatiku rasanya benar-benar sakit, ternyata dia benar-benar melakukan apa yang diucapkannya kemarin. Kenapa dia tega memberiku undangan pertunangannya ? Apa dia sengaja ingin membuatku semakin terpuruk ? Berbagai macam pikiran negatif telah merasuki otakku. Dia wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta dan kini menyiksaku dengan perlahan.


Rasanya seperti mempermainkanku dengan sengaja. Emosiku yang sudah sampai di ujung batasnya pun tumpah. Ku lampiaskan amarahku dengan melemparkan semua yang ada di depanku. Merusaknya dan menimbulkan keributan yang sampai terdengar hingga luar ruanganku. Karena keributan yang ku buat, tangan kananku dan sekertarisku panik dan bergegas menghampiriku di ruangan. Bisa ku lihat keterkejutan mereka karena baru kali ini mereka melihatku marah membabi buta seperti ini.


"Maaf pak, apa yang terjadi ?" tanya tangan kananku dengan gugup.


"Kalian keluarlah! Aku sedang tidak ingin diganggu!!" ucapku dengan pelan sambil mencoba menahan amarahku.


"Tapi pak--"


"Keluar!" teriakku dan akhirnya mereka meninggalkanku sendiri, melampiaskan segala emosi dan rasa sakit yang sedang ku tanggung sendiri saat ini.


***


Malam ini adalah malam pesta pertunangan Aura dengan Alex. Pesta itu dibuat semeriah mungkin dengan mengundang seluruh kerabat juga rekan bisnis keluarga mereka. Banyak orang penting dan berpengaruh yang menghadiri acara itu. Keluarga mereka terlihat sangat bahagia, begitu juga Alex. Mereka selalu memancarkan senyuman bahagianya sepanjang acara berlangsung.


Berbeda dengan Aura, dia sesekali menitikkan air mata tanpa diketahui oleh keluarga dan tunangannya. Hatinya terasa sakit, mengingat kembali kenangannya bersama Kenzo yang tak akan pernah bisa terulang kembali. Dirinya sudah memilih untuk pergi dan menyerah dengan cinta mereka. Dan berharap semoga jalan yang telah ia pilih ini akan berujung kebahagiaan untuk mereka berdua.


Di sisi lain, di club ternama di kota itu terlihat seorang pria dengan penampilan badboynya. Ia tengah berpesta minuman keras ditemani wanita-wanita penghibur yang berusaha untuk mencumbunya. Kenzo sudah tidak peduli lagi dengan citra dan status yang ia miliki. Ia hanya ingin malam ini bisa melupakan wanita yang menurutnya sedang bahagia di pesta pertunangannya.


Bagi Kenzo malam ini adalah malam penuh duka. Wajahnya yang tampan, status yang tinggi, keluarga yang kaya raya, semua itu tidak menjamin bahwa kehidupannya bahagia. Karena cinta yang baru saja bersemi di hatinya telah dipatahkan dengan gampangnya oleh seseorang.


"Aura, kamu disini sayang?" ucap Kenzo secara tiba-tiba pada seorang wanita yang ia lihat sebagai Aura.

__ADS_1


__ADS_2