
"Mama... Kapan ayah bangun? Ayah nggak suka ya sama Kenzo? Ayah enggak mau ya main sama Kenzo?" tanya Kenzo kecil merasa sedih dan merajuk pada mamanya. Saat ini usia kenzo sudah berusia 5 tahun, selama itu pula Dandi tidak sadar dari tidur panjangnya.
Daisy yang keras kepala masih ingin mempertahankan pria itu di sisinya. Ia tak sanggup melihat alat-alat medis itu dicabut dari tubuh Dandi, yang mana hal itu akan menentukan nafas kehidupan suaminya saat detik itu juga.
"Tidak sayang, ayah sangat menyayangimu. Hanya saja dia terlalu lelah bekerja makanya sampai sekarang belum bisa bangun. Kenzo doain saja ya semoga ayah sembuh dan bisa mengajak Kenzo main setiap hari." jawab Daisy mencoba menghibur anaknya.
"Temen-temen di sekolah sering mengejek Kenzo, ma. Mereka bilang Kenzo nggak punya ayah. Mereka nggak mau main sama Kenzo." rengek Kenzo sambil menangis memeluk Daisy dengan erat.
"Sudahlah... Jagoan mama nggak boleh menangis. Mungkin temanmu belum tahu kalau ayah Kenzo sedang sakit. Biar nanti mama yang ngomong sama temen-teman Kenzo ya." bujuk Daisy dengan mengelus kepala anaknya.
"Iya mama. Sekarang Kenzo mau mama yang anterin Kenzo pergi ke sekolah, biar mereka gak bisa gangguin Kenzo lagi." sahut Kenzo dengan kedua bola mata bulatnya menatap ke arah Daisy.
"Baiklah sayang, ayo siap-siap dulu." balas Daisy.
Selama 5 tahun terakhir ini Daisy benar-benar disibukkan dengan banyaknya pekerjaan. Ia harus mengurus perusahaan Dandi sekaligus menjaga Kenzo, rasa lelah itu pasti. Tapi Daisy berusaha untuk terus bertahan demi kedua pria kesayangannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Daisy.
"Maaf nyonya, ada Pak CEO dari Angie grup ingin bertemu dengan nyonya.” jelas Jino sopan pada bosnya yang tengah sibuk memeriksa beberapa berkas perusahaan.
“Kenapa lagi sih tuh orang, baiklah biarkan dia masuk." sahut Daisy merasa kesal karena aktivitasnya terganggu oleh seseorang.
Tak lama kemudian, masuklah seorang pria tampan yang merupakan CEO Angie grup, sang partner perusahaan Dandi. Sudah 3 tahun ini pria tampan itu mencoba mendekati Daisy, dia sangat tertarik dengan wanita itu. Seorang wanita cantik yang pekerja keras dan mama yang baik untuk anaknya.
"Hallo Ibu sutradara... Sibuk banget nih." sapa Zico pada Daisy yang masih memeriksa berkas-berkas penting di atas meja.
"Pak Ceo yang memuji senggang sekali ya datang kesini. Bisa jalan-jalan di waktu kerja seperti ini." jawab Daisy to the point.
"Ah tentu... Ngapain pula aku memperkerjakan karyawan kalau semuanya juga aku yang menangani," ucap Zico dengan santainya di hadapan Daisy.
“Aku tahu aku salah mendekati wanita bersuami sepertimu, tapi aku pun tidak bisa menahan perasaanku sendiri, Daisy. Aku sangat menyukaimu.” kata Zico dalam hati. Ia memandangi wajah cantik Daisy di hadapannya.
"Jika tidak ada yang penting, aku mohon pergilah, jangan menggangguku!" usir Daisy yang sudah sangat kesal.
"Kok kamu mengusir sih. Mau aku bantuin nggak ? Jarang-jaranf banget loh aku baik seperti ini," ucap Zico mencoba menggoda Daisy.
"Terima kasih tuan Zico yang baik. Tapi saya tidak butuh bantuan anda, jadi pergilah sekarang." jawab Daisy dengan ketus.
"Hmmm… Iya iya... Jangan emosi dong! Iya aku pergi nih, jangan lupa makan siang ya. Sampai jumpa lagi cantik." sahut Zico dengan mengedipakan sebelah matanya ke arah Daisy lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
Sedangkan Daisy selalu dibuat emosi setiap kali bertemu dengan Zico. Zico tahu dengan jelas bahwa dirinya bersuami dan memiliki anak. Namun hal itu tak mengurungkan niatnya untuk mengejar Daisy. Meski sudah ratusan kali pula Daisy menolaknya dengan tegas. Entah sejak kapan pria lajang itu menyukai dirinya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa selama ini Daisy juga cukup terbantu dengan adanya pria itu. Beberapa kali perusahaannya mengalami kesulitan dan Zico yang selalu membantu menangani perusahaannya, karena Daisy tidak sehebat Dandi. Ayah mertuanya pun sudah sangat lelah mengurus perusahaannya.
***
“Sayang, aku mohon cepatlah sadar, aku sangat sedih dengan kondisimu seperti ini. Aku sangat lelah menghadapi semua ini sendiri, aku butuh kamu, Dan. Lagi-lagi Daisy menangis dalam diam sembari menatap ke arah foto suaminya yang tersimpan dalam ponselnya.
5 tahun bukan waktu yang sebentar lagi, itu tidak mudah. Tapi, cinta pada sang suaminya yang membuat ia bertahan sampai saat ini. Dengan menghadapi kesulitan dan rasa sedih seorang diri.
"Sayang, kamu disini sebentar ya jagain ayah, mama mau ke toilet. Ingat, nggak boleh kemana-mana!" perintah Daisy.
"Siap mama." Sahut Kenzo kecil dengan mengangkat tangannya ke atas seperti memberi hormat. Setiap pulang kantor Daisy selalu mengajak kenzo untuk menemani Dandi di rumah sakit. Sesibuk apapun dirinya, ia pasti akan menyempatkan waktu untuk menjenguk sang suami. Seperti hari ini karena akhir pekan nanti Daisy sudah membawa Kenzo menemui pagi-pagi sekali.
"Ayah, bangun! Kenzo pengen main sama ayah. Ayah nggak suka ya sama Kenzo ? Bangun ayah!" Kenzo menaiki ranjang tidur Dandi dan duduk di atas perut Dandi dengan menangis histeris.
"Kenzo janji bakal jadi anak baik, nggak nyusahin ayah sama mama. Ayah, ayo bangun !" rengek Kenzo kecil yang duduk di atas perut Dandi dan menguncangnya dengan kasar. Ia berusaha membangunkannya lagi .
Tiba-tiba saja Kenzo merasa jika tangan ayahnya bergerak mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Ayah! Ayah sudah bangun!” teriak Kenzo dengan antusias.
Daisy yang mendengar Kenzo berteriak, dengan segera menyelesaikan hajatnya dan keluar dari kamar mandi.
"Kenzo sayang ayo turun, ayahmu sedang sakit nak. Jangan tidur di atas perut ayah seperti itu. Ayo turun ! " tutur Daisy lalu menurunkan Kenzo dari ranjang tidur suaminya.
"Mama, ayah sudah bangun. Tadi ayah mengusap kepala Kenzo kayak gini," ucapnya dengan antusias sambil mempraktekkan apa yang ia alami tadi.
Daisy yang mendengar hal itu membuat Daisy merasa terkejut dan segera memeriksa suaminya. Namun ia sama sekali tak melihat tanda-tanda jika Dandi memang sudah sadar. "Kenzo bohong sama mama?" tanya Daisy sambil berlutut menyamakan tinggi putranya.
"Beneran mama, Kenzo nggak bohong." jawab Kenzo berusaha meyakinkan mamanya.
"Hmmm… Baiklah. Lain kali, Kenzo nggak boleh ya naik ke ranjang ayah kayak tadi, kasian ayah masih sakit," ucap Daisy menjelaskan pada Dandi.
"Iya, mama maaf." jawab Kenzo menyesal.
Setelah itu Daisy memberikan beberapa mainan dan buku gambar pada anaknya, memberikan kesibukan pada Kenzo agar tak mengganggu suaminya lagi.
"Dandi, kamu bisa lihat kan putra kita sudah besar, ia sangat tampan dan lucu sepertimu. Dia butuh kamu, Dan. Dia butuh ayahnya, setidaknya bangunlah demi dia," ucap Daisy sembari menggenggam tangan Dandi.
"Jawab Dan! Jangan hanya diam! Jawab aku!" Daisy menatap suaminya hanya diam saja tanpa adanya tanda-tanda kehidupan selain bunyi monitor detak jantung suaminya.
"Baiklah, jika kamu masih saja seperti ini, lebih baik aku menikah saja dengan orang lain dan memberi ayah baru untuk Kenzo." lanjut Daisy yang kini sudah tak bisa menahan tangisnya. Rasanya Daisy sudah frustasi menjalani semua ini, andai saja tidak ada Kenzo di sisinya mungkin ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya saja.
"Selama aku masih bernafas, tidak akan ada yang bisa merebutmu dan Kenzo dariku." seketika Daisy terkejut mendengar suara berat itu suara yang sangat dirindukannya selama ini. Tentunya, itu adalah suara milik Dandi.
"Apa aku sedang berhalusinasi lagi ?" tanya Daisy pada dirinya sendiri, sambil sesekali menepuk pipinya dengan pelan.
"Tidak sayang, ini memang nyata. Maafkan aku," ucap Dandi sambil mengelus puncak kepala istrinya.
"Dandi." lirih Daisy langsung memeluk tubuh Dandi dengan erat.
"Iya sayang, maafkan aku, setelah ini aku janji tidak akan pernah ninggalin kalian berdua lagi." jawab Dandi dengan lembut.
Sejenak kedua bola mata Dandi menatap ke sekeliling ruangan untuk mencari sesuatu dan kedua bola matanya menatap sosok anak kecil yang sedang asyik menggambar di sofa tak jauh darinya.
“Sayang.. Ayo kesini!” ucap Dandi yang melihat Kenzo sedang asik sendiri disana.
Kenzo yang mendengar suara berat yang terasa asing membuat dirinya menoleh menuju sumber suara.
"Ayah!" teriak Kenzo merasa senang, kemudian ia berlari menghampiri Dandi.
"Baiklah, aku panggilkan dokter sebentar ya. Baik-baik disini, Kenzo jagain ayah ya," ucap Daisy lalu pergi meninggalkan Dandi dan Kenzo di ruangan.
"Ayah ini aku loh yang gambar, bagus nggak?" tanya Kenzo memamerkan hasil karya gambarnya. Ya, selama ini pria kecil itu sangat suka menggambar, di usianya ini ia sudah bisa membuat gambar tiga dimensi yang sangat mirip dengan idolanya.
"Sangat bagus, ayah bangga padamu." jawab Dandi sambil menciumi wajah anaknya.
"Ayah nanti kalau ayah sudah sembuh kita pergi jalan-jalan ya. Kenzo mau ke taman bermain dan ajak kakek dan nenek ikut,” ucap Kenzo.
"Tentu sayang, kemana pun Kenzo mau pasti ayah temenin," sahut Dandi dengan antusias.
"Emm… Kenzo sayang ayah." Kenzo langsung memeluk tubuh Dandi dengan manja.
"Ayah juga sayang sama Kenzo,” ucap Dandi terdengar tulus.
Sudah satu bulan kemudian, Dandi keluar dari rumah sakit. Kondisinya pun sudah sangat baik sekarang, namun tetap saja Daisy belum ada hubungannya dengan itu pergi bekerja. Ia harus memastikan jika Dandi benar-benar telah sehat dan bugar tidak kekurangan apapun. Dan sesuai janjinya beberapa hari lalu, hari ini Dandi akan mengajak keluarga kecilnya untuk jalan-jalan bersama.
Mereka berencana pergi ke taman bermain di pusat kota Paris.
__ADS_1
"Bagaimana sayang kamu suka?" tanya Dandi pada Kenzo yang asik berlarian di taman itu.
"Iya ayah, ayo kita naik itu." tunjuk Kenzo pada permainan yang diinginkannya.
"Emang Kenzo nggak takut?" goda Daisy pada anaknya.
"Nggak lah mama, itu mah kecil." jawab Kenzo sambil menjentikkan jari kecilnya.
"Bagus, anak ayah memang jagoan. Ayo kita main.” ajak Dandi kemudian mengangkat tubuh mungil Kenzo dengan satu tangannya, sedangkan tangan lainnya mengandeng tangan Daisy dengan mesra.
Dandi sungguh sangat bahagia, perjuangan dan penantiannya selama ini tak sia-sia. Bahkan Tuhan masih diberi kesempatan untuk dirinya hidup sekali lagi. Hal itu tentu menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya karena setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Selama kita mau berusaha dan bersabar, semua akan indah pada waktunya.
“Sayang, Kenzo nggak capek?” tanya Daisy yang sudah merasa lelah bermain sedari tadi.
"Emmm… Kenzo laper mama." jawab Kenzo sambil menampilkan kedua bola mata bulatnya di hadapan Daisy.
"Uh... Anak mama ganteng banget sih." puji Daisy lalu mencium pipi Kenzo secara bersamaan dengan Dandi.
"Baiklah kita cari makan dulu, habis itu kita pulang ya," ucap Dandi kemudian mencari restoran terdekat untuk mereka makan.
Ketika sedang berjalan menuju restoran, langkah kaki Daisy terhenti karena melihat seorang anak perempuan yang menangis sendirian di depan salah satu stand es krim disana.
"Sayang kok menangis sendirian disini, dimana orang tuamu ?" tanya Daisy dengan lembut sambul mendekap anak itu.
"Aura tersesat tante, hiks... Hikss..." jawabnya sambil terus menangis.
"Udah ya sayang jangan menangis lagi, ayo tante bantu cari orang tua kamu," ucap Daisy menenangkan anak perempuan itu.
"Sayang itu siapa?” tanya Dandi yang baru menyadari istrinya tertinggal di belakangnya.
"Nggak tahu katanya tersesat, kasian dia sendirian. Kita ajak saja ya siapa tahu nanti ketemu orang tuanya." pinta Daisy.
"Hmmm... Baiklah terserah kamu saja." jawab Dandi mengiyakan perkataan Daisy.
Belum sempat Daisy membawa anak perempuan itu pergi, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri dirinya dan mengklaim bahwa anak perempuan itu adalah anaknya.
"Sayang... Kamu dari mana saja ? Mama khawatir nak," ucap si wanita sembari memeluk anak perempuan itu.
Sejenak Daisy dan wanita itu saling pandang.
"Nyonya Daisy!" sapa wanita itu yang ternyata adalah Fika karena lama tidak bertemu dengan Daisy sedikit terkejut melihat Fika telah memiliki seorang putri cantik. Selama ini pun ia sama sekali tak mendengar wanita itu telah menikah.
Tak lama kemudian datanglah seorang pria berjalan ke arahnya.
"Sayang, bagaimana Aura sudah ketemu?” ucap pria itu dengan raut wajah khawatirnya.
“Kak Rico! Kalian ?" sungguh Daisy dibuat semakin terkejut, sama halnya dengan Dandi.
Ternyata anak perempuan bernama Aura tadi adalah anak dari Fika dan Rico. Entah bagaimana awalnya hingga mereka bisa menikah dan memiliki seorang putri. Sungguh dunia sempit sekali, setelah bertahun-tahun lamanya, ia justru dipertemukan kembali dengan pria yg telah menipunya dulu.
"Oh ya... ini Fika, istriku dan ini Aura putriku. Maaf aku sudah banyak sekali melakukan kesalahan pada kalian berdua, aku berharap kelak kalian bisa memaafkanku," ucap Rico menyesali perbuatannya dulu.
"Lupakan saja! Yang penting sekarang dia sudah kembali padaku." jawab Dandi dingin sambil merangkul pinggang Daisy dengan mesra.
" Iya kak, aku sudah memaafkanmu. Selamat ya atas pernikahan kalian, putri kalian sangat cantik. Aku turut bahagia." sahut Daisy tersenyum tulus.
"Kalian juga, sekali lagi aku minta maaf. Semoga kalian selalu bahagia hingga maut memisahkan." doa Rico masih dengan perasaan bersalahnya.
"Tentu saja, kalau begitu kami permisi dulu ya. Senang bisa bertemu kembali, sampai jumpa,” ucap Daisy lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1