
"Kenapa kamu bisa begitu tampan seperti ini pak bos ? Tapi sayang wajah tampanmu ini mubazir karena sikap dinginmu," ucap Aura sambil menatap lekat pada wajah pak bosku.
Entah apa yang merasuki Aura, dengan beraninya Aura duduk di pangkuan pak bosnya yang dingin seperti kulkas. Aura mengelus lembut wajah tampannya, rambutnya hingga bagian dada bidangnya. Aura melihat dia memejamkan kedua mata, seperti menikmati sentuhan Aura ini.
Beberapa detik kemudian, Aura tergoda saat melihat bibir pink alaminya, tanpa basa-basi lagi Aura mendekatkan wajahnya dan "cup" Aura mengecup sekilas bibir itu.
Aura melihat Pak Bosnya hanya mematung, mungkin ia merasa terkejut dengan keberanian Aura yang tidak masuk akal ini. Karena ia hanya diam saja, Aura pun semakin berani, bahkan kini aku sudah menyesap bibir manisnya, ********** perlahan dan mencari celah agar bisa merasakannya lebih dalam.
"Sial," Aura mendengar Pak bosnya mengumpat kesal, namun setelahnya dia membalas ciuman Aura yang semakin kasar dan menuntut. Satu tangannya menahan tengkuk Aura dan tangan lainnya memeluk pinggang Aura dengan posesif.
Aura yang sudah terhanyut pun melingkarkan tangannya dileher Kenzo, kemudian membawa tubuh Aura ke atas ranjang di kamar itu tanpa melepas ciuman kami. Nafas kami semakin memburu, dia merangkak di atas Aura, menurunkan ciumannya ke leher dan pundakku dan meninggalkan bekasnya disana.
Aura terhanyut sungguh dengan perlakuan Pak bosnya saat ini.
“Apa yang telah aku lakukan dengan pak bosku ini. Ini pasti salah, aku ingin berhenti sekarang.” batin Aura.
Aura melihat Kenzo semakin liar menjamah tubuhnya, menyentuh setiap titik sensitifnya, Aura sudah tak tahan lagi.
“Ah ...” desah Aura terdengar jelas di indera pendengaran Kenzo.
***
Aura membuka kedua matanya secara perlahan dan ia menatap ke sekelilingnya.
“Hah... Syukurlah cuma mimpi. Bodoh, bisa-bisanya aku memimpikan hal konyol itu bersama pak bos. Tapi, kenapa rasanya sangat nyata.” Aura berpikir sejenak akan kejadian semalam.
“Hem… Bukannya tadi malam aku sedang duduk di sofa ballroom dan berpesta, kenapa bisa disini ? Dan ya ... Tunggu, aku merasa ada yang aneh.” batin Aura.
"Huaaa... Kemana pakaianku." Aura yang merasa terkejut, ia secara spontan berteriak keras.
"Masih pagi, kenapa berisik sekali sih ?" ucap seseorang yang baru keluar dari kamar mandi.
"Pak Bos? Ke-kenapa kamu ada disini ?" tanya Aura merasa cemas sambil memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Kamu lupa? " jawab Kenzo ketus.
"Maksud Pak bos?" tanya Aura belum mengerti.
"Apa aku perlu mengulanginya agar kau bisa ingat?" ucap Kenzo lagi sambil berjalan mendekat ke arah Aura.
"Jadi semalam--" ucap Aura terputus saat mendengar suara berat Kenzo.
"Ya... Kamu telah menggodaku, naik ke ranjangku dan melecehkanku." sahut Kenzo.
"Apa?" sontak saja Aura berteriak kaget, ternyata semalam itu nyata bukan mimpi.
“Jadi, benar aku telah menyerahkan diriku padanya ? Tidak, itu tidak mungkin." kata Aura dalam hati.
“Tapi, kenapa aku bisa disini pak bos ? Bukannya aku kemarin duduk manis di sofa ballroom hotel ?" sahut Aura merasa penasaran.
"Iya, kamu mabuk dan aku yang membawamu kemari. Tapi, apa yang ku dapatkan ? Kamu malah seenaknya memperkosaku." jawabnya enteng.
“What? Bagaimana mungkin ? Wanita melecehkan pria ? Kedengarannya tidak masuk akal.” pikir Aura.
"Ah itu... Maaf bos, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Alkohol itu sudah merusak akalku hingga membuatku berani melakukannya. Aku harap pak bos bisa memaafkan aku dan melupakan saja kejadian semalam." Ucap Aura dengan gugup dan tidak berani menatap kedua mata pak bosnya.
__ADS_1
Kenzo berjalan mendekat menuju ke arah Aura, Aura melirik sekilas ke arah wajahnya. Kenzo terlihat marah padanya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Mungkinkah dia akan membunuhku karena aku menyentuhnya?” batin Aura yang masih berpikir keras tentang kesalahannya.
"Kamu bilang apa, hah ? Lupakan saja ? Kamu pikir aku pria gampangan yang bisa kamu tiduri dan kamu lupakan begitu saja ?" ucap Kenzo sedikit membentak Aura.
"Bu-bukkan begitu pak bos, hanya saja--" ucap Aura terbata-bata.
"Kamu harus bertanggung jawab!" sahut Kenzo dengan wajah dinginnya.
"Apa?" teriak Aura merasa terkejut.
"Ya, mulai saat ini kamu menjadi wanitaku, turuti semua kemauanku dan jangan pernah coba-coba mendekat dengan pria selain aku! Mengerti," ucap Pak bos sambil menaikkan dagu Aura agar kedua matanya bisa menatap ke arahnya.
“Ini terdengar gila, kenapa bisa jadi runyam begini, arghh... Minuman sialan, sekarang aku benar-benar terjebak dengan Pak bos kejam.” umpat Aura dalam hati.
“Harusnya disini aku yang merasa dirugikan, tapi, kenapa malah dia yang meminta pertanggung jawaban.” pikir Aura terus berkecamuk memikirkan kejadian yang menurutnya sangat tidak masuk akal ini.
"Ah… Iy-iya. Aku mengerti pak bos." dengan terpaksa, Aura mengiyakan tuntutannya itu.
Otak Kenzo yang cerdas tiba-tiba saja blank, tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi aneh ini. Sebenarnya semalam tidak terjadi apapun antara kenzo dan Aura, karena saat kami tengah memulai percintaan panas kami. Tiba-tiba Aura muntah dan berhasil menghilangkan minat dan nafsu Kenzo untuk menidurinya. Dan pagi itu saat Aura terbangun dari tidur, dirinya telah melupakan apa yang terjadi semalam.
Tentu saja hal itu tak disia-siakan oleh Kenzo, Ia memanfaatkan hal itu dan berbohong bahwa Aura telah melecehkannya. Sehingga dengan begitu Kenzo akan memiliki alasan untuk mengikat wanita cantik itu bersamanya. Ya, Kenzo mengakui bahwa ia telah jatuh hati padanya, senyumannya , tawanya, sungguh membuat Kenzo merasa bahagia. Rasanya Kenzo ingin menyimpannya dan mengurungnya untuk Kenzo sendiri. Karena Kenzo merasa tidak rela jika harus berbagi apa yang sudah menjadi miliknya.
***
Tepat pukul 5 sore, Kenzo dan Aura sampai di bandara paris. Kenzo melihat dirinya yang sepanjang hari murung dan irit bicara. Kenzo cukup mengerti, semua ini pasti karena kejadian kemarin. Dia telah menganggap dirinya sudah tidak suci lagi karena bangun dalam kondisi tubuh yang polos tak memakai apapun, padahal nyatanya tidak demikian.
"Jangan melamun ! Perhatikan jalanmu !" tegur Dandi pada Aura yang hampir terjatuh jika Kenzo tidak sigap meraih tangannya.
"Ah iya pak bos, maaf." jawab Aura dengan tertunduk lesu.
"Lalu?" tanya Aura merasa heran.
"Panggil sayang atau apapun terserahmu." jawab Kenzo.
"Baik Ken." Jawab Aura singkat.
Aura benar-benar menurut pada Kenzo, tidak ada bantahan sama sekali. Kenzo merasa senang saat Aura patuh seperti itu. Namun di sisi lain, Aura juga merasa sedih melihat dia melakukannya karena terpaksa. Bahkan sudah jarang sekali Kenzo melihat senyumannya terukir di wajah cantiknya sejak malam itu.
"Dimana rumahmu biar aku mengantarkanmu?" tanya Kenzo.
"Tidak perlu Ken, kamu pasti lelah, pulanglah. Aku akan naik taksi." Tolak Aura dengan lembut.
"Aku tak menerima penolakan apapun, Aura." dengan sedikit tatapan intimidasi Kenzo, akhirnya Aura mengalah dan mengijinkan Kenzo untuk mengantarnya pulang. Tidak butuh waktu yang lama, kami pun sampai di rumahnya yang terlihat sangat besar dan mewah seperti milik Kenzo. Ya, Kenzo telah menyelidiki latar belakang Aura, wanita itu bukan dari kalangan biasa. Dia merupakan anak tunggal dari pemilik Carista grup yang eksistensinya hampir menyamai perusahaan Kenzo.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, kamu berhati-hati di jalan.” Pamit Aura undur diri di hadapan Kenzo bergegas turun dari mobil Kenzo.
"Tunggu!" perintah Kenzo lalu mengikutinya turun dari mobil.
"Ada apa?" tanya Aura merasa heran dan berbalik ke arah Kenzo.
"Cup." Kenzo langsung mengecup keningnya dan memeluknya sekilas.
"Istirahatlah, jaga dirimu baik-baik ya, besok kamu bisa libur," ucap Kenzo sambil mengelus puncak kepalanya.
__ADS_1
Aura langsung terkejut dan mematung di tempat, membuat wajahnya terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
"Baiklah, aku pulang dulu. See you dear." ucap Kenzo.
“Hah... Akhirnya kami berpisah juga. Sebenarnya aku ingin sekali membawanya pulang. Bisa melihat wajah cantiknya setiap hari, disambut olehnya saat aku pulang bekerja, bisa makan masakannya .saat aku pulang bekerja, bisa makan masakannya. Membayangkannya saja sukses membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.” batin Kenzo dengan senyuman mengembang di wajahnya.
***
"Bagaimana kerjaan kamu, Ken?" tanya Ayah Dandi yang sedang mengintrogasi Dandi di meja makan.
"Baik ayah, mereka sangat senang bisa bekerja sama dengan kita dan kabar baiknya lagi perusahaan itu ternyata di pegang oleh om Zico." jawab Kenzo antusias.
"Zico yang pernah mendekati mamamu dulu?" tanya Dandi memastikan.
"Iya, perusahaan itu milik keluarga istrinya dan om Zico lah yang mengurusnya sekarang," ucap Kenzo sambil melanjutkan makannya.
"Ternyata dunia sempit sekali ya sayang." sahut mama menimpali perkataan Kenzo.
"Apa ? Kamu masih berharap ketemu dia lagi ? Iya ?" tuduh ayah Dandi yang sepertinya cemburu karena yang Kenzo tahu om Zico sempat mengejar mama saat ayahnya sedang sakit dulu.
"Sudah... Jangan cemburu ! Udah punya dua anak juga nih." tutur mama mencubit hidung ayah Dandi dengan gemas.
"Ehem... Ehem..." Kenzo dan Lisa sontak saja menggoda mereka.
"Tolong dong kalian jangan mesra-mesraan di depan jomblo kayak kita gini." sindir Lisa memasang tampang pura-pura sedih.
"Kita ? Kamu kali yang jomblo, kakak mah udah nggak jomblo lagi," ucap Kenzo berbalik menggoda Lisa.
"Apa?" ucap mama, ayah dan Lisa secara bersamaan.
"Kakak sudah punya pacar ? Siapa ? Cantik nggak ? Cantik mana sama aku?" muncul juga mulut kepo adik Kenzo ini dengan menyerangnya dengan pertanyaan beruntut.
"Iya Ken, siapa ? kok nggak dikenalin sama mama ?" ucap mama Daisy menimpali.
"Iya, kok bisa ada yang mau sama kamu." sahut ayah Dandi dengan asal.
"Nanti aku kenalin, sekarang masih proses, susah banget di dapetin." Curhat Dandi pada kedua orang tuanya.
"Kamu harus gercep Ken, biar nggak diduluin orang. Kalau perlu pake cara ayah saja waktu mengejar mama kamu," ucap ayah Dandi dengan antusias.
"Memangnya cara ayah gimana?" tanya Kenzo penasaran.
"Ah... Udah-udah, jangan didengerin omongan ayah kamu! Kamu harus deketin dia dengan cara terhormat dan tetap hargai dia sebagai wanita, mengerti." sahut mama Daisy yang membekap mulut ayah Dandi agar tidak melanjutkan perkataannya.
"Apa sih sayang ? Aku kan cuma mau ngajarin anakku," ujar ayah Dandi merasa tak terima.
"Tapi ajaran kamu itu nggak bener, aku nggak mau ya nasib wanita itu sama kayak aku dulu.” sahut mama Daisy merasa kesal pada ayah Dandi.
"Tapi kan akhirnya kamu bahagia sama aku." balas ayah Dandi tak mau kalah.
"Tapi tetep salah Dandi,” ucap mama Daisy.
"Ah sudahlah, Ken sudah punya cara sendiri. Sekarang lebih baik kita makan ya, Ken sudah lapar." akhirnya mereka pun melanjutkan acara makan malam meraka yang sempat tertunda.
Sungguh Kenzo sangat bersyukur bisa terlahir dari keluarga ini. Saling menyayangi dan hangat setiap harinya. Dan Kenzo pastikan suatu saat nanti akan ia akan melengkapi lagi dengan hadirnya Aura sebagai istrinya dirumah ini.
__ADS_1
Pagi ini Kenzo kembali ke kantor, melanjutkan rutinitasnya yang hampir sama setiap harinya. Sudah 3 bulan ini Kenzo memimpin perusahaan papanya dan syukurlah dalam waktu yang cukup singkat itu ia berhasil mendapat beberapa klien perusahaannya, yang tentunya berpengaruh bagi kemajuan perusahaan kami di masa depan. Namun ada yang sedikit berbeda kali ini, ya Aura, Kenzo memintanya untuk libur saja hari ini. Sungguh, rasanya Kenzo pun jadi tidak bersemangat karena tidak bisa melihatnya seharian nanti. Kenzo awali pekerjaannya dengan setumpuk berkas yang hampir menggunung.
Baru saja Kenzo tinggal 3 hari namun pekerjaan sudah menumpuk sebanyak ini, biasanya akan ada Aura yang membantunya menyelesaikannya. Tapi kali ini terasa berbeda, Kenzo harus berjuang sendiri.