Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 17


__ADS_3

"Maaf nona saya lancang, teman anda sedang mabuk dan tidak sadar di bar kami, kami mencoba membangunnya tapi tetap tidak sadarkan diri.” jawab si bartender pria.


"Ah iya baiklah, tolong kirim alamatnya saya akan segera kesana." sahutnya.


"Alamatnya di jalan A no 12 nona, kalau begitu saya tutup teleponnya."


Setelah setengah jam, akhirnya Fika menemukan keberadaan Rico, ia sangat terkejut melihat kondisi pria itu.  Terlihat sangat menyenangkan dengan bau alkohol yang menyengatkan.  Ya, memang sangat kebetulan Fika bisa bertemu dengan Rico di pulau ini.


Mereka bertemu disaat Fika sedang meninjau proyek barunya berada di Bali.  Sejak saat itu hubungan mereka semakin akrab dan sering bertemu diluar karena ia bingung harus membawa Rico pergi kemana. Akhirnya ia memutuskan membawa Rico ke dalam apartemennya.  Dengan susah payah, ia membopong tubuh berat pria itu menuju tempat tinggalnya.


“Hah… Kamu menyusahkan aku sekali kak.” gerutu Fika di sepanjang jalan.


Dengan hati-hati, ia meletakkan tubuh pria itu di atas ranjangnya, sepatunya juga berniat untuk sangat kotor membantu melepas bajunya yang bau alkohol.  Namun, sebelum sempat melepas lengan bajunya, tangan Fika dihentikan oleh Rico yang masih belum sadar. Lalu,  memegang tangan Fika sangat kuat lalu menarik dan menindih tubuh mungilnya di atas ranjangnya.


"Fir, akhirnya kamu kembali padanya. Aku sangat merindukanmu. Jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon." racau Rico yang masih dengan posisi intim itu.


"Kak, sadarlah ini aku Fika. Tolong bangunlah kak," ucap Fika dengan menyadarkan Rico yang masih mabuk karena pengaruh alkohol yang sangat kuat hingga membuatnya masih tidak sadarkan diri bahkan berhalusinasi jika saat ini ia sedang bersama Firda.

__ADS_1


Rico benar-benar tak melepaskan cengkramannya, ia sudah hilang kendali dan memaksa untuk meniduri Fika yang dianggapnya itu adalah Firda.  Sedangkan Fika berbagai cara ia melakukan untuk menyadarkan Rico dan mencoba melepaskan diri namun tetap gagal.


Tenaganya tak sebanding dengan Rico.  Pada akhirnya, terjadilah hal yang tidak pernah mereka bayangkan. Entahlah apa yang akan terjadi besok setelah kesalahan yang Rico lakukan malam ini.


“Sial, apa yang telah ku lakukakan. Arghhh,” ucap Rico kesal sembari meremas kepalanya dan menyadari perbuatannya semalam saat terbangun dari tidur dan melihat Fika yang berbaring di samping dirinya dengan kondisi tanpa busana.  Dia merasa sangat menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri, mengapa ia sampai hati melakukan hal berdosa ini pada Fika yang sudah ia menganggap seperti adiknya sendiri.  Sejenak ia memikirkan pada Firda, pujaan hati yang telah menjadi milik orang lain.  Mengingat hal itu kembali terasa sangat sakit, perjuangannya selama ini terasa sia-sia.  la pun tak akan bisa merebut wanita itu untuk kesekian kalinya dengan berkali-kali, apalagi saat ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia juga telah melukai Fika.


Dilihatnya Fika yang masih bangun pulas, segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.  Setelah entah apa yang akan ia lakukan pada Fika.  Mau tak mau ia juga harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya pada wanita itu.


Tak lama setelah Rico melangkah pergi, Fika pun terbangun dari tidurnya.  Dirasakannya ngilu dan sakit pada sekujur tubuhnya.  Ingatannya kembali berputar pada kejadian memilukan yang ia alami tadi malam.  Niat baik yang akan membantu Rico, justru membuat dirinya dalam masalah besar dan kehilangan mahkotanya.  Ia tak tahu harus berbuat apa lagi, harus senang ataukah sedih.  Memang selama ini ia menyimpan perasaan lebih pada pria itu, tapi ia juga tahu diri bahwa sampai kapan pun hati Rico tetap menjadi milik orang lain.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka lebar.  Rico mengamati sekelilingnya dan tak menemukan keberadaan Fika disana.  Segera ia merapikan dirinya dan keluar mencari keberadaan Fika.  Setelah lama mencari, ia tak kunjung menemukan keberadaan Fika disana.  Sudah berkali kali ia menelpon tapi tidak aktif teleponnya namun ponsel Fika tidak aktif.


Ting… Tung… Ting… Tung…


Tiba-tiba bunyi ponsel Rico menemukan nama mamanya disana.


"Hallo, iya ma, ada apa?" ucap Rico.

__ADS_1


"Kamu dimana nak? Semalam kenapa tidak pulang ? Kami semua khawatir padamu, kamu baik-baik saja kan?" tanya mama Risa.


"Aku baik ma, Kemana lagi aku akan pulang. Tadi malam aku menginap di rumah temen.” jawab Rico melalui sambungan telepon di ponselnya.


“Baiklah, cepat pulang ya , hati-hati di jalan. Mama tutup dulu."


Setelah panggilan masuk dari mamanya terhenti, Rico hanya menghela nafasnya dengan panjang. Sungguh ia merasa dipermainkan oleh takdir, disaat hatinya sedang hancur, ia dihadapkan lagi dengan masalah yang ia buat pada Fika.


Wanita itu kini pasti sangat marah dan kecewa, bahkan ia lebih memilih kabur daripada harus meminta pertanggung jawaban darinya atas kesalahannya.  Dengan perasaan yang bercampur aduk, akhirnya Rico meninggalkan apartemen Fika.


Setelah ini ia harus memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk dirinya bersama Fika.  Ia tak ingin keputusannya nanti akan lebih membuat wanita itu terluka.  Bagaimana pun ia harus bertanggung jawab atas kesalahannya.


Sementara itu Fika sudah kembali ke dalam kediamannya.  Sesampainya disana ia hanya bisa mengurung dirinya di kamar.  Membuat ayah dan ibunya merasa heran bercampur khawatir, anaknya yang selalu tersenyum dan ceria kini pulang dengan kondisi yang tak biasa.  Terlihat sedih, murung dan menutup diri pada mereka.


Fika pun sama bingungnya dengan Rico.  Ia tak tahu apakah ia harus berkata jujur ​​pada kedua orang tuanya atau tetap diam saja.  ia merasa khawatir jika ayah dan ibunya tahu pasti akan melukai hati Rico.  Karena selama ini orang tuanya melindungi dirinya dari orang jahat.  Namun disisi lain, ia merasa takut jika perbuatannya tadi malam akan membuat dirinya hamil duluan.  Itu pasti akan lebih membuat kedua orang tuanya menjadi murka.


“Arghhhh... Apa yang harus aku lakukan, Tuhan.” teriak Fika membuat dirinya merasa frustasi akan permasalahan yang dihadapinya saat ini. Ia memukul kepalanya dengan kasar untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan ini. Haruskah dirinya meminta pertanggung jawaban dari Rico yang tak mencintainya atau membuat dirinya tidak perawan lagi hingga mengandung anaknya tanpa menikah. Sungguh Fika harus berbuat apa untuk mengatasi kesalahan fatalnya agar tidak menyesal di kemudian harinya nanti.

__ADS_1


__ADS_2