
Perintah Kenzo melalui intercomnya itu. Tanpa menunggu wakyu yang lama, Aura pun datang dan berdiri tepat di depan meja Kenzo.
"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya Aura dengan gugup dan tak berani menatap wajah bosnya.
"Besok ada pertemuan penting dengan Ceno grup Singapura, kamu yang akan ikut saya," ucap Kenzo tegas.
"Kenapa saya yang ikut rapat dengan bapak ? Saya hanya anak magang, takut malah merepotkan bapak disana." jawab Aura jujur.
"Disini saya bosnya, jadi perkataan saya adalah mutlak. Tidak ada bantahan dan penolakan apapun," ucap Kenzo tegas membuat nyali Aura down seketika.
" Ba-baik Pak, akan segera saya siapkan keperluan meeting nanti." jawabnya gugup sedikit bergetar. Mau tidak mau akhirnya Aura hanya mematuhi perintah bosnya itu, mungkin nanti ia juga bisa sekalian mampir ke rumah neneknya disana.
"Ya sudah, pergilah. Lanjutkan pekerjaanmu!" perintah Dandi yang dijawab anggukan oleh Aura.
***
Makan siang pun tiba, seperti biasa Aura lebih memilih makan sendiri di meja kerjanya karena mamanya terlalu protektif dan meminta Aura untuk membawa bekal saja dari rumah. Selama jam istirahat, Aura hanya menghabiskan waktu berdiam diri di meja kerja miliknya. Ia membaca komik dan novel yang memang sudah menjadi kebiasaannya. Ia merasa dengan begitu ia bisa sejenak menghilangkan penat dan pusing karena deadline yang Kenzo berikan padanya.
Aura merasa semakin hari bosnya itu makin kelewatan, selalu memarahinya karena masalah kecil dan selalu berhasil membuatnya merasa kesal. Ingin sekali dirinya segera mengakhiri magang ini dan kembali ke kampus saja, namun apa mau dikata orang, jika ia ingin nilai sempurna maka ia harus bisa bersabar menyelesaikan tugas magangnya disini. Bersabar menghadapi Kenzo yang ketus setiap hari. Sama halnya dengan Aura, Kenzo pun menghabiskan jam istirahatnya di dalam ruangan dan melanjutkan pekerjaan yang ia rasa tak ada habisnya.
Kedua bola matanya sesekali melirik ke luar ruangan, mengamati Aura yang terkadang tersenyum dan tertawa sendiri sambil menatap layar ponselnya. Ada kalanya Kenzo merasa sangat penasaran, apa yang Aura lihat hingga membuat dirinya senyum-senyum sendiri bahkan tertawa sendiri disana. Namun rasa yang tinggi membuat Kenzo hanya mampu menahan rasa ingin tahunya dan terus mengawasi Aura dari dalam ruangan miliknya sambil sesekali ikut tersenyum.
Entahlah, akhir-akhir ini Kenzo lebih sering mengawasi sekertarisnya yang selalu ia anggap ceroboh. la merasa ada perasaan nyaman disaat melihat senyuman manis Aura, ia merasa senang disaat berhasil memarahinya serta membuat Aura merasa kesal adalah hobi baru Kenzo. Terasa aneh tapi itulah kenyataannya. Kenzo pun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Ia selalu merasa jantungnya ingin melompat dikala Aura tersenyum ke arahnya. Ia merasa kesal disaat ada pria lain yang mencoba mendekati dan menggoda Aura. Seperti saat ini, lagi-lagi manajer keuangan yang bernama Rangga itu menghampiri Aura. Mencoba menggoda Aura dan berhasil membuat wanita itu tertawa lepas.
Kenzo merasakan nyeri disudut hatinya melihat pemandangan itu, ia ingin rasanya segera menjauhkan pria genit itu dari sekertarisnya. Tapi bagaimana ? la sama sekali tak memiliki hak untuk melakukan itu . Tak mungkin baginya yang bukan siapa-siapa berani membatasi pertemanan Aura. Apa lagi ia sendiri belum mengerti sebenarnya perasaan apa yang telah ia miliki untuk Aura, ia harus memastikannya.
“Aku jatuh cinta ? Oh tidak bisa. Tak pernah tertulis dalam kamus hidupku bahwa aku akan jatuh cinta, apa lagi secepat ini. Tidak mungkin.” kata Kenzo dalam hati.
Tepat pukul 12 siang, pesawat yang ditumpangi oleh Kenzo dan Aura telah tiba di Singapore Changi Airport. Setelah turun dari pesawat sudah ada pihak dari hotel yang menjemput mereka. Mereka akan beristirahat terlebih dahulu dan akan menemui rekan kerjanya nanti sore.
Disini mereka akan tinggal selama tiga hari karena di hari terakhir mereka diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan Ceno grup yang mana akan menjadi partner bisnisnya nanti.
"Ini kunci kamarmu, beristirahatlah sebentar, kita ada pertemuan nanti jam 3 sore," ucap Kenzo melempar kunci kamar Aura pada dirinya.
"Siap bos, kalau begitu saya permisi." sahut Aura lalu pergi menuju kamarnya.
***
Tepat pukul 15.00 wib, Kenzo dan Aura sudah berada di restoran hotel tempat mereka menginap, disinilah mereka akan mengadakan pertemuan rapat itu. Tak lama menunggu akhirnya wakil dari Ceno grup datang. Dia seorang pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan, didampingi pria muda yang juga sama tampannya.
Tunggu dulu, Kenzo sepertinya tidak asing dengan wajah pria ini, dia ingat pernah bertemu dengannya dulu.
"Selamat sore tuan, nona." sapa pria itu mengulurkan tangannya pada Kenzo dan Aura secara bergantian.
"Iya, selamat sore tuan, silahkan duduk," ucap Kenzo sopan.
"Bagaimana kabar ayahmu, Ken?" tanya pria itu.
"Maaf anda mengenal ayah saya?". tanya Kenzo merasa heran.
"Apa kamu sudah melupakanku?" tanya pria paruh baya itu balik.
"Ah iya maaf tuan." sesal Kenzo.
"Aku Zico, sudah ingat kamu? " tanya Zico lagi.
"Om Zico yang itu?" dengan sedikit terkejut dan membulatkan kedua bola matanya menatap ke arah Zico.
"Iya, orang yang pernah mengejar mamamu. Hahaha... " jawabnya sambil tertawa lebar.
"Bukannya om mengurus Angie grup di Perancis ? Kenapa bisa disini?” tanya Kenzo to the point.
__ADS_1
"Perusahaan di Perancis sekarang dipegang adikku, aku disini membantu mengurus perusahaan istriku." jawabnya.
"Jadi, Cino grup ini milik istri om?" tanya Kenzo memastikan.
"Iya begitulah dan kenalkan ini putraku namanya Max." jawab Zico memperkenalkan anaknya pada Kenzo.
"Salam kenal senang bertemu dengan kalian," ucap Max tersenyum.
"Iya senang bertemu denganmu juga." jawab Kenzo.
"Siapa wanita cantik ini?" tanya Zico mengalihkan pandangannya menuju ke arah Aura yang duduk di meja ujung sana.
"Dia sekertarisku, Aura." jawab Kenzo cepat.
"Masih muda dan sangat cantik." puji Zico.
Selama dua jam mereka berbincang sekaligus membicarakan kerja sama itu dan sesekali mengingat masa lalu Zico yang dulu pernah menaruh hati pada mamanya Kenzo.
"Baiklah, senang bisa bekerja sama denganmu, besok jangan lupa datang ya di pesta kami, ajak juga wanita cantik ini bersamamu," ucap Zico.
"Iya om pasti aku ajak, Aku juga merasa senang bisa bertemu om lagi." jawab Kenzo tersenyum.
"Baiklah, kami pergi dulu ya, sampai jumpa." pamit Zico undur diri di hadapan Kenzo.
“Iya om hati-hati dijalan." Sungguh Kenzo tak menyangka pemilik perusahaan besar itu ternyata adalah Zico, pria yang sempat dikenalnya dulu. Zico, pria yang sangat baik dan menyayangi mamanya, ya meski akhirnya Daisy tetap memilih Dandi. Tapi Kenzo sangat bersyukur, dengan begitu kerja sama ini pasti akan lebih mudah ke depannya.
"Bos, besok pagi sampai siang kita tidak ada jadwal. Bolehkah saya pergi sebentar?" ucap Aura sedikit takut pada bosnya itu tak mengijinkannya pergi.
"Kemana ?" tanya Kenzo.
"Ke rumah nenek saya, dia tinggal tak jauh dari sini." jawab Aura.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." sahut Kenzo.
"Saya antar atau tidak pergi sama sekali." jawab Kenzo tegas tak menerima penolakan apapun.
"Baikah, jika bos memaksa." sahut Aura pasrah. Lagi-lagi bosnya ini bertingkah semaunya, menyebalkan dan menjengkelkan pikirnya.
“Dasar bos nyebelin, tukang memaksa ,untung ganteng.” gerutunya sambil mencuri pandang pada Kenzo di hadapannya.
Sudah 15 menit Aura menunggu di depan kamar Kenzo, namun pria itu tak juga muncul. Sesuai janjinya kemarin harusnya pagi ini Kenzo akan mengantar Aura mengunjungi neneknya yang sudah lama menetap di Singapura. Aura yang sudah tidak sabar akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar bosnya itu.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada jawaban apapun.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
"Masuklah," ucap Kenzo.
"Hah?" Aura hanya diam di tempat.
"Ya kamu masuklah," ucapnya lagi menarik tangan Aura melangkah masuk ke dalam kamar.
"Bantu saya menyiapkan pakaian, saya akan mandi." sahut Kenzo lagi lalu bergegas ke kamar mandi.
“Wah, makin kelewatan nih orang. Kenapa berasa jadi pembantunya begini.” umpat aura dalam hati.
Akhirnya dengan terpaksa Aura pun menyiapkan apa yang diminta bosnya. Ia memilih dan memilah baju yang kiranya cocok untuk Kenzo pergi dengannya nanti. Aura memilih celana jeans pendek, kaos putih dan kemeja pink yang sepertinya akan terlihat manis di pakai oleh bosnya itu.
__ADS_1
20 menit kemudian, Kenzo melangkah keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk putih, yang hanya menutupi bagian pinggang hingga lututnya. Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Aura sontak saja menoleh ke arah Kenzo dan ya dilihatlah Kenzo yang masih telanjang dada berjalan ke arahnya.
Rasa malu... Gugup... Itu yang Aura rasakan saat ini. Pemandangan langka di pagi hari. Sungguh tubuh yang indah, dada bidang dengan perut kotak-kotaknya, ditambah tetesan air yang jatuh dari rambut basahnya.
“Ah, sungguh ini terlihat sangat seksi. Stop Key! Stop! Kenapa jadi mesum begini otakmu.” gumamnya pelan mencoba menjernihkan pikirannya.
"Sudah puas melihat diriku?" sindir Kenzo yang menyadarkan Aura yang bengong melihat dirinya.
"Ah iya... Eh, tidak maksudku. Ini baju anda bos, kalau begitu saya tunggu diluar," ucap Aura terlihat gugup dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Disini saja, saya akan ganti di dalam. Setelah ini bantu keringkan rambut saya," ucap Kenzo sembari berjalan kembali ke kamar mandi membawa pakaiannya.
“Sial... Bisa-bisanya aku serangan jantung kalau sering melihat dia seperti gitu.” kata Aura dalam hati.
Setelah drama yang cukup menarik pagi tadi, kini mereka berdua telah sampai di salah satu rumah yang cukup mewah disana. Aura memilih masuk terlebih dulu diikuti Kenzo dibelakangnya. Disana ternyata sudah ada yang menyambut kedatangan mereka, ya dia Reni nenek Aura. Wajah keriputnya masih terlihat cantik dengan senyuman mengembang melihat kedatangan cucunya.
"Aura sayang, nenek sangat merindukanmu," ucap Reni sambil memeluk Aura dengan erat.
"Aku juga sangat merindukanmu nek." Aura membalas pelukan Reni.
"Ayo masuk ke dalam rumah." ajak Reni mempersilahkan Aura dan Kenzo melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Mereka duduk bersama di ruang keluarga, menanyakan kabar satu sama lain dan menyalurkan rasa rindu yang sudah sangat lama tak bertemu. Sedangkan Kenzo hanya diam sambil sesekali tersenyum mendengar cerita dua wanita di hadapannya ini.
"Ah iya nek kenalkan ini pak Kenzo bosnya Aura," ucap Aura memperkenalkan Kenzo pada neneknya.
"Kenzo, nyonya." Kenzo tersenyum manis diiringi mengulurkan tangannya pada Reni. "
“Jangan panggil nyonya, panggil nenek saja," pinta Reni.
"Ah baiklah nek, senang bertemu denganmu," ucap Kenzo tersenyum manis.
"Nenek juga senang bertemu denganmu, sering-sering lah berkunjung jika ada waktu kosong."
"Nenek, mana mungkin ? Pak Kenzo itu orang sibuk nek, nggak bisa sembarangan pergi begitu saja." sahut Aura.
"Tentu saja nek, aku pasti akan berkunjung lain waktu," ujar Kenzo tak mempedulikan perkataan Aura.
"Baguslah, kalian duduklah dulu, nenek mau ke dalam ambilin minum buat kalian." Kenzo dan Aura merasa canggung ditinggal berdua seperti ini, masing-masing dari mereka enggan memulai pembicaraan. Hingga datang seorang pria tampan yang tiba-tiba saja memeluk Aura dari belakang.
"Aura, aku sangat merindukanmu," ucap pria itu dengan manja.
"Aku juga merindukanmu, Nik." jawab Aura yang sepertinya senang dipeluk pria itu.
Kenzo yang sedari tadi diam dibuat terkejut, siapa pria ini ? Mengapa begitu mudahnya ia memeluk dan bermanja pada Aura seperti itu. Mungkinkah dia pacarnya ? Tunangannya ? Pikir Kenzo sudah bercabang kemana-mana pertanyaan itu muncul, memikirkan Aura telah dimiliki pria lain. Mengapa hatinya terasa sakit sekarang.
“Nak... Nak Kenzo… " panggil Reni yang melihat Kenzo melamun sejak tadi.
"Ah ya nek, ada apa ?" tanya Kenzo.
"Kenapa melamun ? Ini minumlah, kamu pasti haus." Nenek Reni menyerahkan segelas jus pada Kenzo.
"Iya nek, terima kasih." Kenzo menerima gelas itu dan ia langsung meminumnya. Sepertinya Kenzo butuh lebih banyak minum untuk mendinginkan hati dan pikirannya yang kini terasa panas.
"Siapa pria tadi ? " tanya Kenzo memecah keheningan di dalam mobil.
"Ah itu Niko, sepupuku." jawab Aura jujur.
"Oh... Baguslah," ucap Kenzo tanpa sadar. Kenzo merasa sedikit lega mengetahui pria yang memeluk Aura tadi hanyalah sepupunya. Itu artinya sampai sejauh ini belum ada saingan untuk dirinya. Ya semoga saja , doa Kenzo dalam hati.
"Bagus ? Apanya bos ?" tanya Aura merasa heran menatap ke arah Kenzo.
__ADS_1
“Emm... Bukan, bukan apa-apa. Kita sudah sampai turunlah." jawab Kenzo mengalihkan pembicaraan itu.
"Kenapa berhenti disini Pak bos ? Pak bos mau beli sesuatu?" tanya Aura merasa heran karena Kenzo membawanya ke mall bukannya balik ke hotel.