
Tidak terasa kandungan Firda kini sudah menginjak 4 bulan, Firda semakin banyak makan, tak jarang juga menginginkan hal yang aneh-aneh. Seperti malam ini, dirinya terbangun dan rasanya ia ingin sekali makan nasi goreng buatan Dandi. la merasa bingung harus bagaimana, ia gengsi meminta hal itu pada sang suami. Tapi di sisi lain dirinya tak bisa tidur sebelum keinginannya terpenuhi.
“Aduh, masa iya sih aku harus bangunin dia ? Aku kan gengsi. Kamu ada-ada saja sih nak, bikin mama malu saja di depan ayahmu.” gerutu Firda sambil mengusap-usap perut buncitnya. Akhirnya dengan terpaksa ia memutuskan untuk membangunkan pria itu.
"Dandi bangun! " ucap Firda pelan sambil sedikit menatap bahu Dandi.
"Ah ya ada apa sayang ? Kamu butuh sesuatu ?" tanya Dandi dengan lembut.
"Ak-aku ingin makan nasi goreng buatanmu." jawab Firda menahan rasa malu.
"Emmm... Baiklah, anak ayah mau nasi goreng ya, ya sudah sebentar ya ayah bikinin untuk anak tersayang ayah," ucap Dandi sembari mengelus perut Firda yang sudah membuncit.
Setengah jam kemudian, Dandi membawakan nasi goreng ke kamarnya. Melihat hal itu Firda terlihat antusias dan segera merebut piring dari Dandi. Ia memakannya dengan lahap tanpa peduli pada Dandi yang mengamatinya sedari tadi.
"Pelan-pelan sayang makannya, tak akan ada yang merebut makanannya darimu." tutur Dandi sambil menahan senyumannya.
"Emmm.. Sudah habis makanannya. Terima kasih ya," ucap Firda singkat lalu menyerahkan piring itu kembali pada Dandi.
Kini Firda merasa wajahnya sudah memerah merona karena menahan malu. Baru kali ini ia mau bicara pada Dandi, bahkan meminta sesuatu darinya.
"Baiklah, sekarang kamu kembali tidur ya. Aku akan membersihkan piring kotor ini." sahut Dandi lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruang dapur.
***
"Sayang, aku kerja dulu, kamu hati-hati ya di rumah. Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku dan untuk kamu jagoan ayah, baik-baik disana. Jangan nyusahin mama terus. Tunggu ayah pulang ya nak." setelah pamit pada istri dan calon anaknya, Dandi segera melajukan mobilnya ke kantor untuk bekerja.
“Tolong, jangan terlalu lembut padaku Dan, aku tak mau sampai jatuh cinta padamu,” ucap Firda yang masih pandangan matanya menuju ke arah perginya Dandi yang melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah mewahnya.
Dalam 5 bulan ini Dandi selalu bersikap lembut dan baik padanya. Meskipun Firda terus mengacuhkannya, Dandi tidak pernah mengeluh atau marah padanya. Terkadang Firda merasa bersalah karena hal itu, namun di sisi lain masih terasa sakit mengingat bagaimana ia bisa menikah dengan Dandi si pria yang telah menodai dirinya.
Sementara itu di kantor Dandi terlihat sangat sibuk, ia berencana membuka beberapa cabang toko lagi di berbagai daerah. Apalagi ditambah dengan sekretarisnya yang sedang cuti menikah, mau tidak mau dirinya harus lebih banyak beban pekerjaan selama satu minggu ini. Membuat dirinya sering lupa makan dan sering jarang membuat begadang.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," ucap Dandi yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di atas meja kerjanya.
"Permisi pak, sudah waktunya makan siang, saya melihat beberapa hari ini bapak lebih jarang makan. Lebih baik bapak makan dulu, saya takut nanti bapak akan sakit terus seperti ini." tutur Jino yang Dandi masih sibuk di jam makan siangnya.
"Ah iya terima kasih sudah mengingatkanku, Jino. Lagi pula ini tinggal sedikit kok. Aku nggak mau pulang telat, istriku sedang hamil takut dia kenapa-napa." jawab Dandi tanpa menoleh ke arah tangan kanannya.
"Iya aku paham Dan, tapi kalau kamu terus memforsir tenagamu dan selalu lupa makan seperti ini, nanti kamu bisa sakit. Terus siapa yang bakal jagain istrimu? " ucap Jino terus mengingatkan Dandi.
"Huh... Lama-lama kamu lebih cerewet dari mamaku. Baiklah, kamu pesenin aku makan, biar aku makan disini saja." jawab Dandi menyerah lalu berhenti dari kesibukannya sejenak.
"Nah begitu dong, sebentar aku pesenin. Apapun akan saya lakukan untuk membuat kalian berdua bahagia.” pamit Jino di hadapan Dandi.
“Sehat selalu ya istriku dan anakku,” ucap Dandi sambil memandangi foto istrinya karena hanya dengan melihat wajah istri itu ia merasa semangat dan ia ingin menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar bisa pulang tepat waktu.
“Bi, mau kemana kok buru?” tanya Firda yang melihat pembantunya berjalan dengan sedikit berlarian.
"Ah ini nyonya, tuan Dandi meminta saya mengantar dokumen ini, beliau lupa membawanya dan akan ada rapat penting lagi nanti." jawab si bibi.
"Biar saya saja yang mengantarnya, kebetulan saya ingin sekali jalan-jalan. Mungkin bayiku ingin bertemu dengan ayahnya," ucap Firda meminta berkas itu pada bibi.
"Tapi nyonya sedang hamil besar. Saya takut nyonya kenapa-napa." sahut bibi merasa khawatir.
"Tenang saja, saya akan berhati-hati. Sudah ya bi, saya pergi dulu takutnya nggak keburu nanti." pamit Firda bergegas pergi menuju kantor suaminya.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Firda mengunjungi kantor Dandi. Entah kenapa ia ingin sekali melihat pria itu. Ya mungkin saja ini keinginan si bayi di dalam kandungannya. Tak lama kemudian, Firda sampai di kantor suaminya. la sedikit kagum pada Dandi, ia masih muda namun sudah bisa memimpin perusahaan sebesar ini.
"Nyonya muda... Nyonya ingin bertemu dengan tuan ?" sapa salah satu karyawan Dandi yang mengenali wajah istri bosnya itu.
Ah iya, dimana ruangan Dandi?" tanya Firda dengan tersenyum ramah.
"Mari saya antar." akhirnya Firda mengikuti karyawan pria itu menaiki lift hingga di lantai gedung paling atas.
"Silahkan nyonya ini ruangannya, kalau tidak ada apa-apa lagi saya pamit undur diri," ucap karyawan pria itu dengan sopan.
"Iya, terima kasih sudah mengantarku." jawab Firda tersenyum.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Firda langsung masuk ke ruangan Dandi. la sangat terkejut hingga menjatuhkan berkas yang dipegangnya sedari tadi. Bagaimana tidak terkejut, hal pertama kali yang ia lihat di ruangan itu adalah seorang wanita seksi yang sedang duduk manis di pangkuan suaminya dengan memeluk leher Dandi dengan mesra.
Dengan langkah kaki gontai dan air mata yang sudah berlinang di wajah cantiknya, Firda segera pergi dari ruangan itu tanpa menunggu penjelasan dari Dandi yang menatap terkejut ke arah dirinya.
"Firda..." ucap Dandi yang sama terkejutnya dengan Firda.
Dengan segera Dandi mendorong tubuh wanita seksi itu hingga terjatuh di atas lantai tanpa menghiraukan keluhan dari wanita itu. Ia merasa tak percaya jika Firda akan datang disaat seperti ini. Sudah bisa dipastikan bahwa istrinya itu akan salah paham.
"Jino!" teriak Dandi merasa kesal.
"Aku mau kamu urus wanita ****** ini! Usir dia dari hadapanku dan pastikan dia tidak akan bisa masuk ke negara ini lagi, sekarang!” setelah memberi perintah pada tangan kanannya, Dandi langsung berlari mengejar Firda, jika wanita hamil seperti berlarian di luar sana sangat membahayakan. Ia merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya nanti. Beruntung saja Dandi berhasil mengejar keberadaan Firda, dilihatnya Firda yang berlari menyebrang jalan.
Namun sebelum sempat ia sampai di tepi jalan, ada sebuah truk besar yang melaju kencang ke arah Firda.
"Firda!" teriak Dandi masih terus berlari mencoba menyelamatkan istrinya dan sesuatu yang terjadi.
Brak… Brakk... Brak...
Ya. Dandi berhasil menyelamatkan nyawa Firda, Firda hanya terjatuh dan kepalanya membentur tiang lampu lalu lintas. Sedangkan Dandi tidak berhasil menjauhi truk itu hingga membuat tubuhnya tertabrak oleh truk itu. Kondisi Dandi sangat parah, tubuhnya terpental jauh dan darah dimana mana. Beberapa kendaraan motor berhenti dan menolong Dandi dan Firda menuju ke rumah sakit.
Dengan tubuh yang masih terasa sakit dan lemah, ia mencoba berjalan untuk mencari keberadaan suaminya.
"Sayang, kamu mau kemana? Kamu masih sakit, istirahat dulu nak," ucap Dissa menahan tubuh Firda yang akan keluar dari ruangannya.
"Dandi dimana ma? Dia baik-baik saja kan ma ? Dia sudah sadar kan?" tanya Firda merasa khawatir.
"Dandi baik-baik saja nak, kamu istirahat dulu. Nanti saja ya mama antar kamu ketemu dengan Dandi, kasian bayi kamu," ucap Dissa berusaha membujuk Firda.
"Nggak ma, aku mau melihat Dandi sekarang." tolak Firda, dia tetap kekeh mencari dimana suaminya.
"Baiklah, sini kamu naik ini, mama antar kamu." akhirnya Dissa memilih mengalah dan membawa Firda untuk menemui Dandi menggunakan kursi roda.
“Papa, Dimana Dandi?” tanya Firda yang melihat papa Daniel duduk termenung di depan ruang inap VVIP.
"Di dalam nak, masuklah." jawab Daniel dan Firda pun masuk ke dalam ruangan itu. Dilihatnya Dandi yang masih tertidur pulas, banyak peralatan medis yang terpasang di bagian tubuhnya. Melihat hal itu Firda sontak saja menangis dan memeluk suaminya. Ia merasa menyesal telah memperlakukan Dandi dengan sangat buruk selama ini.
"Dandi... Maafkan aku, aku sudah mengingat semuanya. Aku mohon bangunlah, jangan pernal tinggalin aku," ucap Firda yang memiliki nama Daisy menangis terisak meratapi suaminya.
"Saat ini suamimu mengalami koma nak, hanya sedikit harapan untuknya bisa sadar." sahut Dissa yang juga menangis di sisi anaknya.
"Nggak mama, aku yakin dia akan sadar. Meskipun kemungkinannya hanya 10% saja. Aku akan tetap mempertahankan Dandi. Jangan pernah berpikir jika aku akan menyerah." tutur Daisy dengan air mata yang terus mengalir di wajah cantiknya.
“Dandi, biarkan aku menunggumu sekarang. Aku akan menebus semua kesalahanku padamu. Jadi, aku mohon kamu bangunlah, jangan tinggalkan aku. Demi aku dan demi anak kita,” ucap Daisy terdengar tulus di hadapan Dandi. Daisy yang selama ini mengalami amnesia atas kecelakaan beruntun itu membuat dirinya lupa ingatan bahkan namanya saja lupa dan digantikan oleh Rico dengan nama Firda.
Semenjak hari-hari itu benar-benar seperti mimpi buruk bagi Firda. Disaat ia kembali mengingat masa lalunya, ia harus kembali kehilangan Dandi. Ia menyesal bercampur kecewa pada dirinya sendiri karena bisa melupakan kekasih yang sangat dicintainya. Sekarang mau tidak mau ia harus menunggu Dandi kembali, sampai kapanpun ia akan tetap setia menunggu suaminya kembali ke sisinya.
__ADS_1
Satu tahun telah berlalu dan Daisy masih setia menunggu Dandi untuk melawan dari masa kritisnya.
“Sayang, sudah satu tahun kamu seperti ini, kapan kamu bangun ? Tidakkah kamu ingin bermain dengan anak kita? Dia sangat tampan sepertimu, aku mohon bangunlah Dandi. Waktu sangat cepat berlalu, tak terasa sudah satu tahun Dandi masih setia berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Selama itu pula Daisy masih setia menemaninya. Kedua orang tua Dandi sempat membujuk dirinya untuk menyerah saja, namun Daisy tetap bertahan menunggu Dandi dari masa komanya. Ia yakin Dandi pasti akan bangun di suatu saat nanti.
"Sudah nak, pulanglah biar mama yang menjaga Dandi. Kamu dari kemarin belum istirahat. Kasian dengan Kenzo, jika harus terus bermalam disini," ucap Dissa mencoba membujuk menantunya.
"Tidak apa-apa ma, baby Kenzo terlihat senang berada disini, sepertinya ia juga ingin menemani ayahnya." tolak Daisy sembari menatap ke arah anak bujangnya yang sedang duduk dipangkuannya.
"Papamu juga butuh bantuan nak mengurus perusahaannya, dia sangat kewalahan menangani dua perusahaan sekaligus. Kamu bantu dia ya nak." kali ini Dissa membujuk Daisy dengan cara yang berbeda.
Memang selama ini ditinggal Dandi, papa Daniel lah yang memanfaatkan itu. Mau tidak mau harus mengurus perusahaannya sendiri juga. Sebenarnya tujuan Dissa adalah membuat Daisy sibuk.
Dissa menatap punggung menantunya itu yang terlihat murung dan sedih di setiap hari. Ia berharap dengan kesibukannya, Firda akan sedikit bisa melupakan dan kesepiannya karena ditinggal koma oleh Dandi.
"Hmmm... Baiklah ma, aku akan membantu papa sebisaku, tapi bagaimana dengan Kenzo?" tanya Daisy.
“Kenzo biar sama mama saja disini, sudah pergilah ke perusahaan papamu." akhirnya dengan terpaksa, Firda meninggalkan Kenzo bersama dengan mertuanya. Ia harus bisa membantu mertuanya mengurus perusahaan, ia tak mau usaha Dandi menjadi hancur dan sia-sia begitu saja.
"Nak, kamu sudah datang." sapa Dandi saat melihat menantunya.
"Ah iya papa, mama memintaku untuk membantumu. Adakah yang bisa ku kerjakan?" tanya Daisy dengan sopan.
"Aku dengar kamu pernah belajar bisnis ya dengan Dandi, kamu pernah jadi asistennya kan?" tanya Daniel pada Daisy yang mengangguk mengiyakan perkataan papanya.
"Emmm, iya papa, itu sudah lama sekali." jawab Daisy dengan ragu-ragu.
"Baiklah papa ingin kamu memeriksa anak cabang perusahaan disini, sedangkan papa akan mengurus kantor pusat," ucap Daniel jujur.
"Apa secepat itukah ? Aku takut akan mengecewakan papa nanti." jawab Daisy merasa kasihan pada papa mertuanya.
“Tidak apa-apa, ada Jino yang akan memandumu nanti. Dia tangan kanan Dandi. Sudah ya kamu bisa mulai bekerja hari ini. Papa mau kembali ke kantor pusat ada pertemuan lagi nanti." pamit Daniel lalu pergi meninggalkan Daisy.
"Iya papa hati-hati di jalan." mau tidak mau akhirnya Firda menerima perintah mertuanya, ia harus mulai belajar mengurus cabang perusahaan Dandi. Kali ini, ia tidak boleh mengecewakan suaminya lagi, ia harus membuat suaminya merasa bangga disaat ia tahu nanti dirinya berhasil mengurus perusahaannya. Firda yang sedang melamun itu tak menyadari jika ada seseorang yang memanggilnya sedari tadi.
"Nyonya," ucap Jino.
"Ah iya, maaf saya sedikit melamun tadi." sahut Daisy.
"Saya Jino sebagai tangan kanan tuan Dandi. Mari ikut saya, saya akan mengantar menuju ruangan nyonya." Daisy mengangguk dan mengikuti langkah kaki Jino.
Tibalah mereka di ruangan yang sangat besar, bersih dan sangat rapi kepemimpinannya.
"Ini ruangan nyonya dan disini saya mempersiapkan beberapa berkas mengenai perusahaan ini. Nyonya bisa membaca terlebih dahulu berkasnya, jika ada yang tidak dimengerti, nyonya bisa menghubungi saya," ucap Jino sopan di hadapan Daisy.
"Iya, terima kasih. Oh ya tolong jangan panggil saya nyonya, saya merasa sedikit kurang nyaman dengan panggilan itu. Panggil aku Daisy saja." jawab Daisy sambil tersenyum menatap ke arah Jino.
"Maaf tidak bisa nyonya, tuan Dandi akan marah nanti jika mengetahui hal itu. Kalau tidak ada apa-apa lagi, saya pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan saya." tolak Jino dengan sopan.
"Hah... Baiklah silahkan." sahut Daisy.
***
"Emmm... kesayangan mama sudah bangun. Maaf ya nak mama tidak bisa menemanimu sekarang. Mama harus bantu kakekmu. Kamu baik-baik ya di rumah, jangan nakal sama nenek, nanti sore kita jengguk ayah sama-sama ya,” ucap Daisy berbicara pada Kenzo kecil yang tersenyum membalas perkataannya.
"Jangan khawatir nak, Kenzo aman sama mama, kamu berangkat gih, hati-hati ya jangan lupa makan siang." sahut Mama Dissa.
__ADS_1
"Baiklah, aku berangkat dulu mama." pamit Daisy undur diri di hadapan Mama Dissa.