
Wanita itu hanya diam saja sambil duduk di pangkuan Kenzo, mengelus dada bidangnya, dan berusaha meraih bibir Kenzo untuk diciumnya. Sesaat sebelum bibir mereka benar-benar menempel. Kenzo terhenyak melihat wanita yang di depannya ini bukanlah Aura. Sontak saja ia langsung mendorong wanita itu hingga jatuh terjerembab di atas lantai.
"Sialan..." maki wanita itu lalu menampar pipi Kenzo dengan keras dan berlalu meninggalkannya.
Kenzo pun terduduk di lantai club sambil menangisi nasib buruknya. Terserahlah orang mau bilang dirinya cengeng, banci atau apalah. Yang jelas saat ini hatinya benar-benar terluka. “Mengapa kamu tega padaku, Aura? Apa salahku? Hiks...” racaunya dalam isak tanggisnya.
Tiba-tiba saja saat Kenzo hendak berdiri dan terhuyung ada sesorang yang sigap menahan tangannya. Memapahnya kembali berdiri lalu mendudukannya di sofa yang ada disana. Orang itu menatap Kenzo dengan lekat dan seketika terkejut bahwa yang ia bantu adalah Kenzo si direktur perusahaan yang belum lama ini bekerja sama dengan perusahaan orang tuanya. Ya, ternyata pria itu adalah Max, putra dari Zico sebagai rekan bisnis Kenzo.
Pria itu sedikit terkejut melihat perubahan penampilan Kenzo yang kini terkesan acak-acakkan, tak serapi seperti pertama kali mereka bertemu. Melihat Kenzo yang sudah tidak sadar, akhirnya Max pun berinisiatif membawanya pulang ke apartemen miliknya karena ia tidak tahu dimana tempat tinggal Kenzo sekarang.
Sepeninggalnya Aura, Kenzo benar-benar terpuruk. Kesehariannya ia habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Dia berubah menjadi pria yang dingin, hobi minum-minuman keras dan pergi ke club malam bersenang-senang dengan para wanita yang ada disana. Dia pun sudah jarang merawat dirinya, tubuhnya terlihat makin kurus, rambut dan jambangnya ia biarkan memanjang dan penampilannya begitu acak-acakan. Sebagai orang tua, baik Dandi maupun Daisy dibuat khawatir dengan perubahan Kenzo.
Putranya itu selalu pulang larut, bahkan kadang tidak pulang sama sekali, dia yang dulu dikenal pria rapi dan pandai merawat diri sekarang berbanding terbalik. Berulang kali Daisy mencoba bertanya, menanyakan keadaan dan perubahannya, namun ia selalu saja menghindar, selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja.
Dandi yang sudah geram dengan kelakuannya, akhirnya ia memutuskan mencari tahu penyebab perubahan putranya itu. la tak menyangka bahwa seorang wanita mampu membuat Kenzo terpuruk seperti ini. Sebagai orang tua Dandi merasa sangat sedih karena tak bisa membantu apapun untuk mengurangi rasa sakit yang tengah Kenzo rasakan.
Aura POV
Sebuah pernikahan adalah suatu hal yang paling dinantikan oleh sepasang manusia yang saling mencintai, mengakhiri kisah mereka di pelaminan dan hidup bahagia bersama. Sama halnya denganku, aku pernah memiliki impian akan menikah dengan pria yang sangat aku cintai dan mencintaiku, menghabiskan sisa umur berdua, suka duka bersama hingga memiliki keluarga kecil yang amat sangat bahagia. Namun sekejap saja impianku tinggalah mimpi saja.
__ADS_1
Bulan depan aku akan menikah dengan seseroang yang bagiku tak seharusnya menjadi suamiku. Memang tak bisa dipungkiri dia juga pria yang baik, tapi aku tidak mencintainya. Karena sejak dulu aku hanya mengaggap dia sebagai kakak laki-lakiku, saudara yang aku sayang dan aku hormati.
Pagi ini Alex mengajakku pergi ke pusat perbelanjaan, kami akan membeli cincin dan gaun pernikahan disana. Sampai disana Alex nampak antusias. Memilih beberapa yang menurutnya akan cocok untuk kami pakai nanti.
Sedangkan aku rasanya ingin berhenti saja, jujur saja, aku ingin sekali mundur dari pernikahan ini. Aku ingin menikmati masa mudaku dan memilih pria yang aku cintai. Tapi itu tidak mungkin, aku tidak bisa egois itu, kebahagiaan kedua orang tuaku berada di tanganku. Dan tentu aku tidak akan sanggup jika harus menghancurkan harapan dan rasa bahagia mereka karena hal ini.
"Sayang kok melamun ? Jadi pilih yang mana ?" tanya Alex menyadarkan lamunanku.
"Ah itu terserahmu saja, aku yakin pilihan kakak pasti akan cocok untukk." jawabku seraya memaksakan senyumanku.
"Baiklah... Em, kamu coba pakaian ini saja." Alex memilihkan sebuah gaun yang cantik untukku coba.
"Bagaimana kak?" tanyaku pada Alex yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Hallo kak, apa ada yang aneh ?" tanyaku lagi.
"Ah... Tidak, kamu sangat cantik," ujarnya lalu menghampiriku. Dia mendekatkan dirinya, menatapku intens sedetik kemudian memelukku dengan secara tiba-tiba.
"Aku merasa beruntung memilikimu Aura." lirih Alex sambil mengeratkan pelukannya di tubuhku.
__ADS_1
"Em... Baiklah kak, aku lapar. Setelah ini kita makan dulu ya," ucapku berusaha menghindar, lalu kembali ke ruang ganti untuk melepas gaun yang ku kenakan ini.
Setelah pertunangan itu Alex kerap kali memperlakukanku seperti ini, tiba-tiba mendekat lalu memelukku. Bahkan pernah sekali ia mencuri ciumanku yang reflek membuatku menamparnya. Entahlah, aku merasa risih dengan sikapnya itu, meskipun dia calon suamiku, tapi aku merasa tidak senang dan reflek menghindar dari sentuhannya.
Berbeda saat Kenzo yang melakukannya, ada debaran dan perasaan hangat dihatiku, bahkan tanpa sungkan aku membalas semua perlakuannya terhadapku.
“Argh ... Lagi-lagi aku teringat dirinya. Dia benar-benar telah merasuki otak dan hatiku, aku tahu ini salah. Tapi sungguh aku tidak bisa menahan perasaanku. Meskipun aku tahu akhirnya aku akan tetap menikah dengan Alex, namun aku tetap menyimpan nama Kenzo disudut hatiku yang paling dalam. Diam-diamku selalu merindukannya dan menyebut namanya disetiap doaku.” kata Aura dalam hati.
***
Setelah mendapatkan gaun dan cincin yang menjadi tujuan utama kami, kami pun beranjak menuju restoran china yang cukup besar tepat di depan pusat perbelanjaan.
"Kamu mau makan yang mana ?" tanya Alex sambil membaca menu yang dipegangnya.
"Seperti biasa saja kak." jawabku.
Setelah mendapat jawaban dariku, Alex pun mengerti, ia segera memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan kami. Ya, kami berdua memiliki kesamaan makanan favorit, yaitu chines food. Setiap kali ada kesempatan ataupun sepulang kuliah, Alex selalu mengajakku makan bersama. Tak pernah terpikirkan jika kali ini kami makan dengan kondisi yang berbeda.
Dulu aku dan dia akan tertawa lepas tanpa beban dengan status sahabat, namun semua itu lenyap saat statusnya berganti menjadi calon suamiku. Rasanya tak bisa lagi kembali seperti waktu itu. Hanya keheningan dan perasaan canggung yang ku rasakan saat ini. Dan ya, setelah itu kami makan dengan keadaan hening. Menyelesaikannya dengan segera lalu bergegas kembali pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1