
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Firda.
"Permisi, ada perlu apa nona memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya bibi.
"Saya minta tolong bi, di kamar mandi tadi saya melihat ada anak tikus, saya phobia tikus. Aku sangat takut bi, bibi tolong bantu saya untuk mengusirnya," ucap Firda memohon.
"Mana mungkin ada tikus nona, villa ini sangat terawat, belum pernah ada kecoa bahkan tikus sekalipun." jawab bibi dengan tatapan ragu-ragu.
"Kalau bibi tidak percaya, bibi bisa memeriksanya sendiri." sahut Firda dengan tatapan kesalnya pada bibi.
“Baiklah saya periksa dulu,” ucap bibi sembari masuk ke dalam kamar mandi.
Firda yang melihat bibi melangkah masuk ke dalam ruang kamar mandi, dengan segera Firda langsung mengunci ruang kamar mandinya dari luar.
“Ya rencanaku berhasil, sekarang aku harus cepat keluar dari sini.” gumam Firda dengan segera ia melangkah keluar dari kamar itu, beruntungnya di tempat sini sama sekali tidak ada bodyguard atau semacamnya yang menjaga ketat dirinya seperti di drama paling ditontonnya.
Dengan sangat hati-hati ia mengintai satpam yang menjaga gerbang utama villa, dilihatnya satpam itu sedang asik berbicara dengan kawan satu kerjanya itu. Namun tak lama kemudian terlihat memasuki gerbang dan orang dari dalam mobil seperti memberi instruksi pada kedua satpam itu agar memperketat lagi penjagaan mereka.
“Mungkinkah aku ketahuan?” gumam Firda pada diri sendiri. Ia meremas ujung bajunya, ia sangat takut akan datangnya lagi pria mesum itu.
Sungguh hidup Firda benar-benar terjebak, rencana kaburnya telah diketahui oleh Dandi dan sudah dapat dipastikan bahwa kini Dandi memperketat keamanan villanya.
Tanpa Firda ketahui, dengan cepat seseorang menarik tangan Firda melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci kamar itu dengan rapat.
Tubuh Firda terhempas di atas kasur tidurnya dan dapat dipastikan Dandi sangat murka atas rencana kaburnya terbongkar.
"Beraninya kamu coba-coba untuk kabur dari saya!" ucap Dandi dingin.
"Saya punya salah apa sama kamu? Saya sama sekali tidak mengenal kamu, mengapa kamu mengurung saya disini? Saya ingin pulang." Jawab Firda merasa kesal.
"Saya ingin kamu berada disini, itu artinya kamu harus disini," ucap Dandi mencengkeram dagu Firda dengan kasar.
"Sekali lagi kamu mencoba kabur dari saya, maka akanku buat kamu mengandung anakku." ancam Dandi kemudian melangkah pergi dari hadapan Firda yang kini tengah berusaha menahan air agar tidak jatuh di depan Dandi.
Flashback On
Dandi yang berada di perjalanan menuju ke kantor perusahaannya, ia mendapatkan notifikasi panggilan masuk dari ponselnya. Lalu, ia mengangkat sambungan telepon itu.
"Iya hallo, ada apa bi?" tanya Dandi di balik sambungan teleponnya.
"Maaf tuan, nona Firda mencoba kabur dari villa ini, saya sekarang terkunci di kamar mandinya." jawab bibi merasa takut jika Dandi akan murka.
"Baiklah kamu cepat hubungi satpam depan, jangan sampai membuka gerbang sebelum saya datang," ucap Dandi langsung menutup panggilannya dan kembali ke villa.
__ADS_1
“Beraninya dia mencoba lari dariku, jangan harap bisa kabur dariku Firda sayang.” gumam Dandi di sepanjang perjalanan kembali ke tempat villa.
Dandi merasa beruntung karena tadi ia sempat mampir ke salah satu cabang perusahaannya yang tidak jauh dari tempat villanya, sehingga ia bisa langsung balik ke tempat villa setelah mendapatkan informasi Firda kabur sewaktu - waktu setelah ia pergi. Jika tidak sudah dipastikan kini Firda sudah tidak lagi bersamanya.
Flashback Off
Sudah 2 hari Firda menghilang tanpa jejak dan sudah 2 hari pula Rico pergi kesana-kemari merasa bingung mencoba mencarinya tapi hasilnya nihil, dirinya hampir frustasi karena itu. Ia sungguh tidak menyangka akan kehilangan dia saat mereka akan melangkah lagi menuju hari yang sangat dinantikan oleh Rico yaitu bisa menikahi wanita cantik itu.
“Kamu dimana sayang ? Apa kamu baik-baik saja disana? Sungguh aku merindukanmu,” ucap Rico di sela isak tangisnya. Ia sangat takut dan khawatir akan terjadi sesuatu pada wanitanya itu. Ia tidak tahu harus mencari wanitanya itu kemana lagi karena selama ini Firda tidak akan pergi kemanapun tanpa dirinya.
"Rico sayang buka pintunya nak," ucap seorang wanita paruh baya di balik pintu kamar tidur anaknya.
Ririn sangat tahu bahwa saat ini anaknya sedang sangat sedih dan mengetahui bahwa kekasihnya pergi 2 minggu sebelum acara pernikahan mereka. Sudah 2 hari ini Rico tidak mengurus dirinya sendiri yang terlihat berantakan dan tak mau makan. Hal itu akhirnya Ririn datang ke apartemennya untuk mencoba menghiburnya dan memberinya semangat.
"Rico anak mama, mama ngerti kamu sedang sangat sedih sekarang tapi kamu juga harus makan sayang, kalau kamu bisa pergi mencari Firda lagi." bujuk Ririn yang masih menunggu anaknya di depan pintu kamarnya.
Tak lama kemudian pintunya terbuka dan tampaklah seorang pria tampan dengan pakaian berantakan dengan kedua mata panda menatap ke arah Ririn.
"Rico sangat takut ma, takut Firda akan ninggalin Rico lagi seperti dulu. Rico nggak mau kehilangan dia lagi," ucap Rico sambil memeluk mamanya dengan erat untuk mengeluarkan keluh kesahnya yang selama ini ia pendam sendiri.
"Iya sayang mama paham, tapi kamu makan dulu ya, mama takut kamu sakit." bujuk Ririn lagi.
"Aku nggak nafsu makan ma, sebelum bisa bertemu dengan Firda." tolak Rico.
"Mama yakin kondisi Firda pasti sekarang baik-baik saja, mungkin dia butuh waktu sendiri sebelum hari pernikahan kalian. Jadi sekarang kamu makan dulu ya, nanti mama bantu untuk mencari keberadaan Firda," ucap Ririn lembut mencoba menghibur anaknya.
“Aku harap kamu baik-baik saja, Fir. Tunggu aku, aku pasti menemukan keberadaanmu.” kata Rico dalam hati.
Kini sudah satu minggu Firda menjadi tahanan Dandi, ia merasa dirinya seperti burung dalam sangkar emas. Semua kebutuhannya di penuhi, mulai dari makan, pakaian baju bagus, make up, aksesoris mewah, semuanya tersedia disana. Namun hal itu tak bisa membuat dirinya merasa bahagia, ia merasa dirinya tak lebih dari peliharaan saja. Firda pun masih belum mengerti mengapa Dandi melakukan kekonyolan ini, bahkan sudah hampir 1 minggu ini Dandi sama sekali tidak datang mengunjunginya.
“Kak, aku tidak senang berada disini, aku mohon tolong aku jemput aku disini,” ucap Firda yang berharap Rico bisa menemukan dirinya disini.
Dalam isak tangisan ini dirinya menangis dan berdoa dan berharap agar mereka merasa kasihan pada dirinya. Namun sekali lagi semua terasa sia-sia. Di pikirannya terbesit ide gila di kepalanya, di bongkarnya seluruh isi kamarnya mencari benda tajam itu, tepat setelah ia menemukan benda itu. Perasaan takut juga frustasi bercampur satu, dengan memantapkan hatinya ia nekat menyayat tangannya sendiri. Adanya rasa sakit dan perih yang tak terhenti dirasakannya, akhirnya ia jatuh pingsan dengan banyak darah keluar dari tangannya.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Pintu ruang kamar terbuka lebar dan bibi melihat kondisi nona mudanya jatuh pingsan dengan bersimbah darah segar.
"Astaga nona." Bibi sangat terkejut dan takut melihat nonanya terbaring dengan abersimbah darah di atas lantai kamarnya. Dengan segera ia melangkah pergi meminta bantuan pada pekerja lain untuk membawa nona Firda menuju ke rumah sakit, tidak lupa ia juga menelepon Dandi yang kini ada di kantornya.
Di rumah sakit
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Dandi dengan wajah cemasnya.
__ADS_1
"Saya menemukan nona sudah pingsan di kamarnya dengan kondisi tangan teriris dan bersimbah darah, tuan." jawab bibi sangat takut dimarahi oleh tuannya.
"Maafkan saya lalai menjaga nona, tuan." sahutnya lagi dengan menunduk, ia merasa takut jika Dandi akan melimpahkan semua kejadian ini kepada dirinya dan memecatnya.
"Sudahlah, sekarang kamu kembali saja ke villa dan bawa ganti baju buat saya, biar saya menjaganya disini." perintah Dandi.
"Baiklah tuan, saya pamit undur diri," ucap Bibi sopan.
Tidak lama kemudian, dokter yang menangani wanitanya pun keluar.
“Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Dandi yang berdiri di hadapan dokter yang menangani wanitanya.
“Syukurlah nona, sudah tidak apa-apa, saya sudah berhasil menghentikan pendarahannya, sepertinya pikirannya juga sangat tertekan. Jadi, saya mohon untuk menjaga emosinya agar tetap stabil nanti saat sudah sadar," ucap dokter lalu pergi meninggalkan Dandi yang terdiam di tempatnya.
Dandi langsung melangkah masuk ke dalam ruang rawat Firda dan ia berjalan mendekati wanita yang tubuhnya terpasang alat medis.
“Apa sebegitu tidak inginnya kamu hidup denganku, Firda? Mengapa kamu sampai nekat melakukan ini ? Kamu tidak mengerti betapa takutnya aku jika harus kehilanganmu lagi. Mungkin aku bisa mati saat itu juga. Jadi, aku mohon bangunlah dan tetaplah berada disisiku, Firda,” Ucap Dandi berdiri di sisi tempat tidur Firda.
Kali ini Dandi harus benar-benar ekstra menjaga Firda, ia juga harus memeriksa kamar Firda lagi agar nanti ia melakukan sesuatu yang akan menyakiti dirinya kembali. Ia juga berencana memasang cctv di kamar itu agar ia selalu mengawasi setiap langkah wanita itu kapan pun.
***
Satu minggu sudah Rico merasa kehilangan Firda, sampai saat ini dirinya juga kehilangan informasi polisi yang masih belum menemukan titik terang kemana perginya wanita cantik itu.
Ting… Tung… Tung tung... Ting tung… Ting tung...
Tiba-tiba ponselnya menemukan notifikasi panggilan masuk dengan seseorang, dengan rasa malasnya ia mengangkat sambungan panggilan itu yang tidak lain dari rekan kerja di rumah sakitnya.
"Hallo Ric, bagaimana keadaan kamu?" tanya orang itu basa-basi.
"Aku baik-baik saja Sin, ada apa kamu meneleponku?” ucap Rico to the point.
"Apa kamu sudah menemukan kekasihmu?” tanya Sinra lagi.
"Belum, memangnya kenapa?" tanya Rico lagi.
"Tadi aku melihatnya masuk ke rumah sakit, dia terluka seperti tangannya sengaja diiris sendiri, kebetulan aku yang merawatnya." jelas Sinra.
"Apa? Bagaimana kondisinya? Dia baik-baik saja kan?" tanya Rico lagi.
"Tenang saja, aku berhasil menghentikan pendarahannya, tapi ada yang janggal, dia disini sedang ditemani seorang pria tampan yang mengaku sebagai suaminya, dia sama khawatirnya sepertimu," ucap Sinra jujur.
"Sekarang dia dimana ? Masih berada di rumah sakitmu kan?" tanya Rico merasa tak sabaran.
“Harusnya sih dia masih disini." jawab Sinra dengan ragu-ragu,
__ADS_1
"Baiklah terima kasih atas informasinya, aku akan pergi kesana sekarang." jawab Rico langsung mematikan sambungan panggilan masuk di ponselnya dan melangkah pergi menuju rumah sakit.