Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 16


__ADS_3

"Apa kamu sudah gila, hah? Aku sudah bilang aku tidak akan pernah mau menikah dengan kamu!" teriak Firda terlihat marah dengan keputusan Dandi yang secara tiba-tiba mengajaknya menikah.


"Kamu tidak bisa menolak sayang." jawab Dandi enteng.


"Dasar pria gila! Aku nggak mau menikah denganmu." sahut Firda karena kesal, akhirnya ia memilih pergi meninggalkan Dandi yang masih duduk tenang di dalam butik mewah itu.


Sedangkan karyawan yang berada disana hanya bisa saling berbisik meremehkan wanita yang jual mahal karena berhasil menolak pria tampan dan kaya seperti Dandi.  Pria dengan sejuta pesonanya.  Tampan yang sempurna dan bergelimang harta. Namun sebelum sempat benar-benar meninggalkan butik itu.


Langkah kaki Firda terhenti saat melihat 2 orang berpakaian serba hitam dengan tubuh kekarnya menghadangi jalannya.  Ya mereka adalah orang suruhan Dandi untuk menjaga Firda.  Kali ini, Dandi sangat berhati-hati dalam menjaga Firda agar tidak kabur lagi dengannya.


"Kalian, lepasin aku!" teriak Firda memberontak saat kedua tangannya dipegang kuat oleh kedua bodyguard itu.


"Maaf nona, anda harus ikut dengan kami," ucap salah satu bodyguard itu.


"Siapa kalian ? Ku bilang lepasin aku!" teriak Firda lagi yang kini mencoba melawan mereka dengan sekuat tenaganya.  Namun sayangnya semua usahanya sia-sia, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan dua orang berbadan kekar yang kekuatannya lebih kuat darinya.


Tubuh Firda diseret secara paksa dan dibawa pergi menuju ke rumah Dandi kembali. Disana sudah ada Dandi yang menunggu dirinya dengan wajah datar dan dinginnya.  Rasanya sudah habis kesabaran yang harus dimiliki untuk menghadapi sikap Firda yang selalu melawannya.


"Dandi sialan! Keluarkan aku dari sini!" umpat Firda sambil menggedor pintu kamarnya dengan keras untuk membuka pintunya.

__ADS_1


"Apa kamu tuli,hah? Tidak bisa mendengar perkataanku!" teriak Firda lagi yang kini semakin membuat gaduh dengan melemparkan semua barang di kamarnya.


Dandi yang sudah sangat marah dan emosinya di ujung tanduk. Dengan segera ia berjalan menghampiri Firda berniat memberi wanita itu pelajaran.


"Sudah puas memakiku?" tanya Dandi dengan senyuman miringnya dengan langkah kaki tegasnya mencoba mendekati Firda.


Firda yang melihat ada yang tidak beres dengan Dandi, dengan segera ia memudurkan langkah kakinya untuk menghindari Dandi yang terlihat kesetanan.


"Mau apa kamu, hah ? Lepas--- Ummm…” belum sempat Firda melanjutkan perkataannya, Dandi mendorong tubuh wanita itu dan memaksa untuk menciumnya.


"Um...Umm... Lepas sialan!" umpat Firda di sela ciumannya.  la berusaha keras untuk melepaskan diri, namun tenaga Dandi jauh lebih kuat dari dirinya.


Setelah dirasa cukup melakukan pemanasan yang membuat bagian inti wanitanya menjadi basah, segeralah memposisikan tubuhnya untuk bisa memasuki wanita itu dan ya Dandi melakukannya berulang kali dan selalu menumpahkan kenikmatannya ke dalam tubuh wanita itu dengan harapan akan segera tumbuh Dandi kecil disana.


Firda yang sudah lemas pun hanya pasrah, rasanya sudah tidak ada lagi tenaga untuk melawan pria brengsek di atas tubuhnya dan ia hanya bisa lakukan hanya diam dan menangisi nasib buruknya telah bertemu dengan Dandi.  Karena merasa lelah dan banyak menangis akhirnya Firda pun berdiri dengan kondisi yang sedikit mendukung tanpa pakaian juga tanda merah hampir di seluruh tubuhnya.


“Maafkan aku sayang telah melakukan ini, aku hanya ingin kamu selalu berada disisiku, karena baik itu dulu dan sekarang atau nanti kamu hanya milikku, selamanya milikku,” ucap Dandi sambil mengecup punggung Firda dan memeluk tubuhnya dengan erat.


Pagi telah tiba, Firda yang terbangun kembali mengingat kejadian buruk yang terjadi tadi malam.  Ia tak habis pikir ternyata Dandi benar-benar melakukan sesuai ancamannya.  Sekarang mau lari pun sudah tidak ada gunanya. Dandi sudah mengambil satu-satunya hal sesuatu yang berharga ia miliki telah hilang.  Hal yang selalu ia jaga untuk suaminya nanti. Ia merasa hancur, marah, kecewa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sudah bangun sayang." sapa Dandi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Puas kamu sekarang." jawab Firda dingin tanpa menghiraukan perkataan Dandi.


“Sekarang kamu bangun dan mandi ! Nanti akan ada mama datang kesini untuk mengurus persiapan pernikahan kita," ucap Dandi lalu pergi meninggalkan Firda di dalam kamarnya.


"Dandi sialan... Arghhh... " teriakan Firda frustasi, jika bisa membunuh Dandi pasti ia sudah melakukannya sejak lama pada pria brengsek itu tapi tidak bisa.


Hari ini adalah hari pernikahan Dandi dan Firda.  Dandi melangsungkan pernikahannya itu dengan membuat pesta yang mewah, mengundang banyak orang yang sangat penting dengan adanya wartawan yang akan membuat berita acaranya nanti ke penjuru dunia.


Dandi dan keluarganya merasa sangat bahagia dengan pernikahan ini, berbeda dengan Firda yang sejak awal hingga selama acara berlangsung, sama sekali tidak menunjukkan senyuman dan raut wajah yang bahagia.  Firda yang terlihat hanya ada luka dan memperhatinkan.


Sedangkan Rico yang selama berada di Bali, ia selalu disibukkan dengan banyak pekerjaan.  Mamanya sengaja membuat Rico sibuk agar ia bisa cepat melupakan Firda.  Hingga pada pagi itu ia melihat siaran berita di tv tentang pernikahan tuan muda kaya dengan wanita biasa yang tak lain adalah Dandi dan Firda.  Sungguh, ia merasa sakit hati dan kecewa, tubuhnya langsung jatuh di atas lantai saat itu juga, serasa kakinya tak lagi merasa menopang dirinya untuk berdiri.  Kali ini Rico sudah benar-benar merasa hancur, mendukung selama ini memperjuangkan Firda hancur juga.


Tak akan ada lagi kesempatan untuk memiliki wanita itu. Rico yang sudah sangat frustasi memilih untuk tidak pulang ke rumah neneknya.  Ia ingin sendiri agar bisa meluapkan semua sakit hati dan emosinya.  Sepulang dari rumah sakitnya, ia beranjak mencari penginapan yang menyediakan bar.


Malam ini ia berencana untuk minum sampai mabuk, dengan begitu ia akan melupakan cinta dan masa lalunya yang sangat menyakitkan. Hingga Rico berada di tempat inilah ia berada sekarang, di salah satu bar favorit di Bali.  Sudah beberapa botol minuman keras ia habiskan, bartender pun sudah mengingatkan namun tetap harus memintanya lagi dan lagi hingga akhirnya ia tak sadarkan diri di meja bar itu.


Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi ponsel yang memanggil beberapa kali, melihat Rico yang tidak sadar di bartender itu ia memberanikan diri untuk mengangkat tubuhnya agar si penelpon segera membawa pria itu pulang.

__ADS_1


"Hallo kak, kamu dimana? Bukannya kamu sudah berjanji akan menemaniku pergi malam ini?" ucap seseorang di balik telpon itu.


__ADS_2