Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 28


__ADS_3

Makan siang pun tiba, Kenzo memilih untuk makan di restoran depan kantor bersama tangan kanannya. Terlihat suasananya cukup ramai, banyak dari karyawan Kenzo yang juga menghabiskan waktu istirahatnya disana. Sejenak kedua mata Kenzo menangkap sosok wanita yang duduk tak jauh darinya.


Wanita cantik yang tengah asik bercanda tawa bersama pria di hadapannya. Tak jarang pria itu mencari-cari kesempatan untuk bisa menyentuh wanita itu. Sungguh pria yang kurang ajar.


“Sial, kenapa hatiku terasa panas melihat kedekatan mereka. Siapa pria itu ? Mungkinkah pria itu kekasihnya?” pikir Kenzo yang terus bertanya-tanya sambil menatap tajam ke arah mereka.


Dengan langkah kaki gontai dan penuh amarah Kenzo menghampiri meja mereka, sontak saja wanita itu terkejut melihat Kenzo yang tiba-tiba berdiri di hadapannya, begitu juga dengan pria itu.


"Apa yang kamu lakukan disini? " tanya Kenzo pelan sembari menekan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.


"Kamu siapa ? Se-enaknya mengganggu kami,” ucap pria itu kesal.


"Aku bertanya padamu Aura, siapa pria itu?" tanya Kenzo lagi sedikit membentaknya.


"Kamu siapa, hah ? Beraninya membentak calon tunanganku ?” sahut pria itu lalu mendorong tubuh Kenzo menjauh.


"Benarkah yang dia katakan?"


"Jawab Aura!" bentak Kenzo lagi lalu menarik tangan Aura dengan kasar.


"Ma-maaf, aku harus pergi," ucap Aura segera melepas cekalan tangannya dan berlari meninggalkan tempat ini.


Kenzo yang sudah bersiap mengejar Aura tapi dicegah oleh pria itu. Lagi-lagi dia membuat Kenzo semakin emosi dengan menyebut dirinya calon tunangan Aura, wanita yang selama ini mengisi hari dan hati Kenzo.


“Sialan... Drama apa ini sebenarnya ? Bukankah Aura tidak memiliki kekasih, tapi kenapa sekarang malah muncul pria yang mengaku calon tunangannya ? Sebenarnya apa yang disembunyikan wanita itu dariku.” kata Kenzo dalam hati. Karena malas dan tak ingin membuat keributan, akhirnya Kenzo menyerah dan pergi meninggalkan pria itu.

__ADS_1


Sedangkan untuk Aura, Kenzo akan meminta penjelasannya nanti.


“Bagaimanapun juga aku tidak akan pernah melepasnya, dia milikku. Hanya aku yang boleh bersamanya, aku akan merebut apa yang memang menjadi milikku. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang.” kata Kenzo dalam hati.


***


"Hallo!"


"Iya pak, ada apa?"


"Kamu cari tahu identitas dan informasi lengkap pria yang tadi siang bersama Aura. Saya mau secepatnya." Kenzo sama sekali tak bisa melanjutkan pekerjaannya karena terus memikirkan mereka. Berbagai macam pikiran negatif terus berputar di kepalanya.


“Aura, keluarlah dari dalam sana, aku sungguh tak bisa berkonsentrasi karena dirimu!” teriak Kenzo merasa kesal sambil memukul-mukul kepalanya dengan banyak berkas yang masih menumpuk di mejanya. Jika saja Kenzo tahu akan jadi seperti ini, Kenzo pasti tak akan memberinya libur, pasti dia akan membantunya untuk mengerjakan semua berkas ini dan tidak menemui pria sialan itu.


Siang ini aku bertemu dengan kak Alex, dia seniorku di kampus. Kami sangat akrab bahkan banyak yang mengira bahwa kami adalah pasangan kekasih. Namun sebenarnya tidak demikian, aku hanya menganggap dia seperti kakak bagiku. Dia begitu baik dan hangat, selalu membantu tanpa aku memintanya. Kami bertemu di salah satu restoran dekat kantor tempatku magang, karena kebetulan rumah kak Alex tak jauh dari sana. Seperti biasanya, setiap kali bertemu kami pasti heboh sendiri, membahas banyak hal yang sebenarnya tidak begitu penting.


Namun hal itu mampu membuat kami berdua tertawa lepas tanpa memperhatikan lingkungan sekitar yang kadang menganggap kami tidak waras. Saat kami sedang asik bercanda, tiba-tiba saja datang seorang pria yang berhasil mengejutkanku. Dia datang dengan raut wajah yang terlihat sangat marah. Dia menghampiriku dan menanyakan apa yang aku lakukan disini bersama pria yang menurutnya asing baginya. Aku hanya diam, tiba-tiba saja lidahku terasa keluh ingin menjelaskan kebenarannya. Aku tahu dia pasti sangat marah melihatku berduaan dengan pria lain.


Padahal kemarin dia sudah melarangku dengan tegas untuk melakukannya. Dia menatapku tajam meminta penjelasan, dia sudah sangat emosi bahkan sempat mencengkram tanganku kasar. Namun saat aku ingin berbicara kak Alex memotongnya, Dia mengklaim diriku sebagai calon tunangannya. Tentu saja hal itu membuatku semakin diam bercampur takut


“Apa maksudnya ? Apa kak Alex ingin membantuku atau memang ada yang ia sembunyikan dariku ?” Karena aku khawatir akan terjadi yang lebih parah lagi, akhirnya aku memutuskan untuk berlari meninggalkan mereka disana. Aku sudah sangat malu seluruh pengunjung di restoran itu menatapku dengan sinis, seakan-akan aku wanita yang sok cantik karena bisa diperebutkan oleh dua orang pria tampan.


Aku berlari dan bergegas kembali ke rumahku. Ketika sampai disana aku sedikit heran melihat dua orang paruh baya yang tengah asik berbincang dengan kedua orang tuaku. Aku merasa heran karena selama ini belum pernah bertemu mereka berdua, sedangkan mama dan papa selalu mengenalkan aku dengan teman atau rekan bisnis mereka.


"Kamu sudah pulang nak ?" sapa papa Rico yang ternyata melihatku datang.

__ADS_1


"Ah iya pa, baru saja aku datang." jawabku singkat.


" Mari kesini nak, ada yang mau kami kenalkan padamu." panggil mama Fika kemudian.


Akhirnya kami berkenalan, ternyata mereka berdua adalah orang tua kak Alex.


“Apa ? Kok bisa ? Bagaimana mungkin orang tua kak Alex yang seharusnya di Singapura berada di rumahku sekarang.” batinku. Aku merasa bingung sekaligus penasaran, apa sebenarnya tujuan mereka datang kemari.


"Langsung saja, kedatangan kami kemari ingin melamar nak Aura untuk putra kami Alex. Kalian saling mengenal bukan ? Alex selalu menceritakan tentangmu pada kami," ucap tante Sarah sambil tersenyum ramah ke arahku.


Melamar ? Hal gila apa lagi ini ? Jadi ini yang membuat kak Alex yang mengklaimku sebagai calon tunangannya tadi ? Mengapa tiba-tiba begini ? Selama ini dia tidak pernah menunjukkan perasaannya bahkan rasa sukanya padaku. Kenapa sekarang tiba-tiba mau melamarku. Aku harus jawab apa ? Dia memang pria yang baik, tampan dan mapan. Tapi aku tidak memiliki perasaan padanya. Aku hanya menganggap dia seperti kakak laki-lakiku saja.


Aku terus saja berpikir, rasanya otakku benar-benar terasa buntu, tiba-tiba saja mendengar hal gila macam ini.


“Bagaimana Aura? kamu mau kan menerima lamarannya?" tanya papa Rico yang menyadarkan lamunanku.


"Ah, it-itu... Bisakah kalian memberiku waktu untuk memikirkannya ?” jawabku mencoba mengulur waktu.


"Tentu saja Aura, aku akan memberimu waktu, tapi jangan lama-lama ya." sahut Alex yang tiba-tiba sudah ada di depanku.


"Iy-iya, Aku akan usahakan secepat mungkin." jawabku terdengar gugup.


Setelah pertemuan yang cukup menegangkan itu akhirnya kak Alex dan orang tunya pulang. Membuatku sedikit merasa lega dan bisa bernafas dengan tenang. Sungguh, hari ini benar-benar hari yang penuh kejutan. Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba ada yang datang melamarku.


“Andai itu Kenzo mungkin aku akan sedikit mempertimbangkannya. Oh tidak, kenapa malah mikirin pak bos mesum itu. Sadar Aura! Sadar! Dia sudah mengambil keuntungan darimu.” batin Aura dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2