Wanita Kesayangan CEO Posesif

Wanita Kesayangan CEO Posesif
Part 24


__ADS_3

"Baiklah kita mulai saja meetingnya."


Dua jam berlangsung kegiatan rapatnya, mereka menyelesaikan meeting dengan kesepakatan yang sama-sama menguntungkan kedua perusahaannya. Sebenarnya Kenzo kurang suka dengan CEO perusahaan itu yang dinilainya memiliki attitude yang buruk. Hal itu karena dulu di luar negeri Kenzo sempat belajar ilmu psikologi sebentar sebelum menyesaikan kuliahnya. Ia merasa tertarik belajar itu, namun karena ia pewaris perusahaan ia harus mengiyakaan keinginan orang tuanya untuk mengambil jurusan bisnis.


“Baiklah saya permisi, senang bisa bekerja sama dengan perusahaan anda," ucap Kenzo pamit mengulurkan tangannya.


"Iya, saya merasa senang bisa bertemu dengan Bapak Kenzo. Saya berharap ke depannya kita bisa menjadi lebih dekat." jawab wanita itu genit menerima uluran tangan Kenzo dan tak kunjung melepasnya.


Kenzo yang sudah menahan kesal sedikit menghempaskan tangan itu lalu segera menarik tangan Aura untuk meninggalkan cafe.


“Hah... Lelahnya.” gerutu Aura yang baru tiba di rumahnya.


Hari pertama bekerjanya sungguh menguras tenaga dan emosi. Banyak teman magangnya yang iri karena posisi Aura sebagai sekertaris. Meski hanya magang sementara mereka ingin menggantikan Aura karena dengan begitu mereka bisa melihat CEO tampannya setiap waktu.


Aura hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan kawan magangnya. Memang tak bisa dipungkiri jika tingkat ketampanan CEO mereka diatas rata-rata, mampu menarik perhatian banyak kaum hawa. Tapi sayangnya menurut Aura hal itu sia-sia karena si bosnya itu tak pernah sekali pun tersenyum. Selalu menunjukkan sikap dan tatapan dinginnya pada semua orang.


"Sayang kamu sudah pulang?" ucap Fika berjalan menghampiri Aura di kamarnya.


"Iya ma, aku capek banget." keluh Aura.


"Gimana hari pertamamu magang? Lancar ? " tanyanya sambil memijat kaki putrinya.


"Bosnya bikin kesel ma, kayak kulkas." curhat Aura dengan antusias.


"Maksudnya?" tanya Fika.


"Iya ma, Aura tuh diplih gantiin sekertaris bos yang sementara ini cuti. Bosnya sih emang ganteng tapi sayang mubazir, nggak pernah senyum. Dingin banget orangnya." jelas Aura.


"Ya kan emang bos harus begitu sayang. Harus bisa menjaga wibawanya di depan semua karyawannya." tutur Aura.

__ADS_1


"Mama inget nggak waktu Aura pingsan di bandara kemarin ? Ya, dia yang sudah menolong Aura," ucap Aura lagi yang bikin semangat bercerita.


"Terus dia ingat sudah menolong kamu?" tanya Fika.


"Inget ma, tapi reaksinya cuma 'Oh' ngeselin kan?" ucap Aura merasa kesal.


"Jangan begitu! Nggak baik benci sama orang. Ntar jadinya suka lagi." tutur Fika menggoda putrinya.


"Haishh... Jangan sampai ma. Yang ada jadi beku deket-deket sama kulkas seperti dia." jawab Aura sambil mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.


"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu gih, terus kita makan. Sudah ditunggu papa dibawa."


"Siap bosque."


Kicauan burung sayup-sayuo terdengar di kediaman keluarga Dandi. Membuat mata pria tampan yang tengah lelap di ranjangnya perlahan terbuka. Dilihatnya jam kecil di atas nakas yang telah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Membuat dirinya harus segera bangun untuk membersihkan diri dan pergi bekerja. Sudah satu bulan sejak Kenzo memegang kendali perusahaan. Dalam waktu yang singkat itu dirinya berhasil menaikkan keuntungan perusahaannya lebih dari 10%, membuat Dandi sebagai ayahnya merasa beruntung telah dianugrahi putra sepertinya.


Mendengar keberhasilan CEO baru Richard grup, banyak rekan dan relasi bisnis Dandi yang tak segan ingin menjadikan Kenzo sebagai menantunya. Dandi hampir jengah mendengar hal-hal seperti itu. Lagi pula usia Kenzo masih sangat muda, masih banyak kesempatan untuk putranya itu mencari calon istrinya sendiri. Ia tidak akan melakukan pernikahan bisnis seperti kebanyakan orang karena Dandi sangat yakin, tanpa siapapun Kenzo akan mampu membuat perusahaannya itu berdiri tegak.


"Pagi sayang, sini sarapan." ajak Daisy lalu menarik kursi di sampingnya.


"Ah iya ya, kita sudah berhasil membuat kerjasama dengan Ceno grup dari Singapura. Besok nanti aku sendiri yang harus kesana menandatangani kontrak dan memastikan beberapa hal," ucap Kenzo serius ysng membuat Dandi menghentikan makannya.


"Bagus Kenzo. Nanti kamu ajak Jino sekalian, dia pasti akan banyak membantu." tutur Dandi.


"Tapi bagaimana dengan kantor kalau pak Jinoa ikut denganku?" sanggah Kenzo.


"Lalu apa rencanamu?" tanyanya.


"Aku berencana akan mengajak sekertarisku, dia cukup berkompeten dan cekatan," ucap Kenzo.

__ADS_1


"Baiklah, terserahmu saja. Ayah percaya padamu." jawab Dandi mengiyakan perkataannya. Lagi-lagi putranya itu membuat dirinya merasa bangga.


Dalam sekejap mata, Kenzo berhasil membuat perusahaan besar dari Singapura itu bekerja sama dengannya. Jauh melebihi apa yang dia harapkan selama ini.


"Kak, aku berangkat bareng ya. Lisa lagi nggak ada kelas, aku males berangkat sendiri." sahut Lisa yang diam sedari tadi mendengarkan ayah dan kakaknya bicara serius.


"Dasar! Ya sudah cepat makannya. Kalau lama aku tinggal."


"Siap kakakku sayang."


***


Pagi ini tampaknya menjadi pagi tersial sepanjang hidup Aura. Bagaimana tidak, ia bangun sangat terlambat, saat ia akan menggunakan mobil miliknya ia melihat salah satu bannya kempes dan membuat dirinya satu ban mobilnya kempes. Membuat dirinya terpaksa memakai jasa ojek online.


Awal perjalanannya lancar-lancar saja, hingga di tengah perjalanan. Tiba-tiba hujan mengguyur cukup deras. Ya, kini bisa dipastikan penampilan wanita cantik itu berubah seperti kucing kecebur air sungai. Bajunya terlihat basah, rambutnya lepek, juga sedikit cipratan lumpur memenuhi rok bagian bawahnya.


Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, Aura memasuki perusahaan dan jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 08.05, itu artinya ia terlambat 5 menit dari jam masuk kantor. “Semoga Pak bos belum datang.” gumamnya berdoa sambil berlari menuju lift.


Tak sampai disitu-situ, lagi-lagi Aura merasa sangat tidak beruntung. Ia telah menabrak seseorang di dalam lift karena langkah kakinya yang tergesa-gesa, membuat orang itu hampir terjatuh di bawah kakinya.


Lebih parahnya ternyata yang ia tabrak tadi adalah Kenzo, bosnya. Orang yang ia harapkan akan datang lebih terlambat dari dirinya.


“Sial, dari sekian banyak orang kenapa mesti menabrak pak bos. Siap-siap aku kena semprot deh.” gerutu Aura dalam hati.


"Kamu? Bisa-bisanya jam segini baru datang. Kenapa penampilanmu juga seperti itu ? Mau membuat sensasi dengan menunjukkan bra merahmu yang tembus pandang itu," ucap Kenzo menatap ke arah Aura dengan marah dan kesal.


Aura baru sadar ternyata ia sedang menggunakan kemeja putih dan saat ini ia sedang basah kuyup membuat isi kemeja itu terlihat jelas dari luar. Malu, takut, gugup. Itulah yang dirasakan oleh Aura sekarang.


Dengan sigap ia segera melipat kedua tangannya di bagian dada, mencoba menutupi apa yang seharusnya tak terlihat. Kenzo yang sudah sangat kesal melihat penampakan itu segera melepas jasnya dan melemparnya tepat di hadapan Aura.

__ADS_1


"Cepat gunakan pakaian ini! Aku tidak ingin dibuat malu karena memiliki sekertaris ceroboh sepertimu," ucap Kenzo lalu bergegas keluar dari ruang lift yang memang sudah sampai di tempat tujuannya.


__ADS_2