
Ketika dicintai seseorang kita akan memperoleh semangat. Ketika mencintai seseorang kita akan memperoleh keberanian. Kalimat itulah yang paling cocok untuk menggambarkan perasaan vania saat ini. Meninggalkan perusahaan Barli, menjauhi Avan dengan segala rencana gilanya, Vania merasa bebas. Hanya Johan Baroto yang bisa memberinya ketenangan seperti bayi baru lahir.
Johan Baroto tidak menginginkan apa-apa darinya. Lelaki separuh baya itu membimbing dan memperlakukan Vania selayaknya seorang wanita. Tak ada target yang harus dicapai, tak ada tugas yang musti dikerjakan dengan bayaran kenikmatan semalam. Mereka berdua sering menghabiskan waktu untuk liburan.
“Apakah bosmu melepaskanmu begitu saja, rasanya mustahil Barli mau melepaskan sekretaris secantik dan sepintar kamu, Vania.” Daddy menyesap kopi toraja di atas kapal yang membelah laut Senggigi. Lombok terlalu eksotis untuk tidak didatangi. Vania lebih sering menghabiskan waktunya di Bali,di villa milik Daddy. Terkadang ia mengajak Aileen dan mamanya. Hubungan mereka sudah seakrab itu.
Daddy dengan cepat bisa akrab dengan Mama Vania. Usia yang hampir sama membuat mereka betah ngobrol berlama-lama. Vania hanya tersenyum menyaksikan tawa kedua orang yang disayanginya berderai-derai. Entah perasaan macam apa ini. Hatinya seperti diselimuti kabut hangat ketika berdekatan dengan Daddy.
“Daddy sangat mengenal Barli. Mana mungkin dia melepaskan Vania begitu saja. Saat Vania pergi, dia sangat marah. Barli membanting semua barang di mejanya.”
“Hahaha, Barli melakukan itu? Bodoh sekali dia. Daddy sangat paham, dari mana kebodohan itu berasal.”
“Maksud Daddy?”
“Barli itu mirip sekali dengan Daddy sewaktu muda dulu. Daddy tidak akan mengizinkan siapa pun mendekati atau menyentuh barang-barang kesayangan Daddy. Saat itu, Daddy merasa keren. Sekarang Daddy merasa sangat bodoh jika mengingatnya.”
“Vania harus berbohong. Vania bilang kalau akan segera menikah dan pindah ke Australia. Waktu itu Vania enggak ngerti harus mencari alasan apa lagi,” keluhnya.
“Kamu tidak berbohong, sebentar lagi kamu bisa ke Australia. Kalau mau kamu bisa juga menikah di sana,” ujar Daddy santai. Wajahnya mulai ditumbuhi kerutan halus, tetapi kerutan itu justru menambah gurat kebijaksanaannya.
“Ah, Daddy sukanya godain Vania!”
“Serius, kita sudah pernah membicarakan ini, bukan? Daddy sudah berjanji akan menjadikanmu wanita yang berbeda, kita akan memulai dari Australia.”
Vania melongo tak percaya. Daddy memang selalu mengatakan akan menjadikannya wanita yang berbeda. Sekarang Vania sedang mengambil beberapa kursus bahasa, managemen dan keuangan. Kursus singkat tiga bulan yang bisa menambah skill dan wawasannya dalam dunia bisnis. Vania tak menyangka jika semua yang ia lakukan sudah diatur oleh Daddy. Matanya kembali berkaca-kaca. Tak ada orang yang memedulikan dirinya sebesar Daddy. Pria ini telah mencuri hatinya sejak awal mula mereka bertemu. Vania hampir saja memeluk Daddy saat sebuah suara mengejutkan mereka.
“ Hai, Opa! Surprise!
Dua orang anak kecil tiba-tiba berlarian memasuki villa. Seorang perempuan dewasa menyusul dua gadis masuk ke dalam ruang tengah. Pandangannya yang semula berbinar, berubah menjadi ketus ketika melihat Vania.
“Hai, Papi. Ada tamu rupanya.” Liana melepas kaca mata hitamnya, lalu mendekati Johan.
__ADS_1
“Wahh, cucu Opa sudah besar-besar! Cantik-cantik pula! Sini kasih hug buat Opa.” Johan memeluk kedua cucunya berbarengan. Vania menggeser tubuhnya, menjauh dari Johan.
“Kenapa kalian kesini tidak kasih kabar dulu?” tanya Johan dengan senyum mengembang.
“Memangnya kalau kami datang harus izin dulu sama Papi? Bukankah yang perlu izin itu orang asing?” Liana melirik Vania tajam. Jadi perempuan ini ternyata yang membuat Papinya sekarang jarang memberi kabar kepadanya lagi.
Liana sempat mengkhawatirkan papinya karena belakangan ini Papi jarang menghubunginya. Biasanya papi tak pernah absen seharipun video call dengan Anastasia dan Valeria. Kedua cucu yang sangat disayangi papinya. Sudah tiga bulan ini papi jarang menelpon meskipun masih menghubungi sesekali. Liana sempat khawatir penyakit jantung Papi memburuk.
Namun setelah bertanya kepada Bi Rusi, pengurus dan pelayan Villa, papinya dalam keadaan sehat. Bi Rusi juga menambahkan Papi sekarang sering menerima tamu yang menginap. Tentu saja Liana penasaran. Siapa tamu papi? Jadilah ia terbang ke Bali untuk mencari tahu siapa teman papi dan membicarakan urusan pekerjaan.
“Oh, kenalkan ini Vania. Dia yang akan membantu bisnis Papi di Australia. Papi sengaja mengundangnya datang ke sini karena ada beberapa hal penting yang harus papi ajarkan pada Vania. Vania, perkenalkan ini Liana, anak perempuan Papi satu-satunya.”
Vania menjabat tangan Liana. Dia tahu sejak awal kedatangan Liana tak menyukainya. Liana memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hal itu membuat Vania tak nyaman.
“Vania ini sudah membeli saham Papi di ABC Network, jadi dia partner bisnis Papi sekarang.”
Johan seolah paham pandangan Liana. Vania mengangguk pelan. Inilah yang dia suka dari Daddy. Pria itu selalu memperlakukannya sebagai manusia bermartabat. Meskipun scenario tentang kepemilikan saham adalah ide spontan Daddy, Vania tersenyum senang.
Vania mendongakkan wajahnya, mengirim sinyal kepada Liana, bahwa mereka sejajar sekarang. Kenyataan itu sungguh membuat Liana kesal.
“Hai, kenapa pada tegang, apa kabar Papi?” Seorang pria bertopi dan berkacamata muncul dari pintu. Pria berperawakan besar dengan kumis dan jenggot yang dibiarkan tumbuh liar.
“Ini menantu saya, Vania. Revan Adiano, suami dari Barliana.”
Vania menjabat tangan Revan. Raut wajahnya berubah ketika Revan membuat gerakan kecil pada telapak tangannya. Vania tersentak kaget, tetapi segera menguasai diri. Sekilas dilihatnya Revan mengedipkan sebelah mata, saat melepaskan kacamatanya. Lelaki omes sialan!
Suasana di villa menjadi tidak nyaman untuk Vania. Sebenarnya dia ingin pulang, tetapi Daddy mencegah.
“Kamu di sini saja, sebaiknya kamu terus belajar, berkas-berkas perusahaan sudah Daddy minta untuk dikirimkan via email ke kamu. Vania, untuk menjadi orang sukses kamu harus mengabaikan hal-hal kecil seperti ini. Kita tak bisa menghentikan terjangan ombak masalah tapi kita bisa belajar berselancar di atas ombak.” Daddy menatapnya serius.
“Liana anak Daddy, dia bukan hal kecil yang pantas diabaikan. Kehadiranku mungkin mengganggunya.”
__ADS_1
“Liana kemari hanya untuk menanyakan masalah perusahaan. Sebenarnya dia sudah lama meminta agar suaminya dimasukkan ke dalam perusahaan. Salah satunya ABC Network ini, sayangnya Daddy tidak bisa mengabulkannya.”
“Mengapa? Dia menantu Daddy, saya orang lain. Bukankah seharusnya Daddy lebih mempercayainya?”
“Vania, nanti kau akan tahu. Daddy tidak sebodoh itu menyerahkan perusahaan kepada penjudi dan pecandu semacam dia.” Vania tersentak kaget. Ternyata reputasi Revan sungguh luar biasa. Penjudi, pecandu, satu lagi dia pasti penyuka wanita. Tatapan genitnya yang beberapa kali mencuri pandang ke arahnya saat mereka makan malam cukup menjelaskan. Vania tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari lelaki hidung belang mencari perhatian kepadanya.
Daddy dengan sabar melatih Vania, memperlihatkan peta perusahaan di Australia, beberapa kelemahan dan kelebihannya, juga karakter pekerja di sana. Vania dipersiapkan untuk datang dengan aura seorang pemilik perusahaan.
Vania sedang membayangkan berada di Australia, dirinya akan lebih mudah beradaptasi karena hidupnya tidak lagi dibayangi Avan dan Barli. Avan sangat kecewa dengan keputusannya, tetapi dia lebih santai menghadapi Vania. Yang terpenting bagi Avan, dia masih bisa menengok Aileen kapan saja.
“Semoga kamu tidak menyesal dengan keputusan ini, Hun. Aku mendukungmu. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku membiarkanmu terbang bebas. Kamu tahu kemana jika harus pulang. Aku dan Aileen selalu menunggumu.”
Avan menatapnya dalam, menembus jantung Vania yang sebentar lagi bersiap ke Bandara. Sekarang tak ada lagi degub jantung tak beraturan seperti saat ia menatap Avan dulu. Lelaki itu telah kehilangan dirinya.
“Hanya sampai di sini, Avan. Kita tak ada hubungan apa-apa lagi selain kau adalah papanya Aileen. Aku tidak akan menghapusnya. Tentang kita, biarlah kita menunggu akan kemana rasa ini bermuara. Aku pergi, tolong jaga Aileen meskipun hanya dari kejauhan.”
Vania melangkahkan kakinya dengan mantap. Dia bukan lagi seorang sekretaris yang hidup di bawah perintah bosnya. Atau wanita konyol yang mau diperalat pria pendendam. Vania menjelma menjadi wanita berkelas yang siap memimpin sebuah perusahaan besar di Australia.
Sebelum pesawat take off, Vania hampir mematikan ponselnya, ketika sebuah pesan diterimanya.
“Aku tahu semua yang kau lakukan. Perempuan ******, Welcome to Australia. Tunggu kejutanku di sana!”
Wajah Vania memucat ketika melihat pengirim pesan.
Barli!
__ADS_1