
Vania menatap Leon tak percaya. “Kau? Dari mana kau tahu tentangku?”
“Siapa yang tidak tahu? Berita tentangmu sudah tersebar di seantero negeri.”
Leon selalu mengingat Vania sebagai gadis tercantik di sekolahnya dulu. Wanita itu cinta pertamanya. Kini dia seperti orang asing yang tidak dikenalnya. Tak ada lagi senyum menawan di wajah cantiknya yang selalu dihiasi make up yang sempurna. Vania hancur, sehancur-hancurnya, seperti sebuah boneka porselen yang pecah.
“Aku malu. Kita sudah lama sekali tidak pernah bertemu. Aku berharap kita dapat bertemu dalam situasi yang lebih baik lagi.” Vania menundukkan wajah. Pura-pura menyibukkan diri dengan ujung pakaiannya.
“Aku akan membantumu sekuat tenaga, Vania. Sekedar informasi saja, aku sudah berpengalaman dengan kasus-kasus kriminal seperti ini dan angka kesuksesanku mendekati seratus persen.”
Leon membanggakan dirinya sendiri. Dia sangat berharap Vania mau menerima uluran tangannya.
“Kenapa kau mau membantuku?” tanya Vania.
Karena aku masih menyimpan rasa padamu, ujar Leon hanya dalam hati saja. Dia sadar mereka bukan lagi remaja belasan tahun yang mudah digerakkan oleh cinta. Dunia orang dewasa penuh dengan perhitungan untung rugi, meski tetap bukan itu yang menjadi motivasi Leon.
“Kasusmu menyedot perhatian banyak orang. Kalau aku dapat memenangi kasusmu, secara otomatis akan sangat menguntungkan bagi karirku,” katanya beralasan, alasan yang dibuat-buat.
Vania tertawa getir. “Kau ini! Apa kau yakin aku tidak bersalah?”
“Tentu saja. Aku tidak akan susah payah datang ke sini meluangkan waktu berhargaku untuk kasus yang tidak mungkin dapat kumenangkan.” Leon menatap Vania penuh percaya diri. Keyakinan dalam kata-kata Leon membuat Vania merasa nyaman.
“Aku percaya padamu, Leon. Hidupku ada di tanganmu.” Vania tersenyum simpul sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan sebagai tanda sepakat. Leon tak menyia-nyiakan waktu untuk membalasnya.
__ADS_1
“Pertama, aku akan mengatur agar kau dipindahkan ke sel yang lebih layak.” Leon menatapnya dengan perasaan campur aduk. Vania tampak sangat menyedihkan di hadapannya. Matanya cekung dihiasi lingkaran hitam. Wanita itu pasti tidak dapat tidur dengan nyaman.
“Sungguh, kau bisa melakukan itu?” Vania bertanya penuh harap.
“Ya, tentu saja. Katakan padaku semua yang kau butuhkan. Aku akan mengusahakannya untukmu.” Leon mengedipkan mata pada Vania.
Vania bersyukur. Dia memang butuh pengacara. Dia tak tahu apa-apa tentang hukum, aturan penjara, dan segala ***** bengeknya. “Terima kasih banyak Leon. Kau tak tahu betapa berartinya semua ini untukku.”
“Jangan remehkan aku, Vania. Tentu saja aku tahu. Bukan kah aku sudah bilang aku cukup berpengalaman?”
Leon membuktikan ucapannya. Hari itu juga Vania dipindahkan ke sel yang lebih baik. Kasur yang empuk, kamar mandi dalam, kipas angin. Ya, memang tidak mewah, tapi itu jauh lebih baik. Menu makanannya pun lebih variatif dan enak. Kata Leon, semua bisa diatur dengan uang.
Vania melimpahkan semua urusan hukumnya ke tangan Leon. Dia pengacara muda, yang cekatan, berani, dan cerdas. Leon membuat bebannya menjadi terasa lebih ringan.
“Apa maksudmu?” Vania mengerutkan dahi.
“Saham. Dia telah memindahkan separuh sahamnya untukmu seminggu sebelum kematiannya.” Leon berkata.
“Daddy? Astaga! Aku tidak tahu dia akan begitu.” Vania menduga kalau Johan tadinya akan mengatakan itu semua pada malam itu. Tetapi, dia telah meninggal sebelum sempat menyampaikan apa pun kepadanya.
“Kupikir, dia akan menjadikannya hadiah kejutan untukmu.” Leon berkata, “dan tidak semua orang menyukai keputusannya.”
Vania termenung. Dia mulai merasa ingin menangis lagi. Daddy-nya yang baik. Padahal Vania sunguh-sungguh tidak mengharapkan apapun selain cintanya. Dia benar-benar tidak peduli. Johan sudah memberi semua yang dia butuhkan sebagai seorang wanita. Dia tahu cara memperlakukan Vania hingga membuatnya merasa sangat dicintai dan dihargai. Uang bukan lagi hal yang penting untuknya.
__ADS_1
“Aku tak tahu apa-apa. Aku tidak pernah memintanya sampai melakukan hal sejauh itu.”
“Tidak banyak pihak yang sudah mengetahui pengalihan saham itu, dan salah satu dari mereka adalah Barli dan adiknya Liana. Aku berani bertaruh jika hubunganmu dengan anak-anak Pak Johan pastilah tidak baik. Kalau pun ada orang yang begitu besar rasa kebenciannya padamu, aku akan menaruh nama-nama mereka dalam daftar teratas.”
“Barli? Liana? Ya, tentu saja mereka membenciku. Reputasiku sebagai kekasih memang tidak bagus.” Vania mengingat kembali betapa marahnya Barli saat mengetahui kedekatannya dengan Johan.
“Aku menduga kasus yang terjadi pada dirimu adalah setingan. Hasil rekayasa seseorang yang sudah direncanakan baik-baik. Mereka ingin menjebakmu sebagai pembunuh Johan. Sayangnya mereka lumayan cerdik untuk menghapus bukti-bukti.”
“Bukti? Bukti apa maksudmu?”
“Kamera pengintai di lantai kamar hotel tempat kejadian, secara misterius mengalami kerusakan tepat di hari yang sama dan petugas keamanan yang bertanggung jawab pada hari itu kebetulan mengundurkan diri sehari setelahnya. Ini jelas bukan kebetulan. Seseorang sudah merencanakan ini semua.”
“Apakah ada racun di makanan lainnya juga?” Vania ingat dia sempat mencicipi sedikit makanan penutup mulut pada waktu itu.
“Tidak ada. Semua makanan yang disediakan hotel, aman dari segala jenis racun. Yang berwenang sudah mengeceknya. Satu-satunya yang beracun adalah anggur yang kau bawa. Apa kau ingat kau bertemu dengan siapa setelah kau membeli botol anggur itu? Kita harus tahu kapan racunnya dicampurkan.”
“Aku tidak tahu. Aku membelinya pada hari yang sama. Sebelum pergi ke hotel aku sengaja mampir dulu sebentar untuk anggur itu. Tak ada yang aneh. Anggurnya masih tersegel sesampainya di hotel. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Johan sendiri lah yang membuka segelnya dan menuangkannya ke gelas. Aku juga melihatnya menyesap sedikit dan tidak terjadi apa-apa padanya. Bagaimana cara racun itu masuk ke dalam botol anggur?”
“Kalau mendengar ucapanmu, satu-satunya hal yang paling memungkinkan adalah seseorang telah masuk ke kamar kalian diam-diam, lalu memasukkan racunnya ke anggur dan memaksa Johan untuk menenggaknya.”
“Ya, aku sudah mengungkapkan sedikit berkenaan tentang itu kepada polisi. Bahwa aku melihat seseorang yang asing berjalan ke arahku saat aku kembali ke kamar. Aku yakin dia pasti orangnya. Tapi, dari mana dia bisa masuk? Kapan? Aku meninggalkan pintu hotel dalam keadaan terkunci. Para pelayan sudah datang. Tak ada lagi yang mungkin datang mengetuk pintu kamar karena kami sudah berpesan sebelumnya untuk tidak mau diganggu oleh suara ketukan di luar. Johan pun tidak mungkin membukakan pintu sembarangan.”
“Bagaimana jika seandainya saja, orang itu sudah ada di sana? Bersembunyi di suatu tempat dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya? Dari kondisi TKP, aku yakin telah terjadi perlawanan sebelumnya. Lawannya pasti lah cukup tangguh.” Leon mulai menemukan celah pada kasus Vania. Dia memutuskan akan bertanya lebih lanjut kepada Hendrik.
__ADS_1
Leon tahu Hendrik polisi yang dapat diandalkan. Mereka sudah sering saling membantu dalam kasus-kasus kriminal sebelumnya. Dia yakin bahwa Hendrik pun mempunyai jalan pikiran yang sama dengannya. Vania tidak bersalah.