Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Perjalanan Kembali


__ADS_3

Johan Baroto bukan tidak tahu, Vania mulai menyayanginya dengan tulus. Berkali-kali ia menepisnya, tetapi dia sendiri tak memungkiri, dirinya juga terlanjur sayang dengan wanita yang pantas menjadi anaknya itu. Hanya saja, Johan Baroto lebih bisa menekan perasaannya. Baginya, membuat Vania bahagia lebih penting.


Sikap Vania ketika mereka sedang berduaan seperti ini membuat Johan Baroto gelagapan.


“Daddy, apakah Vania tidak cukup cantik untuk Daddy?”


“Vania, apa-apaan kau ini? Tentu saja kau adalah wanita cantik, bukan hanya untuk Daddy, semua orang mengagumi kecantikanmu.”


“Kenapa Daddy tidak menyayangi Vania seperti seorang perempuan?” rajuknya,


“Vania, jangan salah paham tentang ini. Daddy hanya ….”


“Hanya menganggap Vania seperti yang lain. Sekretaris, asisten pribadi, pegawai? Vania memang tak pantas mendapatkan itu.”


Perlahan Vania melepaskan tangannya dari leher Johan Baroto. Perkataan Vania membuat Johan Baroto merasa bersalah.


“Vania, bukan begitu maksud Daddy.”


Vania menjauh, dia berjalan ke dapur, sambil menyeka air matanya. Rasanya ia tak pantas bersikap seperti ini. Daddy sudah begitu baik terhadapnya. Perasaan ini harus ditekan kuat-kuat.


“Daddy mau makan apa malam ini? Kita makan di rumah atau keluar?”


“Ada koki yang akan menyiapkan makan malam kita, Vania.”


“Baiklah, Vania ke kamar dulu.”


Vania berbalik arah menuju kamarnya. Semua diluar rencananya, sebenarnya ia memang sangat merindukan Daddy. Perasaan yang selama ini tumbuh seiring dengan kesabaran pria itu membimbingnya. Ternyata dirinya salah. Daddy hanya menganggapnya sebagai pegawai, seperti juga Barli yang menganggapnya tak lebih dari seorang sekretaris.


Namun ada satu hal yang terpenting. Vania lebih bisa dipercaya menjaga semua harta dan asetnya. Johan Baroto mempunya rencana lain. Dia akan memberikan semua pada Vania. Harta, kepercayaan, juga cinta. Vania layak mendapatkannya.


“Vania, kita bisa bersenang-senang setelah semua urusan pekerjaan beres. Besok kita akan bertemu orang penting, kamu harus menandatangani semua berkas yang dibutuhkan. Sebelumnya Daddy ingin bertanya, apakah bisa Daddy bisa mempercayaimu melebihi Barli dan Liana?”


Vania mengernyitkan dahi. Sebenarnya ia tak ingin membahas masalah yang membuatnya berpikir. Vania hanya ingin rileks dan bersenang-senang. Namun rupanya, Daddy ingin membicarakan sesuatu yang lebih penting. Vania tahu kapan Daddy bisa dibantah sebagai teman berdebat, dan kapan dia harus menurut seperti bawahan. Sekarang Daddy sedang berbicara padanya seperti layaknya seorang bos kepada anak buah.

__ADS_1


Tunggu, bukan itu. Vania lebih merasa Daddy sedang butuh orang yang bisa dipercaya. Belahan jiwa, seperti istri tempat menitipkan rahasia. Ada denyar halus menyisir di sisi hatinya yang tiba-tiba menghangat. Baiklah, menjadi apa pun yang Daddy mau, tidak masalah.


“Besok kamu akan menandatangi berkas penting sebagai pemegang saham semua perusahaan Daddy.”


Vania terbelalak tak percaya. Pemegang saham? Bagi Vania ini terlalu mengejutkan. Bagaimana mungkin semua berjalan secepat ini. Bukan harta yang selama ini dia cari. Kedekatannya dengan Daddy justru menimbulkan perasaan lain. Rasa yang berbeda dari yang pernah ia rasakan kepada Avan, Dino, maupun Barli.


Penandatangan pengalihan saham berjalan seperti yang direncanakan Daddy. Vania senang, meskipun tergambar jelas kebingungan di wajahnya. Bagaimana jika Barli atau Liana tahu. Apakah ini tidak menambah kebencian mereka kepadanya.


“Semua pembenci akan melihat kawan sebagai lawan. Sebaliknya, seorang pecinta selalu melihat lawan, adalah kawan yang belum berhasil didekati.” Seolah paham dengan hal yang dipikirkan Vania, Daddy menenangkan.


Malam itu mereka menghabiskan waktu di Kozue, menikmati makanan dan minuman sambil memandang view menghadap Tokyo. Sebuah dinner romantic diberikan Daddy atas pencapaian Vania. Shabu-shabu dengan daging premium wagyu menjadi andalan restoran dengan view yang disetting bisa memandang Gunung Fuji di kejauhan.


Seandainya malam itu bisa dilanjutkan dengan kehangatan di ranjang, lengkaplah sudah kebahagiaan Vania. Tak dipungkiri dirinya membutuhkan belaian lelaki. Kali ini lelaki yang tepat. Daddy seolah membawanya terbang tinggi, lalu menghempaskannya ke bumi. Hari berikutnya Daddy kembali ke Jakarta, dan Vania kembali ke Melbourne.


***


Pekerjaan di kantor satu demi satu berhasil diselesaikan Vania. Seperti janji Daddy, Bangkok adalah kota berikutnya yang ia singgahi. Mengurus semua proyek dan mengawasi beberapa rekanan kerja. Vania menjadi cekatan dan lebih tajam intuisi bisnisnya. Daddy benar memberinya lebih banyak kesempatan. Bukan hanya untuk berhasil. Banyak juga pekerjaan Vania yang hasilnya tak seperti harapan. Jika sudah begitu, Vania akan merajuk dan meminta kembali ke Jakarta. Namun, Daddy mempunyai seribu satu alasan untuk membangkitkan kembali semangat Vania.


Pada suatu sore, saat hujan tengah mengguyur Bangkok, Vania video call dengan mamanya.


“Beberapa hari ini kondisinya tidak terlalu baik, Nak.”


“Kenapa, Ma. Mama rutin membawa Aileen cuci darah, kan?”


“Iya, Mama ikuti semua jadwal Aileen. Dia sekarang sedang bersemangat melukis. Minggu lalu dia ikut kompetisi melukis, diantar oleh Avan. Kemungkinan dia kelelahan, meskipun Mama sudah mengingatkan.”


“Aileen tidak boleh terlalu lelah. Nanti aku akan bicara pada Avan, supaya dia tidak terlalu sering mengajak Aileen keluar, Ma.


“Ini malah Aileen yang minta, Vania. Avan hanya memenuhi permintaan anaknya. Seandainya saja kamu melihat matanya berbinar saat mengikuti kompetisi itu, Nak.”


“Tetap saja, Avan harus diperingatkan, Ma. Aileen berbeda dengan anak-anak seusianya.”


“Vania, sampai kapan kamu akan merahasiakan kondisi Aileen yang sebenarnya kepada Avan?”

__ADS_1


“Entahlah, Ma. Vania belum siap jika harus mengatakan semua ini. Vania tidak mau jika Avan khawatir berlebihan, kemudian mempunyai rencana untuk membawa Aileen.”


“Sayang, demi kebaikan Aileen, sebaiknya kamu harus segera memberitahunya.”


“Baik, Ma. Nanti Vania akan coba bicara dengan Avan. Sebenarnya nanti kalau minggu depan pulang, Vania akan bicara langsung.”


“Apa? Kamu minggu depan pulang,Nak? Alhamdulillah. Mama senang mendengarnya.”


“Yey, Mama mau pulang, Aileen minta oleh-oleh boneka Barbie sama rumahnya, ya, Ma.” Putri kecilnya tiba-tiba nimbrung di depan kamera, membuat Vania tergelak. Wajah Aileen terlihat cantik, meskipun memang tidak terlihat ceria.


“Iya, Sayang. Nanti Mama bawakan boneka Barbie dan rumahnya. Tunggu Mama datang. Aileen harus dengarkan nenek. Makan dan tidur teratur, juga minum obat sesuai waktunya.”


“Aileen bosan minum obat terus!” Wajah mungil itu menjauh dari kamera sambil mengomel tidak jelas. Vania tersenyum sekaligus menangis. Tangannya membungkam mulutnya yang hampir saja menangis. Dia tidak mau mamanya bersedih melihatnya menangis.


“Sudah dulu ya, Ma. Nitip Aileen.” Vania mematikan video call. Hatinya perih mendengar kalimat Aileen barusan.


Sejak berumur tiga tahun, Aileen telah akrab dengan bermacam obat. Sampai sekarang Aileen sudah memasuki tahap cuci darah akibat penyakit Leukimia yang ia derita. Vania sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Aileen sembuh, tak peduli berapapun biaya yang harus ia keluarkan. Itulah alasan Vania mau dekat dengan Barli dan menerima rencana gila Avan.


Mata Vania memandang layar ponselnya yang berkedap-kedip. Satu pesan dari Daddy membuat matanya melebar.


[Daddy sudah siapkan malam romantic kita di hotel bintang lima untuk kepulanganmu minggu depan. Single bed, untuk kita berdua]


Apakah ini  artinya Daddy sudah bisa menerima kehadirannya sebagai seorang wanita yang utuh mencintai dengan hati?


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2