Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Barli tahu Liana sudah tidak berdaya dalam hal keuangan dan bisnis. Ditambah lagi keputusan papanya yang sudah mengalihkan separuh saham kepada Vania. Liana diambang kebangkrutan! Tapi mungkin masih ada harapan. Hari ini adalah waktunya pengacara membacakan wasiat dari almarhum ayahnya.


Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Barli, Liana, Revan, juga pengacara pribadi almarhum Johan Baroto, Bona. Bona sudah dipercaya mendiang Johan selama bertahun-tahun untuk mengurusi semua hal-hal yang menyangkut masalah hukum, termasuk surat wasiatnya.


“Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sini, Pak Bona. Silakan kita langsung mulai saja pembacaan surat wasiat Papa,” ujar Barli membuka percakapan.


“Maaf, Pak Barli. Kita harus menunggu seorang lain,” sahut Bona.


“Siapa?” Barli, Liana, Revan saling berpandangan.


“Perwakilan dari Ibu Vania.” Bona menjawab singkat.


“Untuk apa? Dia bukan bagian dari keluarga kami. Kami tidak punya urusan dengannya.” Liana berkata kesal. Wanita itu selalu saja hadir menjadi bayang-bayang keluarganya. Liana semakin membenci Vania.


“Pak Johan Baroto telah berpesan bahwa Vania juga harus hadir dalam pembacaan surat wasiat. Jadi, mari kita tunggu saja. Pengacara Ibu Vania sudah berjanji akan datang. Masih ada waktu.”


Semenit kemudian seorang asisten rumah tangga datang mengabarkan kedatangan Leon. Barli mengangguk dan menyuruhnya untuk mempersilakan Leon masuk.


“Selamat siang Bapak-bapak dan Ibu. Saya, Leon, datang mewakili klien saya, Ibu Vania.” Leon memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi tak ada yang menghiraukan. Semua mata memandang Leon dengan tatapan tidak suka.


“Baiklah, karena semua sudah hadir, saya akan membacakan surat warisan dari Bapak Johan.”


Sang Pengacara menunjukkan sebuah amplop yang masih tersegel lalu membukanya di hadapan mereka.


“Saya Johan Baroto menulis surat wasiat ini dalam keadaan sadar dan tidak dalam ancaman atau paksaan siapa pun, dengan ini mewariskan seluruh saham dan perusahaan atas nama saya kepada Vania....”


Prang! Liana menjatuhkan gelas di tangannya. “Apa?” teriaknya, “ini pasti bohong!” Dia merebut surat wasiat dari tangan Bona dan langsung lemas setelah memastikan bahwa isinya benar.


Revan ganti merebut surat itu dari tangan istrinya dan dengan marah menghempaskannya ke atas meja.


“Apa yang ada dalam pikiran Johan, heh?” Surat wasiat itu telah menghancurkan segala harapannya.


Sedangkan Barli hanya diam di tempat, mencoba memahami apa yang ada di pikiran almarhum ayahnya saat menulis surat wasiat itu.


“Apa Vania mengetahui ini sebelumnya?” tanyanya pada Bona.

__ADS_1


“Saya dapat memastikan bahwa Ibu Vania sebelumnya tidak mengetahui apa-apa tentang ini. Saya yakin almarhum Bapak Johan menyembunyikan isi surat wasiat ini dari siapa pun. Seperti yang sudah Anda saksikan sendiri, segelnya masih utuh.”


“Baiklah. Kalau itu memang keinginan terakhir Papa, kalian urus saja semuanya.” Barli berkata lemah.


“Kakak! Apa kau menerima ini semua begitu saja?” Liana mendelik marah. “Rumah ini. Apa rumah ini juga akan menjadi milik Vania?” Dia beralih pada sang Pengacara.


“Ya, rumah ini beserta segala isinya. Termasuk koleksi kendaraan Pak Johan akan menjadi milik Ibu Vania. Semua harta, saham, dan perusahaan atas nama Pak Johan diwariskan kepada Ibu Vania.”


Revan merangsek maju dan menarik kerah Bona. “Kau pasti menipu kami semua. Kalian bersekongkol! Surat itu palsu!”


Barli menarik Revan menjauh. “Kendalikan dirimu. Kau tahu sendiri surat itu tidak mungkin dipalsukan.”


“Sa-saya, urusan saya hari ini selesai sampai di sini. Saya permisi dulu.” Bona cepat-cepat permisi dengan muka pucat. Dia takut menjadi sasaran kemarahan lebih lanjut.


“Saya akan ikut bersama Anda, Pak Bona. Banyak yang harus kita bicarakan setelah ini. Permisi, semuanya.” Leon menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia merasa lega dan bahagia untuk Vania. Vania pantas mendapatkan semua ini.


“Seharusnya aku membunuh wanita itu sekalian!” Liana mendesis marah setelah Bona dan Leon pergi.


“Apa maksudmu, Liana?” Barli  menarik lengan Liana. “Sekalian katamu?” Dia memandang Liana ngeri.


“Aku tidak mengerti! Katakan yang jelas, Liana! Apa maksud semuanya?” Barli nyaris tak dapat bernapas saking cemasnya.


“Ya! Liana lah yang merencanakan pembunuhan Papi, sang milyuner Johan Baroto.” Revan berkata.


“Tidak mungkin! Bukan Liana. Ini pasti ulahmu! Adikku bukan pembunuh!” Barli menatap Revan dan Liana bergantian. Tuhan, ini pasti mimpi buruk.


“Revan benar. Aku yang merencanakan pembunuhan Papa!” Liana berteriak. “Aku benci dia! Aku sangat membencinya. Kau tahu apa yang pernah dikatakan Papi padaku? Dia bilang aku tidak berguna! Papi bilang aku wanita paling bodoh yang pernah dia temui. Aku tidak becus memilih suami. Aku tidak becus mengelola perusahaan. Aku tidak pantas menjadi bagian dari keluarga. Memangnya apa salahku? Apa salahku?”


Plak! Barli menampar wajah Liana. “Teganya kau! Hanya karena sedikit kata-kata dari Papa kau sampai hati merencanakan pembunuhan?”


“Ha-ha-ha. Aku mengalahkannya. Pada akhirnya aku berhasil mengalahkannya.” Liana mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


“Sekarang apa yang akan kau lakukan, Kakak Ipar? Apa kau akan menyerahkan adikmu sendiri pada polisi? Kau tahu dia sedang hamil dan jiwanya labil. Dia pasti tidak akan bertahan berada sendirian di balik jeruji besi. Kau sudah kehilangan Papi. Apa kau akan kehilangan adikmu juga?” Revan bertanya sinis.


Barli terprovokasi dengan kata-kata Revan dan mulai menyerangnya. “Ini semua gara-gara kamu. Kau telah membuat adikku kehilangan akalnya!”

__ADS_1


Revan mengelak dan ganti meninju rahang Barli. “Kali ini aku akan melawanmu.”


“Sial! Beraninya kau!” Barli berteriak marah.


“Easy, Bro! Sekarang bukan saatnya kita bertengkar. Ingat, kita ini keluarga. Kita harus bersatu dan memikirkan semuanya baik-baik. Pasti ada jalan keluar.”


Revan berkata dengan suara tenang. Dia lalu duduk santai di sofa sambil merogoh sekotak rokok dan menyulutnya. “Duduk lah, Kakak Ipar dan dengarkan rencanaku.”


Kepala Barli serasa mau meledak. Apa-apaan ini? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Revan benar. Dia tidak mau kehilangan Liana. Liana satu-satunya keluarganya yang masih tersisa. Dia menengok ke arah Liana. Adiknya itu kini bagaikan cangkang kosong. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Liana, apa yang akan terjadi padamu setelah ini? Pada kita?


Barli berusaha keras menenangkan hatinya agar dapat berpikir dengan lebih jernih. “Apa rencanamu?” tanyanya pada Revan.


“Biarkan wanita itu yang menanggung semuanya. Dia pantas mendapatkannya setelah semua yang dia lakukan pada keluarga kita. Aku rasa itu cukup adil. Harga yang pantas untuk semua kekayaan yang akan dia dapatkan nanti.”


“Vania, maksudmu?” Ada nyeri di dada Barli. Dia ingat betapa pucatnya wajah Vania saat dia mengunjunginya di penjara. Sekarang semua sudah jelas, bahwa Vania memang bukanlah pembunuhnya, melainkan Liana. Ini sangat buruk!


“Ya. Biar saja wanita itu membusuk di penjara.” Liana yang sedari tadi mematung tiba-tiba angkat bicara. “Maafkan aku, Barli. Aku menyesal. Mestinya aku tidak membunuh Papi. Aku sudah bertindak terlalu jauh.”


“Bagaimana kau bisa melakukan itu? Meracuni Papi? Dari mana kau tahu Papi akan berada di sana bersama Vania?” Barli diam sesaat. Sesuatu terlintas dalam pikirannya. “Apa kau yang mengirim SMS kepadaku waktu itu?”


“Ya. Aku membayar orang untuk mengikuti Papi berhari-hari. Aku tahu dia akan bertemu dengan wanita itu di sana. Aku sengaja memberitahumu supaya kau pergi ke sana, memancing Vania agar keluar, supaya kami punya kesempatan untuk menyelinap ke kamar hotel, meracuni Papi dan membuat Vania menjadi tersangka.”


Darah Barli menggelegak oleh amarah. “Pantas saja kau begitu cepatnya menghubungi polisi bahkan sebelum kau melihat jenazah Papi. Apa kau sendiri yang membunuhnya? Memaksanya minum anggur beracun?”


“Bukan aku.” Liana melirik Revan.


“Kurang ajar! Kau pelakunya, Revan?” Barli melompat menyerang Revan. “Aku akan membunuhmu!”


Barli mengamuk dan memukuli Revan bertubi-tubi. Laki-laki itu lah yang telah merenggut semua dari dirinya. Nyawa ayahnya dan kewarasan adiknya. Dia harus membalaskan dendam. Dia harus membunuh Revan. Tak peduli jika nantinya dia harus masuk penjara gara-gara itu.


“Barli, hentikan! Kau bisa membuatnya mati.” Liana berteriak-teriak histeris. Dilihatnya Revan semakin tak berdaya, darah membanjiri wajahnya tapi tidak ada tanda-tanda Barli akan berhenti. Liana kemudian meraih asbak kristal yang ada di meja dan menghantamkannya ke kepala Barli.


 


 

__ADS_1


__ADS_2