
Suasana masih gelap saat pesawat Turkish Airlines landing di bandara Soekarno-Hatta. Bandara basah oleh gerimis yang sepertinya turun sudah cukup lama.
Vania berjalan beriringan bersama Barli. Seminggu di Turki membuat keduanya terjerat romansa yang sukar untuk dipatahkan begitu saja. Setidaknya masih ada sisa-sisa rasa yang menggelora di dada Barli untuk terus bersama Vania.
Tangannya melingkar di pinggang ramping yang selalu menjadi daya tarik luar biasa saat mereka bercinta. Pesona wanita cantik seksi itu memang begitu angkuh membiusnya. Terkadang Barli berpikir untuk menjadikan Vania istrinya. Bagaimana mungkin? Tentu saja hal itu akan membuat Papinya murka.
Hidup Barli sudah tertata begitu rapi semenjak kecil. Dia tidak pernah merasakan kekurangan ataupun penderitaan. Papinya adalah orang kaya sejak lahir, meskipun tak dipungkiri kerja keras Papi juga membuat hidup mereka stabil dari waktu ke waktu.
Apa jadinya jika Barli tiba-tiba membawa Vania, sang sekretaris pribadi pulang, lalu mengenalkannya sebagai calon istri. Bukan hanya Papi, Barliana juga pasti akan mengkhotbahinya seperti anak kecil. Sejak kematian Mami, Barliana tumbuh menjadi sosok keibuan.
Jika ada hal yang tidak bisa dilakukan Barli, mungkin adalah memilih atau melakukan sesuatu yang sesuai dengan hatinya. Kuliah di Paris dengan jurusan yang sudah dipilihkan Papi, lalu saat pulang ke Indonesia jabatan bergengsi sudah menunggunya.
Wakil Presiden Senior Pengembangan Usaha di perusahaan yang dua tahun terakhir menggunakan brand namanya. PT Barlian Mediacom. Tentu saja ini bukan perkara main-main. Semua langkahnya dalam pantauan Papi. Meskipun Barli bisa membuktikan kerja kerasnya, tetapi Papi selalu punya orang-orang yang dengan ketat mengawasi semua aktivitasnya.
“Papi apa-apaan? Barli kerja di sini, Pi! Enggak usah Papi mengirimkan orang hanya untuk memantau Barli!” serunya kesal saat ia berada di Hongkong.
“Pekerjaan apa yang kamu lakukan di Macau?” jawab Papi dingin.
Sial! Hanya untuk bersenang-senang mengadu keberuntungan di Macau sehari saja ia mesti diawasi. Wajar jika Barli merasa butuh hiburan. Dunia investasi yang ia geluti beresiko tinggi. Sebagai jebolan ilmu ekonomi dan keuangan dari American University Of Paris, Barli sudah belajar semua resiko investasi. Untuk itu sesekali memutar uang di meja casino Macau menjadi hal yang masuk akal. Namun ternyata hal itu membuat Papi marah. Terkadang Barli muak dengan sikap Papi, tetapi untuk melawan, ia tak punya kekuatan.
“Sayang, aku pulang sendiri, enggak usah diantar sopirmu. Ada beberapa kebutuhan Aileen yang harus kubeli sekalian. Thanks for Turki.” Vania berpamitan kepada pria yang seminggu ini telah memberinya kehangatan ranjang.
Mungkin sekarang rekeningnya sudah menggemuk. Setiap kali usai menemani Barli, Vania mendapatkan upah yang sangat pantas. Entahlah, akhir-akhir ini Vania tak lagi antusias melihat rekeningnya. Ia hanya membutuhkan biaya untuk pengobatan Aileen.
Mereka berpisah di terminal tiga bandara. Setelah dirasa situasi sudah aman, Vania bergegas menuju tempat parkir di mana Avan sudah menunggunya.
“Hai, Hun. Wow kamu kelihatan cantik dan segar,”sapa Avan saat melihat Vania memasuki mobil Alpard putih yang sudah menantinya sejak satu jam lalu. Vania menyodorkan pipinya kanan dan kiri , pasrah dicium Avan. Mereka berpelukan sesaat. Sopir pribadi yang memegang kemudi membuang pandangan ke jalanan.
“Gimana Turki?” tanya Avan basa-basi.
__ADS_1
“Selama aku pergi kamu sering menengok Aileen, kan?” Vania memang selalu mengkhawatirkan putri kecilnya. Kondisi Aileen tidak sedang baik-baik saja. Hal ini masih tidak diketahui Avan, karena Vania menyimpannya rapat-rapat.
“Aman, Aileen sering aku ajak ke taman, juga ke mall. Kemarin dia senang banget bAileenang di Dufan.” Evanbangga karena memang kemarin ia dan Aileen bersenang-senang.
“Apa? Kamu ajak dia bAileenang?” Suara Vania meninggi, membuat Avan tersentak kaget.
“Iya, Hun. What’s wrong? Aileen happy sekali, loh!”
Vania hampir saja tak kuasa menahan diri. Seharusnya Avan tidak melakukan itu.
“Babe, lain kali kamu harus izin dulu padaku kalau mau bawa Aileen kegiatan outdoor, kamu enggak bisa begitu aja mengajaknya bAileenang tanpa seizinku!”
“Hei, tenang Hun! Aileen bersenang-senang dengan papanya. Apa yang salah?”
Yang salah adalah tubuh Aileen tidak bisa sekuat itu!
Nyaris saja Vania mengatakan hal itu, tetapi otaknya masih bisa berpikir jauh. Vania tidak mau jika Avan jatuh kasihan pada Aileen. Ia tidak pernah berpikir anak adalah solusi supaya Avan menikahinya, tidak. Jika Avan menikahinya, itu karena keputusannya sendiri, bukan karena anak, atau karena kasihan. Setelah semua kesalahan yang dilakukannya pada masa lalu, Vania ingin mengawali semua dengan benar.
“Beri aku waktu, aku capek Avan.”
“As you wish. Aku hanya ingin tahu. Setidaknya aku juga bisa memikirkannya. Bagaimanapun ini akan melibatkan kita. Aku enggak mau kamu salah mengambil keputusan.”
“Sejak setuju masuk ke Barlian Mediacom, aku berpikir sudah salah mengambil keputusan,” sahut Vania ketus.
Terkadang ia memang ingin kembali. Sayangnya, hidup seakan tak pernah berpihak kepadanya. Sampai detik ini ia memang telah bersama Avan lagi, tetapi sepertinya ia hanya mengulang-ulang kisah yang sama. Entahlah, mungkin memang dirinya yang terlalu bodoh membiarkan perasaan ini berlarut-larut.
Setelah menikah dengan Dino, Vania hanya berharap ia dapat menjalani hidup normal, seperti wanita kebanyakan. Menikah, punya anak, punya karier. Ternyata, lagi-lagi nasipnya tak seberuntung itu. Dino memang menikahinya karena berpikir Aileen adalah anaknya, bukan karena ingin bersama dirinya. Dari pernikahannya yang gagal Vania belajar, semua harus dilakukan benar. Ia mencintai Avan sebesar itu, tetapi Avan selalu tak memberinya pilihan.
“Kita langsung pulang? Atau kau mau makan dulu? Pasti kau lapar, Hun.” Vania tak menjawab kata-kata Avan. Pikirannya mengembara, membayangkan semua kemungkinan jika dirinya mengambil sebuah keputusan besar lagi.
__ADS_1
Mobil berhenti di restoran siap saji. Avan menggandeng tangan Vania yang sekarang terlihat lebih banyak diam. Ingin Avan menembus pikiran kekasihnya itu, tetapi yang tampak hanya kebisuan.
“Avan, apakah kamu masih ingin aku menghancurkan perusahaan Barli?” tanya Vania sambil menggigit burger.
“Itu adalah keinginan terbesarku, Hun. Kamu tahu jika saat itu aku tidak dalam kondisi terpuruk akibat kekalahan tender dengan perusahaan Barlian, aku sudah menikahimu.”
Vania terdiam sesaat. Entahlah, rasanya ia ingin mempercayai omongan Avan. Namun rasanya sulit, karena ia tahu betapa Avan sangat mencintai pekerjaannya. Seorang workaholic seperti Avan tidak ada hal yang lebih penting dari pekerjaan yang harus berjalan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Membuat goal-goal pencapaian, lalu meraihnya satu demi satu. Dan dalam list goal itu bisa dipastikan tidak ada namanya juga Aileen. Itu dulu, tujuh tahun lalu.
Apakah sekarang Avan sudah berubah? Vania harus mencari tahu.
“Di mana kita akan menikah?”
“What, maksudmu?”
“Jika aku berhasil membuat perusahaan Barli bangkrut, di mana kita akan menikah? Bukankah itu yang kau janjikan padaku? Atau itu cuma omong kosong saja, karena sebenarnya kau belum merencanakan apa-apa untuk kami? Aku dan Aileen.”
“Kita, hun. Kita bertiga. Karena kita akan menjadi keluarga. Kamu dan Aileen adalah tujuan hidupku sekarang.”
“Kenapa kita tidak melupakan semua dan memulainya dengan benar sekarang? Avan, lupakan Barli. Barli tidak penting lagi jika kita memang ingin memulai hidup kita lagi.” Vania menatap Avan berharap laki-laki itu mengabulkan permintaannya.
“Vania, kamu ingin menyerah? Apa yang sudah dilakukan pria itu kepadamu selama di Turki? Dia sudah mengambil perusahaanku, harga diriku, lalu sekarang dia juga akan mengambil kamu? Kemana Vania yang selalu mengerti aku?”
Percuma mengharap Avan berubah. Vania menelan kecewanya bersama secangkir hot chocolate. Mungkin memang benar semua sudah terlanjur, tak ada waktu baginya untuk mundur. Tidak salah jika di otaknya sekarang yang ada hanya rencana untuk mendekati papi Barli. Johan Baroto adalah kunci!
__ADS_1