
“Ibu Vania? Anda kami tahan sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan Johan Baroto.” Beberapa petugas berseragam mengejutkan pagi Vania.
Aileen yang ada di belakangnya mulai menangis ketakutan melihat orang-orang berseragam polisi datang tiba-tiba. Gadis kecil itu tahu polisi hanya menangkapi penjahat. Di mana penjahatnya?
Vania terlalu terkejut untuk dapat berkata-kata. Saat seorang petugas meyodorkan surat perintah penahanan sementara kepadanya, dia mendadak lupa caranya membaca. Vania tidak dapat mengerti apa yang tertulis dalam surat itu. Surat penahanan apa? Siapa? Kenapa? Pembunuhan? Johan? Tidak! Tubuhnya limbung. Vania jatuh terduduk dengan wajah pucat.
Aileen segera berlari menghambur ke pelukannya. “Mama.” Gadis kecil itu menangis dan semakin ketakutan melihat raut wajah ibunya.
Seorang polisi wanita maju ke depan, dia berlutut di depan Vania sambil mengeluarkan borgol. Vania menatapnya nanar. “Tolong, jangan di depan anakku. Aku tidak akan kabur. Aku akan ikut kalian. Tolong, beri aku waktu untuk menenangkan anakku.”
Polisi wanita itu mengangguk mengerti kemudian membantu Vania bangkit. Dia memandang iba pada Aileen yang menggenggam erat ujung baju ibunya. Bocah kecil itu tak berhenti menangis. “Mama jangan pergi. Kalian jangan bawa Mama. Mama bukan penjahat!”
“Mama harus pergi bekerja seperti biasanya, Sayang. Jangan takut. Polisi ini datang untuk menjaga Mama, untuk melindungi Mama. Kau benar, Sayang. Mama bukan penjahatnya. Mama hanya membantu mereka untuk menemukan penjahatnya. Sabar, Sayang. Mama sangat sayang padamu.”
Sekali lagi Vania memeluk Aileen erat. Dia berpikir mungkin dia yang lebih membutuhkan dekapan gadis kecilnya. Kehangatan putrinya lah yang mampu memberikan kekuatan kepadanya.
Ibunya yang sedari tadi mengawasi tak jauh dari mereka, juga hanya bisa menangis. "Vania, apa yang sedang terjadi, Nak?"
"Percaya lah padaku, Ma. Aku tidak melakukan apa-apa. Tolong jaga Aileen." Vania ganti memeluk ibunya sebelum melangkah mengikuti petugas yang akan membawanya.
Di kantor polisi, Vania diinterogasi.
“Apakah Anda mengenal korban, Johan Baroto?” Vania membaca sekilas papan nama yang ada di dada petugas polisi yang tengah menanyainya. Hendrik. Dia masih muda tapi sorot matanya terlihat cerdas dan berpengalaman. Suaranya dalam dan jelas. Setiap kata diucapkannya tanpa ragu tanpa emosi.
“Ya.”
“Apa hubungan Anda dengan korban?”
“Saya,” Vania menunduk memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. “Saya kekasihnya.”
“Apakah Anda orang yang sedang bersama dengannya di kamar hotel itu?”
“Ya.”
__ADS_1
“Apakah ada orang lain di kamar itu?”
“Saya rasa tidak ada. Hanya ada saya, Johan, dan beberapa petugas hotel yang datang sebentar untuk mengantarkan makanan.” Vania tiba-tiba merasa kesal. “Katakan pada saya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian berkata Johan terbunuh dan saya tersangkanya? Itu sangat tidak masuk akal!”
“Tenang Ibu Vania. Anda akan mengetahui semuanya setelah menjawab pertanyaan kami.” Hendrik menoleh pada rekannya.
“Tolong bawa kemari botolnya.” Seorang petugas lain datang lalu meletakkan sebuah botol anggur yang isinya tinggal separuh di meja di depan Vania.
“Anda mengenali botol anggur ini? Kami menemukannya di kamar hotel yang disewa korban, Johan Baroto.” Hendrik melanjutkan lagi pertanyaannya.
“Ya. Itu anggur yang saya beli.”
“Apakah korban sempat meminum anggur ini?”
Vania diam sebentar, berusaha mengingat detail kejadian malam itu. Bayangan Johan perlahan menghampiri benaknya. Ah, betapa gagahnya Daddy dengan setelan jas hitamnya! Dia tampak sangat bahagia. Dia menuangkan anggur, bersulang, lalu ... apakah Daddy meminum anggurnya? Dia mengingatnya sekarang. “Ya. Dia meminumnya."
“Apakah Anda juga meminum anggur yang sama?”
Vania menengadahkan wajah, menatap langit-langit. Dia tidak ingat bagaimana rasa anggurnya pada malam itu.
Dia menggeleng lemah. Seandainya dia tahu itu akan menjadi anggur terakhir yang dituangkan Johan untuknya dia pasti menegaknya habis.
“Kenapa?” Hendrik menatapnya tajam.
“Saya ...” Vania mulai salah tingkah.
Apa yang akan mereka pikirkan jika dia mengatakan semuanya? Mereka pasti akan mengorek masa lalunya dengan Barli dan mungkin juga dengan para pria lain selain Barli. Ah, masa bodoh! Penyelesaian kasus ini jauh lebih penting dari sekedar nama baiknya. Nama baik yang mana? Toh dia sudah jadi tersangka.
“Seseorang tiba-tiba menelpon saya. Saya terkejut dan tidak sengaja menumpahkan gelas anggur saya.”
“Siapa yang menelpon?”
“Barli.” Vania menelan ludah.
__ADS_1
“Barli putra korban?” Hendrik mulai menunjukkan ketertarikan dalam nada bicaranya.
“Ya. Dia menelpon dan meminta saya menemuinya di lobi atau dia yang akan naik ke atas.”
“Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya? Kenapa Barli ingin menemuimu di lobi? Apa dia tahu Anda berada di kamar hotel yang sama dengan ayahnya?”
Hendrik memberondong pertanyaan dengan tak sabar. Dia merasa wanita di hadapannya semakin tampak gelisah seakan ada sesuatu yang enggan untuk diungkapkan.
“Saya menemuinya di lobi. Saya tidak ingin Johan tahu. Saya hanya ingin mencegah terjadinya keributan. Jadi saya menemuinya sebentar dan saat saya kembali ke atas, Johan sudah tergeletak di lantai. Dia ...” Vania tak sanggup meneruskan kalimatnya, dadanya terasa sesak.
“Apa yang kalian bicarakan? Tolong ceritakan semuanya dengan detail. Setiap detail yang Anda ceritakan akan sangat berarti dalam penyelidikan kami.”
“Barli tahu kami ada di sana, dia bahkan tahu nomor kamar yang kami sewa. Dia marah. Dia memaki saya karena menjalin cinta dengan Johan.”
Hendrik diam sejenak sembari tetap mengawasi Vania. “Apakah sebelumnya Anda menjalin hubungan dengan Barli?”
“Ya. Dulu saya bekerja pada Barli. Barli adalah atasan saya. Ah, apa hubungan semua ini dengan kematian Johan?”
Hendrik mengabaikan pertanyaan Vania dan berkata, “bukan hubungan macam itu yang saya maksud. Anda pasti tahu arah pertanyaan saya. Apa Anda pernah menjalin hubungan cinta dengan Barli?”
Vania menghela napas panjang. Dia tahu dia tidak bisa lagi menghindar. “Ya.”
Hendrik lalu menulis sesuatu di buku catatan kecilnya. Barli. Dia melingkari nama itu tebal-tebal dengan penanya. Pandangan matanya kemudian beralih lagi kepada Vania. Dia menatap mata Vania lekat-lekat lalu bertanya, “apakah Anda memasukkan sesuatu ke dalam anggurnya?”
“Apa? Anggur? Aku tidak memasukkan apa pun. Anggur itu masih dalam keadaan tersegel dan aku tidak menyentuhnya karena Johan yang membuka botolnya dan menuangkannya sendiri.”
Hendrik berdehem sambil mengubah posisi duduknya dia berkata dengan serius, “Johan tewas karena racun sianida pada anggur yang diminumnya malam itu. Anggur yang Anda bawa.”
Seakan ada petir menyambar di telinga Vania. Racun! Siapa yang begitu tega meracuni Daddy? Kenapa? Bagaimana? Vania bersandar lemas di kursinya.
“Kenapa Anda meracuni korban?” tanya Hendrik datar. Seolah dia yakin bahwa Vania lah pelakunya.
“Meracuni? Sudah saya bilang saya tidak melakukan apa-apa. Saya tidak meracuni Daddy. Saya tidak tahu!” Vania berteriak histeris.
__ADS_1
Dia tidak rela Johan meninggal dalam keadaan seperti itu. Racun! Bayangan Johan sesaat sebelum kematiannya menghantui Vania. Tubuhnya yang mengejang, wajah seputih kapas, busa yang keluar dari mulutnya. Daddy pasti sangat menderita. Vania menjerit keras sebelum roboh tak sadarkan diri.